Oma,,Opa,,Jangan Pergi Lagi !!đŸ˜¶â€đŸŒ«ïž

1339 Kata
Akhirnya nyampe juga di ruang kepala sekolah. Mission: school enrollment unlocked! Prasetyo knock-knock sambil bilang, “Permisi,” terus masuk. Di dalem udah nunggu Cahyono—the big boss sekolah ini. “Datang juga kau, Prasetyo,” celetuk Cahyono. Lalu matanya nyasar ke Audi, “Apakah ini cucumu? Cantik sekali.” Opa cuma angguk casual, tapi Audi feeling awkward kayak jadi main character di t****k. “Audi, beliau pemilik sekolah ini dan itu kepala sekolahnya bernama Burnadi,” Opa kasih clue sambil nunjuk Burnadi. Audi langsung switch mode ke formal, “Kakek, Paman, perkenalkan aku Audi,” sambil salim tangan. Cringe dikit, tapi harus survive! Cahyono lalu start the small talk, “Halo Audi, kamu ingin bersekolah di sini?” Audi cuma angguk-angguk, speechless mode sambil Cahyono senyum simp. “Apakah mulai besok kamu siap?” tanya lagi. Audi confidently nge jawab, “Aku siap kakek,” padahal hati deg-degan kayak mau presentasi grup. Cahyono back to business, “ Oke kalo gitu , Aku kan bicara dulu dengan Opa-mu dulu. Jika kamu ingin berkeliling, silakan ditemani dengan Burnadi.” Burnadi—yang double job sebagai kepala sekolah sekaligus anak kedua Cahyono—ngangguk mau anterin Audi keliling. Tapi Audi refuse halus, “Paman, aku sendiri saja, tidak usah diantar.” “Baiklah, semoga nyaman, Audi,” ujar Burnadi. Audi pun lansung exit ruangan kayak escape room gitu, langsung si doi scan lingkungan. Vibe-nya rame tadi sekarang udah like ghost town—kayaknya kelas udah mulai. Audi jalan pelan seraya overthink, “Gue harus bisa adaptif di sini
 Jangan sampe ketemu Mikey 2.0.” Audi ngedumel dalam hati, “Apakah sekolah kakak juga seperti ini?” Vibe-nya mixed feelings—pengen seksek satu sekolah sama kakaknya, tapi dia tau resikonya, kakaknya bakal saltier than french fries kalo ketemu dia di spot yang sama. Yaudah lah, move on !! Dia melipir ke lapangan kosong, matanya berbinar-binar kayak nemuin hidden gem gitu. “Aku tidak sabar,” gumamnya, imajinasi si doi langsung ngeflash ke scene dia vibing di sekolah keren ini. Tapi tiba-tiba squads olahraga pada coming in hot ke lapangan. Audi auto mundur pelan-pelan— wichis doi gak mau jadi pengganggu sesi gym mereka lah. “Apa ini yang disebut pelajaran olahraga?” , dia ngomong dalam hati, sambil low-key ngiri liat mereka chill berlarian. “Sangat menyenangkan,” tambahnya, meski mood udah drown gegara feeling out of place. Tiba-tiba ada suara ngegas, “Minggir.” Audi kaget, langsung nunduk level expert sambil cempreng, “Maaf.” Cowok yang nyuruh minggir itu melinggis, baru nyadar kalo Audi gak pake seragam—wah, ini mah newbie alert! Mukanya kayak lagi ngeproses error 404 , “Wait, siapa nih? Kok belom pernah liat?” Dari kejauhan, Opa nyaut , “Audi, ayo kita pulang.” Audi ngangguk kayak robot langsung nyusul sambil nutup muka biar gak keliatan kena mental damage. Tapi drama belum berakhir, squad cowok tadi mulai nyinyir. Satu ngoceh, “Kayaknya bakal jadi anak baru.” Yang lain nambahin, “Orang luar kah? Cantik.” Audi denger-denger gak denger, tapi aura awkward masih nempel kayak badged di jaket. Gak lama kemudian mereka touchdown di rumah, Audi dan Opa disambut Oma yang udah standby dengan haul alat sekolah baru. Vibe-nya mixed—Oma skip ke sekolah tadi cuma demi hunt pensil, buku, sama seragam buat Audi. Ruang tamu low-key jadi merch store dadakan. Audi softly bilang, “Oma, terima kasih,” sambil stare ke tas belanja yang overflowing. Oma reply dengan warm hug, “Sama-sama, sayang. Besok sudah mulai sekolah, belajarlah dengan rajin.” Opa ikut nimbrung sambil passing paper bag, “Ini simpan seragam sekolahmu.” Audi unfold seragamnya—literally kayak stacks on stacks gitu! “Seragamnya banyak sekali, apa setiap harinya ganti? Tapi kenapa seragamnya berbeda dengan milik kak Mikey dan kak Leony?”, tanyanya confused. Tiba-tiba Leony muncul kayak jumpscare, casual nyeletuk, “Sekolahnya kan beda, seragamnya juga pasti beda, Audi.” Audi blank stare, “Begitu kah?” Mikey nyamber dari belakang, “Iya begitu, lagian kamu sih gak mau satu sekolah sama kakak.” Senyum Mikey kayak glitter—keliatan cantik, tapi tajam. Audi ngeces dikit, feeling kayak ditusuk pinset. Dia tau itu sindiran halus, “Lo pilih sendiri, jangan ngarep kami accept lo.” Drtttt—HP Prasetyo ngesound kayak alarm kiamat, vibe cozy keluarga ala-ala keluarga cemara pun langsung hancur lebur. Ternyata Marno, right-hand man-nya, call buat nagih tugas. Prasetyo angkat sambil muka serius, “Ada apa, Marno?” Doi Dengerin update bentar, then langsung drop bomb, “Baiklah, aku akan datang satu setengah jam lagi.”* Ani (Oma) nyaut cemas, “Kenapa?” Prasetyo jawab flat, “Kita harus terbang kembali ke Jepang.” Bruh !!!!! Semua freeze—kayak scene film pas protagonis ditinggal ghosting. Oma coba kuat-kuat, “Hm, baiklah kalian harus jaga diri baik-baik, ingat kita akan selalu mengawasi kalian dari jauh.” Mikey, Leoni, Audi cuma bisa ngangguk kayak robot yang baterainya mau low. Oma lirik Audi, feeling guilty, “Audi, maafkan Oma tidak bisa mengantarkan hari pertamamu ke sekolah baru.” Audi jawab sambil keluarin fake smile, “Tidak apa-apa, Oma," " lagi pula ada kita berdua yang akan mengantar adik kita yang satu ini.” sahut Leoni sambil ngomong itu lirik Mikey—kayak mau bilang, “Siap-siap mental torture lagi nih.” Mikey casual kasih fake reassurance, “Oma tenang saja, Audi akan selalu kita jaga. Berangkat dan pulang akan selalu aku antar.” Oma angguk-angguk paksa trust, “Oma percayakan ke kamu, karena kamu cucu tertua, Mikey.” Tapi semua tau ini cuma formalitas—Mikey-Leoni kan emang squad toxic-nya Audi. Awkward hug session pun dimulai. Oma peluk ketiganya, Audi bisik, “Aku akan merindukan kalian,” sambil nahan waterworks. Leoni? Malah ngepalkan tangan diem-diem—jijik banget pas dempetan sama Audi, “Benar-benar menyebalkan, menyebalkan,” dia gerutup dalem hati. *** Begitu Oma-Opa ghosted, Audi feeling kayak abandoned account—left on read di tengah toxic sibling warzone. Cuma Bulbul, si kucing fluffy, yang jadi emotional support-nya. “Bul-”, Audi baru buka mulut, langsung dipotong sama suara BRAK! Leoni nyeret rambut Audi kayak yanking wig di t****k challenge. “Sini lo,”, hardiknya. Audi stutter, “Maaf kak, t-tapi tolong lepas, ini sakit.” Padahal doi gak salah apa-apa—apology autotune udah jadi default setting-nya. Leoni boiling rage, “LO GAK USAH CARI MUKA TERUS, LO ITU SELAIN BIKIN MAMA GUE MENINGGAL, LO JUGA AMBIL KASIH SAYANG OMA GUE!” Mukanya merah kayak tomato, tangan nancep di rahang Audi. Audi cuma bisa whisper, “M-maaf kakak, maafkan aku, t-tapi ak-” PLAK!! Tamparan flash ke pipinya. “Pembawa sial,” Leoni spit, kayak Audi walking bad luck. Audi clutch pipi yang burning wichis itu aakit banget , matanya squeeze shut—trying not to crumble. Tapi Leoni gas terus. “ DASAR Serakah, untung bokap udah gak ada, karena kalo ada pun pasti lebih sayang sama anak yang jelas-jelas pembawa sial.” Audi try to defend, “Maaf jika aku sal-” Tapi Leoni cut off, “LO SELALU SALAH, AKAN SELALU SALAH.” Audi holding back tears, tapi Mikey nyamber , “NANGIS! LO SELALU BEGITU CENGENG, GAK GUNA, MENYUSAHKAN DAN PEMBAWA SIAL!” Mikey drop the truth bombs, “Lo pikir gue mau nganter lo sekolah? Jangan ngarep karena itu gak akan pernah.” Trus switch vibe ke Leoni , “Leoni, apa kamu mau ikut? Kakak akan pergi nongkrong.” Leoni langsung glow up nge jawab, “Tentu aku ikut, aku ganti baju dulu.” Dia zoom out ke kamar, tinggalin Audi yang curled up si lantai. Mikey last roast, “ Dan lo pembawa sial, awas lo bikin masalah,” sambil slam pintu kamar Audi kenceng-kenceng. Audi sobbing, “Hiks, kenapa? Kenapa aku menangis?” Dia slump di pintu, muffled cries ditutupin tangan. Mikey teriak dari luar, “BERHENTI MENANGIS!” Audi clamp mulut pake tangan— but silent scream. batinnya screaming louder, “Hiks, bukan aku, tapi hatiku yang membuat mata ini mengeluarkan air.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN