Pembohong Kecil
Milly tergagap usai menutup paksa tirai itu, bersembunyi di baliknya. Degup jantungnya berdetak. Rasa kewaspadaan bercampur takut seketika menyeruak, membuat alarm bahaya di benaknya lantas muncul.
Tadi ia sempat terhipnotis menyaksikan interaksi Axton dengan wanita tua itu. Mereka sangat akrab. Bahkan Axton terlihat seperti anak baik-baik. Milly tidak menduga Axton bisa bersikap semanja itu. Benar-benar bertolak belakang dengan sifat jahatnya.
Lelaki kejam itu menjadi asing dalam sekejap.
Di sana pun Axton tampak sangat tulus, penuh perhatian saat menyuapi wanita tua itu, mengecup sayang punggung tangannya. Hingga tanpa sadar, hati Milly menjadi tersentuh, mengakibatkan bibirnya refleks melengkung ke atas, mengukir seulas senyum.
Tapi seketika senyum itu pupus waktu mata abu-abu tajam itu beradu dengan mata hijaunya selama beberapa detik.
Dan sekarang, Milly mengigit kukunya, gelisah. Menjauhi tirai, ia segera membongkar apapun di kamar ini untuk mencari perlindungan. Berlari ke arah lemari, menggeledah. Kosong. Menarik laci di sana. Lagi-lagi kosong.
Kemudian ia berjengit begitu mendengar suara pintu terbuka.
“Kau sudah bangun hm.”
Milly menoleh ke arah Axton. Kepala lelaki itu terbalut perban putih. Segera ia melangkah mundur tampak awas saat Axton merapatkan pintu, mendekatinya dengan aura intimidasi.
Axton tadi baru saja membaringkan Wella di kamar terlebih dahulu sebelum kemari.
“Aku melihatmu sedang mematai-mataiku di balik jendela.”
Milly terbata-bata. “Wanita itu… apa ia adalah Ibumu?” tanyanya memastikan.
“Kenapa? Merasa menyesal atas ucapanmu?”
Begitu Axton sampai di hadapan Milly, gadis itu telah tersudut ke dinding. Satu tangan Axton terhalang di samping kepala Milly.
Sementara Milly menunduk.
“Aku… aku…” Lidahnya terasa keluh.
“Jika kau mau kumaafkan, patuhi semua keinginanku.”
Spontan Milly mendongak dan matanya bertemu dengan mata tajam abu-abu Axton lagi. Bibir lelaki itu mengatup rapat, walau begitu samar sudut bibirnya tertarik.
“Kau sudah cukup pulih bukan?”
“Apa?”
“Karena sekarang aku butuh hiburan.”
“Hi-hiburan?” ulang Milly refleks dan begitu sadar, ia melotot pada Axton. Mendorong kasar tubuh lelaki itu menjauh, Milly setengah memekik, “Aku bukan hiburanmu brengsek!”
Nafas Milly mengebu-gebu akibat emosi. Mukanya memerah begitu melihat Axton melepas kancing kemeja satu per satu, menanggalkan kemudian. Otot-otot di tubuh lelaki itu terbentuk dengan pas, membuat tampilannya sangat maskulin dengan kulit agak gelap yang eksotis.
Ini adalah kali pertama Milly mendapati lelaki itu bertelanjang dada di hadapannya. Sebab Axton tidak pernah melepas pakaian atasnya, bahkan saat lelaki itu bercinta dengan tubuhnya secara paksa.
“Kau ingin aku yang menjemputmu atau kau yang datang menjemputku?”
“Tidak. Menjauh dariku!”
“Fine.”
Axton sontak melangkah mendekat. Milly segera menghindar, berlari ingin mengapai pintu keluar tapi Axton berhasil menangkap tubuhnya dari belakang, mengangkat paksa, membuat Milly memekik. Kemudian membantingnya di ranjang, menindihnya setelahnya.
“Jangan menyentuhku!”
Milly memukul, mencakar Axton sebisanya tapi seketika menjadi tersentak begitu kedua tangan Axton menaut jemarinya, erat. Nafas Milly terdengar kacau, reaksi alami dari pergulatan mereka. Begitu pula Axton.
“Aku tidak butuh persetujuanmu. Lagipula, sekarang aku adalah suamimu.”
Milly meringis akan luka tembak di kedua lengannya. Apalagi tekanan tautan jemari Axton turut memengaruhi.
“Jadi aku berhak melakukan apapun pada tubuh sialanmu,” bisik Axton panas di telinga Milly.
Bulu kuduk Milly meremang. Nafasnya pun seketika tertahan beberapa detik.
Axton lalu mengigit sensual cuping telinganya. Bereaksi, Milly segera memalingkan muka hingga hidung Axton mengenai pipinya. Nafas hangat lelaki menerpa di sana, terasa menggelitik kulit halus Milly.
“Kau seharusnya belajar banyak dari Ibumu dalam hal memuaskan pria.”
“Aku bukan gadis seperti itu!”
Axton terdiam sesaat. Tatapannya sulit diartikan, tertuju pada wajah Milly yang menyamping. Jarak wajah mereka begitu dekat.
“Kau tidak bisa menyalahkanku atas apa yang dilakukan oleh Ibuku pada keluargamu. Aku sungguh tidak mengetahui apapun. Hidupku, aku ingin hidupku kembali.”
Kemudian tanpa sengaja ekor mata Milly bergulir pada sebuah pulpen emas di kantong celana Axton, tampak menyembul.
Jika ia bisa mengambil benda itu, ia akan menusukkannya pada mata bajingan itu. Satu tusukan dan Milly tidak peduli apa yang akan dialami lelaki itu setelahnya.
Ia hanya butuh melakukan perlindungan untuk dirinya dari lelaki bejat semacam Axton.
“Kau sedang memohon?”
“Ya,” lirih Milly kini memandang Axton. Ia berharap lelaki itu melepaskan tautan jemari mereka.
Axton tertawa rendah penuh cemoohan. “Bagaimana dengan sumpahmu yang ingin memusnahkanku?”
“Aku… aku tidak akan melakukannya.”
“Kau pikir aku akan percaya padamu?”
“Aku akan menjauh dari kehidupanmu.” Milly mencoba bernegosiasi pelan.
“Kau bisa menjalani hari bahagiamu bersama Ibumu.”
Axton memicingkan matanya. Ia bungkam dan hanya mendengarkan. Tapi tautannya di jemari Milly mulai merenggang dan Milly menyadari hal itu.
“Lagi pula, wanita tua di taman itu…” Milly meneruskan bujukan halusnya. Perlahan ia memaksa mengukir senyuman.
“Kau beruntung memilikinya. Kau setidaknya masih memiliki satu pelindung di hidupmu. Tapi tidak denganku. Kau telah melenyapkan satu-satunya sosok yang menjadi sandaranku dan aku… aku akan memaafkanmu.”
Kali ini Axton melepas tautannya, membuat Milly merasa lega. Tapi lelaki itu masih tetap mengurungnya di bawah. “Kau mengajakku berdamai?”
Milly mengangguk pelan walau agak kaku. Kedua tangannya perlahan ia turunkan ke sisi tubuh, Axton mengawasi pergerakan Milly.
“Aku serius ingin berdamai denganmu.”
Axton menaikkan pandangan, tidak lagi memerhatikan kedua tangan Milly. Ia pura-pura menimbang sebelum kemudian menyunggingkan senyum kecil pada Milly.
“Kau cukup pintar berakting hm?”
“Apa?”
“Kau pikir aku tidak tahu isi kepalamu?” Axton melirik pada jemari Milly yang berhasil mengapai ujung pulpen yang menyembul pada celananya.
Milly lekas mengambil pulpen itu dan hendak menusukkannya pada mata Axton disertai jeritan emosi, “Pergi kau ke neraka!”
Axton dengan sigap menahan kuat. “Pembohong kecil,” desisnya. Menyentak kemudian. Alhasil pulpen itu tergelincir. Milly shock dan merasa agak gentar. Satu-satunya harapannya kini sirna.
“Tidak…”
----
Umpatan yang Sia-Sia
Axton mengikat kedua tangan Milly sekaligus di tiang ranjang dengan gesper lelaki itu. Masih bertelanjang dada dengan celana panjang, menindih tubuh Milly.
Gadis itu menjerit berusaha melepaskan ikatan itu disertai umpatan.
“Lepaskan aku!”
“Kau brengsek!”
Ia bahkan mulai menangis ketika Axton merobek sekali sentak kaos abu-abu lengan panjang itu. Hingga tubuh polos Milly yang memang tidak terlindung dalaman apapun kini terpampang sempurna.
Axton tidak merasa harus memperlakukan gadis itu dengan lembut. Mengingat sejalang apa Clara di masa lalu.
Ia lalu meraba tulang belikat leher gadis itu, turun pada salah satu payudaranya, perutnya. Dan semakin ke bawah…
Milly segera merapatkan kakinya waktu tangan Axton akan menyentuh area pribadinya.
“Kau terlalu cepat jika ingin mengirimku ke neraka.”
Axton kemudian memaksa membuka lebar kedua kaki gadis itu, menekuknya dan menahan sekuat tenaga. Sesaat lelaki itu mematut inti Milly yang memerah, merekah sebelum ia membenamkan kepalanya ke sana.
“Tidak. Jangan!” jeritan panik Milly berganti dengan desahan spontan, “…Ahh.”
Tubuh Milly pun menggeliat tidak tenang, kedua tangannya tampak ingin meremas sesuatu. Rasa nyeri di kedua lengannya seketika tertutup dengan gelenyar aneh. Kepala Milly menggeleng pelan, gusar. Air matanya mengalir deras di wajahnya, merasa hancur di tiap detik kala mendengar erangannya sendiri.
Itu terkesan menjijikan dan meruntuhkan harga dirinya sebagai wanita seakan-akan ia terlarut oleh kecupan panas Axton di bawah sana, berlanjut belaian lidah yang menari.
Lelaki itu bahkan makin menenggalamkan kepalanya pada area pribadinya, terlihat sangat suka mencecap, menjilat dan bermain-main dengan klitorisnya.
Lagi Milly tersentak dan tidak ada henti-hentinya mendesah, “Ahhh… hen… hentikan…”
Tidak lama kemudian ponsel Axton tiba-tiba berdering. Itu cukup mengusik kegiatan panasnya. Ia mengangkat kepalanya. Lantas merogoh sakunya, nafasnya memburu.
Nama Chloe terpampang di pada layar itu.
Gadis pirang sialan itu…
Mengangkat panggilan itu, Axton meloudspeaker, meletakkannya di sisi paha Milly. Kembali Axton mencumbu inti gadis itu dengan liar, membuka akses paling maksimal pada kaki Milly yang tertekuk secara kasar.
Itu membuat Milly merasa keram sekaligus nikmat. Lidah basah lelaki begitu lihai mengobrak-abrik di sana. Hingga berkali-kali lenguhan indah lolos dari bibir Milly,
“Ahh…”
Dan suara Chloe turut terdengar di sela permainan Axton pada ujung telpon. Nadanya penuh selidik bertanya. “Axton, suara siapa itu?”
Tapi tidak ada jawaban selain desahan keras Milly yang kembali mengisi. “Ahhh…. ti.. tidak…”
“Apa yang sedang kau lakukan Axton?!” suara Chloe terdengar marah karena tidak kunjung mendapat respon Axton.
Tangan Axton yang satu mulai naik, mengusap payudara Milly di antara aksi invasinya pada inti Milly. Meremasnya bahkan mencubit putingnya, berlama-lama bermain di sana.
Membuat kepala Milly tersentak, menengadah. Pandangannya tidak fokus. Ia melenguh, “Ugh…” disertai buliran air mata.
Lelaki itu sungguh brengsek.
Di seberang Chloe mukanya memerah, ia ternganga makin meradang menyadari satu hal. “Kau menyewa wanita jalang Axton?!”
“Hm…” gumam Axton sambil lalu, masih sibuk melumat bagian inti Milly.
“Axton,” teriak Chloe gemas.
Lalu Axton perlahan menegakkan tubuhnya, berhenti sejenak dan meraih ponselnya, mematikan loudspeakser. Tapi satu tangannya masih meremas-remas satu payudara Milly.
“Hentikan… Kau… kau… Ah!”
Axton menarik puting Milly keras, kegiatan mengasyikkan hingga membuat ia tersenyum miring sebelum mendekatkan ponsel di telinganya.
Suara pekikan sontak Chloe terdengar di ujung telepon, “Jawab aku Axton!”
“Sayangnya wanita jalang yang kaumaksud itu adalah istriku Chloe.”
“Apa kau gila Axton?!” protes Chloe setengah menjerit di seberang.
“Kau akan bertemu dengannya di pesta nanti Chloe. Aku akan mengenalkanmu padanya.”
“Jangan main-main denganku Axton! Kau tahu jelas apa yang akan—” Chloe baru saja akan mengeluarkan ancamannya tapi Axton memotong,
“Sebaiknya kau tidak mengangguku sekarang Chloe. Aku sedang sibuk.”
Kali ini Axton berhenti bermain pada payudara Milly. Gadis itu tampak melemas.
Tangan Axton kemudian berpindah mengusap erotis inti Milly sebelum memasukkan jemarinya di sana. Lagi ia menonton raut tersiksa gadis itu kembali. Erangan itu lolos lagi.
“Tidak… Singkir… Ah!”
Axton menambah jemarinya. Peluh sudah membanjiri di sekitar pelipis Milly. Rambut coklat gadis itu menjadi sedikit lepek.
“Jangan menipuku Axton!”
“Aku sudah menikah Chloe.” Axton hanya fokus menaikkan tempo jemarinya semakin liar pada inti Milly.
“Tidak. Kau pikir aku akan percaya padamu?!”
“Jangan lupa dengan kata-katamu Chloe,” ungkit Axton pada Chloe .
Chloe bungkam dan tampak berang di seberang. Ia paham maksud kata-kata Axton. Sebab ia pernah berucap pada lelaki itu akan mundur jika Axton telah menikah dengan seseorang, walau saat itu Chloe sangat yakin bahwa ia yang akan mendampingi Axton di pelaminan.
Sebab Chloe sudah berusaha keras mengawasi dan tidak tanggung-tanggung memberi kecaman pada wanita manapun yang hendak menggoda atau mengagalkan rencananya mendapatkan Axton.
“Kau tidak bisa mencampakkan begitu saja Axton! Hubungan kita, aku sangat tahu jelas bahwa tidak ada wanita manapun yang bersamamu selain aku!” Chloe mencak-mencak di ujung telepon.
“Kau… kau hanya selalu bercinta denganku, Axton!” tandas Chloe dengan tegas.
“Aku hanya memberikanmu kepuasan Chloe.”
Bersamaan dengan kata-kata Axton itu, suara desahan keras Milly lagi-lagi bergema. Pandangan gadis itu kini tampak kehabisan tenaga memandang langit-langit kamar, matanya yang dibanjiri air mata hampir meredup.
Payudara Milly bergerak naik turun akibat deru nafas cepatnya. Itu membuat Axton gemas. Tapi kemudian Axton melirik cairan yang merembes keluar dari inti gadis itu.
Tidak mengijinkan gadis itu istirahat setelah mendapati orgasme lewat lidah dan jarinya, Axton lantas meloudspeaker ponselnya lagi, meletakkan benda pipih itu di dekat paha Milly ulang. Menunduk, membenamkan kepalanya di sana, kembali merangsang dengan menghisap cairan itu, menekan lidahnya lagi pada klitoris Milly.
“Tidak…” desah Milly serak. Bola matanya menjadi terbuka dan tertutup merasakan gelombang pusat gairah yang sedang diciptakan Axton lagi lewat keahlian lidahnya mencumbu.
Lemah kepala Milly menggeleng di antara deraian air matanya.
Sementara Chloe di ujung telepon sekarang tertawa keras. Ia berusaha meredam kekesalannya sejenak. Apalagi setelah beberapa kali mendengar lenguhan panjang wanita sialan yang bersama Axton.
“Aku akui, kau sukses membuatku kesal Axton. Tapi kau tahu jelas bahwa selama Ibumu sakit hanya aku yang biasa menjadi teman bicara Ibumu. Dan satu-satunya wanita yang ditahu Ibumu sedang menjalin hubungan denganmu hanya diriku, Axton.”
“Hanya diriku,” tekan Chloe di ujung telepon dengan senyum penuh kemenangan. Lalu Chloe melanjutkan lagi,
“Jadi sepertinya siapapun wanita jalang yang bersamamu, itu—”
“Aku bisa mengatasi masalah itu Chloe,” sela Axton kemudian, menjilat sisa cairan Milly pada bibirnya.
“Dan sekarang aku sedang berusaha membuat istriku hamil.”
“Berhenti membuat lelucon denganku Axton!” Wajah Chloe diliputi kemarahan kental di seberang.
“Axton—” Panggilan itu segera diputuskan Axton sepihak.
Dengan cepat lelaki itu merangkak naik, meletakkan ponsel di nakas dan gumamam disertai gelengan putus asa Milly menjadi satu-satunya hal yang memuaskan bagi Axton,
“Tidak. Aku tidak sudi memiliki anak denganmu.”
“Kau ternyata masih bisa fokus mendengar percakapanku hm,” kata Axton parau.
Jarak muka mereka telah terkikis. Mata Axton menggelap menelusuri setiap inci wajah memerah Milly yang terbakar gairah. Air mata gadis itu belum reda, tapi tidak sederas awal.
Menunduk, Axton lantas melahap payudara Milly yang sejak tadi memicu nafsunya, menyedotnya keras. Meninggalkan bunyi cecap basah diiringi desahan seksi Milly yang mengalun lagi. Tangan bebas Axton basah oleh cairan Milly mulai meremas sekilas sebelah payudara gadis itu sebelum bersiap melakukan penyatuan.
Ketika merasakan Axton hendak melesakkan miliknya, Milly langsung mengerang gelisah, “Tidak…”
Namun tidak butuh waktu lama, milik Axton berhasil menembus. Kali ini tidak ada pengaman yang menghalangi. Spontan kepala Milly tersentak, menengadah memandang langit-langit kamar. Mulutnya terbuka, mengernyit.
“Sayangnya aku memang membutuhkan rahim sialanmu.” Terpaan nafas hangat Axton terasa nyata di dekat telinga Milly.
Setelah itu Axton mulai menggerakkan pinggulnya, memompa dari pelan yang lambat laun menjadi cepat, hingga ranjang itu berdecit. Satu tangan Axton bertumpu pada kedua pergelangan Milly yang terikat gesper, sementara satunya sibuk meremas kencang payudara Milly.
Milly mengerang. Bara gairah seketika merambat di sekujur tubuhnya. Ia semakin berkeringat. Rasa lengket dan kotor pun terasa pekat. Belum lagi, gesekan kulit mereka yang saling bersentuhan, menambah sensasi liar. Axton terus menusukkan miliknya lebih dalam, merasa sangat bebas, terutama rasa nikmat itu jauh lebih besar dirasakannya sekarang.
“Kau harus memberikanku keturunan.”
“Hentikan. Aku tidak mau!” raung Milly di sisa tenaga kecilnya sambil menitikkan air mata.
“Kau menyuruhku berhenti tapi tubuhmu justru bereaksi sebaliknya.” Axton yang berpeluh lantas menyunggingkan senyum sinis di antara aksinya mengagahi tubuh Milly.
Menyentak kuat hingga beberapa menit kemudian, Milly mulai melenguh panjang karena mencapai puncak gairah. Tubuhnya bergetar di bawah kuasa Axton.
Tidak lama Axton menyusul, mengerang puas akan pelepasannya. Tubuhnya jatuh, menempel pada Milly. Kepalanya terbenam di lekukan leher gadis itu, terengah-engah. Sementara Milly menangis tersedu-sedu waktu merasakan cairan Axton berhasil menyembur di dalam tubuhnya, terasa hangat.
“Kau cukup melahirkannya.”
“Tidak…” racau Milly dalam tangis. Ia tidak ingin mengandung anak lelaki itu.
“Aku tidak sabar menantikan hari itu. Hari kehancuranmu yang sesungguhnya Milly Kincaid.”
***
Bersambung