03. Niana paramesti

706 Kata
Namanya Niana Paramesti, lahir dan besar di sebuah kota terpencil yang keberadaanya bahkan hanya berupa sebuah titik di dalam Peta. Ternate, salah satu kota bersejarah di Maluku utara yang kaya akan rempah-rempah serta benteng-benteng peninggalan Portugis dan Belanda yang berada di sudut hingga pusat kota. Seharusnya saat ini Niana masih terkurung di dalam kota itu, seharusnya saat ini Niana tercatat sebagai mahasiswi fakultas hukum di salah satu Universitas di kota itu, dan membiarkan Ibu-nya mengontrol hidupnya seperti biasa---sejak dulu Niana tidak pernah di berikan pilihan di dalam hidupnya sendiri. Seharusnya saat ini Niana masih hidup di bawah tekanan dan obsesi Ibu-nya... ya, seharusnya memang seperti itu. Namun, tekanan-tekanan yang selalu coba dia benarkan selama ini, semakin lama semakin terasa salah.  Niana tidak menemukan kebahagiaannya seperti anak remaja seusianya pada waktu itu meskipun keluarganya termasuk berkecukupan, apapun yang dia butuhkan selalu terpenuhi tapi sayang... Ayah yang sibuk bekerja dan Ibu yang terobsesi dengan kesempurnaan, melupakan kenyataan bahwa yang di butuhkan Niana pada saat itu adalah perhatian. Semua gerak-geriknya di awasi dan penuh tekanan sementara hubungan di antara anak dan orangtua semakin hari semakin berjarak. Di usia selabil itu, Niana harus memendam sendiri semua perasaanya demi mewujudkan keinginan orang yang dia panggil 'Ibu', hingga puncaknya... setahun yang lalu Niana memilih pergi, meninggalkan rumah dan kota kelahirannya untuk mencari jati dirinya. Egois memang tapi setiap orang berhak memiliki pilihan di dalam hidupnya. Niana tidak pernah membenarkan keputusannya, tapi setidaknya untuk sekali ini saja... Niana ingin bertanggung jawab atas hidupnya sendiri tanpa mengurangi sedikitpun rasa bersalahnya. "Nia!" Stella menepuk pundaknya dua kali, "Ngelamun aja! Inget rumah ya?" Tebaknya dengan cengiran jahil di wajahnya. Stella, perempuan yang lebih tua tiga tahun itu pertama kali menemukan Niana yang tengah kebingungan di Bandara seorang diri. Stella merasa, melihat Niana saat itu seperti melihat dirinya ketika pertama kali menginjakan kaki di kota besar ini, terlihat linglung dan tanpa arah sehingga hati kecilnya tergerak untuk membantu Niana.  Niana menyengir, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan pandangan menerawang. "Kadang-kadang kalau keinget aku ini anak satu-satunya, aku jadi ngerasa berdosa ninggalin mereka, Kak." Niana menghembuskan napasnya panjang, "Tapi aku juga nggak pernah menyesal sudah sejauh ini..." Niana kini menoleh ke arah Stella sambil tersenyum manis, "Selain karena bantuan Kakak, aku sendiri juga nggak pernah nyangka bisa bertahan selama ini. For God's sake, I left home when I was nineteen. That was the biggest decision of my life." "Dan kamu belum pernah menghubungi mereka?" Niana menggeleng pelan, "Aku belum siap kalau harus berhubungan sama Mama. Our relationship is too complicated, Kak. I've never felt close to my mother." Stella tersenyum tipis, lalu menepuk puncak kepala Niana beberapa kali. "Sorry, gue nggak bisa ngasih lo saran apa-apa karena gue sendiri nggak pernah ngerasain hadirnya seorang Ibu. Jadi---" Stella merangkul pundak Niana sambil terkekeh pelan, "Mari kita sama-sama saling menguatkan, Life must go on. the time for grieving is gone, now is the time to live again." Stella, perempuan tangguh juga baik hati itu tumbuh besar tanpa mengenal sosok Ibunya. Sementara Niana memiliki sosok yang dia panggil 'Ibu' meski dia sendiri tidak pernah benar-benar merasakan hadirnya. Secara garis besar, dua anak manusia ini memiliki masalah yang sama.  *** "Selamat siang, mau cari bunga ap---El-Fatih?" Keterkejutan Niana berganti dengan napas tertahan. Bagaimana tidak, jika sosok yang baru masuk itu tiba-tiba membuka topi hitamnya lalu menyugar rambutnya dengan asal. Anehnya, meskipun dengan rambut acak-acakan laki-laki itu masih terlihat menawan. Sungguh pemandangan yang luar biasa menggoda iman. "Mau makan siang bareng nggak?" Niana mengerjap beberapa kali, berharap ini bukanlah sekedar hayalan. "Sekarang?" Dengan gerakan kaku, dia melirik jam di pergelangan tangan kirinya. El-Fatih mengangguk. "Bentar ya, aku ijin dulu." Buru-buru Niana berbalik, menaiki tangga ke lantai dua untuk menemui Stella. Tidak lama kemudian, kedua perempuan itu turun. "Ayo!" Spontan Niana menarik tangan El-Fatih hingga keduanya kini berada di luar toko. "Jadi, kita mau makan dimana?" El-Fatih mengangkat bahunya acuh, "Kita bisa ke Ebaya Steakhouse, Eastern opulence, atau Vong kitchen kalau kamu mau makanan eropa." Niana menganga tidak percaya, menatap El-Fatih percaya tidak percaya. "El, kita makan siang doang kan?" El-Fatih mengangguk meski perasaannya mendadak tidak enak, takut-takut jika pilihan tempat makannya salah. "Kalau begitu nggak perlu di tempat semahal itu, sayang kalau uang bulanan kamu habis cuma gara-gara ngajak aku makan siang. Mau aku tunjukin tempat makan yang enak nggak?" Tanya Niana dengan cengiran lucunya. Astaga! Jadi dia beneran mikir gue segembel itu? Damn. Batin El-Fatih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN