KUBUAT KAMU MISKIN MAS BAG 7.
**
Aku sama sekali gak peduli dengan Ibu dan teriakannya. Aku tetap menaruh pakaian Mas Alif dalam plastik. Sekaligus sepatu, jam tangan dasi dan semuanya. Berani benar dia jual perhiasanku.
"Kamu dengar gak, Sand. Kenapa kamu diam aja!" bentaknya lagi.
"Ini rumah manusia bukan hutan. Bisa gak kalau bicara gak usah teriak. Lanjut aja cuci piring sana!" bentakku pada Ibu.
"Terus kamu mau apakan seluruh pakaian itu. Nanti Alif pake baju apa?"
"Enggak tahu bukan urusanku. Lagian kenapa dia jual perhiasan aku. Asal Ibu tahu ya harganya lebih mahal dari ini!" kataku dengan wajah datar.
"Keterlaluan sekali kamu, Sand. Setan mana yang merasuki kamu sehingga pulang dari Malaysia sikap kamu berubah begini!" sentaknya melihatku dengan berkacak pinggang.
"Aku gak terima karena Perusahaan Papaku nyaris bangkrut di tangan Mas Alif dan Miranti tanpa sepengetahuan aku jadi sekretaris. Ibu pasti tahu sesuatu, 'kan?" Wajah Bu Rifah, mertuaku pias aku katakan itu. Aku kembali menaruh lagi pakaian-pakaian itu. Tak peduli biar saja dia kaget saat pulang bajunya sudah gak ada lagi.
"Sand, semua bisa di bicarakan baik-baik. Balikin lagi pakaian Alif ke tempatnya. Ibu mohon, Sand. Jika seperti ini sama saja kamu mau usir Alif dari rumah nya sendiri," katanya lembut padaku. Aku tertawa ringan menertawakan Bu Rifah.
"Rumahnya dari mana? Dari Hongkong? Ini rumah Papa ku. Sampai sekarang Mas Alif masih numpang seharusnya lebih tahu diri. Dia juga punya posisi bagus karena aku percaya padanya namun sekali dia berkhianat maka bersiaplah, Bu!" Bu Rifah menelan salivanya takut melihat wajah garang ku.
"Udah gini aja dari pada ribut-ribut lebih baik Ibu ganti saja perhiasan kamu yang di ambil Alif. Dia memberikan pada Ibu agar Ibu bisa segera membeli rumah baru. Uangnya masih ada di ATM Ibu," katanya tanpa beban. Hebat orang kampung kayak Ibu sudah bisa bergaya dengan ATM.
"Oh, perhiasan aku duitnya di kasih ke Ibu. Hebat Mas Alif mengelabui aku. Seharusnya dia jadi suami bekerja sama memajukan usaha Papa dan aku bekerja menjadi desainer. Tetapi kenyataanya dia malah nipu aku!" kataku tak suka.
"Iya, dari pada kamu marah gak jelas dan menjelekkan anakku. Istri apa kamu?"
"Gak usah banyak omong, Bu. Balikin perhiasan aku!"
"Ya udah kita pergi ke ATM segera!" ucapnya.
"Mana bisa ngambil uang banyak di ATM. Berapa Ibu mau kasih aku 5 juta. Harga perhiasanku lebih dari 50 juta!" sentakku tak terima.
"Ibu nyicil aja dulu, Sand. Di kembalikan pelan-pelan."
"Gak bisa balikin gak, Bu!" ucapku dengan netra penuh amarah. Dia menelan salivanya merasa takut.
"Ibu gak ada uang sebanyak itu, Sand!" katanya berkilah. Dahi ku mengernyit melihatnya. Ibu beberapa kali mendumel karena merasa bodoh hendak mengembalikan uang padaku. Entah mengapa aku tak percaya padanya.
Aku bergegas ke luar, dia heran melihat aku pergi. Dia terus mengikuti. Aku masuk saja ke kamar nya.
"Sand, mau apa kamu?"
"Aku cari sesuatu yang bisa di buat ganti rugi," sentakku pada Ibu.
"Apa-apaan kamu. Sudah gila kamu berani bongkar-bongkar lemari Ibu!" Dia membentak ku tetapi aku sama sekali tak peduli. Hingga di nakas aku melihat ada amplop dan berisi uang. Bu Rifah mencoba mengambil namun aku menghalangi.
"Ini Ibu ada uang?"
"Itu uang Ibu dari jual rumah! Balikin!" sentaknya.
"Jangan bohong, Bu. Ini uang penjualan perhiasan aku, 'kan?" kataku tak percaya. Aku mengeluarkan uang itu lebih dari lima puluh juta. Dari mana Ibu ada uang sebanyak ini. Rumahnya di kampung itu jelek kalau di jual tak akan sebanyak ini.
"Balikin uang Ibu, Sand, atau kamu laporin ke Polisi!" bentaknya mengambil uang itu.
"Ini uang penjualan perhiasan sekaligus uang Perusahaan yang Mas Alif ambil, 'kan?" tanya ku.
"Enggak, Sand. Itu uang Ibu. Ibu gak tahu apa-apa tentang uang Perusahaan yang kamu maksud?" Dia marah dan menatapku dengan nyalang. Aku gak percaya, Mas Alif pasti menarik Dana cash dan beberapa di serahkan ke Ibunya.
"Ibu gak perlu bohong."
"Itu uang penjualan tanah Ibu di kampung, Sand. Balikin!"
"Gak akan sebelum aku dengar sendiri dari Mas Alif ini uang apa?"
Beberapa saat aku dan Ibu bertengkar. Dia bersikukuh kalau itu adalah uang penjualan tanahnya di kampung tetapi aku gak percaya. Ini pasti uang perhiasanku dan sebagian uang Perusahaan karena Ibu mau membeli rumah baru dari uang ini.
Suara bel rumah berbunyi. Pertengkaran ku dan Ibu berhenti sebentar akibat ada yang datang. Gak mungkin Mas Alif karena dia masih di Malaysia. Mungkin besok atau nanti malam dia pulang karena Mas Alif baru saja sampai di Malaysia tadi siang.
"Buka pintu dulu, Bu!"
"Enggak, pencuri kamu, Sand. Balikin uang Ibu!" sentaknya marah.
"Pencuri? Anakmu yang mencuri banyak uangku? Jangan maling teriak maling, Bu!"
Aku berlalu hendak membuka pintu dan Ibu menyusul ku sambil terus meminta uangnya untuk di balikkan. Uangnya aku taruh di dalam bra ku supaya dia susah untuk mengambil. Walaupun tak muat di bra tak apa yang penting uang itu aman di d*d* ku. Aku melakukan ini agar Ibu sulit mengambilnya dariku.
"Ibu!" Ratmini adik Iparku langsung memeluk Ibu begitu aku membuka pintu. Dia menangis sesenggukan. Wajahnya memar akibat terkena pukulan di dekat mata dan bibir.
"Kenapa kamu, Rat?"
"Mas, Seno mukulin aku, Bu. Dia selingkuh sama rekan kerjanya. Saat aku memergoki dia marah besar dan menganiaya aku, Bu."
Ratmini tersedu sedan karena masalah yang di hadapinya. Dia menangis kejer sambil memeluk Ibunya.
"Huhuhu ... Surat tanah yang Ibu kasih buat aku simpan diambil Mas Seno, Bu. Katanya aku harus cium kakinya kalau mau surat tanah itu kembali!" ucap Ratmini gusar. Aku menatap Ibu dan Ratmini. Ibu melihatku sambil meringis artinya uang yang ada di dalam bra ku bukan penjualan tanah Ibu.
Bersambung.