Tak tahan dihantam gejolak hati, kembali mendekati ranjang. Memposisikan duduknya tepat didepan Carolina. Menatap dalam dan lama, menyelami ke kedalaman manik biru. Perlahan jemarinya terulur hendak mengusap pipi akan tetapi segera dihempas dengan kasar. Kilatan manik biru menyiratkan emosi tertahan, luka dan juga kerinduan terpendam. Dengan mengunci tatapan William bibirnya berucap meskipun dengan susah payah. “Katakan apa yang ingin kau katakan dan segera tinggalkan mansion ibuku.” Tak tahan dengan tatapan tulus, penuh kerinduan menggebu sekaligus frustasi dari sepasang manik dark brown, segera memalingkan wajah. Mendapati Carolina kembali membuang muka, William pun menghembuskan nafas lelah. “Tatap aku kalau sedang berbicara. Kau sedang tidak berbicara dengan patung, Carolina. Aku d

