Days 13

2835 Kata
Kemenangan Kecil Alunan musik panas mengalun mengisi ruangan itu, sedangkan Axton tengah duduk di sofa dengan satu tangan yang terentang di sandaran. Mengamati Milly yang berputar ragu-ragu, memegang tiang dansa. Jubah transparannya telah tergeletak di bawah, tidak jauh dari posisi Milly. Maddie dan anak buahnya sudah berlalu hingga hanya Axton yang berada di tempat ini. Lelaki itu terlihat santai memegang gelas kaca berisi cairan sampanye, menenggaknya sesekali. Ujung bibir Axton tertarik ke atas. Mulutnya berada di bibir gelas lekas ia jauhkan, tidak jadi meneguk lagi ketika menonton Milly mengalungkan kedua tangannya di tiang dansa dari belakang. Axton melirikkan matanya ke arah layar TV dimana Clara yang notebene adalah Ibu Milly itu memulai gerakan selanjutnya. Gerakan yang cukup menggundang hasrat para penonton. Clara melepas branya, melempar ke arah penonton dan memamerkan senyum sensual. Sorakan riuh dari para pria mesum turut mengiringi aksinya meraba buah dada sendiri sebelum meluruhkan tubuh, sementara satu tangan memegang tiang dansa di belakang. Ia kemudian melebarkan paha perlahan, menyorotkan pandangan menggoda sambil mengigit bibirnya yang langsung mendapat sambutan heboh para penonton. Dan Axton mendapati Milly memejam kuat seperti enggan melakukannya. Kening gadis itu mengerut seolah tengah berpikir berat. “Kau perlu bantuan?” tawar Axton. Lantas kedua mata Milly terbuka. Walau tampak memanas, tatapan menusuk itu lebih menguasai, dilayangkan Milly ke arah Axton dan reaksi itu justru membuat Axton menyeringai. Seringai yang terasa memuakkan di mata Milly. Cekalan Milly di tiang dansa di belakang makin mengerat seperti ingin meremukkan. Ia meluapkan gejolak kebenciannya di sana. “Atau kau merasa sulit hm?” Axton meletakkan gelasnya ke meja, meraih remote TV lalu mempercepat rekaman di CCTV itu dan berhenti di satu tarian cukup erotis. “Kalau begitu bagaimana dengan tarian itu? Kau pasti akan lebih mudah menirunya bukan?” Milly spontan menoleh ke arah layar, memandang miris. Ia terpaksa menari untuk Axton karena lelaki itu lagi-lagi mendesaknya memilih. Dan sekarang lelaki itu makin ingin menyiksa batinnya, memperparahnya dengan tarian yang justru meruntuhkan harga dirinya. Dan wanita di sana… lagi-lagi adalah Ibunya. Tidak berbusana di hadapan pria gendut berkumis dan tampak tua yang duduk di kursi panggung. Ibunya mengangkang di atas pangkuannya. Melengkungkan punggung dengan bantuan tangan pria itu yang menumpu di belakang. Kemudian Ibunya meremas satu payudara sendiri dan tidak sangka pria itu turut membantu meremas sebelah payudara Ibunya dengan tangannya yang bebas. Wajah mesum itu terkekeh, sementara respon Ibunya cuma tertawa di antara sorakan serta siulan hebat penonton. “Ibumu di sana terlihat sangat ahli dalam melakukannya.” Segera Milly menatap Axton yang ternyata sedang mengamati lamat-lamat bagian depan tubuhnya sebelum terpusat pada wajahnya. “Kenapa… kenapa kau melakukan semua ini padaku? Ibuku telah tiada dan kau tidak seharusnya…” “Kau lupa bahwa kau ingin melenyapkanku?” Axton memotong, tidak terpengaruh pada nada lirih gadis itu sedikit pun. Ia beranjak, menghampiri Milly. Spontan Milly mendongak karena Axton mencengkram rahangnya, menatap dingin, memicu aura mencekam. “Aku sangat menantikan sumpahmu. Tapi sebelum semua itu terjadi, aku akan lebih dulu membuat hidupmu menjadi sesuatu hal yang akan kau benci.” Kepala Milly kemudian tersentak ke samping begitu Axton melepaskan cengkaramnya. Tulang pipi Milly terasa kebas. Ia lalu memalingkan wajah ke arah Axton yang sekarang malah duduk di meja, menepuk paha. “Kemarilah.” Kedua tangan Milly terkepal erat. Sudut matanya melirik getir tayangan tidak senonoh di layar. Ia tidak pernah menyangka bahwa selama ini Ibunya bekerja di tempat Axton. Dan lebih parahnya, mengapa Tuhan seolah memberi kesempatan kepada lelaki itu untuk menjahatinya? Hati Milly terasa berlubang. Sangat besar. Rasa kecewa dan sedih saling berpadu karena ia tidak pernah mengira bahwa… pekerjaan Ibunya seburuk itu. “Kau tuli?” Milly bergeming sesaat. Ia lalu menyeka kasar sebulir air mata yang mengalir di wajahnya. Lalu ragu-ragu ia berjalan pada Axton, sementara lelaki itu menatapnya kelam. Sangat kelam. Tapi terasa begitu intens seperti terselip sejuta makna tidak kentara di dalamnya. Saat kaki telanjang Milly bersentuhan dengan sepatu pantofel Axton, langsung Axton merengkuh pinggangnya membuat Milly tersentak ke depan. Bersamaan itu pula, tangan Axton yang lain bergerak cepat mengangkat tubuh mungil itu hingga mengangkang. Spontan Milly memekik kecil, meremas kemeja Axton secara refleks diikuti deru nafas yang berubah cepat akibat terkejut. Tapi Axton tidak menggubris cengkraman Milly pada kemejanya. Tangannya segera melepas simpul tali bra Milly hingga buah dada gadis itu terpampang sepenuhnya. Meraba punggungnya dengan gerakan sensual. Milly seketika merasa seperti tersengat. Bulu kuduknya meremang. Namun ia langsung membuang muka ke arah lain dengan wajah memerah. Perasaan malu dan hina itu kembali menyeruak, berbaur menjadi satu. Beruntung matanya tidak sengaja melihat asbak kaca yang terletak di meja, berada dekat jangkauannya. Sontak secercah harapan itu hadir. Ia akan membalas lelaki itu. Pada detik tekad itu akan terlaksana, di detik itu Axton justru menarik rambutnya. Sontak mulut Milly refleks mengerang pelan, “Akh!” “Mulailah menari jalang,” gumamnya. Mata Milly berkaca-kaca menahan sakitnya jambakan Axton. Tangannya yang tadi terlepas dari kemeja Axton dan hendak menggapai asbak itu menjadi menjauh. Punggungnya agak melengkung ke belakang. Lalu lidah Axton mulai menjilati payudaranya. Milly spontan mengigit bibirnya menahan desahan. Untuk beberapa saat ia kehilangan fokus. Namun pada detik selanjutnya, tangannya telah terayun, menampar keras Axton. Cekalan lelaki itu yang menyiksa rambutnya sontak terlepas. “Kau bajingan, kau pantas mendapatkannya!” amuk Milly berani, deru nafasnya menjadi cepat sarat emosi setelahnya. Axton mengusap pipinya. Kemudian menatap Milly dengan senyuman yang perlahan mengukir di sudut bibirnya. Senyuman yang terasa berbahaya. “Kau sangat mengesalkan,” desis Axton. Milly terkekeh sinis, membuat Axton mengulum senyum dengan sorot mata berkilat. Tapi Milly tidak merasa gentar sedikit pun karena asbak kaca itu kini berhasil dipegangnya. “Tersenyumlah sepuasmu karena kau sebentar lagi akan menuju mautmu bajingan!” Sebelum Axton dapat mencerna kata-kata Milly dengan baik, asbak telah dibenturkan Milly pada kepalanya. Alhasil lelaki itu mengerang kesakitan, “Argghh!” Bahkan tubuh Axton mendadak roboh ke lantai. Kepingan pecahan asbak berserakan di sekitarnya, menunjukkan tingkat kekuatan asbak itu membentur kepalanya. Buru-buru Milly menjauh. Ia segera membalikkan badan, mengabaikan ringisan dan rintihan keras Axton. Berlari kecil, Milly cepat-cepat memungut jubah transparannya, mengumpalnya kemudian guna menutup bagian atas tubuhnya. Setelah itu, ia bergegas keluar dari ruangan sialan di kapal ini. Axton yang melihat itu lewat ekor matanya, perlahan bangkit. Menekan darah yang merembes di pelipisnya. Pening terasa merambat kepalanya. Ditatapnya sesaat lumuran darah di tangannya. Ia mendesis kesal. “Gadis sialan.” Lalu dengan sempoyongan, ia lekas menyusul. Tapi kakinya terhenti sedetik waktu memandang almari kaca panjangan yang berisi beragam pistol. Lantas Axton mengambil salah satunya, mengecek jumlah peluru sejenak sebelum melanjutkan derap kakinya. ---- Milly merasa bersyukur tidak ada siapapun yang menjaga di depan pintu. Ia terus berlari dan ketika ia merasa sudah jauh dari Axton, ia menghirup udara segar. Bernafas lega. Namun hanya satu detik. Sebab setelahnya ia tertegun. Di sana, dua lelaki yang ia tahu bekerja untuk Axton saling berbincang satu sama lain. Hembusan angin menerpa sebagian rambut Milly yang tergerai di atas kapal itu. Kemudian saat menoleh ke samping, ia mendapati punggung Maddie yang terlihat terlibat percakapan di ujung telpon. Beruntung wanita itu tidak menyadarinya keberadaanya. Spontan Milly melangkah mundur dengan pelan sambil menatap awas ke belakang. Entah dimana dua anak buah wanita itu, Milly tidak peduli. Ia harus segera menjauh dari orang-orang berbahaya ini. Lalu ketika Milly sudah berada dalam radius aman dari mereka semua, jemarinya mencengkram sisi kapal. Melihatnya luas lautan di bawah sana. Kebimbangan sontak melandanya. Perasaannya berkecamuk untuk memutuskan. Menghirup oksigen dalam-dalam, Milly akhirnya bertekad melompat ke sana. Tidak peduli apapun yang terjadi. Setidaknya, ia perlu menjauh dari lelaki sialan itu untuk sementara. Tapi sebelum hal itu terlaksana, suara Axton terdengar di belakangnya, dingin dan mengerikan. “Berhenti di sana.” Milly sontak menoleh ke belakang. Ia cukup kaget mendapati lelaki itu berdiri beberapa meter darinya, mengacungkan pistol ke arahnya. Nafas Axton tampak putus-putus. Entah kelelahan berlari atau kelelahan karena hal lain. Dan suara Axton yang terdengar itu sontak memicu perhatian semua orang. Beberapa pasang mata menampilkan raut keterkejutan secara bersamaan sebab baru tersadar bahwa Milly-entah sejak kapan-ternyata berada di pijakan yang sama dengan mereka berdiri di kapal ini. “Tuan Ax, kepala anda berdarah…” perhatian Thomas segera tertuju pada luka di pelipis Axton. Darah itu tidak berhenti mengalir, memenuhi separuh wajahnya. Tapi Axton masih bisa berdiri tegap. “Oh, Tuan Ax apa jalang itu yang melakukan hal ini padamu?” tambah Maddie cemas dan wanita berambut merah itu segera menghunus nyalang pada Milly. “Kau…” geram Maddie. “Apa yang kaulakukan pada Tuan Ax?!” Melihat Maddie hendak mendekatinya, Milly sontak sekali lagi mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyentak, penuh ancaman, “Jangan mendekat!” Langkah Maddie seketika tertahan terlebih waktu ucapan penuh dendam itu dilontarkan Milly kepada mereka semua. “Aku… aku bisa melakukan hal yang lebih buruk dari ini pada Tuan kalian jika kalian berani–” DOR!! DOR!! Bunyi tembakan itu terdengar memekakkan telinga. Ujung pistol Axton mengeluarkan asap samar karena ia baru saja menarik pelatuknya. Peluru itu sukses melukai kedua lengan Milly. Hingga kalimat gadis itu terputus. Raut mukanya menegang shock dengan mulut agak terbuka. “Kau terlalu banyak bicara,” gumam Axton tak acuh. Tidak ada penyesalan di wajah Axton waktu menyaksikan Milly yang tersudut di kapal itu perlahan menjadi kehilangan keseimbangan sebelum terjatuh ke bawah. Tubuh Milly sukses tercembur ke dasar laut hingga cipratan air terpancar terdengar cukup lantang. Milly telah hanyut ke dalam. Thomas yang melihat itu shock. Begitupula dengan semua orang. Berbeda dengan Axton yang tampak tenang memutar badan dan mulai melangkah. “Tuan Ax… anda baru saja menembak istri anda,” kata Thomas ragu ketika pulih dari keterkejutannya. Derap langkah Axton terhenti. Ia melirik Thomas di belakangnya. “Ia bukan istriku Thomas. Ia adalah jalang yang hanya beruntung berada dalam ikatan pernikahan denganku.” Kemudian pistol itu dilemparkan Axton ke arah Thomas yang langsung sigap ditangkap oleh Thomas. Setelah itu Axton menatap riak-riak lautan yang tenang itu dengan mimik masa bodoh. Melanjutkan, “Biarkan saja ia berenang dengan ikan-ikan di bawah sana Thomas.” “Ia tidak bisa berenang Tuan Ax. Anda… anda baru saja menembak lengannya.” “Kalau begitu biarkan saja ia mati.” Kalimat Axton terkesan kejam dan tidak ada bentuk kepedulian barang secuil pun. Ia meneruskan langkahnya kembali tapi baru lima langkah kakinya terhenti. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Axton terlihat berpikir sebelum dalam sekejap ia membalikkan badannya kembali. Berjalan cepat ke sisi kapal, menengok ke bawah. Warna darah samar terlihat menggenang, perlahan menyebar di sekitar dan mencemari keindahan lautan. Namun itu juga menjadi bukti jejak tenggelamnya tubuh Milly di dasar sana. “Gadis itu sangat menyusahkan,” gerutunya yang lebih terdengar mengumpat. Lalu tanpa banyak pikir, ia pun melompat ke bawah. Suara cipratan air terpancar lagi-lagi terdengar. Cukup keras. Maddie yang tadi cukup terkejut mendengar fakta terkait hubungan gadis itu dengan Axton langsung berlari cemas dan memegang sisi kapal. “Astaga, Tuan Ax!” Thomas dan Robert pun turut menyerbu, menatap ke bawah dan mencari keberadaan Axton. Mereka semua tampak kalang kabut mengitari luasnya lautan yang memunculkan ombak halus di atas permukaan yang mendadak menjadi tenang lagi. Kemudian Thomas berseru panik, “Tuan Ax… apa anda mendengar saya?” *** Tubuh Milly membungkuk ke depan, makin terserap ke dalam dasar laut. Rambutnya menggembang di dalam air, menghalangi sebagian wajahnya. Kedua tangannya terangkat lemas. Bau amis darah berpendar di sekitarnya. Gelembung-gelembung kecil keluar dari mulutnya. Nafas Milly terasa sesak. Lalu perlahan kesadarannya mulai menipis. Di detik kelopak mata Milly hendak tertutup, samar Milly melihat seseorang seperti ingin menyelamatkannya. Seseorang yang… entah siapa. Karena mata Milly keburu tertutup. Air terlalu banyak masuk ke dalam mulutnya. Ia tidak lagi mengetahui lebih lanjut apa yang terjadi. Satu-satu hal yang Milly ingat adalah suara tembakan itu. Suara tembakan yang terasa menakutkan baginya. Terus tergiang di benaknya. Berkali-kali. Entah mengapa, suara tembakan itu seperti pernah didengarnya sebelumnya. Sebelum hari ini. Rasanya seperti ia pernah berada di situasi yang jauh mengerikan dan begitu menakutkan. *** “Eve, kau bisa membelikan kami minum?” Axton, anak laki-laki berusia 10 tahun itu memerintahkan Evelyn, gadis yang sedang bermain barbie di lantai dan ditahunya sedang membunuh rasa bosan di kala menunggu sang Ayah selesai bekerja. Gadis kecil itu lantas memberengut kesal. Ini adalah kali pertama ia bertemu anak laki-laki itu dan anak laki-laki malah menjadikannya babu. “Hei, ingat usiamu itu lebih muda dariku, jadi kau harus betah diperintah olehku. Apalagi Ayahmu sedang memeriksa Kakekku. Itu artinya Ayahmu bekerja dan hidup dari uang keluargaku.” Memang profesi Ibunya serupa dengan Ayahnya yakni seorang dokter, tapi tidak ada anak pasien mengesalkan seperti anak laki-laki yang ia lihat saat ini ketika ia ikut dengan sang Ayah. Berdiri, Evelyn pun mengibaskan rok dressnya, padahal lantai itu sangat bersih. Berkilau dengan kekayaan yang megah menghiasi benda-benda di rumah ini. Itu membuat Axton terkekeh geli. Tapi gadis mungil itu lantas merebut kasar dollar di tangan Axton. “Menyebalkan!” teriaknya di depan muka Axton, tapi terdengar manja. Lagi Axton terkekeh. Wajahnya terlihat begitu puas melihat Evelyn berjalan cepat demi melaksanakan permintaannya. Lalu, Trevor yang notabene teman sepermainan Axton dan usianya lebih unggul setahun dari Axton muncul dan menggeleng. Ia baru saja dari toilet dan sedang merapikan kaos berlengan panjangnya, berwarna putih dengan tulisan bercorak darah yakni ‘GO TO HELL’ “Kau masih saja tidak berubah,” decaknya tidak habis pikir dengan keisengan Axton. Namun itu semua masih didengar oleh Evelyn di sela langkahnya. “Aku suka melihat wajah cemberutnya. Cukup menghibur Trevor,” balas Axton sambil lalu. “Sekali-kali kau harus hentikan sikapmu yang suka mengusik ketenangan orang lain, Aro. Lagipula ia adalah anak perempuan. Kau tidak lihat bahwa ia sedang asik mendandani boneka barbienya?” “Salah sendiri dia membawa benda memalukan ini di sini.” Ketika mengatakan itu Axton telah memungut barbie di lantai itu dan menunjukknya di depan muka Trevor, memainkannya seolah meniru Evelyn, yang sukses memicu gelak tawa Trevor. “Lily harus cantik. Supaya nanti bisa bertemu pangeran tampan.” “Kau menjadi tidak macho jika seperti itu Aro.” Evelyn yang hampir menggapai kenop pintu, lantas menoleh. Boneka barbienya telah dilempar begitu saja secara sembarangan oleh Axton disusul helaan nafas dramatis, “Ini sangat merusak pemandangan rumahku Trevor.” Trevor mengulum senyum disertai gelengan geli. “Dasar kau itu.” Eve lantas mencebikkan bibir kesal, tapi tetap pergi mencarikan minuman untuk Axton, mengingat pekerjaan Ayahnya juga tidak lama lagi selesai, jadi ia tidak perlu melihat wajah anak laki-laki sok cool itu lagi. Dan tidak butuh waktu lama, ia kembali. Tatapannya mencari sosok Axton. Celingak-celinguk hingga mengantarkannya ke taman rumah itu. Sangat luas dan dipenuhi tanaman yang cantik. Berjalan di rumput ia mendekati Axton yang lagi bersiap bermain tembak-tembakkan dengan Trevor. Di detik ia hampir menjangkau posisi Axton, detik itu pula suara tembakan terdengar. DOR!! Lalu semua terjadi begitu cepat. Tubuh Trevor tumbang dengan darah yang mengucur di perutnya. Ia mengerang kesakitan, memegang luka tembak itu. Pistol—yang tadi diberikan Axton—dalam genggamannya pun telah terjatuh di rumput begitu saja. Sedangkan Axton mematung. Tangannya gemetar. Ia juga memegang pistol sejenis, namun benda itu perlahan terperosot. Evelyn yang menjadi saksi akan hal itu diwarnai raut ketakutan. Ia hampir menjerit tapi tiba-tiba Axton dengan cepat menoleh ke arahnya. Itu membuat mulut Evelyn seketika menjadi terkatup rapat, tubuhnya gemetar. “Eve… itu…” Suara erangan kesakitan penuh penderitaan dari Trevor mengalihkan perhatian Axton seketika dari Evelyn. Begitupula dengan Evelyn, tapi cuma bisa memandang Trevor yang kesulitan bernafas, terlihat hanya memiliki sisa kehidupan yang kecil. Wajah Axton terlihat kalut. “A-aro…” ucap Trevor putus-putus dari posisinya yang terbaring tidak berdaya di rumput waktu melihat Axton telah berdiri menjulang di depan wajahnya. Ekspresi Axton hampir ingin menangis. “Aku tidak tahu Trevor. Aku tidak tahu,” racau Axton gusar. Trevor paham ucapan Axton mengarah pada dua pistol keren yang ditunjukkan padanya. Diambilnya diam-diam dari ruang kerja Kakeknya. Itu cerita Axton kepadanya. Dan ia ingin menenangkan Axton karena ia tahu Axton mudah tidak stabil hingga bisa saja melakukan hal bodoh. “Ka..kau bisa menolongku. Pa..panggilkan—” “Aku..aku akan bertanggung jawab atas ini. Ka..kau tidak akan merasakan rasa sakit itu Trevor,” sela Axton panik. Dahi Trevor mengernyit di sela rasa sakitnya. Kaosnya telah dinodai darah yang banyak. Keringat juga membanjiri tubuhnya. Ia belum paham sepenuhnya ucapan Axton. Nafasnya tersengal-sengal. Satu-satu hal yang bisa ia lakukan adalah memerhatikan gerak-gerik Axton yang menghilang sejenak darinya, sebelum muncul di hadapannya lagi. Dan sebuah pistol yang tadi dimainkan mereka ditodongkan Axton dengan tangan gemetar ke arah Trevor. Tepatnya di dada. “A..aro…” “Ka..kau akan baik-baik saja Trevor,” air mata Axton menetes di pipi lalu ia memejam dan menarik pelatuk itu. DOR!! DOR!! Tubuh Trevor berguncang secara reflek akibat peluru yang menembus dadanya. Matanya terbelalak dan nafasnya telah berhenti. Darah itu tambah banyak menggenang di sekitar tubuhnya. Evelyn yang sejak tadi melihat seluruh tragedi itu otomatis menjatuhkan plastik di tangannya, hingga minuman kaleng itu berceceran di rumput. Wajahnya pucat pasi. Ia ketakutan setengah mati. Tak berapa lama bibir mungilnya mengeluarkan tangis. Ia menutup kuping. Lalu bergerak mundur, sementara Axton jatuh lunglai, di sisi tubuh Trevor. Ikut menangis hebat, terdengar pilu dan penuh penyesalan. *** bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN