Febi dan Kellan berhenti di toko kue membeli kue untuk orangtua Febi. Febi menatap kantong yang berisi beberapa kue yang dibelikan oleh Kean untuk kedua orangtuanya.
Kue-kue ini adalah kesukaan kedua orangtuanya. Febi tak menyangka, kalau Kellan tahu kue kesukaan dari orangtua Febi. Padahal Kellan jarang ke rumahnya. Atau tanpa sepengetahuan Febi, pria itu datang ke rumah orangtua Febi dan mengetahui segala tentang keluarganya.
"Kau tahu kue kesukaan Mama dan Papa?" Tanya Febi ketika keduanya masuk ke dalam mobil.
Kellan menoleh pada Febi dan tertawa pelan. "Aku selalu membelikan kue ini saat berkunjung ke rumahmu. Atau Mama dan Papamu yang berpesan untuk dibawakan kue itu," jawab Kellan, membuat Febi terkejut mendengarnya.
"Mereka berpesan seperti itu padamu? Kau menuruti apa yang mereka mau?" Tanya Febi.
Kellan terkekeh. "Iya. Aku menurutinya. Lagian hanya sebuah kue. Dan tidak terlalu berlebihan bagiku. Bahkan aku juga sering membawakan makanan yang lainnya. Aku datang kerumahmu saat kau tidak di rumah. Aku menghubungi Febri terlebih dahulu, menanyakan dirimu di rumah atau tidak. Aku juga sering berbicara di telepon bersama dengan ibumu, menanyakan kabar dirimu," jelas Kellan membuat Febi yang mendengarnya mengerjapkan matanya beberapa kali. Hal itu sangat lucu sekali tampak di mata Kellan.
"Aku tidak berani menunjukkan dirimu di depanmu. Aku selalu memerhatikan dirimu dari jauh, dan kadang aku juga mengikuti dirimu. Karena paksaan Febri, akhirnya aku memberanikan diri. Ternyata kau tidak mengingatku sama sekali. Hal ini sudah kuduga sebenarnya," ucap Kellan mengusap rambut Febi lembut.
Febi meringis. Merasa bersalah pada suaminya ini.
"Aku minta maaf. Aku sungguh lupa dengan masa lalu kita. Aku akan mengingatnya secara perlahan. Padahal aku tidak ada mengalami kecelakaan," ucap Febi tertawa pelan.
Kellan ikut tertawa. "Itu hal biasa. Aku tahu kau hanya fokus pada karirmu dan perusahaan. Makanya kau tidak akan mengingatnya. Kau menerimaku saja sekarang, sudah membuatku senang." Kata Kellan menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobilnya.
Febi tersenyum. Kellan memang laki-laki tak banyak menuntut. Febi senang memiliki Kellan dalam hidupnya. Febi menatap keluar jendela dan merasa tak sabar untuk pulang ke rumah. Sudah tiga minggu dirinya tak pulang ke rumah orangtuanya. Pantas saja ibunya marah-marah dan menyuruh Febi untuk pulang.
"Febri bilang, kau sudah lama tak pulang ke rumah. Jangan terlalu sering tidur di apartement. Lebih baik kau tidur di rumah orangtuamu," ucap Kellan, tak mau istrinya sering tidur di apartement. Bisa saja ada sesuatu yang terjadi pada Febi tengah malam atau siang hari, saat Febi sendirian di apartement.
Kellan tak mau terjadi sesuatu pada istrinya itu.
Febi mendengar ucapan Kellan mengangguk. Dirinya tak akan sering menginap di apartement-nya. Kemarin Febi memilih untuk menginap di apartement, karena ada masalah di perusahaannya.
"Aku akan sering tidur di rumah Mama dan Papa. Tapi, kalau aku sering tidur di sana, maka aku tidak akan bisa menginap di tempatmu," ucap Febi menaik turunkan alisnya.
Kellan yang mendengar itu menatap terkejut pada Febi. Istrinya ini sudah pandai menggoda ternyata! Kellan tak ingin Febi menginap di tempatnya. Kalau dirinya tak bisa melakukan sesuatu pada istrinya itu.
"Aku tidak akan memaksamu untuk menginap. Aku ingin kita tinggal serumah setelah kita menikah ulang nanti. Tapi, kalau kita sudah sah kembali memang tinggal serumah. Masa kita harus pisah rumah!" Kellan tertawa mengatakan itu. Membuat Febi juga tertawa mendengarnya.
Febi mengusap lengan Kellan. Dan menatap keluar, mereka sudah sampai di rumah orangtua Febi. Febi keluar dari dalam mobil, diikuti oleh Kellan setelahnya.
Kedua orangtua Febi sudah menunggu kedatangan Febi dan Kellan. Rima langsung berlari menuju Kellan dan memeluk tubuh pria itu yang sudah dianggap seperti putranya sendiri.
Kellan membalas pelukan Rima dan menatap pada Febi dengan senyuman manisnya.
Rima melepaskan pelukannya dari Kellan. Menatap Kean yang semakin hari semakin tampan saja. Ini kalau putrinya tidak segera sadar. Rima akan menjodohkan Kellan dengan gadis lain, agar Febi menyesal telah menyiakan pria setampan Kellan.
"Kau kenapa tak main ke sini lagi? Pasti dirimu dilarang oleh Febi, 'kan?" Tuduh Rima yang membuat Febi mendengarnya langsung berdecak kesal.
Febi masuk ke dalam rumah. Meninggalkan kedua orangtuanya dengan Kellan. Febi berjalan menuju dapur dan melihat banyak makanan di atas meja makan. Dengan cepat Febi duduk dan mengambil nasi ke dalam piringnya dan mengambil lauk pauk.
Febi memakan makanannya dalam diam. Perutnya tak bisa memakan roti saja. Walau dirinya orang blasteran. Tapi, tinggal di Indonesia sedari kecil, sudah membuat dirinya terbias memakan nasi setiap harinya. Dan tidak akan kenyang hanya memakan roti saja.
Rima, Lerdin, dan Kellan yang tiba di ruang makan. Melihat Febi memakan makanannya dengan lahap. Membuat Rima sang ibu langsung menggeleng. Putrinya ini seperti orang tidak makan selama seminggu saja.
"Kau tidak mau berapa lama?" Tanya Rima duduk di salah satu kursi meja makan dan menyuruh Kellan untuk duduk juga.
"Aku makan tiap hari. Tadi aku tidak sarapan dengan hal berat. Malah aku harus ke perusahaan dulu tadi," jawab Febi dan mengambil nasi dan lauk lagi.
Febi menambah untuk kedua kalinya. Untung saja, dirinya termasuk orang yang tidak akan bertambah gemuk walau makan banyak.
"Kau ke perusahaan? Untuk apa? Bukannya semalam kau bilang akan libur?" Tanya Rima.
Febi melihat pada ibunya. "Ada masalah sedikit. Aku tidak mengabaikannya," jawab Febi.
Lerdin mendengarnya tersenyum. "Papa sudah mendengar masalahmu. Kau menyelesaikannya dengan baik sekali. Papa sangat bangga padamu," puji Lerdin menatap putrinya dengan tatapan penuh kebangaannya.
Febi yang mendengarnya melebarkan senyumannya. "Aku tidak mau masalahnya berlarut. Lagian aku harus menjadi bijak bukan. Bekerja sama dengan perusahaan Rafael's bukanlah suatu kesalahan. Aku yakin bekerja sama dengan merekan akan menguntungkan!" Kata Febu meminum minumannya.
Lerdin mengangguk. "Papa juga yakin. Kau tidak bertemu dengan kakakmu?" Tanya Lerdin pada Febi.
Febi menggeleng. "Tidak. Memangnya ke mana dia?"
"Dia pergi ke Jerman untuk dua minggu. Papa kemarin sempat melarangnya untuk tak pergi, tapi, dia bersikeras untuk pergi, dan mengatakan kalau ini semua demi kebaikan perusahaannya," jawab Lerdin menghela napasnya.
"Ada masalah?" Tanya Febi memakan makanannya.
Lerdin mengangguk. "Iya. Dan dia tidak mau dibantu. Kalian berdua itu sama saja! Kalau ada masalah pada perusahaan, kalian berdua tidak mau meminta bantuan," ucap Lerdin berdecak melihat kelakuan kedua anaknya.
Febi yang mendengarnya tertawa pelan. "Bukan tidak mau membantu. Tapi, kami bisa menyelesaikannya sendiri," ucap Febi.
Rima mendengar percakapan itu berdecak. Anak dan suaminya kalau sudah bertemu selalu membicarakan bisnis! Rima tak suka mendengarnya!
"Kalian ini kalau sudah bertemu selalu membicarakan bisnis! Febi! Kau seharusnya menjadi model! Bukan meneruskan perusahaan keluarga!" Kata Rima berdecak.
Rima dulu ingin putrinya menjadi seorang model. Tapi, malahan Febi memilih untuk menjadi seorang pengusaha. Dan sekarang putrinya lebih suka b******a dengan berkas-berkas. Dibanding b******a dengan seorang manusia.
Febi yang mendengar ucapan ibunya langsung menggeleng pelan.
"Kalau aku menjadi model. Aku tidak akan sering pulang ke rumah ini! Aku akan pergi ke negara-negara lain. Mama tahu sendiri, sibuknya seorang model itu seperti apa?!" Tanya Febi menyudahi makannya.
Rima mendengar itu terdiam. Dia tahu, kalau seorang model akan jarang pulang ke rumah. Bahkan Febi akan lebih sibuk lagi dan susah untuk meminta libur.
"Aku suka dengan pekerjaanku sekarang. Kalau aku tidak meneruskan perusahaan keluarga, aku lebih memilih menjadi dosen dibanding menjadi model. Aku tak mau berpose di depan kamera setiap harinya!" Ucap Febi mengambil makanan penutup dan memakannya.
Semua orang di meja itu melihat ke arah Febi. Terutama Kellan, dia tidak menyangka kalau Febi punya keinginan menjadi dosen. Padahal waktu kecil dulu Febi bercita-cita menjadi Dokter.
"Bukankah cita-citamu dulu menjadi Dokter?" Tanya Kellan.
Febi menatap pada Kellan dan tertawa pelan. "Aku tidak suka menghabiskan waktu di rumah sakit. Jadi, aku memilih menjadi pengusaha. Kalau tak mengurus perusahaan ini, aku akan menjadi dosen. Menghabiskan waktu di universitas," jawab Febi.
Kellan mengangguk. Cita-cita bisa kapan saja berubah. Dulu Kellan ingin menjadi tentara, setelahnya polisi, dan sekarang dia menjadi pengusaha. Kellan tak pernah tahu tentang hidup ke depan seperti apa.
"Tapi, anak Tante Nadia, dia menjadi model. Dan sering pulang ke rumah. Dia membeli barang branded," ucap Rima, memberitahu tentang anak temannya.
Febi yang mendengarnya mengerutkan keningnya. Dia tahu siapa anak Nadia. Dia beberapa kali bertemu dengan wanita itu dipertemuan para pembisnis. Febi hanya tersenyum dan tidak menanggapi apa yang ibunya katakan.
Kalau Febi bilang yang sesungguhnya nanti. Malahan ibunya tak percaya, dan mengatakan kalau Febi berbohong nantinya. Lebih baik dirinya diam saja.
"Ya. Tapi, aku lebih bisa membeli banyak barang branded. Memangnya aku harus menjadi model dulu untuk membeli semuanya?" Tanya Febi.
Rima mendengarnya menggeleng. Apa yang dikatakan oleh putrinya memang benar. Kalau Febi bisa membeli apa pun dengan uangnya. Bahkan Febi baru saja membeli helikopter beberapa bulan lalu.
"Mama jangan membicarakannya lagi. Mama tidak tahu tingkah lakunya saat dia berada di luar rumah seperti apa," kata Febi santai dan terus memakan makanannya.
Kellan dan Lerdin mendengar itu tertawa pelan. Mereka tentu tahu apa maksud dari perkataan Febi. Kellan menyudahi acara makannya, dan menatap pada Febi yang beberapa kali mencicipu hidangan penutup. Istrinya itu seperti orang yang tidak mengenal kenyang. Padahal sudah makan banyak.
"Kau jangan melihatnya. Dia memang seperti itu. Dia akan makan terus, dan tidak tahu kenyang," ucap Rima mencibir.
Febi mendengarnya ikut mencibir pada ibunya itu. "Mama jangan banyak bicara! Lagian Febi lapar!" Kata Febi meminum minumannya, dan merasa puas setelah merasakan perutnya kenyang.
"Malu ada suamimu di sini."
"Iya. Aku tahu. Lagian kalau aku sok anggun, nanti malah dia jadi ilfel," kata Febi santai.
Rima dan Lerdin hanya menggeleng mendengarnya.