It's Cloudy

1393 Kata
@bayunya_rayya : ecieee.. semesta berseri @rayyasboy : aw aw aw kurang apa coba ah! @sitoni_milikrayya : saingan terrrberattt! . @callmenate : woyyy @bayunya_rayya @rayyasboy @sitoni_milikrayya lo pada bisa ganti username ga? Keburu gue bayar hacker buat nutup akun lo pada! . @rayyasboy : ownernya marah.. aww atuttt @sitoni_milikrayya : m.e.l.i.p.i.r @bayunya_rayya : kata mbak @semestarayya aku suruh anteng ga ikutan kalian @sitoni_milikrayya @rayyasboy . @callmenate : @bayunya_rayya cuma akun lo yang gue bolehin, kalo yang dua masih pake siap2 ke hack! . @nads_wijaya : semesta aja jujur sama dunia.. masa' lo nggak? . @callmenate : hidup tak semudah itu penganten baru! . @alx_denzel : ayah rindu semesta rayya . @callmenate : sama anaknya ga rindu, yah? . @nord_wijaya : pagi @semestarayya.. semoga kita jodoh . @callmenate : jitak nih! . Begitulah keseruan sosmed Nathan hari ini. Dari si Boy, Bayu, Toni yang ga kreatif banget bikin username. Sampai Nord yang berada tepat di sampingnya berdoa di setiap komennya agar berjodoh sama Rayya. Nathan geram membaca komentar-komentar tidak penting mereka. Ting _Semestaku_ Nate, aku ke workshop.. Kalo ga ada acara jemput sore ya Kalo ada acara kabari, biar aku minta tolong Bayu untuk anter . _Me_ Aku jemput Ga usah minta-minta Bayu Sekalian bilangin pegawai2 cowok kamu yang posesif itu Suruh ganti username! Ga kreatif! . _Semestaku_ Emang apaan username mereka? Jam 5-an jemputnya Jangan kemaleman . _Me_ Aku jemput makan siang Kalo belum selesai aku tungguin @bayunya_rayya @sitoni_milikrayya @rayyasboy Ga kreatif kan?! Tunggu aja nanti ketemu tuh anak2 . _Semestaku_ Maklum aja sih Saking sayangnya sama bos Oke, aku KAL dulu . Tanpa sadar Nathan tersenyum disela-sela pesannya. Kalau ada yang salah fokus dengan nama Rayya di kontak Nathan, jawabannya Rayya tidak tahu menahu soal ini. Mereka memang bersahabat tapi urusan ponsel 11-12 sama urusan sosmed. Privasi! "Napa lo senyum-senyum? Whatsappan sama siapa?" Nord yang sedari tadi mengamati mau tidak mau penasaran "Rayya." "Bagi donk nomernya!" "Dih minta sendiri!" "Rayya tinggal dimana emangnya? "Di Aspen." "Ohhh.. Sebelahan unitnya sama lo?" "Se unit, Nord." "Uhuk.. uhuk.. uhuk.." Nord tersedak ludahnya sendiri "Kenapa lo? Kaget? Biasa aja kalik!" "Sejak kapan?" "Dari jaman awal kuliah." "Nadine tau?" "Ya tau lah.. Kan dia deket banget sama Rayya." Nord masih tak habis pikir dengan kenyataan yang sedang dia dengar. "Kok gue ga pernah liat Rayya di kampus?" "Kemarin kan gue udah bilang.. Gue umpetin.. Karna kalo ketauan orang, yang kena omel gue.." Nord menatap Nathan masih dengan ekspresi tak terbacanya. Mau tak mau Nathan memberi sedikit penjelasan. "Rayya trauma di bully jaman SMA gara-gara gue. Sekarang udah mendingan dia mau kemana-mana gue anter. Jaman kuliah, tiap mau berangkat aja ribut dulu mau turun dimana, ketemu dimana, yang berakhir Rayya memutuskan pulang pergi sendiri. Rumit deh.. Hahahaha.." Setelah dirasa cukup berkeringat, Nathan dan Nord memutuskan untuk menyudahi kegiatan hari ini. Sesampainya di unit, Nathan merebahkan dirinya di sofa dan mengecek ponselnya. Dia masih ada waktu beberapa jam untuk bersantai sebelum menyusul Rayya ke workshop. Bagi Nathan, kegiatan bersama Rayya disaat weekend adalah yang terbaik. Apapun itu. Meski harus menunggu dalam kantuk, lelah berjalan, bahkan kalau lagi PMS Nathan lah yang menghandle pekerjaan rumah. Karena hanya ini waktu mereka bercengkrama, saling curhat. Rayya dimata Nathan adalah perfect best friend dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Asal bersama Rayya, Nathan optimis bahagia. Setelah membersihkan badannya, Nathan mengendarai mobilnya ke arah workshop. Waktu sudah mendekati makan siang. Nathan berhenti di salah satu rumah makan untuk memesan dua porsi ayam presto. Sambil menunggu pesanannya di buat, Nathan beranjak ke toko kopi seberang. Memesan sembilan gelas kopi s**u untuk dibawa ke workshop. Segera setelah makanan dan minuman yang dia pesan tersedia. Tak sampai sepuluh menit dia sudah berhasil memarkir mobilnya di workshop Rayya. "Siang, Bay!" Nathan menyapa Bayu yang sedang merapihkan rak benang. Mengabaikan dua pria yang sudah siap menyambutnya. "Pagi, Mas.. Freshhh nih kayaknya!" "Dih, dicuekin!" Boy mengerucutkan bibirnya sembari melirik Nathan. "Bay.. Ini buat lo semua tiga cups. Jangan bagi sama siapa-siapa! Apalagi sama duo ganjen yang mojok di sebelah sana tuh! Sebelum mereka ganti username, jangan kasih kopi ini ke mereka!" "Mas Nathan mah tega.. Itu dedikasi buat Mbak Rayya loh, Mas.. Bukti kalo kita tuh setia.." sahut Toni tak terima, diikuti dengan anggukan Boy. "Cukup gue yang setia sama Rayya, kalian ga usah!" "Setia doank ga cukup, Mas.. Lagian posisi Mas Nathan itu sahabat setia, bukan pa-car se-ti-a.." Boy yang mendadak jengkelpun bersuara. Nathan hanya menghela nafas panjang. "Mas.. Ini aku kopinya bagi ke Toni sama Boy ya, karena aku ngedukung mereka." "Kayak ABG aja, Mas.. Mas.. Kejebak friendzone!" Toni menggidik menatap remeh pada Nathan. Nathan yang kesal hampir melempar segulung benang kepada Toni tertahan oleh suara. "Siapa yang friendzone? Kamu Boy?" Rayya segera turun setelah mendengar keributan di bawah. "Dihh, aku mah jelas sukanya sama siapa.. Kan aku udah pernah bilang kan, Mbak.. I love you, Mbak Rayya.." "Ngawur kamu tuh! Si Dewi-Dewi itu mau dikemanain?" "Dewi mah sahabat, Mbak.. Murni sahabat.. Jaman sekarang harus jelas mana sahabat mana orang yang disuka.. Biar ga kayak ABG yang friendzone-an!" Boy masih dengan sindiran panjang didukung oleh dua temannya. "Udah, Ray.. Ga usah ditanggapi omongan si Boy.. Ngaco!!! Mending kita makan siang.. Aku udah bawa ayam presto kesukaanmu." Nathan menggiring Rayya naik diselingi dengan tatapan nyalang ke arah, alih-alih The Gantengs, Nathan lebih suka menyebut mereka The Rusuh. "Selamat makan, Mbak Rayya dan Mas Nathan.. Semoga persahabatannya langgeng!" Toni berteriak saat mereka sudah berlalu. Tapi masih terdengar jelas di telinga Nathan. "Besok kamu naikin gaji mereka ya, Ray!" "Hah? Kenapa emangnya?" "Kasih jobdesk baru!" "Apaan?" "Suruh mingkem selama jam kerja!!!" "Hahahahaha" Tawa Rayya pun tak tertahan melihat mimik wajah Nathan yang jelas-jelas kesal. Ditambah lagi sapaan mendayu-dayu Inggit membuatnya berlari cepat ke lantai tiga. Makan siang mereka selesai dengan bersih. Nathan segera merebahkan diri ke sofa. "Masih lama?" "Hmm.. Kan aku bilang pulang sore, Nate! Ada project yang harus kuselesaikan sore ini juga." "Ya udah tidur aja deh.. Capek! Oh ya dapet salam dari, Nord." "Uhmm.. Calon jodoh.." goda Rayya. "Rayyy!!! Ga usah sembarangan ngomong! Ga bakal aku kasih kamu sama Nord!" "Why? Isn't he good enough? Pekerjaan mapan, ga usah ditanya lagi salah satu pewaris Wijaya.. Tampang ganteng.. Body oke.. Trus dia juga sering berdoa.. Berdoa biar jadi jodoh aku.. Hahahana" "Sinting! Pokoknya nggak!" "Emang aku punya kamu?" Hening. "Pokoknya nggak!" "Ya udah, cariin donk yang bisa bikin kamu "iya".." celoteh Rayya masih dengan kunyahan di mulutnya. "Emang kamu ngebet nikah?" "At least aku punya cowok, Nate!" "Kan aku cowok!" "Co-wok, pa-car!" "Emang aku ga cukup?!" "Ya kalo kamu nikah gimana? Ga selamanya aku ngandelin kamu.. Telponan aku hari ini sama Ayah sempet bikin aku mikir." "Emang Om bilang apa?" "Intinya aku harus mulai mandiri.. Kalo kamu nikah semua bakal beda.. At least pas kamu punya pacar deh.. Pasti ga akan sama kan?" Hening. Kata-kata Rayya membuatnya berpikir. "Udah ah, obrolan apaan sih ini. Aku jomblo, kamu jomblo.. Kita bahagia berdua.. Cukup!" Protes Nathan. "Okay.. Untuk saat ini." Nathan tak menggubris omongan Rayya. Dia hanya ingin tidur siang ini. Setelah Rayya turun untuk melanjutkan kegiatan bersama pegawai-pegawainya. Nathan membalikkan badannya menatap langit-langit ruangan. Friendzone Pacar Setia Nathan mengucapkan kata-kata itu berulang-ulang. Dia cukup sadar apa arti semua itu. Obrolan receh bersama Boy, Bayu dan Toni tadi bukan sepenuhnya receh. Mereka sepertinya benar. Bahkan mungkin sepenuhnya benar. Sikap Rayya yang terlalu serius menanggapi obrolan hari ini bersama Om Sadewo. Sedikit banyak berbalik mempengaruhi pikiran Nathan. Bagaimana kalau Rayya jatuh cinta? Bagaimana kalau Rayya punya pacar? Bagaimana kalau Rayya menikah? Jujur, Nathan belum punya jawaban dari itu semua. Nathan tentu bahagia jika Rayya bahagia. Tapi jika bahagia tanpanya, apa dirinya juga merasakan bahagia? ***** Tak terasa sudah hampir tiga jam tubuh Nathan meringkuk. Terlelap bersama pikiran-pikiran yang berkecamuk. Perlahan dia membuka matanya kemudian mengalihkan pandangan ke arah jam dinding. Pukul empat lebih lima belas menit. Dia beranjak menuju lantai dua. Masih ada Hani, Inggit, Citra dan Lea asik dengan project mereka masing-masing. "Rayya mana?" Nathan tak melihat Rayya disekitar. "Mbak Rayya lagi keluar ke coffee shop depan, Mas.. Ada temennya tadi yang kesini.." jawab Lea santai. "Temen?" "Iya, udah dua kali cari Mbak Rayya baru sekarang bisa ketemu." Sambung Inggit. "Siapa emangnya?" "Namanya.. Uhm.. Eidan kalo ga salah" "Aidan, Git!" "Ah iya, Aidan.." Jelas terlihat di mata Inggit dan Lea perubahan pada Nathan. Sorot mata yang tadinya masih dalam setengah sadar dan mengantuk mendadak dilingkupi kekesalan dan kemarahan. 'Masih berani muncul tu bocah!'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN