Adel menjentikkan jari di depan wajah Awan, menuntut perhatiannya. Sejak mereka tiba di kafe ini tadi, pria itu terus saja melamun. Kali ini, Adel membawa mereka ke kafe yang bukan miliknya. Setelah Adel menjentikkan jarinya sebanyak tiga kali, Awan tersentak kecil, tersadar.
“Ha? Apa?” tanyanya pada Adel.
“Kamu dari tadi nggak dengerin aku ngomong?” Adel menyipitkan mata.
Awan berdehem. “Sori, aku dari kemarin kepikiran tentang kakekmu.”
Adel mendengus sebal. “Aku keluar dan nemuin kamu di hari liburku bukan buat disia-siain kayak gini, ngerti? Jadi, fokus! Aku lagi ngejelasin apa yang harus kamu lakuin kalau kamu ketemu kakek dan sepupu-sepupuku.”
Awan mengangguk. Ia akhirnya menatap ke layar i-Pad di meja. Adel kembali menjelaskan satu demi satu gambar di sana.
“Ini kakekku. Dia ngomong apa pun, abaiin aja. Cukup kamu senyum dan sok manis kayak di depan orang tuaku kemarin,” sebut Adel. “Kalau kamu berhadapan sama sepupuku, abaiin aja mereka. Mereka nggak penting. Kalau mereka bersikap kasar ke kamu, abaiin aja. Bahkan meski mereka berusaha bersikap ramah ke kamu, abaiin aja. Mereka nggak pernah benar-benar ramah ke orang. Terutama kamu atau aku. Mereka selalu anggap aku saingan dan pengen nyingkirin aku.”
Awan menghela napas berat. “Ternyata, hidup jadi kamu nggak mudah juga,” ucap pria itu, entah dia sadar atau tidak mengucapkannya.
Adel memutuskan untuk tak menanggapinya dan melanjutkan menyampaikan informasi tentang kakek dan sepupu-sepupunya. Kali ini, Awan memperhatikan dengan serius. Dalam satu setengah jam, mereka selesai dengan semua penjelasan itu dan Awan tampaknya menghafal dengan cepat apa yang Adel sampaikan tadi.
Setelah mereka selesai, Adel teringat tentang kepindahan Awan hari ini. “Kamu udah pindah ke apartemen?” tanyanya.
Awan menggeleng. “Nanti sore. Teman-temanku mau bantuin.”
“Emangnya, apa aja yang mau kamu bawa dari kos kumuh itu?” tanya Adel.
Awan menggaruk kepalanya. “Nggak ada, sih. Tapi, aku udah tinggal di sana selama tiga tahun terakhir. Mau ada ritual perpisahan dulu sama teman-temanku. Tapi, hari ini Ramli ada acara, jadi kita nunggu acaranya Ramli kelar nanti sore.”
Adel manggut-manggut. “Oke, berarti kita udah selesai di sini. Kamu nggak ada acara, kan? Ayo pergi belanja.”
Awan mengerutkan kening. “Belanja apa?”
“Piring, beberapa peralatan dapur. Siska bilang, barang-barang itu belum ada di apartemenmu. Toaster, microwave, dan sebagainya juga belum ada. Cuma ada kompor di sana. Kulkasmu juga kosong. Barang-barangnya nanti kamu pilih aja, biar Siska yang antarin ke apartemenmu. Trus, kita belanja stok makanan,” urai Adel.
“Kamu … mau nemenin aku belanja?” Awan terdengar bingung.
Adel mengerutkan kening. “Kenapa? Kan, nanti aku juga yang bayar semua belanjaanmu.”
“Aku bisa pakai uangku sendiri …”
“Kamu mau habisin uangmu buat barang-barang kayak gitu dan kelaparan, trus ngemis-ngemis makanan lagi di luar sana?” sinis Adel.
Awan mengernyit. “Aku nggak bakal ngelakuin itu lagi.”
“Lagian, uangmu kan udah habis. Siska bilang, rekeningmu udah kosong lagi. Kamu pakai apa uang sebanyak itu dalam beberapa hari?”
“Kamu … dari mana kamu tahu isi rekeningku?” protes Awan. “Lagian, aku masih punya uang cash, kok!”
Adel mengibaskan tangan. “Ayo pergi dan belanja. Hemat uangmu sampai kita nikah. Aku baru akan ngasih kamu uang bulanan begitu kita nikah, sesuai kontrak. Dan kita belum tahu itu kapan.”
Awan menghela napas, akhirnya mengalah.
“Sampai kita nikah, aku akan nemenin kamu belanja semua keperluanmu. Jadi, kamu bisa hubungi aku atau Siska kalau kamu butuh sesuatu,” kata Adel lagi.
Awan tak menjawab, tapi ia mengikuti Adel yang kemudian berjalan keluar meninggalkan kafe itu.
***
Awan membiarkan Adel memilih berbagai peralatan dapur itu untuknya. Dari toaster sampai teko listrik. Awan bahkan tak membutuhkan itu semua, sebenarnya. Setelah mereka selesai memilih peralatan dapur, Adel membawa Awan ke supermarket untuk belanja keperluan sehari-hari.
“Kamu masak, nggak?” tanya Adel.
“Masak nasi aja. Aku cuma punya rice cooker. Bisa buat masak mie juga,” jawab Awan.
Adel mengernyit menatapnya. “Trus, apa yang paling kamu butuhin buat persediaan makanan? Beras? Mie instan? Kalau kamu bisa masak, kamu bisa beli daging, ikan, atau apa pun yang kamu pengen.”
Awan menghela napas. “Wiki bisa masak.”
“Kamu tinggal sama dia?” Adel mengerutkan kening.
Awan menggeleng. “Tapi, dia sama teman-temanku lainnya bakal sering main ke tempatku.”
Adel mengangguk-angguk. “Oke, kamu boleh beli semuanya. Apa aja, terserah. Kamu masukin apa yang kamu butuhin ke troli. Aku tunggu di sini.” Adel mengedik ke kursi panjang di dekat kasir.
Awan tak menjawab Adel dan mendorong trolinya menjauh dari wanita itu. Ia membeli sekarung beras dengan berat 5 kg, lalu memindahkan beberapa pack mie instan ke trolinya. Awan juga mengambil satu pack gula, garam, micin. Lalu, ia membeli beberapa makanan beku yang mudah dimasak. Ia akan butuh makanan ini karena stok uangnya juga menipis setelah ia gunakan untuk membayar sebagian utangnya pada Ramli kemarin.
Awan berhenti di depan etalase daging dan ikan. Ia menimbang-nimbang. Sepertinya ia tidak perlu memakan daging atau ikan. Awan pun mendorong trolinya ke kasir tempat Adel menunggu tadi.
Begitu melihatnya, Adel langsung menghampiri Awan dan mengecek isi trolinya. “Cuma segini?” tanya wanita itu.
Awan mengangguk. Ia sudah akan mengeluarkan beberapa bungkus mie instan dari troli, tapi Adel mendorongnya mundur bersama trolinya.
“Ikut aku,” ajak wanita itu sembari berjalan lebih dulu.
Meski heran, Awan mengikutinya. Wanita itu pergi ke etalase perdagingan. Ia mengambil berbagai macam daging, dari ayam, sapi, hingga ikan. Tanpa ragu, ia mengosongkan etalase itu, memasukkan segala macam daging ke troli. Lalu, wanita itu pindah ke arah tumpukan beras dan memanggil seorang karyawan supermarket.
Adel meminta karyawan supermarket itu memindahkan berkarung-karung beras ke troli yang baru hingga trolinya penuh. Lalu, ia meminta beberapa kardus mie instan, beberapa kardus gula, minyak, bahkan garam. Adel kemudian menoleh pada Awan.
“Kamu butuh apa lagi?” tanya wanita itu.
Awan refleks menggeleng. “Bumbu-bumbu gitu, kayak barbeque sauce, butuh?” tanya Adel.
Awan mengerjap bingung.
Sebelum Awan sempat menjawab, Adel menoleh pada karyawan dan meminta berbagai macam bumbu instan dan berbagai macam saus untuk memasak. Karyawan itu bahkan menawarkan akan mengantarkan trolinya ke kasir dan meminta Adel menunggu di kasir.
Adel mengangguk dan pergi lebih dulu. Awan terpaksa mengikuti Adel. Wanita itu menunggu di samping meja kasir sambil melihat-lihat rak di depannya yang berisi berbagai macam permen dan cokelat.
“Kamu mau permen?” tanya wanita itu tanpa menatap Awan.
“Nggak, makasih,” jawab Awan pendek.
Adel mengangguk, sebelum dia mengambil sebungkus permen kapas. Lalu, sebungkus lagi. Lalu, sebungkus lagi. Hingga akhirnya ia mengambil semua bungkus permen kapas yang ada di rak itu.
“Itu … buat apa?” tanya Awan bingung.
“Waktu kecil, Mama ngelarang aku makan permen kapas. Sekarang, kalau lihat permen kapas, rasanya aku nggak bisa nahan godaannya,” urai Adel.
Awan ternganga, tapi kemudian ia tersenyum, tersadar akan sesuatu. Ketika Adel berkata tak ada makanan khusus yang disukainya, wanita itu salah. Karena saat ini, Awan bisa melihat betapa Adel menyukai permen kapas, melihat bagaimana wanita itu memeluk berbungkus-bungkus permen kapas itu dengan begitu erat.
Awan menunduk dan mendengus geli.
***
“Kamu sebelum pulang ke kosmu, mending di sini dulu nunggu semua pesananmu tadi sampai,” kata Adel ketika mobilnya tiba di basemen parkir apartemen tempat tinggal mereka. “Kamu tunggu aja di kamarmu. Nanti paket dari supermarket diantar ke petugas apartemen dan petugas apartemen akan ngantar semua belanjaanmu ke atas.”
Awan mengangguk.
“Jam berapa kamu janjian sama teman-temanmu?” tanya Adel sembari mengecek jam tangannya.
“Jam empat,” jawab Awan.
“Masih satu jam lagi,” ucap Adel. “Mungkin sekitar lima belas menit lagi pesananmu sampai.” Adel lalu melepas seat belt dan turun dari mobil, lalu mengambil satu kantong besar berisi permen kapas.
Dengan Awan di sebelahnya, Adel pergi ke arah lift. Mereka pergi ke lift VIP yang langsung terbuka begitu Adel memasukkan password pintu unit apartemennya. Password yang sama dengan pintu apartemen Awan.
“Kamu bisa pakai lift VIP ini. Masukin aja pin pintu kamarmu,” beritahu Adel sembari masuk ke lift. “Kita nggak perlu nunggu lift kayak yang lain. Well, kecuali kalau salah satu dari kita ada yang makai lift. Lift ini khusus buat lantai kamar kita aja.”
Awan mengangguk-angguk.
Tak lama, mereka tiba di lantai mereka. Adel sempat berhenti di depan pintu apartemen untuk berkata pada Awan, “Kamu tunggu aja di dalam sambil istirahat.”
Awan hanya mengangguk, tapi ketika Adel melangkah pergi, pria itu memanggilnya. Adel menoleh.
“Apa?”
“Makasih udah nemenin aku belanja hari ini,” ucap Awan.
“Well, itu udah kewajibanku,” sahut Adel. “Anggap aja ini kencan pertama kita.”
“Kedua,” sahut Awan.
Adel mengangkat alis.
“Kemarin yang pertama,” ucap pria itu.
Adel mendengus, mengangguk menyetujui. “Aku akan hubungi kamu kalau ada yang perlu kita omongin tentang pernikahan kita. Kalau ada yang mau kamu tanyain tentang grup Wiratmadja, kamu juga bisa hubungi aku.”
Setelah mengatakan itu, Adel pergi ke unit apartemennya. Adel sudah masuk ketika teringat sesuatu. Ia membuka pintu dan dilihatnya Awan masih berdiri di depan pintu unit apartemennya.
“Kenapa?” tanya pria itu.
“Aku mau ngingatin sesuatu,” Adel berkata.
“Apa?”
“Jangan ngerokok di dalam ruangan. Ada detector-nya,” beritahu Adel.
“Kamu nggak perlu khawatir. Aku nggak ngerokok,” balas Awan.
“Oh. Hidup sehat? Good, then,” Adel mengakui. “Teman-temanmu?”
Awan menggeleng. “Ramli nggak boleh dan nggak bisa ngerokok. Jadi, akhirnya kita semua mutusin buat nggak ngerokok.”
Adel mengerutkan kening. Ia belum pernah mendengar alasan sebodoh itu untuk seorang pria tidak merokok. Namun, ia hanya mengangguk, lalu menutup pintu apartemennya. Adel sudah akan beranjak dari pintu ketika interkomnya berbunyi, ada panggilan dari lobby.
Adel mengangkat panggilan dan bertanya, “Ya?”
“Selamat sore, Bu, ini ada kiriman dari supermarket,” beritahu petugas.
“Oke, antar ke unit sebelah sama pesanan yang kemarin,” pesan Adel.
“Baik, Bu,” jawab petugas apartemen dengan sopan.
Adel menutup interkom dan membuka pintu, berniat pergi ke unit apartemen Awan. Namun, ia terkejut ketika melihat Awan masih berdiri di depan pintunya, menatap ke arah pintu apartemen Adel.
“Kamu kenapa belum masuk?” tanya Adel.
“Nunggu kamu, siapa tahu kamu muncul lagi kayak gini,” jawab pria itu.
Adel berdehem. “Barusan aku dikabari kalau pesananmu udah sampai. Sama belanjaan yang kemarin juga akan segera diantar ke tempatmu,” beritahu Adel.
Awan mengangguk, lalu berkata, “Aku habis ini mau masuk. Kalau kamu butuh ngomong atau ngasih tahu sesuatu, kamu bisa telepon aku.”
“Oh, okay, no worries,” sahut Adel, sebelum buru-buru menutup pintunya.
Benar juga. Ia kan, bisa menghubungi Awan lewat teleponnya. Sepertinya otaknya sedang malas bekerja.
***