Radit belum pernah merasakan kemarahan bisa membakar kesabarannya sampai pada kondisinya ini. Di depannya, di pintu kos Una, dua orang tengah menyeret koper. Begitu melihat Una turun dari mobil Radit dengan napas tertahan, Melda berdiri tegak, menatap Una dengan tatap lain yang tak pernah dilihat oleh gadis itu. "Mel, lo mau kemana?" Una menoleh, menatap dua koper besar milik Melda yang disiapkan oleh Angga. Pria itu tak menoleh barang sedetik pun ke arahnya. Seolah keberadaan Una tak terlihat. Hanya bayangan. Tak nyata. Terlewati begitu saja. Melda tersenyum miring. "Ga, minta tolong taruh di mobil lo ya?" Barulah gadis itu menoleh pada Una. Pandangan asing yang hadir di mata Melda membuat Una merasakan bahwa yang berdiri di depannya bukanlah sohibnya. Bukan cewek yang pernah tertawa

