Adam POV
=========
Aku selalu bangun di tengah malam. Banyak yang harus dikerjakan karena tidak jadi mati. Dari mulai tugas kuliah sampai pekerjaan freelance-ku. Semuanya Deadline Minggu depan. Aku terlanjur menerima uang mukanya. Jadi dalam beberapa hari ke depan, aku akan lebih lama melototi layar laptopku di ruangan gelap seperti ini.
Dulu aku sangat suka mendesain, menghabiskan waktu menggambar ataupun membuat Vector. Tapi sejak aku berniat bunuh diri, entah mengapa aku sudah bosan bermain ini. Sekarang aku kehilangan minatku di dunia desain karena aku punya Eve.
Kulihat gadis itu masih tidur di bawah gulungan selimut. Aku jatuh hati padanya sejak pertama kali bertemu. Dia terlalu mencemaskanku kalau ada mahasiswa lain yang menggangguku. Menurutku itu manis sekali.
Sebenarnya aku bukannya tidak mau membela diri jika dibully massal. Terkadang orang tertutup sepertiku pasti juga dijadikan bahan pembicaraan. Tapi aku benar-benar tidak mau tahu. Bagiku sekarang semuanya itu tidak penting.
Hanya Eve..
Karena aku sudah terlalu mencintainya, aku masih tidak percaya kalau Fabian itu temannya. Jadi kuselidiki lewat website kampusku.
Fabian, alumni SMA Permata Bangsa.
Nama lengkap : Fabian Arvin Ardega
Fakultas : FKIP
Program studi : Matematika
Aku juga berhasil menelusuri akun email serta media sosialnya. Walaupun aku tidak terlalu mahir hacking, tapi kalau sekedar meretas akun pengguna di internet itu cukup mudah. Dari sini aku mulai mencari tahu kehidupannya dahulu. Sekalipun dia sudah menghapusnya, aku yakin ada jejak.
Dari penelusuranku, bisa kupastikan dia adalah tipikal playboy. Andrei juga tipikal badboy. Pacarku ini punya riwayat menyukai laki-laki seperti mereka. Aku harus menyingkirkannya sebelum dia akan menggodanya kembali. Keputusanku didukung oleh sebuah fakta sederhana dimana ada satu email percakapan mereka.
Ini adalah email lama milik Eve. Dia sudah melupakan passwordnya. Tapi sudah kuambil alih sekarang. Tentu saja, ini cukup efektif untuk menyelidiki kenalan gadisku itu. Aku mengetahui kedekatannya dengan Andrei juga karena ini.
Oh, pacarku memang berbohong.. teganya dia tidak jujur kalau punya mantan lagi..
"Akan Kubunuh dia.." tegasku.
Lagipula.. membunuh itu menyenangkan ternyata.. apalagi saat tidak ketahuan begini dan punya pacar yang selalu memaafkanku...
Aku adalah seorang yang menghargai seni. Membunuh adalah caraku untuk menikmati seni dengan cara yang berbeda. Mungkin dulu Andrei kubunuh secara spontan saat kami melakukan pendakian. Tapi sejak melakukan pembunuhan pada dosen kemarin itu, ternyata darah seseorang lebih cantik saat digunakan untuk melukis.
"Adam?" Panggil Eve membuyarkan bayangan kejiku.
Aku menutup email tadi, lalu menoleh padanya dengan senyuman lebar. Disini gelap, dia tidak akan sadar kalau aku sedang menunjukkan wajah marahku padanya. Aku marah, tentu saja, tapi aku tidak mau dia meninggalkanku.
Satu-satunya yang kumiliki sekarang..
Dia bangun dan memanggilku lagi, "Adam?"
"Iya, apa aku.. menganggumu?" Tanyaku selembut mungkin. Sekalipun aku marah, nada bicaraku tidak akan mungkin meninggi pada Eve.
"Ini masih jam satu," katanya mengucek mata seraya memperhatikan jam dinding, "kamu ngapain sih?"
"Maaf, Eve, aku ada kerjaan.." sahutku.
Jelas sekali kalau gadisku sangat mengantuk sekarang. Seingatku tadi kami tidur sekitar jam sebelas malam. Tentu saja dia masih lelah. Aku pun memintanya, "Tidurlah dulu.. aku tidak akan berisik."
"Kerjaan apa sih? Butuh bantuan tidak? Begini-begini aku sudah mahir program desain loh.."
"Tidak..perlu."
"Yang penting jangan malu-malu meminta bantuanku oke.."
Aku tidak malu, aku hanya suka mengerjakan semuanya sendiri..
"Tentu saja. Aku bahagia punya pacar baik sepertimu," pujiku lirih, "cantik pula."
Dia tertegun mendengarnya. Lalu tertawa sebentar, sebelum akhirnya menyindirku dengan manja, "Kamu ini gombalnya begini kalau di kamar saja ya.. kalau di luar, pegangan tangan saja malu-malu.."
Aku menampakkan raut wajah manisku yang kaget, "Tapi.. aku memang malu, Eve, kamu bidadari, sementara aku seperti tiang listrik.."
Ya, itu fakta, karena aku terlalu tinggi di kelas, banyak yang mengataiku demikian...
Tawa mulai meledak dari bibirnya karena gurauanku. Dia membalas pujianku, "Tapi aku menyukaimu, jangan begitu dong, masa tiang lampu, aku'kan pacarannya bukan sama tiang lampu.."
"Aku.. aku tidak pernah punya pacar sebelumnya.." kataku kemudian, "beda sama kamu. Jadi aku.. aku tidak terbiasa bergandengan tangan di luar.."
Karena perkataanku, dia menjadi sedikit serius, "Adam, itu bukan sindiran, bukan?"
"Bukan kok.." jawabku tersenyum. Jeda sejenak. Lalu kuralat jawabanku, "sedikit."
Dia kelihatan kesal. "Sudahlah, intinya jangan banyak begadang," perintahnya kembali membaringkan diri.
"Untuk seminggu ke depan kurasa aku cukup sibuk, maafkan aku."
"Nanti kacamatamu nambah minus lagi."
"Tidak masalah, yang penting masih jelas memandang paras cantikmu," sahutku lirih sambil kutunjukkan wajah yang malu. Malu-malu palsu.
Dia menoleh padaku lagi, "Dasar.."
Aku memang bermuka dua.. benar, setidaknya aku tulus mencintainya..
Kulihat dia sempat memeriksa ponselnya. Dia tampak serius, kemungkinan ada pesan masuk. Aku pura-pura tidak peduli saat dia menoleh padaku. Itu adalah ciri-ciri orang yang waspada.
"Ada apa, Eve?" Aku mencoba menguji kejujurannya.
Dia malah balik bertanya, "Besok kamu ada rencana tidak?"
"Aku hanya akan melanjutkan pekerjaanku."
"Besok kamu pulang jam berapa?"
"Ya nanti jam enam aku pulang, kalau kamu belum bangun, aku akan tetap pergi."
"Oh begitu.. ya sudah. Siangnya, aku main ke rumahmu ya, kita berangkat kuliah sama-sama."
"Tentu saja, Eve."
Gadis ini sangat pandai mengombang-ambingkan hatiku.. dia sedang menenangkanku dengan mengatakan akan mampir ke rumahku.. padahal aku yakin nanti dia akan pergi ke suatu tempat...
"Kalau begitu, aku tidur dulu, Adam-ku yang manis," ucapnya menggodaku.
Aku mengangguk.
Setelah kuyakin dia sudah tidur, aku memeriksa ponselnya. Tidak ada riwayat pesan diterima dimanapun. Tentu saja pasti sudah dihapus. Kelihatannya tidak ada pilihan lainnya. Aku akan membuntuti gadis ini seperti sebelumnya.
Aku sangat mahir menyembunyikan diri.. itulah sebabnya mudah sekali menjebak seorang dosen yang tergoda melihat tubuh pacarku...
Kuelus keningnya sambil kubisikkan, "Maaf, Sayang, aku akan jadi Stalker lagi."
Kalau sampai besok ada Fabian, tidak perlu kupikir ulang. Akan segera kuhabisi dia. Lalu kupastikan agar Eve tidak mengetahuinya. Kalaupun dia tahu.. aku hanya perlu minta maaf. Pacarku'kan baik hati dan lembut.
Lagipula kesempatan seperti ini mana datang dua kali. Aku dikenal sangat pendiam, kurus, tidak berdaya, tidak akan pernah dicurigai. Apapun yang terjadi, namaku tidak akan tersangkut masalah.
Aku baik, polos dan manis... Tidak ada kesan Badboy sedikit pun dalam diriku.. penampilanku juga norak.. intinya aku tidak mungkin berbuat jahat... Orang lain yang jahat padaku...
Rasanya aku tidak menyesal kala itu menuruti Eve agar tidak bunuh diri. Dia bilang, "..hidup itu masih panjang, tidak usah menyia-nyiakannya dengan tindakan konyol seperti ini.."
Pacarku yang cantik benar. Kalau saja aku mati.. mungkin saat ini aku tidak tahu kalau melukis dengan darah itu hasilnya indah. Bahkan aku baru tahu telinga bisa dijadikan kuas.
==================================