Bola Oper

1233 Kata
"Nadnad.. Rinduuu parah.. Parah.." Rayya memeluk Nadine erat. Mereka janjian untuk bertemu di apartemen malam ini. Nadine pun tak kalah membalas pelukan erat Rayya seolah menumpahkan apa yang ada dihatinya. "Dasar cewek! Kalo ketemu heboh mulu!" Nathan yang sedang duduk di sofa mendadak bangkit dan menyambut Brian yang juga ikut serta. "Gimana, Nate.. Rasanya dikangenin mantan?" Brian mendengus saat mengucapkannya. Nadine beralasan agar Brian cemburu. Tak ayal lelaki itu sudah paham betul bagaimana hubungan Nathan dan Nadine. "Dan gimana rasanya nganterin istri yang lagi kangen sama mantan?" Mereka tergelak bersama. Rayya dan Nadine yang mendengarnya hanya mencibir. Nadine sengaja membawa dua bungkus martabak manis untuk cemilan mereka. Rayya langsung melangkah ke pantry diikuti Nadine. Sedangkan Nathan dan Brian mengobrol di sofa. "So gimana Aidan? Katanya dia muncul mendadak?" Rayya terkekeh pelan mendengarnya. "Ga gimana-gimana. Kami baik." "Baik means?" "We're friend!" "Lo sama Nathan juga dari dulu friend. Lama-lama friendzone!" "Nad!" "Apa? Gue bener kan? Kalian kenapa ga jadian aja sih? Gajah di pelupuk mata tak tampak!" "Gue sama Nathan temenan udah dari kecil, please deh!" "Trus kenapa kalo dari kecil? Ga boleh pacaran? Heran!" "Lo aja ga pernah cemburu kan liat gue sama Nathan dulu? Baik-baik aja kan lo? Itu buktinya gue sama Nathan ga ada apa-apa." Cetus Rayya sambil memindahkan martabak manis tadi dari box ke piring saji. "Lo tuh polos apa bego sih, gue cemburu tiap hari, Ray!!!" Rayya diam sejenak mengamati raut muka Nadine. Dia berharap Nadine hanya bercanda. Tapi sepertinya... "Hah? Serius? Jangan-jangan lo putus gara-gara gue? Nad.." "Emang!" Nadine tak kuasa menahan tawanya. Ada kepuasan tersendiri melihat Rayya dengan perasaan tidak enaknya. Rayya hanya mencebik dan masih bertanya-tanya penyebab putusnya Nathan dan Nadine. Menjadi sahabat Nadine sekaligus Nathan, membuat gerak-gerik Rayya tidak bebas saat mereka berpacaran. Rayya hanya bisa melarikan diri ke Aidan untuk menghindari mereka. Nadine yang cenderung sering curhat dan Nathan yang sering mengabaikan. Rayya yang selalu menasehati Nathan hanya ditanggapi dengan dengusan. Rayya membawa dua piring martabak manis ke ruang tengah. Mengamati Nathan dan Brian yang sama sekali tidak ada kecanggungan. Brian adalah sosok dewasa yang memang dibutuhkan Nadine yang lebih cepat bertindak tanpa dipikirkan. "Kalian bawa apa abis honeymoon? Ga ada oleh-oleh gitu buat gue?" "Ada tapi masih di apartemen gue, Ray.. Tadi kita abis dari rumah mama langsung kesini. Lo katanya mau ke Jogja?" "Nungguin liburnya Nathan. Ayah ga ngebolehin berangkat sendiri." "Tapi bulan depan gapapa ya, Ray? Aku jadwal meeting sama photoshoot penuh." Nathan memang sedang sibuk-sibuknya. Acara mendiamkan Rayya selama hampir dua minggu kemarin bukan hanya karena Aidan, tapi memang load kerjaan yang menumpuk. "Coba sama Aidan aja kalo pengen dalam waktu dekat. Dia kan masih free disini." Usul Nadine. Rayya tahu usul Nadine hanya akan memperkeruh suasana. Dilihat dari raut muka Nadine sepertinya memang memancing keadaan. "Naaaddd!" "Iya bener kata Nadine, kalau pengen dalam waktu dekat ga harus sama aku kan, Ray?" Potong Nathan. Rayya hanya menatap Nathan tanpa berkata apa-apa. Dia kemudian beranjak membuka kulkas untuk meneguk air putih dan menetralisir perasaannya yang entah kenapa bisa kacau karena kata-kata Nathan. ***** Nadine sudah mulai mengantuk dalam perjalanan pulang dari apartemen Nathan. Dia mencoba untuk memejamkan mata. "Nad, kamu udah keterlaluan tadi? Bisa-bisanya kamu nyuruh Rayya pulang ke Jogja sama Aidan di depan Nathan!" Tegur Brian. "Babe, Nathan sekali-kali harus di sentil. Ga cukup apa aku putusin dulu, masih aja ga nyadar sampai sekarang! Aku tuh udah gregetan tau ga, mereka itu ga bisa pisah tapi suruh jadi satu juga susah amat!" Ucap Nadine membela diri. "Kan ada cara lain, Nad.." "Ga ada, babe.. Nathan tuh harus di geplak kalo perlu. Dia tiga tahun ini ngapain aja, sampai Aidan balik dia ga ada hasil!" "Ya tapi ga seharusnya kamu ikut campur, mereka kan udah sama-sama dewasa." "Arghhh, aku ga jadi ngantuk kalo mikirin mereka. Kesel bawaannya. Si Rayya juga, apa susahnya cewek ngomong duluan." Brian hanya bisa terkekeh melihat kejengkelan istrinya, kemudian mengusap kepala Nadine lembut. "Nanti kita bantu bareng-bareng ya.. Katanya Nord sering godain Rayya?" "Nord juga tau itu si Nathan cinta mati sama Rayya makanya kesel juga dia!" "Ya udah ajak Nord untuk nyadarin mereka, Nathan terutama. Ada Aidan, ada Nord. Lengkap penderitaan Nathan." "Ahhh baby, kamu pinterrrr.." Nadine mengecup pipi Brian berulang-ulang. "Sayang, aku lagi nyetir.. Heyyy.. Lanjut di rumah, okay? Dapet yang lebih nanti! Ga bakal ngantuk!" "Brian!!!!" Brian tergelak menyadari betapa menariknya Nadine yang sedang tersipu malu. Suasana pengantin baru bertolak belakang dengan suasana hati seseorang. Nathan termenung mengingat perkataan yang dia lontarkan kepada Rayya tadi. Rayya tidak menjawab apapun pertanyaan, atau lebih tepatnya pernyataannya. Masih mengingat jelas wajah kaget Rayya saat dia melontarkan perkataan itu membuat Nathan marah kepada dirinya sendiri. Seharusnya saat-saat seperti ini dia perjuangkan. Nathan merasa tenang selama tiga tahun ini kehidupan Nathan dan Rayya baik-baik saja tanpa masalah. Tapi semenjak Aidan datang, entah kenapa Nathan merasa akan mudah tersingkirkan. Mengingat hubungan Rayya dan Aidan yang membaik. Nathan tahu pasti mereka terpisah karena masalah restu orang tua. Bukan karena perasaan mereka. "Gue mau mampir ke workshop Rayya nanti sore." Nord yang sedang menikmati sebungkus nasi padang bersama Nathan membuka suara. "Ngapain lo? Ngerajut?" "Pas ada meeting deket-deket situ, trus nge-dm Rayya katanya boleh mampir." "Lo baek-baek ya, Nord!" Ancam Nathan. "Gue baik, Nate.. Rayya juga baik. Siapa tau jodoh! Awwww.. Apaan sih lo ah jitak kepala orang udah kayak nabuh drum!" Nathan yang sedari tadi menahan emosi akhirnya hanya menghela nafas panjang. Dia kesal dengan sikap Nord yang seenaknya. ****** "Ayah.." "Hei, jadi mau ke Jogja kapan?" "Uhm, Rayya terbang sendiri gapapa ya, Yah?" "Nathan kemana? Sibuk? Nunggu Nathan ga sibuk aja." "Ga mau, Yah.. Rayya ga mau ngrepotin terus. Nathan punya kesibukan sendiri, Yah.." "Ya sudah kalau gitu, kapan?" "Minggu depan, Yah.. Rayya pengen liburan juga." "Tapi sebentar lagi Alex ke Jakarta kayaknya. Apa mau berangkat sama Alex aja, nanti Ayah tanya dulu kapan dia berangkat." "Kalo Om Alex sebentar lagi ke Jakarta, Rayya tunggu gapapa, Yah" "Iya, kalau ga kamu coba telpon Alex ya." "Ya, Ayah.." "Udah dulu ya, Ayah ada janji sama temen-temen." "Oke, Ayah jaga kesehatan ya.. Bye, Ayah!" "You too, Bye!" Rayya sedang menikmati waktu santainya di sofa saat Ayahnya menelpon. Nathan yang sedang membuat dua gelas kopi untuk mereka sedikit mencuri dengar pembicaraan tadi. "Papa mau ke Jakarta? Kok aku ga tau?!" "Kamu terlalu sibuk, Nate.. Kapan kamu terakhir telpon Om dan Tante?!" Rayya mengatakan itu tanpa menatap Nathan sama sekali. "Trus jadinya mau ke Jogja sama Papa?" Tanya Nathan penasaran. Dia sebenarnya ingin mengantar Rayya, tapi setelah melontarkan pernyataan kemarin dirinya menjadi urung. "Maybe." "Bulan depan aja kalo ga, sama aku." Rayya menoleh sejenak mendengar tawaran Nathan kemudian mendengus kesal mengingat beberapa hari yang lalu Nathan memintanya, lebih tepatnya, secara tidak langsung menyetujui ide gila Nadine. "Awalnya bilang mau nganter, trus pasrahin aku ke orang lain, trus sekarang bilang mau anter lagi. Emang kamu pikir aku bola apa di oper-oper." "Ya kan katanya mau pengen dalam waktu dekat." "Aku ga ngomong gitu ya, Nate.. Itu kesimpulan kamu sendiri. Trus kamu ga bisa terus-terusan ngatur tiba-tiba nyuruh pergi sama si A atau si B yang bahkan kamu aja ga percaya sama dia." "Ray.." "Udah ah males bahas, aku berangkat sama Om sama Tante, kalo kamu pengen tahu. Ini bukan karena aku ga mau berangkat sama Aidan, tapi lebih ke aku ga mau berangkat sama kamu yang tukang oper." Rayya akhirnya beranjak dan masuk ke dalam kamar. Nathan hanya bisa menatap punggungnya kesal. Merutuki diri sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN