Malam itu, Damian sampai di rumah dan langsung menuju kamarnya. Sejenak menoleh pada perban di tangan kanannya, sebelum memutuskan untuk masuk ke kamar utama. Dia melihat Aileen yang sedang duduk di sofa. Wanita itu bangkit sembari memalingkan muka. “Aku hangatkan makan malam,” katanya sembari melewati Damian. Namun, kakinya tertahan dan melangkah lagi. Damian menarik tangan Aileen. Membawanya ke depan. Damian mengamati wajah wanita itu, lalu menghela napas. “Tidak usah,” ujarnya. “Kamu istirahat saja. Aku sudah makan malam di kantor.” Kemudian, pria itu melangkah menuju kamar mandi. Sebelum membuka pintu kamar, Aileen menangkap tangan Damian yang terluka. “Ini ...?” Sorot mata Aileen sudah mempertanyakan luka di tangan Damian, tanpa perlu mengeluarkan suaranya. Damian menghembuskan

