Bab 8: Labirin Cahaya dan Pengkhianatan

1218 Kata
​Suara langkah kaki Ardiansyah yang berat, diikuti oleh setidaknya dua orang lainnya, menggema di lantai marmer Galeri Barok. Suara itu terdengar seperti lonceng kematian di telinga Aluna. Di dalam Ruangan Ketiga Belas yang sempit dan berlapis timah, udara mendadak terasa tipis. ​"Cepat, Aluna!" bisik Ravian, suaranya setajam belati. ​Aluna dengan cekatan memasukkan tumpukan surat bersegel dan dokumen hibah kuno itu ke dalam tas selempang kulitnya. Tangannya gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena konsekuensi dari apa yang ia pegang. Dokumen ini adalah hulu ledak yang bisa meruntuhkan dinasti Ardiansyah. ​Ravian meraih kamera Daguerreotype kuno itu, memeluknya dengan satu lengan seolah itu adalah bayi yang rapuh. Dengan tangan lainnya, ia menarik Aluna mendekat ke dinding belakang ruangan yang tampak polos. ​"Ravian, panelnya terbuka di depan! Ardiansyah akan melihat lubang itu dalam hitungan detik!" Aluna berbisik panik, matanya melirik ke arah celah pintu rahasia yang baru saja mereka masuki. ​"Dia akan melihat lubang itu, tapi dia tidak akan menemukan kita," balas Ravian. Ia meraba pinggiran pelat timah di sudut ruangan, mencari sebuah tonjolan kecil yang hampir tak terlihat. "Kakek buyutku tidak pernah membangun ruangan tanpa jalan keluar kedua. Dia seorang paranoia yang jenius." ​Klik. ​Sebuah bagian dari dinding timah itu berputar pelan, memperlihatkan lorong vertikal yang sangat sempit dengan tangga besi tua yang menempel pada dindingnya. Bau oli mesin dan logam berkarat menyeruak dari sana. ​"Masuk, Aluna! Sekarang!" ​Aluna memanjat masuk ke dalam lubang sempit itu tepat saat suara Ardiansyah terdengar sangat dekat di balik dinding Galeri Barok. ​"Hancurkan dinding ini! Saya tidak peduli dengan izin bangunan! Saya ingin area ini rata sebelum fajar!" teriak Ardiansyah. Suara hantaman godam pertama menghantam marmer luar, mengirimkan getaran hebat ke dalam lorong tempat Aluna berada. ​Ravian menyusul masuk ke dalam lorong dan menutup panel timah itu dari dalam, tepat sebelum Ardiansyah melangkah masuk ke Ruangan Ketiga Belas. Kini, mereka berada dalam kegelapan total, hanya ditemani oleh suara napas satu sama lain yang memburu dan dentuman godam yang terasa seperti detak jantung monster di balik punggung mereka. ​"Kita harus memanjat ke atas," bisik Ravian. "Lorong ini menuju ke ruang ventilasi utama di bawah dome kaca." ​Mereka memanjat dalam keheningan yang mencekam. Aluna berada di atas, merasakan dinginnya besi tangga di telapak tangannya, sementara Ravian berada tepat di bawahnya, menjaga agar Aluna tidak jatuh. Setiap kali kaki Aluna sedikit tergelincir, ia merasakan tangan Ravian yang kuat menopang tumit atau pinggangnya, memberikan rasa aman yang aneh di tengah situasi yang mengancam nyawa. ​Setelah pendakian yang terasa seperti selamanya, mereka sampai di sebuah platform kayu kecil di atas langit-langit Galeri Puncak. Dari celah-celah kayu, mereka bisa melihat ke bawah, ke arah Patung Kemenangan Bersayap yang berdiri megah di bawah cahaya bulan. ​"Kita terjebak di sini," Aluna berbisik, melihat ke arah pintu-pintu keluar di bawah yang kini dijaga oleh orang-orang Ardiansyah. "Dia menutup semua akses." ​Ravian meletakkan kamera kuno itu dengan hati-hati di sudut platform. Ia kemudian mendekati Aluna, menariknya ke dalam bayangan tiang penyangga yang besar. Di ketinggian ini, angin malam berhembus melalui celah ventilasi, memainkan helai rambut Aluna yang sudah berantakan. ​"Aluna, lihat aku," Ravian memegang kedua bahu Aluna, memaksa arsitek itu untuk berhenti gemetar. "Dokumen di tasmu itu... itu lebih berharga dari museum ini. Jika sesuatu terjadi padaku, kau harus lari melalui jalur pemeliharaan atap di sebelah kiri." ​"Jangan bicara seolah-olah ini adalah perpisahan, Ravian," Aluna membalas, matanya berkaca-kaca karena kombinasi antara rasa takut dan kemarahan. "Kita masuk ke sini bersama, kita keluar bersama." ​Ravian menatap Aluna dengan tatapan yang bisa meluluhkan baja. Gairah yang selama ini mereka mainkan kini telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih tulus dan berbahaya. Ia tidak lagi melihat Aluna sebagai lawan bicaranya yang keras kepala; ia melihatnya sebagai satu-satunya sekutu di dunia yang penuh dengan pengkhianatan. ​"Kau benar-benar keras kepala, ya?" Ravian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kepahitan sekaligus cinta. ​Ia menarik Aluna ke dalam pelukannya, mencium keningnya dengan lembut namun penuh tekanan. "Baiklah. Kita keluar bersama. Tapi kita butuh pengalih perhatian." ​Ravian menunjuk ke arah panel kontrol lampu sorot yang ada di dekat platform. "Itu adalah sistem pencahayaan modern yang kau pasang minggu lalu. Kau bilang lampu-lampu itu bisa diprogram untuk menciptakan efek strobo?" ​Aluna langsung menangkap maksudnya. Otak arsiteknya kembali bekerja. "Ya. Jika aku menghubungkan sirkuit pendek pada trafo utama di sini, semua lampu di Galeri Puncak akan meledak dalam kilatan cahaya putih yang membutakan selama beberapa detik. Itu cukup untuk membuat mereka bingung." ​"Lakukan," perintah Ravian. ​Aluna bergerak menuju panel listrik. Dengan jari-jarinya yang gemetar namun ahli, ia mulai mencabut kabel-kabel tertentu dan menghubungkan paksa arus pendek pada kapasitor utama. Ia tahu ini akan menghancurkan sistem pencahayaan yang ia bangun dengan susah payah, tapi itu adalah harga kecil untuk kebebasan mereka. ​"Siap dalam tiga... dua... satu..." ​DARRRR! ​Rentetan ledakan kecil terdengar dari lampu-lampu sorot di bawah. Kilatan cahaya putih yang sangat terang menyambar seluruh galeri, menciptakan bayangan yang bergerak liar dan suara desisan listrik yang menakutkan. Dari bawah, terdengar teriakan kaget dan sumpah serapah orang-orang Ardiansyah yang menutup mata mereka karena silau. ​"Sekarang!" teriak Ravian. ​Mereka melompat turun ke balkon lantai dua menggunakan tali pemeliharaan yang tersedia di platform. Aluna mendarat dengan sedikit goyah, namun Ravian segera menangkapnya. Mereka berlari melintasi koridor gelap, menghindari sorot lampu senter orang-orang Ardiansyah yang mulai pulih dari kebutaan sementara. ​Namun, saat mereka hampir mencapai pintu keluar darurat di Sayap Barat, sebuah bayangan muncul dari balik pilar. ​Itu adalah Ardiansyah. Ia tidak memegang senter, melainkan sebuah pistol kecil yang diarahkan tepat ke d**a Ravian. Wajahnya yang tua tampak mengerikan di bawah cahaya bulan, penuh dengan kebencian yang sudah dipendam selama puluhan tahun. ​"Berhenti di sana, Ravian Ananta," suara Ardiansyah tenang namun mematikan. "Berikan tas itu pada saya, atau arsitek cantikmu ini akan menjadi hiasan marmer permanen di museum ini." ​Ravian segera berdiri di depan Aluna, melindunginya dengan tubuhnya sendiri. "Kau sudah kalah, Ardiansyah. Kami sudah tahu semuanya. Tentang pengkhianatanmu, tentang pencurian aset yayasan..." ​"Tahu saja tidak cukup, anak muda. Bukti adalah segalanya. Dan bukti itu akan terbakar bersama kalian malam ini," Ardiansyah menarik pelatuk pistolnya perlahan. ​Aluna merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Di saat kritis itu, ia menyadari bahwa ia lebih takut kehilangan Ravian daripada kehilangan nyawanya sendiri. Ia merogoh tasnya, mencari dokumen itu, berniat menyerahkannya demi keselamatan Ravian. ​Tetapi Ravian tidak memberikan kesempatan itu. Dengan gerakan kilat yang tidak terduga, ia melemparkan kamera Daguerreotype kuno di tangannya ke arah lampu gantung besar di atas kepala Ardiansyah. ​PRANGG! ​Kamera berat itu menghantam kristal lampu gantung, membuatnya jatuh tepat di depan Ardiansyah. Suara pecahan kaca yang memekakkan telinga dan debu yang beterbangan menciptakan kekacauan sesaat. Ravian memanfaatkan detik itu untuk menerjang Ardiansyah. ​Kedua pria itu bergulat di lantai marmer. Aluna berteriak, mencoba membantu, namun Ravian berteriak balik, "LARI, ALUNA! BAWA DOKUMENNYA KELUAR!" ​Aluna berdiri terpaku, terombang-ambing antara loyalitas dan tugas. Di satu sisi, pria yang ia cintai sedang mempertaruhkan nyawa; di sisi lain, bukti kebenaran ada di tangannya. ​Suara tembakan meletus. ​BANG! ​Aluna mematung. Waktu seolah melambat. Ia melihat Ravian dan Ardiansyah terhenti di lantai. Darah mulai merembes di atas marmer putih yang dingin, berkilauan di bawah cahaya jingga fajar yang mulai menyembul dari balik jendela.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN