"Makasih Dra udah anterin aku" Tanpa melihat sang empu punya mobil Raimas turun, ia menunduk, tak melihat kebelakang. Raimas melihat dari sudut mataya Indra terus melihatnya turun, namun Indra pun tak memanggilnya untuk tetap di sana membahas hal yang memang harus dibahas. Raimas tetap pergi, hatinya sama tersayatnya seperti Indra saat ini. Keadaan ini rumit. Raimas benar-benar tidak tahu apa yang ia sendiri inginkan. Ini adalah kali kedua Indra membiarkan pujaan hatinya pergi begitu saja. Ia tak menahan apapun walau sebenarnya ia ingin. "Kenapa gue lemah banget, bisanya ngomong dalam hati doang, omong kosong itu semua, gak punya keberanian, lemah lemah lemah.” Indra merutuki dirinya sendiri. “Kalau begitu terus kapan semua pertanyaan itu akan terjawab argh" Ia membanting setir me

