13| Janji

2004 Kata
"Ya, mana gue tau, jir!" umpat Tiara. "Maksud gue lo coba tanya-tanya." Tiara mendesah panjang. Lalu ia mengangguk cepat sambil mengibaskan tangan. "Iya iya, nanti gue cari tau." Tiara sendiri bingung apa hubungannya status Bagas dengan misi yang akan dijalankan sahabatnya itu. Flo menggigit kukunya. Ia sudah memiliki rencana. Kalau seandainya Bagas benar menganggapnya teman, itu lebih mudah lagi. Flo hanya tinggal bersikap seperti biasa. Namun, kalau ternyata karena cowok itu menyukainya tandanya Flo harus menunjukkan rasa yang sama. Gadis bermata sabit itu menjatuhkan pandangannya ke arah Sandy yang masih menatapnya juga. Flo yakin Sandy tidak akan berpikir sampai sana. Flo jadi merasa bangga pada diri sendiri bisa berpikir sejauh itu. *** Gadis berambut lurus panjang itu menyantolkan tasnya di satu bahu. Satu tangannya ia selipkan di saku rok. "Mana sih, tuh orang?" oceh Sandy. Flo memanjangkan lehernya. Kakinya berjinjit, menunggu pintu kelas dua belas yang terletak di ujung koridor itu terbuka. Matanya sesekali melirik ke jam di pergelangan tangannya. "Gue jam segini biasanya udah di angkot, terus udah rebahan di kasur. Tidur," keluh Flo. Satu alis Sandy terangkat. Lalu ia menunduk melihat wajah Flo yang tengah menunduk. "Bilang aja lo mau apa?" Sandy seperti sudah mengetahui jalan pikiran gadis itu. Flo mendongakkan dagunya. Ia menyengir kuda lalu mengetukkan telunjuknya di dagu. "Karena gue udah susah payah, banting tulang, mencurahkan seluruh tenaga, waktu, pikiran dan semuanya untuk bantuin lo—" "Cepet aja sih, sebut mau apa?" Sandy memotong ucapan Flo. "Lo harus bantu naikin nilai matematika gue," kata Flo to the point. Ini sudah ia pikirkan dari kemarin. Bohong saja kalau ia mau melakukan ini semua dengan percuma. Ditambah lagi minggu depan adalah ujian remedialnya. Flo sendiri tidak ada waktu untuk belajar atau lebih tepatnya ia memang tidak ada niatan untuk belajar. Flo menaikturunkan alisnya. Ia memicingkan mata, tangannya bersikap seperti pesulap yang tengah menerawang. "Gue liat dari penampilan lo, tercium aroma-aroma anak pintar." Sandy mengernyitkan dahinya. Cewek aneh pikirnya. Siapa yang kemarin ketakutan sampai gemeteran ketika melihatnya. Orang yang sama yang kini tengah berusaha memerasnya. "Lo nggak takut gue berubah wujud jadi makhluk menakutkan?" Flo yang asyik menaikturunkan tangannya jadi membeku. Kelopak matanya bahkan tak bergerak. "Flo napas!" teriak Sandy ketika menyadari cewek itu sama sekali tak bernapas. Setelah tersadar Flo memegang dadanya. Meraup udara sekitarnya dengan rakus. Sandy sendiri tak menyangka padahal niat awalnya hanya bercanda. Cowok itu pikir, Flo benar-benar sudah tidak takut dengannya atau makhluk sejenis dirinya. Sandy mendekatinya. Flo meluruh jatuh. Sandy ikut berjongkok, wajahnya memancarkan kekhawatiran. "Lo nggak apa-apa? Gue cuma bercanda, nggak maksud." "Iya, enggak apa-apa." Cewek itu memotong. Wajahnya ia palingkan. Sengaja untuk tidak melihat Sandy. Sedangkan Sandy masih berada di tempatnya. "Lo udah nggak percaya sama gue lagi?" tanya Sandy dengan nada lirih. Perempuan itu menunduk membiarkan rambutnya bergelantungan menutupi sisi wajahnya. Tangannya masih memegang dadanya yang berdegup kencang. Ia sontak merasakan kepanikan saat Sandy mengatakan itu. Flo sendiri berpikir kalau trauma masa kecilnya sudah menghilang, tetapi ternyata ia masih merasa keparnoan berlebih itu. Yang ada dipikiran Flo sekarang adalah bagaimana ia bisa setidaknya mengurangi keparnoan berlebih itu. Ia juga jadi tidak berani melihat Sandy lama-lama. Bayangan menyeramkan itu seakan terus menghantuinya. Seperti ada yang membuat "Maaf udah buat lo nunggu lama." Itu suara Bagas. Lelaki itu ikut berjongkok membuat Sandy terpaksa bergeser. Saat itu juga Flo mengangkat wajahnya. Mata berpayung bulu mata nan letik itu sempat terpana dengan kehadiran sosok Bagas. Tak pernah Flo menyangka kalau kakak kelas yang terkenal banyak penggemarnya ini berjongkok dan meminta maaf kepadanya. Flo memaksakan senyumnya. "Nggak apa-apa kok, Kak." Bagas merapatkan bibirnya membentuk satu lesung pipi tipis. Flo tak pernah menyadarinya selama ini. Ternyata Bagas memiliki meskipun tipis. "Kalau gitu kita mau jalan sekarang?" Kepala Flo mengangguk. "Iya, Kak." Sandy melihat itu. Setiap perubahan ekspresi Flo. Ia tersenyum kecut. Seharusnya makhluk sepertinya tidak banyak tingkah, maki Sandy pada dirinya sendiri. Dan yang ia lakukan sekarang hanya mengikuti Bagas dan Flo dari belakang. *** Flo menelusuri toko alat musik itu saat Bagas tengah berbicara pada pemilik toko mengenai senar gitarnya. Ada banyak model gitar dan ternyata memiliki nama di setiap model. Ukulele, bass, gitar elektrik, gitar resonator. Flo mengabsen setiap gitar yang terpajang di etalase. Dia sudah menghapalkannya sebelum bertemu Bagas tadi dari internet. Jaga-jaga kalau Bagas membuka sesi tanya jawab mengenai permusikan. "Lo bisa main gitar?" Suara bariton itu tiba-tiba masuk ke gendang telinganya. Flo sedikit berjengkit. Bagas terkekeh lalu berdiri di samping gadis itu. "Maaf ngagetin, ya?" godanya sambil menampilkan deretan giginya. Flo terkekeh. "Iya, hehe kaget." Mata Flo kembali ke arah etalase. "Belum pernah nyoba." Bagas memasukkan tangannya ke dalam saku celana. "Kapan-kapan gue ajarin mau?" Flo menolehkan kepalanya tak menyangka Bagas akan menawarinya. "Boleh." Mata Flo berbinar. Kemudian keduanya berkeliling toko itu dengan Bagas bersikap seperti tour guide. Ia menjelaskan secara rinci setiap alat musik yang terpajang. Dari mulai musisi terkenal yang memainkan alat musik itu, jenis notnya, hingga cara mainnya. Sepanjang penjelasan itu Flo hanya mengangguk saja. Seperti di kelas, tidak semua yang dijelaskan Bagas masuk ke dalam otaknya. Alias masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Hingga gitar milik Bagas kelar diperbaiki. "Thanks, Bang," kata Bagas sembari menyantolkan tas gitarnya di bahu. "Yoi, Gas." Pemilik toko itu berambut gondrong dengan diikat. Flo memperhatikan interaksi antara Bagas dan pemilik toko itu tampak sangat akrab. "Em, Gas, nggak mau ngenalin." Cowok bernama Yuda itu menaikturunkan alisnya menggoda Bagas. Flo awalnya tidak engeh kalau yang Yuda maksud adalah dirinya. Sampai Bagas menoleh ke arahnya. "Dia adek kelas gue. Anggota seni musik baru. Gue ajak ke sini sekalian ngenalin alat musik di toko lo." Flo menunduk sopan. "Kenalin, Bang. Nama saya Flo." "Nama gue Yuda. Betewe, santai aja lagi nggak perlu saya-saya segala. Gue lo aja biar santai." Yuda berusaha mencairkan suasana. Flo mencetak lengkungan ke atas. "Oke, Bang." "Lo kalau emang mau banyak belajar alat musik bisa main ke sini sendiri. Nggak perlu sama Bagas juga bisa," kelakar Yuda. "Bang Yud," peringat Bagas. Yuda tergelak. Ia mengangkat kedua tangannya. "Oke, gue nggak bakal nikung." "Nikung apaan, ngaco lo ah!" Bagas melempar Yuda dengan pensil. Flo tak kuasa menahan tawanya melihat Bagas diledek dengan orang lain. Ini pertama kalinya bagi Flo melihat hal itu. Di sekolah, Bagas termasuk orang yang disegani. Boro-boro ada yang mau meledeknya. Mengajak Bagas bercanda saja kayaknya jarang. Bukan karena Bagas yang tidak humble, tetapi karena memang pembawaan cowok itu yang dewasa. "Udah, ah, Bang. Gue mau balik dulu." "Oke, hati hati kalian berdua!" pesan Bang Yuda. Flo ikut melambaikan tangan sebelum keluar dari toko itu. Sisa tawa cewek itu masih ada saat mereka sudah keluar dari toko itu. "Kakak udah kenal lama?" tanya Flo. Maksud pertanyaannya adalah Bang Yuda. Bagas menendang kerikil di jalan pandangannya lurus ke depan. "Lumayan lama, dari gue SMP." "Oh, pantes udah akrab banget kayaknya." Bagas mengangguk menyetujui sambil menjentikkan jarinya. "Aslinya dia nggak sejaim tadi." Flo menyimak saat Bagas mulai menceritakan kegokilan Bang Yuda. "Bahkan dia pernah jalan sama cewek tapi lupa bawa dompet!" Flo tergelak, ia tak menyangka kalau Bagas secerewet ini. Cewek itu seperti melihat sisi lain dari Bagas. Apa mungkin karena selama ini ia tidak dekat dengan Bagas makanya ia tidak tahu sifat Bagas yang ini? "Eum, kayaknya dari tadi gue banyak ngomong, yah." Bagas menggaruk tengkuknya. Lah, dia baru nyadar? Batin Flo. "Enggak apa-apa, Kak. Gue seneng dengernya kok," kata Flo. Tidak sepenuhnya benar karena dia hampir lupa sebagian yang diceritakan oleh Bagas. Kalau ia memang tertarik, Flo akan mengingat setiap kalimatnya. "Hehe, gue jadi nggak enak kebanyakan ngomong. Sedangkan lo kebanyakan diem, dengerin doang. Padahal kalau di sekolah keliatannya lo cerewet, ya?" Flo tertawa garing dalam hati ia balik bertanya, 'Lo juga, Kak, di sekolah kayak kalem aslinya cerewet banget.' "Gue demen aja denger cerita lo. Seru-seru, makanya kebanyakan nyimak. Maaf, kalau misal ada respon dari gue yang nggak berkenan." "Eh enggak kok. Gue seneng. Kebetulan gue tipe orang yang butuh pendengar, aneh, kan? Makanya suka nggak nyaman malah kalau cerita ke orang, terus orang itu ngasih komentar. Karena kebanyakan komentar mereka bikin gue males cerita lagi." Lah? Iya, aneh lo, Kak! batin Flo berteriak. "Haha gitu ternyata." Flo membenarkan tali tasnya yang sedikit melorot. "Enggak aneh kok. Aku sering nemuin yang kayak gitu." Flo tidak seberani itu untuk mengungkapkan isi hatinya. Bisa dicoret dari list keanggotaan. Kemudian Bagas mengajak mereka mampir ke warung tegal atau yang sering di singkat warteg. "Ini rumah makan paling canggih." 'Ya, mulai lagi,' batin Flo memperingatkan. "Soalnya sekali tunjuk nanti makanan itu udah tersedia di piring. Canggih, kan?" Flo kembali memaksakan tawanya. 'LAWAKAN MACAM APA ITU?!' Perempuan itu menoleh ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba kepikiran di mana makhluk halus itu setelah menakutinya tadi. Mata Flo berlarian hingga lehernya ikut memutar. Sampai akhirnya netranya menangkap sosok itu tengah bersandar di tembok luar warteg. "Ternyata masih di sana," gumam Flo. "Apa yang masih di sana?" Bagas mengulang omongan Flo. Perempuan itu tersadar, ia hampir keceplosan. Rasanya ia ingin memukul keningnya sendiri saat ini, tetapi ia urung. "Oh, anu. Itu ada es cendol dawet di sana. Tukangnya masih di situ," kilah Flo. Mata Bagas mengikuti arah telunjuk gadis itu lalu mengangguk singkat otaknya kembali menganalisa. "Lo mau itu?" "Euh, enggak. Cuma nafsu mata doang. Sebenernya lagi enggak pengen." Flo menggelengkan kepalanya cepat. Makanan mereka berdua tiba. Tanda kalau percakapan di antara keduanya harus berakhir. Flo dan Bagas makan dalam diam. *** Awalnya Bagas memaksa ingin mengantar Flo sampai rumah. Namun, Flo menolak keras. Ia berkata akan mampir dulu ke toko buku lalu ke tempat temannya. Padahal itu semua hanya bualannya saja. Flo hanya tidak mau Bagas melakukan terlalu berlebihan. Flo menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Menggesekkan kulitnya ke atas spreinya yang lembut. "San." Panggil Flo. Sandy lama terdiam. Sampai akhirnya ia menjawa. "Ya?" "Gue kayaknya udah mulai dekat sama Bagas. Gue butuh sekali lagi aksi sampai gue bisa dapetin info tentang lo." Sandy kembali terdiam. Cukup lama tak merespon omongan Flo. Flo mengernyitkan dahinya. Ia mengangkat kepalanya sampai dagunya menyentuh dadanya. "San? Lo kok nggak jawab gue bilang." "Flo, yang masalah tadi—" Flo mengibaskan tangannya. "Yang bermasalah gue." Sandy menggelengkan kepala lalu mendekati cewek itu. "Justru gue yang posisinya mainin kelemahan lo. Harusnya gue nggak gitu." Flo tersenyum miring. "Ya udahlah. Gue udah nggak mikirin itu kok. Cuma tubuh gue bakalan beraksi kayak tadi, dan otak gue bakalan bilang kalau lo bakalan berubah jadi makhluk yang gue pikirkan." "Gue janji nggak akan gitu lagi." Flo menegakkan tubuhnya ia merapatkan bibirnya. Melipat kedua tangannya di depan d**a. Menatap wajah samar itu yang tengah menampilkan raut serius. Kemudian Flo mengangkat satu kelingkingnya. "Gue harap kehadiran lo bisa ngobatin trauma gue. Janji lo bisa ngobatin itu, bukan tambah nyakitin gue?" Sandy membalas kelingking yang disodorkan Flo. "Janji. Gue nggak akan nyakitin lo." Cowok itu berjanji dengan alam bawah sadarnya. Ia berjanji tanpa berpikir apa yang akan terjadi pada dirinya di masa depan. Ia berjanji tanpa ia tahu siapa ia sebenarnya. Bagaimana sifat aslinya. Di sisi lain, Flo memercayai janji itu. Tanpa ia tahu orang seperti apa Sandy itu. Kemudian Flo tiba-tiba berdiri. Membuat Sandy ikut berdiri juga. Cewek itu beranjak ke meja belajarnya. Ia mengambil buku paket matematikanya. "Gue mau remedial. Coba lo liat soal matematika gue nih. Kira-kira ingatan lo tentang pelajaran ada atau enggak?" Sandy membaca isi buku paket matematika itu. Dahinya sedetik mengerut lalu detik selanjutnya mengendur. "Kalau seandainya lo nggak inget sama soal kelas sebelas. Opsi kedua adalah lo harus nyelinap masuk ke ruang guru. Dan contek kunci jawabannya. Nanti kasih tau gue," kata Flo memutar ide licik di otaknya itu. Sandy mengusap dagunya. Matanya masih berfokus pada pelajaran matematika Flo. "Coba halaman selanjutnya," kata Sandy dan Flo menuruti. "Halamab selanjutnya lagi." Flo kembali membuka halaman selanjutnya. "Gimana?" tanya Flo antusias melihat Sandy yang tak banyak berekspresi. Kemudian kepala itu mengangguk. "Kayaknya gue bisa bantu lo." Mata Flo berbinar. Lalu jemarinya berjentik. "Oke, kalau gitu besok lo rasukin gue lagi!" kata Flo excited. "Eh, tapi." Raut Flo berubah saat menyadari satu hal. "Gue pake baju seragam tandanya pake rok pendek." Flo lantas menutup tubuhnya dengan tangan. "Lo harus janji lagi satu hal, nggak boleh m***m!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN