Bab 12 Rasa

1987 Kata
Ucapan itu membuatnya terpaku. Dia tidak tahu harus berkata apalagi. Bagaimana caranya dia mengatakan pada Diandra yang sesungguhnya? Dia tidak ingin Diandra sedih dan menyalahkan diri. Itu adalah takdir dan tidak ada seorang pun dapat mengubahnya. Mata Diandra berkaca-kaca. Dia mengeluarkan ponsel yang ada di tas selempangnya. Dinyalakan ponsel itu lalu mencari sesuatu di sana. Diberikan ponsel itu pada Rizal. “Aku membaca artikel mengenaimu,” katanya, “yang mengatakan kalau Kanya sudah meninggal. Apa benar?” suara Diandra bergetar diakhir kalimat. Rizal menatap ponsel itu tanpa berniat menerimanya. Dia tahu, cepat atau lambat Diandra akan tahu juga. Bagaimanapun, dia semestinya harus memberitahukannya, dan bukan malah menyembunyikannya. “Kamu tidak menganggapku, Zal?” Mata Rizal berkedip mendengar perkataan itu. “Bukan begitu.” Jawabnya pada akhirnya. Dia tidak pernah ingin mengesampingkan Diandra, namun waktu telah mengubah segalanya. Semuanya sudah berubah dan dia tidak kuasa melawan waktu. “Lalu apa?” bisik Diandra. Air mata meleleh dari matanya, “sudah berapa lama Kanya meninggal?” tanyanya, lebih tepatnya menuntut Rizal mengatakan yang sesungguhnya. Rizal menyandarkan punggungnya di kursi lalu membuang pandangannya. Sejauh ini dia sudah berusaha melupakan rasa perih itu. Pedih mengingat bagaimana Kanya meregang nyawa di hadapannya, dalam pelukannya. “Aku ingin kamu bahagia, Zal.” Ucap Diandra lagi, “Aku minta maaf. Aku menyesal.” Rizal menghembuskan napasnya. Sejak dahulu, dia tidak ingin Diandra begitu. Dia tidak suka wanita di hadapannya merasa bersalah selalu. Hubungan antara dirinya dan Diandra sudah berbeda, dia menyadari itu. “Aku tidak suka kamu menyalahkan dirimu,” Rizal akhirnya menatap Diandra yang sedang mengusap air matanya, “Semua takdir. Tidak ada yang bisa mencegah itu. Kesendirianku pun sudah menjadi pilihanku, Di.” Dia sudah memilih untuk tidak bersama siapa pun setelah kematian Kanya. Dia tidak ingin patah hati untuk kesekian kalinya. Dia tidak ingin hatinya terluka lagi melihat wanita yang mulai dicintainya memilih untuk bersama orang lain. “Kamu tidak ingin mencari pengganti Kanya?” Diandra bertanya hati-hati. Rizal menggeleng, “tidak.” “Sampai kapan?” pertanyaan itu terdengar penuh tuntutan dan putus asa. Rizal bangkit dari duduknya. Dilihatnya jam dinding yang ada di ruangan itu. Dia tidak ingin membahas kesendiriannya. Saat ini dia nyaman dengan kesendiriannya. “Sudah sangat malam. Sebaiknya kamu pulang. Kasihan anak-anakmu.” Secara halus, dia mengusir Diandra untuk segera meninggalkan tempat itu. Diandra mengusap air matanya kemudian berdiri. “Boleh aku sering datang ke sini?” tanyanya penuh harap. Harapan menghibur sahabat serta orang yang pernah dia sayangi hingga kini. Rizal menggeleng. “Jangan,” dia tidak mau itu terjadi dan hatinya sulit ditata lagi. Ditatapnya pintu, “Hargai suamimu. Kuharap ini terakhir kalinya aku melihatmu.” Mata Diandra membulat. Terkejut dengan apa yang dikatakan. Rizal baginya sudah berubah banyak, selain postur tubuhnya yang semakin besar, tatapan mata Rizal kini sudah tidak seperti dulu. Tatapan mata itu kini dingin, tidak ramah dan tidak lagi jenaka. Dia seakan berbicara dengan orang asing yang baru saja ditemuinya. Pria yang pernah mengisi harinya yang suram itu sekarang menjadi pribadi yang berbeda. Tidak tersentuh. “Rizalku berubah.” Bisik Diandra pada dirinya sendiri. Rizal dapat mendengar itu. Lebih baik dia berkata seperti itu agar Diandra tidak menyalahkan diri. “Aku bisa mengurus diriku sendiri.” Tukas Rizal. Dia menelan ludah sebelum mengatakan kalimat pemungkas yang pasti membuat Diandra sangat marah dan membuat dirinya sendiri akan menyesalinya dikemudian hari, “aku sudah punya segalanya sekarang, dan aku tidak butuh teman hidup bahkan dirimu.” PLAK! Tamparan keras mendarat di pipi kiri Rizal. Diandra marah. “Aku kecewa padamu, Zal. Aku sudah tidak mengenalmu yang ramah dan mampu menghalau semua masalah. Aku kecewa.” Rizal diam. Ini sudah dia pikirkan sejak dahulu namun dia tidak berani mengatakannya melalui telepon. Saat kesempatan ini ada, dia melakukannya. Dia harus melakukan hal yang seharusnya dia lakukan pada orang yang pernah mengisi hatinya. Dia tidak ingin berdamai dengan ‘mantan’. Diandra adalah masa lalunya. Sudah seharusnya dia melupakan masa lalunya, memutuskan rantai itu agar tidak membelit lagi. Masa lalunya bukan hal indah untuk dikenang. Masa lalunya adalah hal pahit yang sudah seharusnya disingkirkan. Kedua tangan Diandra terkepal di sisi tubuhnya. Diperhatikannya Rizal yang diam dan terkesan tidak peduli. Bahkan pria itu tidak mau repot-repot mengusap pipinya yang merah akibat tamparannya. “Ketakutanku mengenai siapa yang akan mengurusmu setelah aku mengecewakanmu ternyata tidak berdasar,” Diandra berkata lagi, “kamu sepertinya sudah hidup sangat bahagia, dan kamu tidak pernah menganggapku sahabatmu.” Setelah mengatakan itu, Diandra keluar dari ruangan. Bunyi pintu terbuka dan tertutup mengindikasikan bahwa dia sudah sendirian di ruangan ini. Diusap wajahnya dengan sebelah tangannya lalu dia berteriak marah. “Sialan!” Rizal memaki lalu menendang kursi hingga hampir terbalik. Dia marah pada dirinya sendiri yang tidak pernah bisa membuat seorang Diandra tersenyum. Sejak dahulu, dia selalu membuat Diandra bersedih. Kring … Kring … Kring …. Ponselnya berdering dari saku celana panjangnya. Tanpa berpikir siapa yang menelepon, dia mengangkatnya. “Ya?” jawabnya ketus. “Zal, ini sudah waktunya. Kau di mana?” itu suara pemilik bar. Mata Rizal memandang jam dinding. Dia ada jadwal pertandingan tinju underground. “Malam ini aku mengambil dua putaran.” Gumam Rizal lalu menutup teleponnya. Sementara itu, Raina duduk di atas tempat tidur. Matanya menatap kosong jendela kamar yang terkunci rapat. Di sampingnya, bi Asih mengusap punggung Raina berulang kali. “Nona, sudah malam. Tidur ya?” Raina diam. Bi Asih tahu siapa yang ditunggu oleh Raina tanpa harus wanita itu mengatakannya. “Mas Rizal kerja. Pulang besok pagi.” Katanya seraya masih mengusap punggung. “Pulang.” Bisik Raina. “Besok pagi mas Rizal pulang.” Bi Asih mendengar suara itu walau sangat pelan. Dia tahu bahwa Raina begitu mengharapkan majikannya datang menemuinya. Wanita itu tahu siapa pria yang baik padanya dan jahat padanya. Ditatapnya Raina lalu diusap kepalanya lembut. “Tidur, ya, Nona? Sudah malam sekali ini. Mas Rizal besok pulangnya.” Raina tetap diam masih di posisi semula. Dia tidak ingin tidur dan melewatkan malam. Akhirnya bi Asih mengalah. Dia memilih untuk membiarkan saja Raina dengan insomnianya. Pikirnya, wanita itu akan tidur juga jika sudah mengantuk. Dia akan menunggui majikannya pulang di ruang tamu, siapa tahu pulang lebih cepat dari biasanya. *** Bi Asih membuka kamar yang ditempati Raina dipagi harinya. Majikannya tidak pulang setelah semalaman dia menunggu hingga tertidur di ruang tamu. Raina sudah bangun. Dia duduk di atas tempat tidur. Kondisi Raina tidak ada kemajuan berarti. “Eh, sudah bangun, Non.” Sapa Bi Asih walau tahu, Raina tidak akan menjawab pertanyaan itu. “Non ‘kan tidur sudah malam sekali, kenapa pagi-pagi sudah bangun?” tanyanya lagi. Bi Asih menuju jendela kamar Raina lalu menyibak sedikit tirai itu agar matahari masuk. Mobil majikannya belum ada di parkiran rumah. “Mas Rizal belum pulang juga.” Bisiknya. Bi Asih tidak tahu bagaimana keseharian Rizal. Ini kali pertama dia tinggal di rumah majikannya. Dia mengkhawatirkan pria itu seperti dia mengkhawatirkan anak-anaknya ketika tidak pulang hingga pagi hari keesokan harinya. Tiba-tiba Raina berdiri lalu turun dari tempat tidur. Dia meracau tidak jelas mengelilingi kamarnya. Bi Asih menatap iba. Kasihan, batinnya, guncangan berat seperti apa yang menimpa wanita malang ini? tega sekali. Raina tiba-tiba menarik rambutnya kemudian berteriak. Bi Asih yang melihat itu, terkejut. “Non!” Bi Asih menghampiri Raina lalu dipeluk dari belakang, “Non, berhenti. Sudah, Non.” Perkataan itu membuat Raina makin histeris, menarik-narik rambutnya. Beberapa helai rambutnya putus. “Duh, Gusti. Jangan, Non. Nanti rambutnya rontok semua.” Bi Asih iba melihat itu. Beliau kasihan melihat Raina yang begitu depresi. Dicobanya menarik kedua tangan itu namun kekuatan wanita itu lebih besar, bahkan dia berhasil lepas dari pelukan bi Asih. Raina berlari keluar kamarnya masih berteriak-teriak. Bi Asih mengejar, berusaha menangkap namun gagal. “Non, ini bibi Asih. Non!” Bi Asih mengatur napasnya. Ketika Raina berhenti berlari, beliau dengan cepat menarik tangan kanan wanita itu. “Non, sudah.” Beliau tidak tahu lagi harus melakukan apa. Raina menangis. “Mati. Saya mau mati.” Ucapan itu membuat Bi Asih sedih. “Jangan, Non.” Bisiknya, “nanti bibi sedih. Nanti mas Rizal juga sedih.” Secara tiba-tiba, Raina menghentak tangan Bi Asih kemudian dia mencakari wajahnya sendiri. “Mati! Mati!” Raina berteriak lagi hingga Bi Asih kewalahan. Wajah itu merah penuh cakaran kuku. “Non, jangan begitu, Non.” Bi Asih ingin menangis melihat tingkah Raina yang menjadi-jadi. Dia takut terjadi apa-apa. “Mati!” teriak Raina masih mencakari wajah dan menjambaki rambutnya. Rizal yang baru saja tiba mempercepat langkahnya ketika mendengar suara Raina berteriak-teriak. Dia membuka pintu rumah dengan kunci yang dibawanya. “Raina!” teriaknya memanggil nama itu. Matanya berkeliling dan didapatinya Raina berjongkok di pintu penghubung antara kolam renang dan rumah utama. Bi Asih menoleh ketika mendengar suara majikannya. “Akhirnya mas Rizal pulang.” Beliau menghela napas lega. Ketika Bi Asih hendak menyambut majikannya, Raina serta merta berlari menuju kolam renang. Perbuatannya itu membuat Rizal melotot. “RAINA!” Dia berteriak memanggil nama Raina, bermaksud memintanya berhenti namun gagal. Wanita itu sudah menceburkan dirinya ke dalam kolam renang sedalam dua setengah meter. Bi Asih histeris yang membuat Rizal berlari kemudian menceburkan dirinya ke dalam kolam renang tanpa memedulikan pakaiannya yang nantinya basah. Rizal menyelam, mencari Raina kemudian membawanya keluar dari kolam renang. Dadanya bergemuruh, takut jika nyawa Raina tidak dapat tertolong. Dia akan merasa sangat bersalah sekali pada Kala dan juga Cinta. “Bi, tolong.” Pintanya. Bi Asih membantu Rizal mengangkat Raina yang tidak sadarkan diri. Dipinggir kolam renang, Rizal melakukan pertolongan pertama dengan menekan d**a Riana menggunakan kedua tangannya, namun tidak bergerak. Dia semakin takut jika Raina tidak selamat. “Ayolah, Raina. Ayo.” Pintanya, terus menekan d**a berulang kali. “Ayo!” teriaknya lagi. Tidak ada cara lain, pikirnya. Dia harus memberikan napas buatan. Dibukanya bibir Raina. Bersih, batinnya. Dia tidak ingin ada sesuatu menghalangi mulut Raina. Jika ada yang menghalangi, wanita itu bisa tersedak. Rizal memberikan napas buatan. Tidak ada pergerakan. Dia semakin bingung dan frustrasi. Dipandangnya Bi Asih. “Bagaimana ini, Bi?” Sekujur tubuhnya mendadak menggigil. Dia takut setengah mati. Bayangan Kanya yang terbujur kaku dalam pelukannya kini bermain di kepalanya. Dia kembali teringat bagaimana wanita yang dicintainya memilih untuk menyerah. Pernikahan Kanya pun sama seperti Raina. Hancur berantakan karena orang ketiga. Ibunya Kanya meninggal dunia setelah pernikahan perjodohan itu karena sakit. Tidak ada yang bisa dijadikan tempat untuk bercerita membuat Kanya depresi. Wanita itu melupakan bahwa masih ada dirinya yang mencintai sepenuhnya. Rizal memutuskan untuk merawat Kanya dan membawa pulang ke Semarang. Ke rumah kakaknya. Dia berharap Kanya sembuh namun malah sebaliknya. Kesehatannya menurun dan semakin menurun. Bi Asih dapat melihat ketakutan terpancar dari mata majikannya. Ketakutan yang begitu nyata. Majikannya yang tidak pernah mengenal kata takut itu, menunjukkan padanya. Rizal kalut. Entah mengapa. Bi Asih tidak mengerti. “Coba sekali lagi, mas.” Jawab Bi Asih, mencoba membuat majikannya tidak takut. Mata Rizal berkedip mendengar ucapan tiba-tiba bi Asih. Dia mengangguk lalu memberikan napas buatan lagi dan kali ini Raina batuk. Dari mulutnya keluar air. Serta merta dia memeluk Raina erat.   “Syukurlah. Kamu selamat. Syukurlah.” Bisiknya. Betapa leganya dia melihat Raina membuka matanya. “Entah apa yang harus kukatakan pada mereka jika kamu tidak selamat, Raina.” Ketakutannya sirna dan berganti kelegaan luar biasa. “Aku ingin mati.” Bisikan Raina itu semakin membuat Rizal mengeratkan pelukannya. Wanita itu sangat bersedih dan dia ingin sekali membuat Aidil mati jika sudah bertemu nanti, entah di mana.   “Jangan.” Bisiknya, “kamu masih memiliki orang yang peduli padamu.” “Mati saja.” Hanya itu jawaban Raina. Rizal melepaskan pelukannya kemudian menatap Raina. Tatapan mata itu sama seperti sebelumnya. Kosong. Wanita dalam pelukannya itu depresi berat. Dia mengulurkan tangannya mengusap pipi Raina dengan ibu jarinya. Dalam sekejap, kejengkelannya pada Raina raib. Berganti sudah rasa itu. Rasa yang tidak dapat dia deskripsikan secara nyata. Rasa yang malah membuatnya takut pada janji yang telah diucapkannya pada Kanya saat menjelang ajal. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN