Kecanggungan malam ini dilengkapi dengan tayangan acara TV. Deheman demi deheman tercipta memecah kecanggungan saat menonton film ini.
Disinilah Rayya dan Nathan. Di ruang tengah apartemen dengan sebungkus popcorn dan soda, menonton film Love, Rosie! Masing-masing dari mereka berandai-andai. Tanpa tahu perasaan masing-masing dan apa yang di pikiran keduanya. Menyibukkan diri dengan apa yang di benak mereka.
Apakah kisah ini akan terjadi dalam kisah mereka?
"Ray.." "Nate" sahut mereka bersamaan
"Kamu dulu."
"Eh? Aku dulu?"
"Iya kamu dulu, Rayya.." Nathan tersenyum. Senyum yang sangat dirindukan Rayya. Tak ayal senyum Nathan mengundang bibir Rayya untuk tersungging juga.
"Uhm.. Aku minta maaf. Aku kemarin lagi PMS kayaknya. Berasa abege labil yang ngambek ga jelas."
"Aku juga minta maaf. Aku akui Aidan bikin aku naik darah." Nathan menghembus nafasnya kasar.
"Hm, bener berarti gara-gara Aidan. Lagian apaan sih, Nate? Masalah Aidan udah clear kalik! Ga sepelik yang kita bayangin!"
"Ya tetep aja ngeselin, Ray!"
"Tapi kan bukan salah Aidan sepenuhnya."
"Whatever! Yang penting kita baikan. Titik! Ga usah bahas Aidan!. Rayya mendelik.
"Yang bahas duluan siapa? Kamu!"
"Emang!"
"Dasar ambekan!"
"Dasar labil!"
"Tukang ngomel!"
"Tukang ngeles!"
Seketika mereka bertatapan. Kemudian tergelak bersama. Beginilah momen berbaikan tercipta. Sederhana.
Fokus mereka kembali ke layar tv yang masih memutar film yang sebentar lagi selesai. Soda yang menipis. Popcorn yang juga hampir habis. Tapi tidak ada yang ingin beranjak. Seakan benar-benar menikmati sapaan kerinduan. Mereka melanjutkan dari film ke film. Cemilan yang berganti. Kaleng soda kosong yang lumayan banyak. Sampai akhirnya mereka sama-sama letih. Terlelap dalam impian masing-masing. Hingga pagi menyapa.
******
Rayya perlahan membuka matanya. Tubuhnya terselimuti kain yang dia rajut sendiri. Rayya memutuskan untuk duduk dan mengedarkan pandangan. Teringat semalam Rayya dan Nathan tertidur di sofa. Di dapur, terlihat Nathan bergerak kesana kemari. Dari kulkas ke arah kompor kemudian menyediakan piring dan meletakkan sesuatu diatasnya. Rayya tersenyum senang. Pemandangan ini sudah sebulan lebih tidak menghibur iris matanya.
Nathan yang menyadari Rayya otomatis menyapa. "Morning, baby!"
"Morning!" Rayya menyapu pinggiran matanya dan melangkah ke pantri.
"Kita berdua ketiduran. Dan aku baru bangun sejam yang lalu. Makanya aku ga pindahin kamu ke kamar."
"Pegel semua!"
"Sama, Ray!" Mereka terkekeh bersamaan.
"So, fetuccini for breakfast, Nate?"
"Hmm. Mau kan? Cuci muka dulu dan sikat gigi sana. Abis itu baru sarapan."
"Kapan aku milih-milih?!"
"Sering!" Rayya mendengus dan beranjak ke kamarnya untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Butuh waktu sekitar sepuluh menit kemudian dia kembali ke pantri dan duduk berhadapan dengan Nathan.
"Aku cuti dua hari. Kita jalan yuk!"
"Cuti? Dalam rangka?"
"Meeting yang aku undurin kemarin pas di jogja jadwalnya start Senin besok. Setelah itu aku bakal sering lembur dan pulang malam. Banyak deadline dan photoshoot. Kamu bakal sering sendirian. Jadi sebelum itu kita short vacation dulu."
"Ya udah aku nginep workshop aja Senin besok sampai project-project kamu selesai."
Nathan memandang Rayya kesal. "Ga ada nginep workshop lagi, Ray! Kamu tetep tidur unit."
"Disini aku juga sendirian kan, Nate? Kamu kalo pengen ketemu tinggal ke workshop. Kayaknya lebih simple."
"Aku bilang nggak, Ray!"
Ting tong.
Bel apartemen berbunyi. Rayya menatap ke arah Nathan bertanya-tanya siapa yang datang sepagi ini. Tapi Nathan dengan santainya melenggang membukakan pintu. Berbincang dan mempersilakan masuk. Terlihat Boy menyeret satu koper yang sangat Rayya kenal.
"Boy, ngapain kamu pagi-pagi kesini? Ini koper aku kan?!" Rayya heran karena anak-anak workshop tidak ada yang pernah benar-benar datang ke unit.
"Disuruh Mas Nathan bawain baju Mbak Rayya yang ketinggal di workshop. Tapi ini aku cuma bawain yang aku tau aja, Mbak, cuma yang ada di koper langsung aku tutup aja. Besok Mbak Rayya cek sendiri aja yang kurang. Kata Bayu, Mbak Rayya hari ini ga ke workshop, kan?!"
"Iya, koper ini sengaja aku tinggal kalau mau nginep workshop lagi."
"Nggak ada nginep workshop lagi, Rayya!" Potong Nathan dengan wajah kesalnya. "Walaupun nanti kita diem-dieman lebih lama dari ini, kamu tetep tidur sini!"
"Dih, amit-amit diem-dieman lagi!" Rayya bergidik.
"Kenapa? Ga enak kan?!"
Rayya melengos dan kembali ke pantri menikmati sarapannya. Nathan menyusulnya dan menawarkan sarapan bersama kepada Boy yang disambut dengan sangat antusias. Nathan menyiapkan satu piring lagi untuk disajikan.
"Ini tiap hari Mas Nathan yang masak?"
"Gantian Boy, siapa yang bangun lebih cepat, dia yang menyiapkan." Sahut Nathan cepat. Rayya masih malas menanggapi celotehan keduanya.
"Mbak Rayya harusnya kemarin ngambeknya di unit aja. Kasih hukuman ke Mas Nathan dengan cara bangun siang. Tetep marah tapi dapat sarapan enak kan?! Daripada makan mie instant tiap pagi. Arghhhh!!!" Boy meringis merasakan tendangan Rayya dari bawah meja.
Nathan memicingkan matanya ke arah Rayya, kemudian beralih ke Boy untuk bertanya. "Itu tiap pagi Boy? Kok lo ga ngabarin gue?"
Boy yang masih takut akan serangan Rayya memilih untuk diam dan memilih fokus pada piringnya. Nathan yang masih penasaran mencecar Boy dengan pertanyaan juga ancaman. Mau tak mau Boy menceritakan semua kebiasaan Rayya selama sebulan lebih ini di workshop. Mulai dari sampah bungkus dan cup mie instant yang bertambah. Coffee shop depan workshop yang selalu mengantar kopi dan roti tiap siang. Tak lupa pesanan mie ayam di malam hari. Juga delivery fast food yang nyaris tanpa kehadiran nasi.
Rayya hanya bisa pasrah jika setelah ini akan mendapat omelan-omelan Nathan. Boy tidak bisa disalahkan, karena memang itulah yang terjadi. Tapi tidak serta merta menutup kekesalan Rayya atas dirinya.
Boy yang sadar terperangkap lebih lama dari perkiraannya akhirnya pamit undur diri. Dia akan membantu Bayu hari ini menggantikan Rayya yang jelas sekali enggan ke workshop.
Sepeninggal Boy, Rayya melesat menuju kamarnya. Sebelum dia berhasil masuk ternyata teriakan Nathan mencegahnya lebih dulu.
"Seriously, Semesta Rayya??? Mie instant tiap pagi???!!!"
Saat itu yang Rayya bisa lakukan hanya satu.
Melangkahkan kaki ke sofa dimana Nathan menunggunya dan bersiap menghadapi omelan Nathan.
What a perfect morning!
*****
Short vacation yang dijanjikan Nathan hanya bertahan dua hari. Mereka berangkat ke Bandung setelah sarapan. Masih dengan omelan Nathan yang menemani perjalanan. Liburan yang dijadwalkan berakhir di hari Minggu pagi terpaksa berakhir di hari Jumat malam karena ada perubahan jadwal photoshoot yang melibatkan model ternama, yang Rayya kenal sebagai teman SMA. Wait! Bisakah mereka disebut teman?
Stephanie Han.
Model berparas oriental dengan lekuk tubuh yang tak di sanksikan lagi. Seseorang yang bisa dibilang teman dekat Nathan. Mereka menghabiskan waktu bersama dari pertengahan SD sampai SMA.
Mungkin bisa dibilang inilah Rayya-nya Nathan versi pertama. Atau mungkin Rayya adalah Stephanie-nya Nathan versi kedua. Entah. Tapi kehadiran Stephanie untuk Rayya layaknya Aidan untuk Nathan. Baiklah! Mungkin mereka tidak pernah berpacaran. Tapi come on! Bukankah persahabatan lebih mengerikan?!
Meskipun Rayya yang lebih lama bersama Nathan. Lebih sering bertemu Nathan. Tapi Rayya dan Stephanie tidak akan pernah akur. Itu yang diyakini Rayya.
Kedekatan Nathan dan Rayya pastilah campur tangan kedua orang tua mereka. Sedangkan kedekatan Nathan dan Stef-Nathan memanggilnya begitu- adalah murni dari mereka sendiri. Perlindungan Nathan akan bully-an teman-teman SMA untuk Rayya adalah bentuk tanggung jawab. Rayya dan Nathan bisa sedekat ini mungkin juga karena faktor Stephanie jarang ada di sekitar mereka. Okay! Ini adalah pemikiran dangkal Rayya saat ini.
Kegelisahan Sabtu pagi ini membawa kakinya melangkah ke apartemen Nadine. Dia butuh seseorang. Tak peduli ini adalah akhir pekan dimana suami istri bercengkrama. Rayya bertekad meminta Nadine dari Brian hanya untuk hari ini.
"Hai, Ray! Masuk! Nadine lagi mandi, duduk aja dulu."
Rayya melangkah ke dalam dan menuntun kakinya untuk duduk di sofa.
"Sorry, Bri! Gue lagi bete banget. Nggak apa-apa ya gue pinjem Nadine sehari ini?"
"Santai aja! Oh iya kenalin ini sepupu gue, Seth!"
Ah! Rayya bahkan tidak menyadari seseorang duduk berjarak beberapa meter darinya.
"Maaf.. Gue nggak lihat! Ya Tuhan! Ah, Rayya!" Rayya mengulurkan tangannya yang langsung disambut dengan senyum manis pria yang bernama Seth itu.
"Seth!"
"Lo nyantai aja disini, Ray! Gue abis ini mau keluar sebentar sama Seth. So, take your time! Kalau udah selesai kalian bisa telpon, baru gue balik."
"Ah, lo bikin gue tambah bersalah!"
"Lebay lo!" Nadine muncul dari kamar dengan rambutnya yang masih tergulung handuk. "Udah makan belum lo?" Rayya menggeleng. "Ck, delivery aja ya?! Gue nggak masak karena Brian mau pergi juga."
"Hmmm" Rayya yang hanya menggumam mengundang rasa penasaran Nadine.
"Babe, kalau mau berangkat sekarang nggak apa-apa! Nanti aku telpon kalau udah selesai ya?!"
Brian menghampiri Nadine dan mencium keningnya. "Take your time, Sayang! Ayo, Seth! Ray, gue cabut dulu ya!"
"Sorry ya, Bri!"
"Ck, nggak biasanya lo gitu. Pergi dulu ya!"
Setelah Brian melenggang bersama Seth, Nadine duduk di sebelah Rayya yang masih asik mengganti channel tv. Mereka terlibat pembicaraan ringan tentang apa yang akan mereka pesan untuk makan. Semua keluh kesah ini harus diawali dengan tenaga yang besar.
"So, what's wrong, Semesta???"
Rayya yang masih mengaduk-aduk kopinya berdecak.
"Dia balik.."
"Siapa? Aidan? Lha bukannya emang doi bolak balik?!"
Rayya menggeleng keras. Kali ini tatapannya lurus ke iris Nadine.
"Stephanie!" Mata Nadine membulat diiringi mulutnya yang sama-sama ternganga.
"Ya Tuhan! Ada apa sih sama masa lalu kalian?!"
Rayya hanya menaikkan bahunya. "Trus Nathan gimana?"
"Nggak gimana-gimana. Dia cerita semua ke gue. Hari ini mereka ketemu juga urusan kerjaan. Tapi nggak tahu deh, Nad.. Gue mendadak galau dan ngerasa nggak aman gini. Lo tahu kan hubungan mereka kayak apa? Gue menang di jarak aja!"
"Please deh, Ray.. Kalau Nathan cerita ya berarti nggak ada apa-apa. Hubungan kalian gimana?"
"Kami..baikan setelah beberapa puluh hari saling diam."
"Trus?"
"Trus apa?"
"Oh Gosh! Kalian fix oneng, oon, atau apapun itu. Ini udah bukan polos lagi!" Rayya terdiam karena sangat paham maksud Nadine. "Lo tahu kan kenapa gue putus sama Nathan?" Rayya menggeleng, tapi sudah tidak ada rasa penasaran lagi disana. "Ya karena gue sadar Nathan sayangnya ke lo, Ray.. Bukan gue!"
"Ya..gue sayang juga sama Nathan, Nadnad! Lo tahu itu."
"Sayang..cinta, Ray! Bukan sayang-sayangan kayak kita!" Sekarang giliran Rayya yang ternganga.
"Nathan nggak pernah ngomong apa-apa ke gue."
"Ya karena kalian sama-sama bodoh! Duh jadi kesel sendiri. Harus berapa orang lagi lalu lalang buat nyadarin kalian?! Harus banget nungguin Stephanie!!!" Nadine menghela nafasnya mengatur kejengkelannya. "Mereka juga nggak pernah jadian, kan?" Nadine meyakinkan diri.
"Nggak sih, tapi gue tau Stef cinta sama Nate! Gue juga tau Stef benci gue. Dan gue yakin lo tahu itu!" Rayya merebahkan kepalanya dikepala sofa. "Gue baru baikan, Nad.. Kok ada lagi sih beginian!"
"Ck, pesimis lo! Nathan juga nggak bilang apa-apa!"
Rayya yang masih dengan tingkah absurdnya hari ini menghabiskan waktunya bersama Nadine. Sampai akhirnya ponselnya berdering. Nathan berencana menjemputnya dan Rayya mengiyakan.
Sekitar sepuluh sampai lima belas menit Rayya menunggu Nathan di lobi apartemen. Matanya tertuju pada mobil sedan hitam yang Rayya kenal sebagai mobil Nathan. Rayya melangkahkan kakinya mendekat. Nathan yang menghampirinya menyunggingkan senyum.
"Kita balik sekarang?" Rayya mengangguk. "Nanti antar Stef sebentar ya ke hotelnya. Dia bareng karena kita sejalan."
Rayya langsung memusatkan matanya ke arah kursi penumpang. Dan memang benar. Ada Stephanie disana sedang memandangnya datar.
Rayya terpaku.
Oh Tuhan! Jangan lagi!