Semua orang sudah berkumpul di pemakaman, Yanan tidak akan mereka temui lagi nanti. Tidak akan ada anak ceria yang selalu membuat mereka bisa tersenyum geli karena tingkah lakunya. Tidak akan ada anak manusia seperti Yanan yang mau menerima keberadaan mereka dengan berani. Bahkan, menangis kalau sampai mereka pergi meninggalkannya. Bukti mutlaknya adalah saat dimana Elang pergi lama setelah bertarung dengan Arthur. Yanan selalu mengurung diri di kamar dengan beralasan mau belajar. Kenyataannya anak kecil itu menangis sesegukan bersembunyi di dalam selimutnya. Bantalnya menjadi saksi bisu kalau Yanan setiap hari merindukan sosok Elang. Edric masih berdiri lemah dengan tatapan sayunya, memandangi makam Yanan yang masih basah itu. Samuel duduk bersilah di sana mengusap-ngusap tanah basah

