Awan tak tahu kenapa ia tak bisa menghentikan tatapannya yang terus tertuju pada Adel. Untuk pertama kali seumur hidupnya, di depan makanan, Awan lebih mengutamakan menatap wanita yang duduk di depannya.
“Kenapa kamu ngelihatin aku terus?” tanya Adel tanpa mengangkat tatapan dari piring makan siangnya. “Kamu nggak makan? Tadi katanya lapar.”
“Iya, emang lapar,” jawab Awan, tapi ia masih menatap Adel.
Adel menghela napas, lalu menatap Awan. “Kenapa?”
Awan tersenyum, menggeleng. “Aku nggak nyangka aja, kamu bisa baik juga.”
Adel mendengus. “Jangan salah paham. Kalau aku mecat Nugie, dan dia tahu gimana kita ketemu, dia bisa nyebarin cerita itu ke orang-orang. Aku berencana makai kenaikan gajinya buat bikin dia tutup mulut tentang cerita sebenarnya pertemuan pertama kita kemarin.”
Awan mengernyit. Apa wanita ini selalu seperti ini?
“Mending kamu buruan habisin makan siangmu karena kita masih harus belanja banyak,” kata Adel tajam.
Awan menghela napas. Apa yang ia harapkan dari wanita iblis ini?
“Kamu udah mikirin di mana kamu mau tinggal setelah kita nikah?” tanya Adel.
Awan menggeleng, lalu mulai melahap makan siangnya dengan cepat.
“Gimana kalau kamu tinggal di apartemenku?”
Awan seketika tersedak mendengar itu. Ia terbatuk sembari menepuk dadanya. Adel mengernyit jijik menatapnya, tapi sempat mendorong gelas es teh Awan ke arah Awan.
Awan menghabiskan segelas es teh untuk meredakan batuknya. Ia mengusap matanya yang berair dan berdehem untuk membersihkan tenggorokannya.
“Kamu … bilang apa barusan?” tanya Awan.
“Kalau kamu belum punya tempat tinggal baru, kamu tinggal di apartemenku aja,” ulang Adel.
“Tinggal sama kamu? Tapi, katamu …”
“Bukan tinggal sama aku,” potong Adel tajam. “Apa yang kamu pikirin?”
Awan berdehem. “Trus, maksudmu aku tinggal di apartemenmu …”
“Di lantai apartemen tempat aku tinggal cuma ada dua unit. Salah satunya aku tempati dan satunya masih kosong. Mending kamu tinggal di sana aja. Jadi, lebih gampang buat kita koordinasi tentang kehidupan pernikahan kita,” terang Adel.
Ah, jadi begitu maksudnya.
“Apa ini? Kamu berharap kita tinggal bersama?” Adel mengucapkannya dengan nada jijik.
Awan mendesis kesal. “Aku juga nggak sudi tinggal sama cewek galak kayak kamu,” balas Awan.
“Jaga kata-katamu. Kita lagi di tempat umum, dan ini kafeku,” Adel mengingatkan.
Awan mendengus sebal. “Kamu urus aja enaknya aku tinggal di mana. Aku nggak begitu peduli, sih. Yang penting, ada tempat buat berteduh pas hujan, berlindung pas panas, dan tempat buat pulang.”
Adel mendengus. “Emangnya kamu pernah nggak punya tempat berteduh pas hujan, berlindungi pas panas, dan tempat buat pulang?” cibirnya.
Awan menatap Adel lekat, memutuskan untuk tak menjawab. Adel mana tahu perasaan seperti itu? Wanita itu memiliki segalanya.
Karena itulah, dia selalu bersikap seenaknya dan tak bisa menghargai orang lain. Wanita itu selalu menilai segalanya dengan uang. Meski harus Awan akui, dengan keberadaan uang, orang-orang bisa hidup dengan nyaman.
***
Di sebuah outlet di mall, Adel memilih kemeja berbagai warna, t-shirt warna hitam dan putih, stelan berbagai warna, turtleneck warna-warna gelap, outer, celana berbagai model dan warna, sepatu juga, lalu meminta Awan mencoba semua itu. Awan melotot protes.
“Aku tunggu di sini,” kata Adel sembari duduk di sofa di ujung ruangan outlet, mengabaikan protes Awan.
Pria itu akhirnya memaksakan diri untuk mencoba semua pakaian yang dipilihkan Adel. Setiap kali mencoba, pria itu akan menghampiri Adel, tapi Adel hanya mengangguk tanpa menatapnya dan terus menatap majalah fashion di tangannya.
Hingga tiba-tiba, Adel merasakan kehadiran seseorang begitu dekat di depannya. Adel bisa menebak itu Awan.
“Kamu udah selesai?” tanya Adel sembari mendongak dari majalahnya. Namun, ia terkejut karena langsung menghadapi wajah Awan yang begitu dekat dengannya. Pria itu membungkuk ke arahnya. “Kamu ngapain?”
“Kasih lihat ke kamu. Karena dari tadi kayaknya kamu nggak lihat,” pria itu berkata dengan santainya.
“Aku milih semua pakaian itu dengan penuh pertimbangan. Aku udah milih mana yang pas sama badanmu.” Adel mendorong Awan mundur. “Kalau kamu udah selesai, kita pergi.”
“Aku belum selesai,” balas Awan dalam nada ketus.
Pria itu berbalik dan berjalan ke arah ruang pas. Namun, ketika keluar dari ruang pas, dia sudah mengenakan pakaiannya dari butik tadi. Dia menghampiri Adel dan berkata, “Kalau kamu sepercaya diri itu tentang ukuran tubuhku dan style yang cocok sama aku, kenapa harus dicoba? Langsung aja beli semuanya.”
Adel menghela napas dan mengangguk. Ia menutup majalah di pangkuannya, memindahkan majalah itu ke sofa yang didudukinya dan berdiri.
“Oke, ayo kita pergi. Kamu bisa lihat tempat tinggal barumu dulu. Besok kamu bisa pindah ke sana,” ucap Adel sembari berjalan pergi ke arah kasir untuk membayar semua pakaian Awan.
***
Awan mengernyit kecil. Ia masih berdiri diam di tempatnya ketika Adel melewatinya dan pergi ke kasir. Awan mendengar wanita itu berpesan untuk mengantar semua barang itu ke apartemennya. Rasanya semua hal begitu mudah bagi wanita itu. Namun, kenapa melihat Awan saja sepertinya wanita itu tidak bisa? Bahkan ketika Awan berdiri di depannya.
“Kamu kenapa masih di sini? Ayo pergi,” ajak Adel di belakangnya.
Awan berbalik, lalu menunduk dan berbisik pada Adel, “Apa yang kamu lakuin tadi nggak kayak orang yang lagi jatuh cinta. Sama sekali.”
Adel mendengus pelan. “s**l, aku terus lupa.”
Awan balas mendengus dan hendak menarik diri, tapi Adel menangkup wajahnya, menahan wajahnya di sana. Wanita itu lalu menoleh dan bibirnya terarah ke pipi Awan. Namun, bibir wanita itu tak menempel di pipinya. Dari cermin berukuran seluruh badan di samping mereka, Awan melihat bagaimana bibir Adel mendarat di ibu jarinya sendiri yang berada di pipi Awan.
Namun, meski bibir merah Adel tak menyentuh pipinya langsung, melihat bayangan mereka di cermin membuat tubuh Awan seketika terasa panas. Untunglah Adel segera melepasnya kemudian.
Wanita itu melemparkan senyum palsu dan berkata, “Ayo pergi.”
Seperti i***t, seperti robot, Awan hanya mengangguk kaku, lalu pergi bersama wanita itu meninggalkan outlet.
***
Siska sudah menunggu di depan pintu unit apartemen di sebelah unit milik Adel ketika Adel tiba di lantainya.
“Untuk kode pintunya tanggal lahir Bu Adel,” beritahu Siska.
Adel mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Sepeninggal Siska, Adel berjalan lebih dulu dan Awan mengikuti di belakangnya. Adel membuka kunci pintu unit apartemen milik Awan dengan memasukkan angka ulang tahunnya.
“3112 kunci kodenya. Besok begitu kamu udah pindah ke sini, minta petugas buat gantiin pinnya sesuai maumu,” beritahu Adel.
Awan mengangguk kecil, agak cuek. Adel masuk lebih dulu dan Awan mengikuti di belakangnya. “Di sini udah ada interior lengkap. Kalau kamu nggak suka, kamu bisa ganti interior-nya. Kamu bisa ngomong sama Siska. Apa pun yang kamu butuhin, kamu minta ke dia aja. Kamu punya nomornya, kan?”
Awan mengangguk.
“Oh, satu lagi. Selain DP kemarin, sampai satu tahun ke depan, semua pembayaran aku kasih cash. Kalau transfer bisa dilacak. Uang DP kemarin kalau ada yang tanya, itu uang karena aku udah nyerempet kamu,” urai Adel.
“Emangnya, ada yang bakal ngelacak rekeningku?” dengus Awan.
“Jangan ceroboh. Dalam hal apa pun, jangan ceroboh,” Adel mengingatkan tajam. “Aku ngasih kamu semua yang kamu butuhin, jadi kamu juga, ikutin semua aturanku. Jangan sampai kamu jadi kelemahanku atau alasan buat orang ngejatuhin aku. Aku mati-matian buat ada di posisiku sekarang. Kalau sampai kamu ngehancurin semua usahaku selama ini, aku juga akan ngehancurin kamu.”
Awan menatap Adel lekat, tepat di matanya. “Nggak cuma kamu yang berjuang. Nggak cuma kamu yang hidupnya penting. Jadi, jangan ngeremehin kehidupan orang lain.”
Adel mendengus kasar. “Jangan nyalahin aku kalau hidupku lebih penting dari kamu. Aku ngeremehin hal yang emang remeh. Termasuk, hidupmu. Kamu nggak lupa kan, kenapa kamu bisa dapat semua ini?” Adel merentangkan lengan. “Aku yang beli hidupmu. Jadi, jangan pernah nyeramahin aku lagi kayak gitu. Itu nggak ada di dalam kontrak.”
Awan terbungkam. Adel kemudian berbalik dan berjalan ke pintu. “Aku mau pulang dan istirahat. Dua jam lagi, kamu harus udah siap. Aku jemput kamu di kosmu dua jam lagi, pakai salah satu stelan yang tadi aku beliin. Barangnya pasti udah diantar dan ada di petugas apartemen di lobby. Kamu pilih aja stelannya dan bawa itu, sisanya besok kamu bawa ke sini,” ucapnya tanpa menatap Awan.
Lalu, Adel pun meninggalkan apartemen pria itu.
***
Awan masih menatap ke pintu apartemen yang baru saja tertutup setelah Adel pergi. Kata-kata Adel tercetak jelas dalam kepalanya, menghantamnya bagai godam.
Adel benar. Awan ada di sini, memiliki semua ini, karena ia sudah dibeli oleh Adel. Ia tak berhak protes atau menceramahi wanita itu. Bahkan, berpendapat pun tidak. Pendapatnya tak penting, kata-kata dan pikirannya pun tak berguna. Yang wanita itu butuhkan hanya sosok Awan sebagai suami yang sempurna.
Awan menghela napas dan berjalan ke sisi apartemen, ke dinding kaca yang menampakkan pemandangan langit sore di atas gedung-gedung pencakar langit itu. Di bawah sana, jalanan begitu padat, tapi entah kenapa, Awan merasa hidupnya mendadak kosong. Ada yang hilang dari dirinya. Ini bahkan lebih buruk dari saat ia mengemis makanan dari mantan-mantan kekasihnya.
Dulu, setidaknya para wanita itu memberikan makanan dengan hati yang tulus, dengan cinta. Meski Awan tak memberikan perhatian yang mereka inginkan, tapi Awan tetap mendapat perhatian dan cinta mereka. Awan merasa berharga. Ia merasa punya nilai.
Namun, saat ini ia merasa … tak bernilai, tak berharga. Adel yang membuatnya merasa seperti itu. Wanita itu tak hanya membeli hidup, tubuh, dan jiwa Awan, tapi juga harga dirinya. Harga dirinya yang tak seberapa, telah dibeli wanita itu dan diinjak-injak tanpa sisa.
Awan mendengus pelan. Sejak kapan ia peduli akan harga diri? Ia tak peduli. Ia sudah membuang itu semua dalam usahanya bertahan hidup. Ia pernah tidur di jalanan, kehujanan dan kepanasan karena tak punya tempat pulang, menerima sebungkus nasi pemberian orang yang iba melihatnya. Harga diri? Itu tak membuatnya hidup.
Namun, saat ini, Awan memiliki segalanya, tapi ada bagian dari dirinya yang seolah mati. Memikirkan itu, Awan tertawa, getir, menertawakan hidupnya sendiri.
Seumur hidupnya, belum pernah Awan merasa semenyedihkan ini.
***