Part 17: Believe

786 Kata
"Al? Ini kamu nak?" Tanya seorang wanita yang umurnya kira kira masih 38 tahun yang masih berparas cantik. Wanita itu langsung memeluk Al. "Iya tante." Jawab Al sambil membalas pelukan wanita itu. "Yaampun udah lama gak ketemu, Makin tampan aja kamu Al. Claudia semalam cerita sama tante kalau kamu sama Claudia satu sekolah terus katanya kamu mau jemput dia hari ini." Ujar Wanita yang ternyata bernama Ririn itu. Mama Claudia. "Iya tante. Udah janji soalnya sama Claudia." Ucap Al "Yaudah yuk masuk!" Ajak Ririn Al mengangguk. Al masuk dan menemui Claudia sedang memakai sepatunya. "Kamu mau minum apa Al?" Tanya Ririn "Gak usah tante. Bentar lagi udah mau berangkat." Jawab Al tidak enak. "Yaudah kalau gitu. By The Way kamu Dirgantara kan?" Tanya Ririn. Al mengangguk. "Wahh.. Kalau gitu cucu plus anaknya pemilik sekolah donk." Ucap Ririn. "Iya tante. Kakek yang punya tapi udah diambil alih sama papa." Jelas Al Ririn mengangguk. "Kalau gitu tante keatas dulu ya". Ucap Ririn Al mengangguk. "Duduk sini Al." Ajak Claudia Al menoleh. "Kita gak langsung berangkat aja?" Tanya Al "Kalau gitu aku ngambil tas dulu ya diatas." Ucap Claudia Al mengangguk. Selang beberapa detik, Claudia turun dari tangga dengan membawa sebuah tas dipundaknya. "Yuk Al!" Ajak Claudia. Al mengangguk. Mereka keluar dari rumah dan Claudia menemui sebuah motor. "Lo gak bawak mobil Al?" Tanya Claudia. "Gak. Kenapa?" Tanya Al "Gak apa apa sih. Gue pernah hampir jatuh waktu naik motor." Jelas Claudia "Lo trauma?" Tanya Al Claudia mengangguk. "Lo gak bakalan jatuh. Percaya sama gue." Ucap Al "Yaudah deh" Ucap Claudia pasrah. "Pegang gue!" Ucap Al setelah melihat Claudia sudah menaiki motornya. Mendengar itu, Claudia langsung memegang pundak Al. "Bukan disitu. Tapi disini." Ucap Al sambil menaruh tangan Claudia keperutnya. Melihat hal itu, wajah Claudia memerah. Apalagi saat merasakan perut kotak kotak milik Al. "Udah?" Tanya Al Claudia mengangguk. "Eh- tapi kalau Caca lihat terus dia marah gimana?" Tanya Claudia "Urusan itu nanti aja. Yang penting lo gak jatuh." Jawab Al Claudia mengangguk sambil menahan senyum dibibirnya. 'Ya Tuhan, jangan sampai perasaan itu datang lagi.' Batin Claudia Caca memasuki kelasnya dengan langkah cepat. Dia menarik nafas panjang. Dia kelelahan. "Lo kenapa?" Tanya Adel heran "Tega amat lo, Del" Ucap Caca "Tega apaan?" Tanya Adel "Gue tadi telat bangun. Terus waktu udah siap beres beres, gue cari Devin tapi gak ada. Terpaksa gue lari lari ke halte. Haltenya malah jauh banget lagi. Waktu udah sampai disekolah, gue tanya Devin. Katanya dia jemput lo." Jelas Caca "Yaampun Ca, Sorry banget ya. Gue udah nolak. Tapi Devinnya maksa. Kata Devin, lo sama Al." Ucap Adel "Lo kan tau hubungan gue sama Al belum beres." Ujar Caca "Iya iya sorry." Ucap Adel. "Jelas jelas tadi Al sama Claudia kok gue lihat." Ujar Shaffa. "Claudia? Berangkat bareng maksud lo?" Tanya Adel Shaffa mengangguk. "Peluk-pelukan lagi." Ujar Tata "Lo tau Ca?" Tanya Adel "Berangkat barengnya gue tau. Kalau peluk pelukannya gue gak tau. Emangnya mereka kayak gitu ya?" Tanya Caca Tata hanya mengangguk. "Ohh gitu." Ucap Caca "Lo gak cemburu?" Tanya Shaffa "Cemburu sih iya. Tapi tadi malam gue tanya Al soal Claudia. Katanya mereka sahabatan gitu waktu kecil." Jelas Caca "Lo pikir karena mereka sahabatan, mereka gak bisa punya perasaan?" Tanya Shaffa "Gue percaya kok sama Al. Lagian mereka cuman sahabatan kok." Ujar Caca "Terserah deh Ca. Tapi ingat ya! Mustahil kalau cowok sama cewek sahabatan, tanpa ada salah satunya yang memiliki perasaan." Ucap Adel. Caca mengangguk. Dia tetap percaya pada Al. Kring!!! Bel masuk berbunyi. "Selamat pagi anak-anak." Sapa Pak Doni. Guru Biologi. "Selamat pagi Pak." Sapa mereka balik. Pak Doni menjelaskan semua dipapan tulis. Caca yang duduk dipaling belakang itu hanya termenung karena memikirkan ucapan Adel. Selang beberapa jam kemudian. Kring!!! Bel istirahat berbunyi. Caca tersadar dari lamunannya. 'Yaampun, Dua jam gue melamun? Gue melamun apa tidur?' Batin Caca "Baiklah. Sebelum kalian istirahat, bapak akan memberikan tugas kelompok. Pembagian kelompoknya sudah bapak tempel di mading kelas kalian." Ucap Pak Doni. "Baik Pak." Ucap mereka "Bapak permisi." Ucap Pak Doni Mereka semua hanya mengangguk. Caca berdiri dan menghampiri mading kelasnya itu. Dan dia tersentak. 'Gue kok satu kelompok sama Claudia sih?! Kenapa gak sama yang lain aja?' Umpat Caca dalam hati. "Lo kenapa sih?" Tanya Adel "Gue sekelompok sama Claudia." Jawab Caca "Yaudah sih terima aja. Lo juga satu kelompok kok sama Tata." Ujar Adel Caca hanya mengangguk. "Lo gak kekantin?" Tanya Shaffa "Kantin kok. Kuy!!" Ajak Caca Baru mereka beranjak dari sana. Seseorang menghalangi mereka. "Mau kemana lo semua?" Tanya Frishka. "Kantin. Kenapa? Kangen lo sama kita?" Tanya Adel "Gak usah bercanda ya. Gak lucu." Ucap Frishka "Emangnya ada masalah apa lagi sih?" Tanya Caca "Fa, Jelasin!!" Ucap Frishka Aliffa maju dan menampakkan wajah marahnya. "Ada hubungan apa lo sama Dio?!" Tanya Aliffa sambil mendorong tubuh Shaffa "Gue gak ada hubungan apa apa sama Dio." Jawab Shaffa "Kalau emang gak ada hubungan apa apa, ngapain lo peluk peluk Dio waktu pulang sekolah kemaren sampai dianterin pulang sama Dio?!" Tanya Aliffa Caca, Adel dan Tata terkejut mendengar hal itu. "Dia cuman mau hibur gue waktu itu." Jawab Shaffa. "Awas kalau sampai gue lihat lo kayak gitu lagi sama Dio?!" Ancam Aliffa dan langsung mengajak teman temannya pergi dari sana. Shaffa menunduk. Dia menangis. Bebannya bertambah. Apa yang harus dia jelasin kepada sahabat sahabatnya itu? "Lo harus jelasin ke kita sekarang!" Ucap Adel
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN