Chapter 9 Diandra : Pertunangan

1101 Kata
Aku keluar dari ruang perawatan setelah tiga jam lebih seraya membawa air jahe hangat. Sudah lama aku tidak perawatan seperti ini. Lulur, Manicure-Padicure kuku tangan dan kaki, creambath, serta masker. Pasti Galih sedang pergi entah ke mana. Lebih baik aku menungguinya saja di ruang tunggu. Mungkin sebentar lagi dia datang. Setelah sampai di ruang tunggu, ternyata Galih tidak pergi ke mana pun. Dia duduk manis menungguiku seraya memakai earphone dan memainkan gadgetnya. Kupikir dia seperti Kevin yang layaknya cacing kepanasan jika aku mengajak ke salon. Walaupun hanya creambath saja Kevin sudah tidak betah sama sekali. Dengan pelan, aku meletakkan cangkir jahe yang sudah hampir habis isinya di atas meja kemudian duduk di sampingnya. Mendapatiku sudah selesai, dia melepaskan earphone lalu tersenyum padaku. Sangat manis sekali senyumnya. Semakin tampan. Ah, apa yang kupikirkan? “Sudah selesai?” tanya Galih mengangkat alisnya padaku. Aku menganggukkan kepala dengan semangat. Tak pernah aku merasa sesegar ini. “Sudah lama aku enggak ke salon.” “Kalau mau, kamu bisa datang ke sini terserah kamu. Kamu boleh mengajak temanmu.” Ucapnya seraya merapikan earphone dan gadgetnya. Ucapannya itu membuatku senang bukan main. “Boleh” tanyaku menegaskan sekali lagi. Dia mengangguk. Aku berjingkrak. “Terima kasih!” seruku heboh. “Berisik. Jangan teriak.” Galih berdecak. Aku sontak menutup mulutku. Lalu, dia berdiri menarikku. “Kita pulang, acara pertunangannya tiga jam lagi.” ucapnya. Ah, ini yang sempat kulupakan. Bertunangan. *** Aku memakai kebaya payet berwarna putih gading dan juga jarik batik jawa model sidomukti sebagai bawahan. Kebaya sederhana. Inilah yang aku mau. Pasti Mami yang memberitahukan Galih. Rambutku disanggul sederhana oleh Mami. Masalah ke pesta atau semacamnya, serahkan saja pada Mami. Mungkin karena dulu sering pentas di mana-mana dengan tatanan rambut yang berbeda, membuat tangan Mami lihai memainkan rambut. Make-up yang Mami berikan untukku juga tidak terlalu tebal. Terdengar ketukan pintu dan suara Mbok Nah memanggil Mami. “Ya, Mbok?” jawab Mami setengah berteriak. Tak berapa lama kemudian pintu kamarku terbuka sedikit dan Mbok Nah tersenyum pada kami berdua. “Tuan Galih dan keluarganya sudah datang, Nyonya.” Jelas Mbok Nah. Mami menatapku dari kaca cermin kemudian tersenyum. “Mami temui dulu tamunya. Kamu tunggu di sini. Kalau Kak Daffi panggil, kamu boleh turun. Oke?” Jelas Mami seraya mengusap kedua lenganku. Aku tersenyum mengangguk. Setelah Mami keluar, Mbok Nah menghampiriku. “Non Dian cantik.” Aku tersenyum tipis pada Mbok Nah. “Terima kasih, Mbok.” Jawabku kembali menatap cermin. Aku menatap seorang gadis remaja yang tidak akan lama lagi dipersunting seorang pria yang usianya sangat jauh lebih tua. Apakah aku siap? Entah kenapa, tiba-tiba saja aku takut Galih seperti Kevin atau pria playboy lainnya. Bagaimana jika ternyata dia mempunyai pacar di luar sana? Bagaimana jika pacarnya nanti tidak rela jika dia menikah dengan orang lain? Bagaimana jika nanti pacarnya datang di acara pertunangan ini? “Mbok yakin, Tuan Galih sayang Non Diandra.” Ucap Mbok Nah kemudian mengusap punggungku. Mbok Nah adalah pengasuhku dari sejak aku kecil. Mbok Nah sudah seperti eyangku sendiri. “Bagaimana kalau Galih selingkuh, Mbok?” tanyaku dengan nada suara bergetar dan air mata mengalir begitu saja. “Berdoa, Non, semoga Tuan Galih enggak selingkuh. Mbok yakin, Tuan Galih enggak akan begitu.” Jawab Mbok Nah seraya menenangkanku. “Jangan menangis. Nanti luntur dandanannya.” Tambah Mbok Nah lagi tertawa pelan. Aku tertawa, menghapus airmataku dengan selembar tissue secara perlahan lalu tersenyum pada Mbok Nah, “terima kasih, Mbok, sudah mau dengar Dian curhat.” Pintu kamarku terbuka, Kak Daffi muncul dengan setelan tuxedo hitamnya. “Ayo, Dik. Giliran kamu.” Ucap kak Daffi menghampiriku. Aku mengangguk lalu berdiri. Menggandeng tangan Kak Daffi kemudian keluar kamar, diikuti Mbok Nah dari belakang. Jika ini yang Tuhan rencanakan untukku, aku akan terima dengan lapang d**a. Mungkin inilah jalanku. Menikah dengan orang yang tidak aku cintai atau bisa jadi, dia juga tidak mencintaiku. Bisa saja dia menolak perjodohan ini kapan pun. Pasti karena kasihan dengan kebangkrutan papi dan juga rencana gila persahabatan para orang tua membuat dia mau menerima perjodohan ini. Aku hanya berdoa semoga aku bisa melewati ini semua. *** Cincin yang kukenakan terasa berat sekali. Seberat beban yang kupikul. Pertunangan hanya dihadiri oleh orangtuanya, Galih dan juga Bogi. Setelah acara pertunangan, kami makan malam bersama dan berakhir pada pukul sebelas malam. Sepertinya memang pernikahan ini tak dapat dihindari lagi. Dua bulan dari sekarang, aku menjadi istri Galih Gumilang Louis. Kubersihkan wajahku juga melepas kebaya disusul sanggul yang kupakai. Ponselku bergetar dan aku sudah tahu siapa yang mengirimiku pesan. Galih. Cepat tidur. Besok pagi saya jemput. Jangan sampai terlambat bangun pagi. Aku tersenyum kecut. Tukang paksa. Aku tidak membalas pesannya. Kuletakkan kembali ponsel itu di meja rias, menyetel alarm di jam lima pagi, merapikan buku untuk besok kemudian bersiap-siap tidur. Sesaat aku termangu. Aku sudah bertunangan. Aku sudah dimiliki oleh orang lain. *** Bunyi ponsel berdering sangat nyaring memekakkan telingaku. Dengan memeluk bantal guling, aku berjalan setengah terpejam menghampiri meja rias yang letaknya di sisi kanan tempat tidurku. “Halo?!” Gerutuku terduduk di kursi meja rias lalu kembali memejamkan mata. Siapa sih yang menganggu tidurku?! “Diandra.” Mataku langsung terbuka lebar dan kantukku hilang mendengar siapa yang meneleponku. “Galih?” tanyaku kaget. “Hm.” Jawabnya singkat. “Ada apa telpon malam-malam, sih?” Tanyaku bingung. Kudengar dia menghela nafas. “Malam? Ini sudah pagi, Diandra.” “Eh?” kataku kemudian melihat jam weker. Hah! Jam enam? Matilah aku! aku menepuk dahiku berulang kali. “Kenapa wekernya nggak bunyi, ya?” Kataku sembari menatap jam weker berbentuk Winnie The Pooh kado pemberian Kevin. “Ah!” Teriakku melempar jam weker itu hingga membentur dinding di belakangku lalu hancur berantakan. Kepala dari si Winnie terpisah dan angka-angkanya berhamburan. Memang waktunya jam Kevin itu diganti. “Diandra, cepat mandi!” bentak Galih yang membuatku hampir saja terlonjak. “Jangan teriak. Sakit kupingku!” Ups! Aku lupa kalau galih masih meneleponku. “Bawel.” Seruku kemudian menutup telepon sepihak. “Menyebalkan.” Kataku gemas menatap layar ponsel. Setelah selesai mandi dan memakai seragam, terburu-buru aku menuruni tangga. Kalau telat lagi, bisa lari tujuh kali. Karena weker bodoh itu aku terlambat bangun. “Pagi, Mi!” Sapaku pada mami yang duduk di meja makan lalu mencium pipinya. “Pagi, Pi!” Kataku pada papi yang sedang sibuk membaca koran. Kusibakkan koran yang menutupi seluruh wajah papi lalu mencium pipi papi dengan cepat. “Halo, Kakak!” Kataku melihat Kak Daffi yang serius dengan nasi gorengnya. “Halo, Dek!” Cengirnya kemudian menyodorkan pipinya. Kuputar mataku lalu mencium pipinya dengan gemas. Mataku tertumbuk pada sosok Galih yang sedang sibuk membaca majalah di tangannya. Majalah bisnis sepertinya. Entahlah. Dia memakai setelan kemeja putih dengan motif garis berwarna biru dipadukan dasi biru juga. Mami dan Kak Daffi memperhatikanku. Membuatku bingung. Mami tersenyum lalu jari telunjuk Mami bergerak menyentuh pipi Mami sendiri. Apa? mencium Galih? Astaga! Papi sebaliknya. Dia tidak masalah dengan segala hal. Aku menatap kak Daffi dengan merana. Meminta bantuan. Kak Daffi hanya tersenyum-senyum dari kursinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN