Days 10

2503 Kata
Pemakaman Siang hari itu suasana berkabung begitu terasa. Walau hanya dihadiri oleh beberapa orang saja seperti teman kerja Milly. Juga tetangganya. Salah satunya Rachel. Wanita tua itu mengenakan kaca mata hitam, terus mengelap hidungnya menggunakan tisu disertai isakan. “Oh, Milly…” racaunya masih tidak menyangka. Elena yang berada di sebelah wanita tua itu hanya bisa mengusap lengan, berharap dapat memberikan kekuatan. “Bibi…” “Ia tidak seharusnya mengalami hal buruk seperti ini….” Rachel perlahan bersimpuh dan mengusap nisan yang bertuliskan nama Milly Kincaid. Ia merasa seakan mengulang peristiwa yang sama. Pasalnya beberapa bulan lalu, ia juga menghadiri pemakaman serupa. Bersama Clara, menangisi gadis belia yang tidak seharusnya merasakan segala hal mengerikan itu seorang diri hingga berujung pada kematian tragis. Milly Kincaid. Nama yang sama di nisan itu namun dengan orang berbeda. “Tidak…” tangis Rachel memeluk nisan itu. Seakan meluapkan segala perasaan kehilangan yang begitu kuat dan rasa sakit mendalam seperti apa yang dirasakan Clara jika wanita itu masih hidup. Rachel mulai menyayangi gadis itu sejak gadis itu berinteraksi dengannya selama beberapa bulan ini. Pelan-pelan Rachel pula bisa menerima sosoknya menggantikan Milly yang asli. Namun sekali lagi ajal membawa gadis itu pergi dengan cara yang sama. “Ibumu akan sangat terpukul melihatmu seperti ini Milly….” Rachel menyandarkan pelipisnya pada nisan itu, terus berbicara dalam tangis. “Aku sudah berkali-kali berpesan padamu…” “Kau seharusnya bisa lebih berhati-hati…” Elena tidak tahan lagi melihat wanita tua itu yang terpukul berat dengan kejadian ini. Menelan ludahnya, Elena mendekati Rachel. Ikut bersimpuh dan membawa wanita tua itu ke dalam pelukannya. Turut menangis tersedu-sedu. “Bibi… tolong jangan seperti ini…” “Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah mengikhlaskan segalanya Bi…” Sementara Fernandez yang berdiri di belakang Elena cuma melirik pada Axton lewat kaca mata hitamnya sebab temannya itu mulai bertanya padanya, “Siapa dia Andez?” Axton menyelipkan kedua tangannya di saku. Matanya ditutupi oleh kaca mata hitam juga. Pakaiannya pun juga serba hitam, menunjukkan bahwa ia ikut merasakan kedukaan di pemakaman ini. “Rachel Leigh. Ia adalah tetangganya,” jawab Fernandez seadanya. Axton mengangkat satu alis di balik kacamatanya. “Dari yang kudengar, Elena bilang Milly sangat dekat dengannya. Ia sering bertamu ke rumah wanita tua itu.” Fernandez kemudian menoleh pada Axton. “Kau tidak berpikir akan menyingkirkannya juga bukan?” Axton lantas balas menatap temannya itu. “Ia akan menjemput ajalnya sendiri. Kau tidak lihat ia telah rentan?” Setelah itu, ia mendengus. “Lagipula wanita tua itu tidak terlibat dengan masalah ini.” *** Axton menatap langit malam lewat jendela besar itu. Tirainya berkibar, sengaja ia buka membiarkan angin berembus menemani kesendiriannya di ruangan yang hanya dihiasi penerangan seadanya ini. Ia tengah duduk di kursi piano. Meletakkan jarinya di tuts-tuts itu dan mulai menarikan jemarinya di sana. Tidak ada emosi apapun di wajahnya ketika memainkan sebuah lagu itu. Tangannya begitu lincah, berpindah menekan tuts-tuts itu seolah nada-nada itu telah dihafalnya di luar kepala. Matanya terpejam dan kepalanya ikut digerakkannya mengikuti alunan melodi sebelum sebuah ketukan menginterupsinya. Ia menghentikan segera. “Masuk Thomas.” Tanpa melihat Axton tahu sosok di balik pintu itu. Thomas lantas masuk ke dalam, merapatkan pintu itu pelan. Axton beranjak dari sana, menutup piano itu dan bertanya kepada Thomas, “Bagaimana?” “Sesuai harapan anda Tuan Ax. Saya sudah memaksanya untuk makan dan ia langsung tertidur setelahnya. Obat itu bekerja dengan baik.” “Itu bagus. Lalu bagaimana dengan tugas lain yang kusuruh kau mengurusnya Thomas?” “Saya juga sudah mengaturnya Tuan Ax,” lapor Thomas. Axton kemudian merebahkan punggungnya di sofa. Mengambil botol sampanye, menuangkannya ke gelas. “Kau sudah berbicara pada Maddie untuk mengatur pakaiannya sejalang mungkin?” “Seperti perintah anda, Tuan Ax.” “Ini akan menjadi tontonan seru.” Axton kemudian menenggak minumannya, sementara Thomas yang telah berdiri di sebelah sofa mencoba memberi saran secara jujur, “Tapi Tuan Ax… saya rasa ini mungkin terlalu berlebihan.” “Apa maksudmu Thomas?” “Nona Milly… gadis itu terlalu polos melakukan hal ini Tuan Ax. Mempekerjakannya di tempat seperti itu, saya rasa—” “Thomas,” sela Axton langsung. Ia meletakkan gelasnya di meja, menggenggamnya erat. Seakan ingin menghancurkannya. “Gadis itu adalah putri wanita jalang. Ia pasti bisa melakukannya. Lagi pula bukankah itu adalah pekerjaan Ibunya?” Thomas diam. Namun wajahnya menampilkan gurat ketidakyakinan. Membayangkan gadis itu berada dalam lingkup dunia malam yang sangat liar, melayani para pria hidung belang, membuat hati Thomas sedikit kasihan. Pasalnya dari mimiknya saja gadis itu terlihat sangat menjaga dirinya dengan baik. Bukan seperti gadis bebas yang berpengalaman dalam menggoda seorang pria. Namun Thomas tidak bisa melakukan apapun selain patuh karena Axton sangat tidak suka dibantah. “Dan lagi, ia sudah dua kali menggodaku,” dengus Axton. “Ia memiliki daya pikat yang dapat menguntungkan bisnisku Thomas.” Thomas menatap Axton yang balik menatapnya tanpa emosi. “Ia juga bisa menyakitiku.” “Saya rasa Nona Milly tidak akan menyakiti anda Tuan Ax,” tutup Thomas pada pembicaraan itu. Axton lantas tertawa sumbang. Setelah itu ia menatap tajam Thomas. “Apa kau membelanya? Terbius oleh parasnya Thomas?” Thomas spontan menggeleng. “Tidak. Saya tidak bermaksud begitu Tuan Ax.” “Gadis itu sudah mengetahui bahwa aku adalah orang yang melenyapkan Ibunya. Menurutmu apa yang akan ia lakukan padaku jika aku tidak lebih dulu menghancurkan hidupnya Thomas?” Beberapa detik kemudian tiba-tiba ponsel Axton di meja berdering. Memunculkan nama Chloe di sana. Thomas melirik benda persegi panjang itu dan Axton meraihnya. Hanya menatap selama sesaat. Lalu tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikirannya. “Thomas, apa menurutmu aku perlu mengganti rencanaku?” Thomas hanya terdiam sebab ia tahu pertanyaan itu tidak membutuhkan sebuah jawaban. Hanya pertanyaan retoris yang dilontarkan Axton. “Urus berkas pernikahanku dengan jalang itu Thomas,” titah Axton yang sukses memicu raut agak kaget di wajah Thomas. Namun Axton tidak memedulikan dan sudah sibuk menuangkan sampanyenya, “Secepatnya,” tambahnya lagi sebelum menenggak minumannya, mengabaikan ponselnya yang terus berdering. Entah apa yang dipikirkan Axton, Thomas tidak tahu. Ia juga tidak berniat bertanya lebih lanjut. Dan sebagai bodyguard yang setia Thomas lagi-lagi cuma bisa menjalankan perintah itu. --- “Lepaskan aku!” jerit Milly meronta, berusaha lepas dari cekalan kedua bodyguard Axton. Gaun pengantin sangat elegan melekat di tubuhnya, tapi terasa tipis. Bahunya terekspos. Segala pernak-pernik seperti anting-anting dan kalung mahal nan berkilau menghiasi dirinya. Sebuah veil pengantin terkait di belakang rambutnya. “Aku bilang lepaskan aku!” Kembali Milly berontak disertai jeritan histeris. Tidak ada make up terpoles di wajahnya. Bahkan semua yang dikenakannya saat ini adalah paksaan para pelayan Axton. Sementara Axton berjalan lebih dulu di helipad—landasan untuk helikopter—yang luas itu dengan kemeja putih dibalut setelan jas hitam, lengkap dengan celananya. Bunga kecil tersemat di sisi dadanya. Rambut yang tertata rapi sangat serasi, membuat penampilannya terkesan formal. Semilir angin malam berhembus di sekitar, menciptakan hawa dingin samar. Pintu helikopter itu kemudian dibuka oleh Axton. Ia duduk di sana. Memasang pengaman di tubuh dilanjut dengan headset khusus helikopter. “Aku tidak ingin ikut denganmu!” pekik Milly keras kepala dan Axton hanya memandangnya datar. Satu kaki gadis itu masih berpijak pada landasan. “Kalian tidak bisa melakukan hal ini denganku!” Thomas dan Robert—salah satu bodyguard Axton yang lain—sedang berusaha memasukkan Milly ke dalam helikopter itu tapi gadis itu melakukan perlawanan sebisanya. Seperti memukul lengan Thomas dan menjambak rambut Thomas. “Kau tidak apa Thomas?” Axton meringis waktu melihat Thomas menatap beberapa helai rambutnya yang rontok. “Tidak apa Tuan Ax. Ini mungkin karena faktor usia saya yang semakin bertambah.” Mendengar itu, Milly menatap sengit Thomas. Nafasnya menggebu-gebu, sisa dari pertarungan kecil yang tadi ia lakukan sebagai bentuk penolakan nyata. Ia telah duduk di sebelah Axton. Kedua tangannya terborgol. Headset khusus helikopter telah menutup telinganya, namun tidak sepenuhnya mengunci akses pendengaran. Perlahan mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Bukan karena bahagia, melainkan karena rasa benci bercampur sesak di dada. Sebab tidak ada yang bisa ia lakukan selain duduk diam diapit oleh sabuk pengaman yang begitu rapat menahan tubuhnya demi keamanan penerbangan. “Kalau begitu pastikan kau tiba lebih lebih dulu dibanding aku Thomas.” “Baik Tuan Ax.” Thomas kemudian melambai pada Axton yang mulai bersiap menjalankan helikopter. Ia akan menyusul Axton dengan helikopter lain bersama Robert karena helikopter yang dinaiki Axton dikhususkan memuat dua penumpang. Mereka semua akan menuju ke Seattle. Lokasi yang dijadikan Axton untuk menggelar pernikahan dadakannya pada sebuah gereja dan tanpa dihadiri siapapun. Jarak yang akan mereka tempuh dari Los Angeles pun berkisar 2 jam. “Hati-hati Tuan Ax,” seru Thomas begitu helikopter telah berada di atas udara, namun belum mencapai ketinggian maksimal. Sedangkan Milly mendadak diserang rasa panik. Tubuhnya menegang seketika. Sebab ini adalah kali pertama kali ia menaiki helikopter. Hingga untuk beberapa saat mulutnya terkunci rapat. Walau begitu, rasa penasaran membuat ia sedikit melirik ke bawah. Di sana, gedung-gedung pencakar langit ukurannya tampak mengecil, terlihat berkilau. Indahnya langit malam membentang luas, membentuk panorama luar biasa. Tanpa sadar Milly mengigit bibirnya, merasa takjub dengan apa yang dilihatnya. Sementara Axton terlihat begitu ahli membawa helikopter layaknya pilot. Lelaki itu kemudian bertanya singkat, “Kau mempunyai kekasih?” Dalam hitungan detik keterpanaan itu sirna. Lekas Milly menatap tajam Axton. “Untuk apa aku memberitahumu?!” Axton lantas membelokkan helikopternya. Melirik sekilas pada Milly. “Aku lupa bahwa Ibumu adalah wanita jalang. Tentu tidak ada satupun pria yang mau denganmu. Jika ada, sudah kupastikan pria itu hanya menjadikanmu s*x toy.” Lagi, Axton mencemooh Milly dengan senyuman tipis, menelusuri dari atas sampai bawah. “Karena kau sangat berisik dan punya daya tarik sensual yang mumpuni untuk meneruskan pekerjaan Ibumu.” Menyadari maksud lelaki itu membuka pembicaraan hanya untuk menghinanya, membuat Milly tidak tahan. Kedua tangannya yang terborgol mengepal. “Kau tidak berhak menghina Ibuku!” “Apa aku salah tentang pekerjaan Ibumu?” Skakmat. Milly seketika bungkam perihal fakta tersebut. Ia mengigit bibir dalamnya kuat-kuat, memilih membuang muka segera, tapi sebelum pandangannya berhasil teralihkan dari Axton, sebuah koran telah dilemparkan lelaki itu ke arahnya hingga terbuka tepat di atas pahanya. Spontan Milly menatap Axton sejenak, masih dengan hawa permusuhan, sebelum menurunkan pandangan untuk membaca berita di sana. Pada detik wajahnya memucat, di detik itu pula suara Axton meneguhkan, membuyarkan Milly dari rasa ketidakpercayaannya. “Itu adalah kau. Milly Kincaid. Dua hari lalu aku baru menghadiri pemakamanmu.” Selama sesaat Milly membatu. Tenggorokannya tercekat. Ia langsung menatap Axton dengan genangan air mata yang terkumpul di pelupuk mata. “Kau… kau menyebarkan berita kebohongan tentang kematianku?!” “Tepat sekali,” balas Axton enteng. Lelaki itu benar-benar monster. Bagaimana bisa ia tampak tenang setelah melakukan tindakan kriminal? Lantas air mata Milly spontan menetes membasahi pipi. Melihat itu Axton hanya tersenyum simpul, merasa puas. Lagi, ia berucap santai seperti sedang mengobrol dengan teman lama. “Dan aku bertemu dengan Bibimu. Siapa namanya?” “Kau tidak boleh melakukan apapun padanya!” “Tergantung seberapa menurut kau padaku.” Kadar kebencian Milly semakin dalam tertanam dalam hati pada Axton. Hingga ia melampiaskannya dengan berucap sembarangan, meski terdengar lirih, “Kau… kau monster. Kau… kau tidak pantas… ada di dunia. Ibumu pasti sangat menyesal telah melahirkan anak penjahat sepertimu.” Tubuh Axton seketika menegang mendengar kata-kata berunsur makian dari mulut Milly. Pikirannya menjadi terusik, terhempas ke masa lalu dimana dirinya tidak sengaja mendengar pembicaraan Ibu panti asuhan pada detik-detik Wella dan Otis hendak mengadopsinya. “Namanya Axton Mckell. Ibunya sempat memberikannya nama demikian selepas melahirkannya sebelum menghembuskan nafas terakhir. Kalau Ayahnya memang telah tiada lebih dulu. Perawat yang membantu persalinan Ibunya membawanya kepada saya.” “Kami sangat suka melihat senyumnya.” Otis memeluk pundak Wella mengusapnya ketika mengatakan kata-kata itu kepada Ibu panti yang sukses membuat Ibu panti itu tertawa renyah. “Ia memang termasuk anak yang aktif dan saya senang saat tahu bahwa Axton akan memiliki keluarga baru.” Wella meremas kedua tangannya dengan senyum bahagia. “Kami akan menjaga dan membesarkannya. Kami juga akan memberikan fasilitas terbaik untuknya. Ia akan hidup dengan kasih sayang dari kami.” Kemudian Wella menatap Otis dengan binar kerinduan. “Iya kan sayang?” Lalu Otis mengecup kening Wella. “Tentu saja. Ia akan menjadi anak yang paling beruntung di dunia ini karena memiliki kita berdua, honey.” Satu tangan Axton lantas terkepal erat. Ia menyorot tajam Milly, sebuah peringatan agar gadis itu bungkam. Tapi Milly justru balas menatap tak kalah tajam. Air matanya yang merangsek telah surut. Dengan berani ia menuding Axton, “Apa kau juga membunuh Ibumu?” Rahang Axton seketika mengeras. Sorot matanya pun semakin menajam. “Berhenti bicara denganku.” Milly menarik nafas dalam-dalam. Alih-alih menurut waktu sadar Axton tidak menyukai kata-katanya, justru dengan gencar ia berkata berdasarkan kesimpulan sendiri. “Kau benar-benar anak durhaka. Ibumu seharusnya membuangmu dan ia tidak—” Kalimat Milly tidak selesai karena ia kemudian memekik akibat tangan Axton yang mendadak merobek kasar gaun pengantin bagian atasnya. Begitu brutal mengoyaknya, berlanjut meremas buah dadanya hingga kepala Milly terdongak dan mendesah spontan. “Ah…” Dengan tersiksa Milly menatap Axton yang nyatanya sedang melirik ke arahnya dengan tatapan yang sulit diartikan, namun terasa mencekam. “Ibumu… Ibumu seharusnya ia tidak perlu… membesarkanmu…” Milly terus melanjutkan, sangat bebal. Nadanya pun terdengar seperti mengutuk Axton. Membuat Axton sangat tidak suka mendengarnya. Lalu dalam sekali hentak dengan kalap Axton merobek gaun pengantinnya lagi pada bagian bawah, terkesan sadis. Jeritan Milly berulang kali terdengar. Hati Axton terasa mendidih, tapi tidak tampak pada mimik wajahnya. Dan di antara aksinya itu, pandangan Axton tetap fokus ke depan, masih stabil membawa helikopter. “Hen… tikan…” desah Milly keras saat merasakan jemari Axton sekarang melesak gesit di balik dalamannya, bermain di sana dengan tempo cepat. Bahkan Milly sekarang tidak lagi terlihat seperti pengantin. Gaun bagian atasnya yang dirobek Axton telah menampakkan payudaranya, sementara bagian bawah gaunnya jauh lebih parah koyakannya hingga membuat Milly tampak memakai dalaman saja. “Kau tidak dengar kata-kataku tadi?” Kepala Milly kembali menengadah, mulutnya terbuka. Matanya bergerak gelisah bercampur merana akibat jemari nakal Axton di bawah sana. Tubuhnya menggeliat, ingin menyingkirkan jemari Axton namun tidak bisa. Tangannya masih terpenjara dengan borgol. “Aku sudah memperingatkanmu untuk diam.” Jemari itu menjadi semakin liar, mengobrak-abrik isi di dalam dirinya. Hingga lenguhan nikmat terdengar lolos dari bibir ranum Milly bersamaan dengan tubuhnya yang bergetar. Lelaki itu berhasil membawanya ke puncak hanya dengan jemarinya. Melihat itu Axton tersenyum kecut. Nafas Milly tersengal-sengal. Air matanya kembali mengucur. Ia merasa sangat buruk hingga ia mengigit bibir dalamnya kuat-kuat. “Kau menganggu konsentrasiku jalang.” Axton mengeluarkan jemarinya yang kotor oleh cairan Milly. Ia berdecak kemudian sebelum tiba-tiba menampar buah dada Milly yang bisa dijangkaunya, berlanjut mengusap sensual buah dadanya yang kebas itu, membalurkan cairan kental itu di sana. Nafas Milly menjadi tidak beraturan, mendesah kecil. Sekali lagi, pandangan Axton tetap lurus ke depan. Hanya saja, ia mulai menggeram tertahan. Hingga tangannya beraksi gemas pada payudara itu. Meremasnya lagi, cukup kuat seolah ingin menghancurkan. Otomatis Milly mendongak, menjerit kesakitan dengan air mata yang menetes di ujung matanya. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN