Arthur berdiri tegak di bahu jalan dengan hoodie abu-abu kebesarannya dan juga kacamata tebalnya. Pemuda itu menaikan alisnya saat melihat beberapa vampire kelaparan yang ia lepaskan sudah membabi buta dan menyerang manusia dengan bringas. Sebenarnya, Arthur sudah ingin pergi saja dari sana. Tinggal menunggu hasil. Tapi, bisa menyaksikan sendiri bagaimana manusia berteriak ketakutan lumayan menyenangkan juga. Ia masih bersembunyi di balik identitas Arthur yang cupu, yang selalu ditindas anak-anak di kampusnya. Ia hanya perlu menahan sakit sebentar agar bisa mendalami perannya sebagai manusia lemah yang selalu tertindas. Pemuda itu kembali tersenyum samar saat melihat seorang gadis kini berlari ke arahnya dengan wajah ketakutan. "Tolong ... tolong saya, ada vampire! Tolong!" Kata peremp

