Kegelapan di lantai dasar museum terasa lebih mencekam daripada di galeri atas. Cahaya darurat hanya berkedip-kedip di koridor panjang, membiarkan sebagian besar lorong diselimuti bayangan pekat. Ruang Arsip terletak di sayap tersembunyi, sebuah area yang bahkan Aluna belum pernah datangi sepenuhnya.
Aluna berjalan di depan, langkahnya berhati-hati namun terarah. Ia membawa senter ponselnya, sinarnya yang fokus menyapu lantai marmer tua. Ravian mengikuti tepat di belakangnya. Kedekatan mereka tidak lagi terasa provokatif, melainkan esensial. Mereka berdua dalam misi, dan mereka saling mengandalkan.
"Ruang Arsip ini terakhir diakses dua tahun lalu, saat pamanku mengundurkan diri," bisik Ravian, suaranya terdalam di telinga Aluna.
"Ardiansyah sengaja menguncinya, tahu bahwa dokumen di sana bisa membuktikan keberadaan Ruangan Ketiga Belas," balas Aluna.
Mereka mencapai sebuah pintu kayu ek kokoh. Pintunya dihiasi ukiran kuno, dan kuncinya tampak usang dan tebal. Ada dua lubang kunci. Ravian mengeluarkan dua kunci berbeda dari tas pinggangnya: satu kuningan yang mengkilap, dan satu lagi baja yang sudah berkarat.
"Ini kunci-kunci dari masa yang berbeda," kata Ravian, menyerahkan kunci kuningan yang lebih tua kepada Aluna. "Ardiansyah memasang kunci kedua, yang lebih modern, setahun yang lalu, sebelum aku kembali."
"Dia sudah merencanakan ini," gumam Aluna.
Ravian memasukkan kunci baja modern ke lubang kunci atas. Kunci itu berputar dengan gesekan yang tajam. "Sekarang, giliranmu. Hati-hati. Kunci lamanya sangat rapuh."
Aluna memasukkan kunci kuningan yang tebal ke lubang kunci bawah. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, tetapi karena adrenalin dan kedekatan Ravian yang berdiri sangat dekat di belakangnya. Ravian membungkuk sedikit, kepalanya sejajar dengan Aluna saat ia melihat ke lubang kunci. Napasnya menyentuh belakang kepala Aluna, dan sensasi itu mengirimkan getaran ke seluruh tubuhnya.
Fokus, Aluna. Ini bukan tentang ciuman.
Aluna memutar kunci itu perlahan, ia mendengar suara logam tua berderit, lalu klik yang memuaskan.
"Berhasil," bisik Ravian, senyum kecil yang terlihat lega muncul di bibirnya. Ia memutar knop pintu dan mendorongnya.
Ruang Arsip itu bau. Bau kertas tua, debu, dan jamur yang pengap. Senter ponsel Aluna menyinari tumpukan rak logam yang penuh dengan kotak-kotak karton yang melengkung dan map-map kulit yang hampir hancur. Ini adalah labirin yang membingungkan dari sejarah yang tidak terawat.
"Kita harus mencari catatan konstruksi tahun 1900-1905, di mana Ruangan Ketiga Belas itu diselesaikan. Itu akan ada di bagian 'Struktural' atau 'Perencanaan Bangunan'," kata Aluna, langsung masuk ke mode profesional.
Ravian mengangguk. "Aku akan mencari di bagian 'Catatan Pribadi Pendiri'. Kakek buyutku mungkin meninggalkan jurnal."
Mereka mulai bekerja, bergerak di antara rak-rak yang sempit dan berdebu. Kegelapan, keheningan, dan aroma masa lalu menciptakan suasana yang sangat intim. Mereka berdua kini terperangkap dalam sebuah proyek yang jauh melampaui pekerjaan renovasi biasa—mereka sedang mengais-ngais rahasia keluarga Ravian.
Aluna menemukan deretan kotak yang berlabel STRUKTUR: LANTAI DASAR DAN FONDASI. Ia menarik salah satu kotak yang paling berat dan meletakkannya di lantai. Debu tebal menempel di blazer dan celana hitamnya, tetapi ia tidak peduli.
"Aku menemukan sesuatu," panggil Ravian pelan dari lorong yang terpisah.
Aluna bergegas ke arahnya. Ravian berdiri di dekat rak yang penuh dengan kotak kayu kecil berukir. Salah satu kotak itu terbuka, dan di dalamnya ada sebuah buku kulit tebal.
"Jurnal kakek buyutku," Ravian membalik halaman yang sudah menguning, membacanya di bawah cahaya redup. "...Kunci untuk mengamankan esensi keberuntungan harus dibuat dari tiga bahan: Baja, Kuningan, dan Darah."
"Darah?" Aluna mengangkat alis. "Dia memang okultis, ya?"
"Terus baca," desak Aluna.
Ravian membalik beberapa halaman lagi, lalu matanya terpaku pada sebuah sketsa. Itu adalah sketsa sederhana dari tiga tombol tersembunyi di dalam dinding, dan sebuah mekanisme gigi yang rumit. Di bawahnya tertulis: Tekanan pada tiga titik di sayap timur akan membuka lubang udara, yang merupakan awal dari Kunci Akhir.
"Kita butuh skema dinding Sayap Timur sekarang," kata Ravian.
"Ada di kotak yang baru saja aku tarik. Tapi kita tidak bisa menguraikannya di kegelapan ini," ujar Aluna, frustrasi.
"Kita harus membawanya keluar," putus Ravian.
Mereka membawa kotak dan jurnal itu ke meja kerja yang lebih terang di Galeri Puncak. Di bawah cahaya yang memadai, Aluna membuka cetak biru tahun 1905 dan menumpuknya dengan skema dinding yang baru ia buat. Mereka membungkuk, kepala mereka hampir bersentuhan lagi, jari-jari mereka menyentuh kertas yang sama.
"Ini," kata Ravian, jarinya menunjuk ke titik di cetak biru di Sayap Timur. "Ada perbedaan kepadatan di sini. Dinding itu harusnya tebal 30 cm, tapi ada area kecil dengan ketebalan 40 cm. Itu adalah Ruangan Ketiga Belas."
"Dan tiga tombol itu... harus berada di luar. Di dinding Galeri Barok," Aluna menunjuk pada tiga titik di cetak biru yang terlihat samar. "Jika kita menekan titik-titik ini dalam urutan tertentu, itu akan membuka lubang udara yang disebut jurnal."
Ravian menatap Aluna, matanya penuh kekaguman. "Kau memiliki pikiran yang sangat cepat, Aluna."
"Kau juga cepat dalam membaca kutipan okultis, Ravian," balas Aluna, senyum kecil muncul di wajahnya. Ada euforia kerja sama di antara mereka, rasa tim yang sangat kuat dan menyenangkan.
Saat itulah ponsel Ravian berdering, suara dering kerasnya memecah kesunyian museum. Ravian segera mengangkatnya, raut wajahnya kembali muram.
"Ya, Ardiansyah. Kenapa?" Ravian berbicara, dan Aluna segera menyadari ini adalah panggilan yang berbahaya.
Ravian mendengarkan lama. Wajahnya semakin tegang, rahangnya mengeras.
"Ya, aku di sini. Aku sedang memeriksa beberapa inventaris lukisan tua," Ravian berbohong.
Setelah beberapa saat, Ravian menutup telepon. Ia menoleh ke Aluna, matanya gelap dan penuh amarah.
"Dia tahu," Ravian berbisik.
"Tahu apa? Bahwa kita di sini?"
"Dia tahu aku mulai mencurigai sesuatu di Sayap Timur. Dia bilang dia akan mengirimkan tim pemeliharaan besok pagi, pukul 07:00, untuk 'memperbaiki' dinding itu dan memastikan tidak ada cetak biru yang hilang," Ravian menghela napas berat. "Dia akan menghancurkan bukti itu, Aluna. Jika kita ingin masuk ke Ruangan Ketiga Belas, kita harus melakukannya sekarang."
"Sekarang? Tapi kita hanya tahu mekanisme pertama," desak Aluna.
"Kita tidak punya pilihan. Jika dia menyentuh dinding itu, kita tidak akan pernah tahu apa isinya, dan dia akan memiliki alasan yang sempurna untuk menghentikan proyek ini karena kita 'mengabaikan material berbahaya'," Ravian maju ke arah Aluna, matanya menantang. "Kau mau mundur?"
Aluna menatap cetak biru, lalu ke jurnal, lalu ke mata Ravian. Ia merasakan sentuhan Ravian semalam, dan ia tahu, setelah semua yang mereka bagi malam ini, ia tidak akan meninggalkannya.
"Tidak. Saya tidak akan mundur," kata Aluna, nadanya tegas. "Mari kita temukan tiga tombol di dinding Galeri Barok. Saya yakin kuncinya ada di Ruangan Ketiga Belas."
Ravian tersenyum, senyum itu adalah campuran antara kegembiraan atas bahaya dan kekaguman. Ia mengambil senternya, dan tanpa kata-kata lebih lanjut, ia mengangguk.
Mereka berdua meninggalkan Ruang Puncak, meninggalkan bukti-bukti mereka di meja. Mereka berjalan beriringan menuju Sayap Timur, ke dinding di mana Ruangan Ketiga Belas menanti. Mereka kini tidak hanya bersekutu; mereka adalah rekan dalam sebuah perburuan harta karun yang bisa menghancurkan karier Aluna dan warisan Ravian.