Siang itu, Aurora dan timnya tiba di gedung megah Maverick Jewellery Group. Dinding kaca menjulang tinggi, memantulkan cahaya matahari yang membuat tempat itu terlihat berkelas dan berwibawa. “Wow… keren banget, kayak istana berlian,” bisik salah satu jurnalis di samping Aurora. “Iya, pantas aja semua orang pengin kerja di sini,” sahut yang lain sambil terkagum. Aurora hanya menatap lurus ke depan. Ia berusaha menenangkan napasnya, tapi jantungnya berdetak tak karuan. Bukan karena kemegahan gedung itu, melainkan karena seseorang yang akan ia temui sebentar lagi. Lucas. Nama itu terus bergema di kepalanya. “Eh, tapi aku denger-denger Maverick lagi goyah, ya?” bisik Belva tiba-tiba, mencondongkan tubuh ke arah Aurora. Aurora menoleh cepat. “Goyah? Maksudmu?” “Penjualannya kalah dari Lu

