“Dia... mantan pacarku,” jawab Zavier dengan suara lemah. Jawaban tersebut cukup membuat Zia terkejut sekaligus sakit hati. Sebenarnya ia sudah menduga hal ini. Tapi rupanya tetap saja terasa menyakitkan saat mendengarnya dari telinga sendiri. “Sudah bisa ditebak,” ucap Zia berusaha tegar, meskipun matanya kini mulai berkaca-kaca. “Tapi, Zi, aku tidak melakukannya dengan sengaja. Dia tiba-tiba saja muncul—“ “Tapi kamu membalas ciumannya!” bantah Zia keras. Merasa perlu melepaskan sedikit emosinya. “Itu yang sampai saat ini sulit aku lupakan.” Gadis itu mengusap pipinya yang kini telah basah oleh air mata dengan kasar. Air mata sialan. Padahal Zia sudah berusaha menahannya. Tapi tetap saja tumpah tanpa permisi. “Sejak dulu Mami selalu mengingatkan aku untuk setia sama kamu. Tapi li

