“Sudah saya bilang, kalau masalah biaya akan saya tanggung sampai orang itu pulih.” Suara Rizal menggema di dalam ruangan sempit.
“Maaf, mas, saya hanya mengingatkan bahwa orang itu benar-benar ingin bertemu dengan mas Rizal.”
Rizal menghela napas. “Tidak. Jangan berikan alamat saya kepada siapapun. Mengerti?”
“Baik, mas.”
Rizal mengangguk samar. “Ada lagi?” tanyanya.
“Dapat pesan dari Pak Bienu. Katanya kapan mas Rizal datang ke rumah sakit? Ada yang mau dibicarakan oleh pak Bienu. Kebetulan beliau datang.”
Rizal menggeram. Dia lupa bahwa rumah sakit itu kini sudah milik kakak iparnya. “Segera saya ke sana.” Ucapnya sedikit kesal.
“Baik, mas. Terima kasih.”
Dikembalikan ponselnya ke dalam tas lalu dipakai kaus abu-abu yang tadi disampirkan di kursi sebelum bertanding, kemudian keluar dari ruangan. Bar sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa orang sedang berkumpul untuk minum-minum. Seorang bartender mengangkat gelasnya tinggi-tinggi pada Rizal yang dijawab dengan gelengan. Dia tidak ingin mabuk. Bisa gawat jika kakaknya tahu dia datang dalam keadaan setengah sadar.
***
Rizal turun dari mobilnya lalu mengumpat ketika teringat sesuatu. Dia kembali membuka pintu mobilnya lalu mengambil sebuket bunga mawar merah. Ini kali kedua dia membelikan bunga mawar untuk orang yang ditolong. Itu dilakukan karena dia berharap orang yang ditolong itu dapat berpikir jernih bahwa masih ada yang peduli. Bahwa masih ada yang mengingat kalau dia masih berharga walau dunia ini menghujatnya sekalipun.
Rizal pernah berada dititik itu. Titik ketika merasa tidak memiliki siapapun walau kenyataannya masih memiliki kakak. Dia merasa sendiri di dalam keramaian. Ketika itu, dia berharap semuanya berakhir. Bahwa apa yang diinginkan, akhirnya tidak pernah didapatkan.
Beberapa perawat menyapa ketika dia datang ke rumah sakit milik kakak iparnya. Dia berdiri di bagian pusat informasi lalu berdehem pada perawat yang sedang serius pada layar komputernya. Mendengar deheman itu, perawat tersebut mendongak.
“Mas Rizal.” Sapanya.
Rizal mengangguk. “Pasien yang saya bawa waktu itu, ada di ruangan mana?” tanyanya.
Perawat itu mengecek layar komputernya lalu menjawab, “sesuai permintaan Mas Rizal, pasien Raina kami tempatkan di kamar VIP di lantai dua, Mas. Kamar bougenville dua.”
Rizal mengangguk lalu berjalan pergi. Dia menggunakan lift menuju lantai dua lalu berjalan cepat menuju kamar yang ditujunya. Sesampainya di pintu kamar, dia mengecek jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Pukul sepuluh di malam hari. Dihela napas lega. Pasti perempuan itu sudah tidur, dan dengan begitu, dia leluasa masuk ke dalam kamar itu tanpa takut ketahuan.
Dibuka pintu kamar rawat inap lalu melongokkan kepalanya sedikit. Benar saja, perempuan itu sudah tertidur. Perlahan dia masuk ke dalam kamar, lalu mengambil bunga mawar layu yang beberapa hari lalu diberikannya dan mengganti dengan yang baru.
Sejenak dia menatap perempuan yang tertidur pulas itu. Luka lebam di wajah perempuan itu sudah memudar. Tidak seperti pertama kali dia bawa ke rumah sakit. Walau begitu, tubuh perempuan itu masih masih sama seperti terakhir dia melihat. Kurus kurang berisi. Alis Rizal berkerut memandang perempuan itu. Merasa kasihan. Siapapun yang melakukan itu pada perempuan itu sungguh tidak punya hati.
Tiba-tiba perempuan itu menangis dengan mata masih terpejam. Rizal mundur selangkah. Memasang aba-aba siap lari jika tiba-tiba perempuan itu membuka mata.
Tangisan perempuan itu semakin menjadi. Matanya masih terpejam. Lalu samar terdengar ucapannya, “aku ingin mati saja. Aku ingin ikut ibu dan bapak.”
Tangisan itu begitu memilukan hingga Rizal tidak tega untuk meninggalkannya. Perlahan kakinya melangkah mendekati perempuan yang dia ketahui bernama Raina. Sepertinya perempuan itu bermimpi. Mimpi yang pasti begitu menyakitkan.
Kedua tangan Rizal terulur menangkup tangan kanan Raina. Dilingkupinya tangan kurus itu dengan kedua tangan besarnya. Dia hanya berharap dengan begitu, tangisan dapat berhenti. Dia ingin membuka mulutnya untuk menenangkan Raina namun tidak berani. Dia tidak ingin Raina terbangun mendengar suaranya.
Perlahan tangisan itu berhenti. Perlahan pula Rizal melepaskan tangannya, bersamaan dengan itu, ponselnya berbunyi nyaring yang membuatnya mengumpat lalu membalikkan badan.
Bunyi deringan ponsel membuat Raina terperanjat. Matanya terbuka lebar lalu bergerak liar mencari bunyi itu. Kemudian, matanya tertuju pada pria bertubuh tinggi besar yang sedang membuka pintu.
“Tunggu!” Raina berteriak meminta pria itu berhenti.
Rizal yang merasa dipanggil akhirnya berhenti namun tidak berbalik. Dia tetap memunggungi Raina.
“Kamu yang menolong aku?” tanya Raina.
Rizal diam. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan itu.
“Kenapa kamu tolong aku?” bisik Raina. Dia yakin, pria itulah yang menolongnya. Instingnya mengatakan itu.
Ingatannya berangsur pulih. Dia berangsur mengingat mengapa dia berakhir di rumah sakit.
“Seharusnya kamu biarkan aku mati.” Bisik Raina lagi.
Rizal masih diam. Tangan kanannya mencengkeram gagang pintu sedangkan ponselnya masih berbunyi nyaring.
Air mata Raina mengalir. “Kamu harusnya biarkan aku tenggelam. Biarkan aku mati.” Dia terisak.
Rizal menelan ludahnya. Dia ingin berbalik lalu memaki Raina. Ingin berteriak bahwa masih ada orang baik yang tidak akan menghujatnya dan memperlakukannya tidak manusiawi.
“Aku sendirian. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi.” Tangis Raina.
Raina menatap punggung Rizal. Perlahan dia bangkit lalu melangkah tanpa suara mendekati pria itu. Ketika dia sudah berada dekat, tangannya terangkat memukul punggung tegap itu.
Bahu Rizal menegang merasakan pukulan dipunggungnya. Pukulan yang menurutnya tidak seberapa. Terus menerus Raina memukulnya dengan makian.
“Aku mau mati,” katanya, “dan kamu malah tolong aku.” Raina mengatakan itu berulang kali.
Raina sudah tidak berharap hidupnya akan sama lagi. Terlebih lagi sore tadi dokter mengatakan bahwa dia kehilangan anak dalam kandungannya. Semua hidupnya berakhir. Runtuh di bawah kakinya. Anak yang selama ini diharapkannya malah ikut pergi meninggalkannya. Tidak ada lagi harapannya. Tidak ada lagi keinginannya untuk hidup.
Merasa tidak ada gunanya dia memukuli Rizal yang memilih diam, matanya bergerak liar mencari sesuatu lalu mata itu terhenti pada pulpen yang ditinggalkan perawat di atas meja untuknya jika ingin menulis.
Raina berlari meraih pulpen itu. Dia tertawa menatap Rizal yang masih memunggunginya. “Apakah kamu akan tetap menolongku kalau aku melakukan ini?” tantangnya. Diangkatnya tinggi pulpen itu tepat di lehernya sendiri. Siap menghujamnya.
Bahu Rizal menegang. “Tidak.” Bisiknya.
Dia tahu ke mana arah ucapan itu. Tangannya terkepal pada gagang pintu. Berdebat apakah dia akan berbalik atau akan pergi membiarkan Raina bunuh diri lagi. Akhirnya dia memilih untuk masa bodoh. Dia membuka pintu lalu keluar.
“Persetan!” umpat Rizal pelan lalu keluar dari kamar itu.
Raina terkejut melihat Rizal pergi. Dia akhirnya luruh dan menangis sejadinya. Seharusnya dia senang karena pria itu memberinya akses. Mengusap matanya, Raina menatap pulpen yang ada di tangannya. Dia ingin mengakhiri hidupnya. Aidil tidak benar-benar mencintainya. Tidak pernah mencarinya. Perbuatan itu membuatnya merasa bahwa dia tidak pernah mengenal lagi suaminya.
“Aku mencintai kamu tetapi kamu tidak pernah anggap aku ada.” Raina terisak.
Dia mengangkat pulpen itu lalu mengarahkannya ke lehernya siap menghujamkan pulpen itu tepat dititik syaraf jalan pernapasannya, bersamaan dengan Rizal yang kembali menyerbu masuk menghentikan aksi bunuh diri Raina untuk kedua kalinya.
“Kamu gila!” bentak Rizal merebut paksa pulpen itu lalu melemparkannya jauh-jauh.
Raina menangis, kembali berlari hendak mengambil pulpen itu ketika Rizal memeluk pinggangnya dari belakang.
“Berhenti!” Bentak Rizal lagi.
Raina meronta-ronta. “Biarkan aku mati!” teriaknya berusaha melepaskan diri namun pelukan Rizal begitu kuat seperti ular melilit mangsanya.
“Raina!” Rizal membentak yang membuat perempuan itu akhirnya berhenti melawan. Raina menangis masih dengan pria itu memeluk pinggangnya dari belakang.
“Kenapa?” bisik Raina. Rizal diam. “Kenapa kamu tolong aku?” bisiknya lagi.
Rizal tidak serta merta melepaskan lilitannya. Dia khawatir Raina akan berlari mengambil pulpen yang kini berada tidak jauh darinya.
“Kenapa?!” bentak Raina.
“Aku tidak akan menjawab.” Sahut Rizal, “sebelum kamu berjanji untuk tidak bunuh diri lagi.”
Mendengar jawaban tidak jelas dari Rizal, membuat Raina kembali meronta berusaha melepaskan diri. Dia tidak ingin berjanji pada pria yang baru saja dikenalnya itu. Jika ada kesempatan, dia akan melakukan aksinya lagi.
Rizal berusaha menenangkan Raina yang kembali meronta. Dia tidak tahu ucapannya yang mana yang membuat wanita itu kesal. Menghela napas lelah, akhirnya dia menempuh jalan pintas, dia memukul tengkuk Raina hingga perempuan itu tidak sadarkan diri.
“Aku tidak akan melakukan ini padamu kalau kamu baik-baik terhadapku.” Katanya seraya membopong Raina. Rizal berdecak, “kamu enteng sekali. Apa kamu tidak makan banyak?” dia menggerutu seraya mengangkat dengan mudah.
Rizal membaringkan Raina ke tempat tidur. Dipandangnya wanita itu lalu menggeleng. “Keras kepalamu membuatku teringat Diandra.” Lalu dia mendengkus, “selalu aku teringat dia. Menyebalkan.” Gumamnya lalu berbalik pergi.
Seorang perawat melintas ketika Rizal membuka pintu. Dia memanggil perawat itu, “Mba.” Perawat berhenti.
“Ya, Mas?”
Rizal menatap Raina yang tidur lalu kembali menatap perawat itu serius. “Tolong pindahkan saja pasien ini. Tempatkan di kamar yang tidak ada benda yang dapat memicu dia bunuh diri termasuk pulpen.”
Mata perawat itu melebar.
“Dia baru saja mencoba bunuh diri lagi, Mba.” Sambung Rizal serius. “Tolong periksa juga kondisi kejiwaan dia. Panggil dokter yang ahli bidang itu kalau dia siuman nanti.”
Perawat itu mengangguk lalu Rizal berbalik pergi. Sejurus kemudian dia mengutuk dirinya yang masih saja perhatian pada Raina. Seharusnya dia membiarkan saja wanita itu bunuh diri.
“Sialan!” makinya. Dia tidak bisa begitu saja membiarkan seseorang menderita, dan itulah titik lemahnya.
***
Raina membuka matanya, ditatapnya berkeliling ruangan yang kosong. Tidak ada apa pun dalam ruangan itu dan berbeda dari sebelumnya. Ruangan itu mirip penjara baginya. Kemudian, matanya bergerak liar mencari sesuatu. Ketika tidak ada yang dicarinya, Raina berdiri lalu membuka pintu. Saat pintu tidak terbuka, dia menjerit-jerit. Dia dikunci dalam ruangan tertutup.
Kemudian pikiran buruk melintasi kepalanya. “Aku tidak gila.” Bisiknya berulang kali.
“Buka pintu!” Raina menggedor pintu itu terus-menerus. Tidak ada yang mau membuka. Raina mengumpat dan menyumpahi pria yang dia yakini membawanya ke dalam ruangan itu.
“Aku tidak gila! Buka pintunya!”
Gedoran di pintu semakin melemah. Raina luruh lalu menekuk kakinya, membenamkan kedua kepalanya diantara kaki. “Anakku, sayang.” bisiknya lalu dia menegakkan kepalanya, matanya nyalang menatap pintu. “Ini semua salahmu, Aidil.” Geramnya.
“Gara-gara kamu, anakku mati!” Dia mulai berteriak, “Gara-gara kamu, aku tidak punya siapapun lagi. harusnya kamu yang mati! Aidil!”
Raina menjerit-jerit. Dia berteriak sekuat tenaganya hingga suaranya hampir habis.
Tidak beberapa lama kemudian pintu terbuka. Seseorang masuk yang membuat Raina serta merta menyergap orang yang membuka pintu itu. Dia menatap garang dokter yang hendak memeriksanya.
“Aidil!” geramnya.
Dokter itu tidak berkata apapun pada Raina. Dokter tersebut membawanya yang meronta dibantu dengan beberapa perawat menuju tempat tidur.
“Mau kalian apakan aku?!” teriak Raina. “Kembalikan anakku! Kalian sudah membawa anakku!”
***