Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, di sabtu pagi yang cerah, Galuh sudah bersiap dengan tiga kotak berisi buku dan snack yang akan dia bagikan pada anak-anak panti asuhan.
Karena dia hanya memiliki kendaraan bermotor, dengan sangat terpaksa dia harus membujuk Abangnya dengan susah payah agar mau mengantarkannya ke panti asuhan menggunakan mobil. Untunglah Abang nya diberikan subsidi kredit sebagai karyawan sehingga bisa mencicil mobil dengan angsuran yang ringan dan tanpa DP.
"Makanya, beli mobil sendiri dong! Tabungan kamu pasti lebih dari cukup buat beli mobil yang biasa aja. Yang penting kan masih bagus dan masih bisa dipakai dengan baik."
Galuh yang duduk di kursi penumpang, hanya menoleh sekedar nya pada si Abang.
"Kalau aku beli mobil, yang ada aku enggak bisa liburan sepuasnya. Dan bisa-bisa, rencana aku buat hiatus selama satu tahun penuh enggak akan terlaksana karena harus nabung dari awal lagi."
Galih mendengus. "Kalau soal makan sama uang jajan, Abang bisa kok kasih kamu. Walaupun enggak banyak."
Mendengar itu, tanpa sadar Galuh tersenyum simpul.
"Jangan terlalu baik sama adik Abang ini. Nanti bisa-bisa, aku jadi manja dan terus bergantung sama Abang. Kalau sudah begitu, kapan Abang bisa menikah?"
Tertawa, Galih melirik ke arah adik satu-satunya itu.
"Tabungan nikah Abang ada kok, barengan sama si Ayang. Kamu enggak perlu khawatir."
Tapi Galuh tetap menggeleng. "Aku enggak mau jadi beban buat Abang atau Ayah. Selama aku masih bisa cari sendiri, kenapa juga aku harus bergantung sama Abang sama Ayah?"
Setelahnya, obrolan yang ada di antara mereka hanya lah obrolan biasa yang sering terjadi pada adik dan Kakak.
Hingga mobil yang mereka tumpangi akhirnya tiba di tujuan, Galih membantu Galuh untuk menurunkan barang bawaannya dan membantu membawa masuk ke dalam.
Belum sampai masuk, Galuh menoleh ke belakang saat terdengar suara mesin motor yang berhenti.
"Terimakasih, Pak."
Mata Galuh mengerjap berulang kali.
Wah! Dia nyaris tidak percaya dengan penglihatan nya. Padahal pria itu hanya mengenakan kaus dan celana jeans seperti kebanyakan pria pada umumnya, namun wajah tampannya itu tidak bisa dibandingkan dengan semua pria yang pernah Galuh temui. Luar biasa sekali
"Oh? Mbak datang lagi!" sapa Geo ramah.
Galuh mengangguk, dia tersenyum pada pria yang kemudian menatap arah lain selain Galuh. Galuh baru menyadari jika arah pandangnya jatuh pada Galih yang ternyata juga masih bertahan di sana.
"Halo, selamat pagi!" sapa Geo lagi.
Wajah Galuh meringis, dia bisa melihat wajah penuh selidik dari kakaknya. Pasti Kakaknya itu sudah berpikir yang macam-macam hanya karena dirinya dan Geo saling sapa dengan ramah.
"Anda donatur disini juga?" tanya Galih sambil menjabat tangan Geo.
Geo tersenyum lebar. "Saya pengajar disini."
Mendengar jawaban dari Geo, kepala Galuh yang sejak tadi fokus memperhatikan ekspresi yang ditunjukkan oleh Kakaknya, langsung beralih dengan cepat.
Pengajar? Galuh baru tahu jika selain menjadi donatur tetap, Geo juga mengajar disini.
"Ah. seperti itu. Hebat, jaman sekarang kebanyakan pria seumuran anda lebih sibuk bekerja di kantor. Saya benar-benar salut karena anda meluangkan waktu untuk menjadi pengajar disini."
Kepala Geo menggeleng pelan.
"Saya tidak bekerja di Sabtu Minggu, maka dari itu daripada di rumah, saya lebih baik bermain disini bersama dengan anak-anak."
Lalu mata Geo melirik ke arah dus yang dibawa Galuh dan Galih.
"Sepertinya itu berat," komentar Geo pada dus yang dibawa Galuh. "Boleh, kalau saya bantu bawakan?"
Tanpa jaga image atau berpikir lama, Galuh langsung mengangguk dan memberikan dus yang dia bawa kepada Geo.
"Terimakasih, Mas. Saya terbantu sekali," ujarnya dengan menyengir lebar.
Geo tertawa, lalu dia mengedik sopan ke arah dalam, memberi kode kepada Galuh dan Galih untuk masuk ke dalam.
Begitu masuk, mereka langsung disambut dengan tawa anak-anak yang riang.
Galih menjadi orang yang terpesona dengan pemandangan anak-anak kecil yang berlarian di halaman.
"Wah! Nyenengin banget. Sayang, aku harus balik lagi," gumam Galih.
Galuh tertawa.
"Minggu depan, Abang luangin waktu buat datang kesini. Oke?"
Tersenyum, Galih kemudian menurunkan dus yang dia bawa dan mengusap kepala Galuh dengan sayang.
"Telepon Abang kalau kamu sudah selesai. Jangan berani-beraninya pulang sendirian," kata Galih memperingati.
Kakak Galuh itu juga sempat berpamitan pada Geo sebelum kemudian berlalu pergi.
"Ayo, masuk!" ajak Geo.
Sepanjang berjalan ke arah kantor pengurus, Galuh tidak berhenti untuk menatap punggung Geo dari belakang.
Punggung Geo memang bukan punggung lebar yang sering Galuh ceritakan dalam novel buatannya. Namun Galuh yakin, jika dia bersandar di sana, maka rasanya akan sangat nyaman.
"Mbak--"
"Galuh. Nama saya, Galuh."
"Ah iya." Geo tersenyum kikuk. "Masuk duluan saja ya? Saya mau menyapa anak-anak dulu. Kalau nanti Mbak mau bergabung, Mbak bisa langsung menyusul ke lapangan."
Galuh mengangguk. Dia memperhatikan sosok Geo yang berlari ke arah lapangan bak anak kecil. Menyenangkan sekali.
"Oh ada tamu! Mari masuk.."
Terkejut, Galuh sampai tidak menyadari Ibu Kepala yang keluar dari dalam ruangan.
"Maaf, Bu. Saya cuma bisa bawa ini seadanya. Niatnya saya mau menengok anak-anak."
Ibu kepala tertawa pelan. "Seadanya apa? Buat kami yang disini, semua yang diberikan pada kami dengan ketulusan adalah hal yang berharga."
Lalu Ibu Kepala memanggil seorang petugas lelaki dari dalam dan meminta bantuan mereka untuk membawa barang yang Galuh bawa ke ruang serbaguna.
*
Di sebuah kursi yang dibuat dari batang kayu, Galuh memandangi Geo yang sedang duduk beralasan tikar di pinggir lapangan yang teduh. Pria itu tampak memegang sebuah gambar hewan dengan bahasa Inggris di tangannya.
Tanpa sadar, sejak tadi Galuh mengulum senyum. Rasanya benar-benar mengagumkan menyadari di dunia ini ada pria sebaik dan setampan Geo. Meskipun pria itu memang memiliki kekurangan, namun bagi Galuh itu sama sekali bukan masalah besar.
Mata Galuh mengerjap. Badannya berubah tegak saat dia melihat Geo yang bangun dan digantikan oleh seorang wanita muda. Galuh pikir, Geo mau pergi kemana, tapi ternyata pria itu malah datang kepadanya dengan senyuman yang tidak biasa itu.
"Mbak, kenapa enggak ikut gabung?" tanya Geo. Pria itu tidak duduk di samping Galuh, tapi malah berdiri menjulang di depan Galuh hingga membuat Galuh harus mendongak.
"Saya malu, Mas. Anak-anak juga akan canggung kalau saya ikut gabung di sana. Lagipula, saya suka kok cuma lihat Mas ngajarin mereka. Duduk disini juga adem."
Geo tertawa kecil. Pria itu sempat menoleh ke belakang tubuhnya sebelum kemudian duduk di sebelah Galuh.
"Saya juga awalnya malu kok, apalagi pas pertama saya kesini, anak-anak enggak mau dekat sama saya. Mereka bilang, saya mirip vampir di buku yang mereka baca."
Mendengar ucapan Geo, Galuh tertawa.
"Karena kulit kamu putih?'
Geo mengangguk dengan senyum lebar.
"Tapi, Renjana bantuin saya buat dekat sama anak-anak. Akhirnya mereka mau sedikit dekat dengan saya dan lama-lama mau mendengar cerita yang saya kasih ke mereka setiap saya datang."
Galuh memiringkan kepalanya.
"Renjana?"
Kepala Geo lalu kembali menoleh ke belakang tubuhnya.
"Iya. Perempuan yang itu!" tunjuk nya.
Ternyata Renjana yang dimaksud oleh Geo adalah wanita yang tadi datang menggantikan Geo untuk mengajar anak-anak.
"Hm~ pasti dia langsung jadi orang yang penting banget buat Mas, karena sudah membantu Mas untuk menjadi pribadi yang disukai anak-anak."
Kening Geo berkerut. Lalu ada senyum geli yang muncul di wajah tampannya.
"Kenapa harus begitu? Saya memang berterimakasih sama dia, tapi bukan berarti saya harus menjadikan dia seseorang yang saya pentingkan, kan?"
"Memangnya, enggak?"
Tertawa, Geo menggeleng pelan.
"Dia hanya teman yang saya temui disini. Memang dia salah orang yang paling dekat dengan saya kalau disini, tapi enggak sampai jadi orang yang penting banget."
Kepala Galuh mengangguk-angguk paham.
"Jadi cuma teman," gumamnya. Matanya melirik ke arah sosok Renjana yang sejak tadi beberapa kali mencuri lirik ke arah mereka. "Kasihan banget, kayaknya dia enggak nganggep begitu," lanjutnya dengan suara yang lebih pelan.
"Hm? Mbak bilang apa?"
Tersenyum lebar, Galuh hanya menggeleng.
"Enggak, bukan apa-apa. daripada itu, saya sebenarnya datang kesini selain mau kasih sesuatu buat anak-anak, juga karena saya ada urusan sama Mas."
"Urusan sama saya?"
Galuh mengangguk. Dia menegakkan posisi duduknya dan berdeham pelan.
"Sebenarnya saya ini adalah penulis novel dan saat ini saya sedang mengerjakan project baru. Karena itu, saya berniat meminta bantuan Mas Geo buat jadi referensi tokoh utama pria di novel saya. Tenang saja, saya akan sediakan honor sebagai tanda terimakasih jika novelnya sudah selesai."
Jantung Galuh mendadak jadi berdebar ketika Geo terdiam dalam waktu yang lama. Pria itu tidak segera menjawab dan hanya menatap Galuh begitu saja.
Galuh yang biasanya cuek, kini dibuat malu hingga dia memalingkan pandangan sambil membenarkan rambutnya.
"Kenapa...Mbak memilih saya? Apa karena saya seorang tuna rungu?"
Mendengar pertanyaan itu, mata Galuh membulat kaget. Dia langsung menatap kembali ke arah Geo dan mendapati wajah datar pria itu. Agak menakutkan, karena selama dia mengenal Geo, pria itu selalu saja tersenyum dengan tampan.
"Memang itu salah satu alasannya. Tapi alasan lainnya adalah, karena Mas Geo ganteng," aku Galuh jujur.
Ternyata mendengar ucapannya membuat Geo terkejut. Pria yang sesaat lalu menampakkan ekspresi datar itu, berubah melongo dibuatnya.
"Apa? Sa-saya ganteng?"
Dengan polosnya, Galuh mengangguk.
"Iya. Mas adalah visualisasi yang paling cocok buat dijadiin tokoh utama."
Memalingkan wajah, Geo kemudian berdeham pelan.
Entah salah atau tidak, namun Galuh seperti melihat Geo tersenyum dengan wajah merah. Apakah Geo adalah tipe manusia yang tidak biasa dipuji? Padahal wajahnya saja setampan ini.
"Apa yang perlu saya lakukan buat bisa bantu Mbak? Saya..enggak pernah dimintain tolong seperti itu sebelumnya, jadi saya agak bingung."
Mendengar bahwa permintaan nya mendapat persetujuan, Galuh tidak bisa untuk menyembunyikan rasa senangnya.
Luar biasa! Liburan sudah menantinya.
**