Sementara di tempat lain Ibnu tertunduk lesu mengungkapkan suasana hatinya pada segunduk tanah, "Yasmin, beginikah akhir kisah cinta kita? Aku harus mencintai orang yang kamu pilih yang tak lain adalah adikmu sendiri. Haruskah aku melakukannya dan mengkhianatimu justru di akhir hidupmu? Buatku ini sangat menyedihkan sayang. " Ibnu tersenyum miris. Amarah yang sejak tadi menggebu sedikit mereda melihat nama yang tertera dalam nisan. "Bagaimana kamu di sana?" Ia melanjutkan kata, hembusan nafas mengakhiri kata-katanya, ia masih harus mengendalikan kecemburuannya. "Pasti kamu sendang menertawakan hidupku sekarang. " Ia tersenyum lagi. Kali ini sedikit dengan Nanda tertawa, menertawakan dirinya yang berbicara dengan seonggok batu nisan. "Kalau memang itu benar adanya, aku senang kamu

