Menu sederhana sudah siap di meja makan. Runadi Sagha duduk sendirian, mengamati makanan yang ada. Dia sedang menunggu Jonael untuk bergabung.
“Morning…”, sapa Putranya. Jonael duduk di seberang.
“Makanlah yang banyak. Ku dengar kau akan survey lapangan?”, sapa Runadi.
Tangan Jonael sudah lebih dulu mencicipi lauk di depannya.
“Iya. Sebelum ini aku bahkan jarang terjun langsung, tapi Aleta memberi kesempatan padaku—Tunggu, aku ingin bertanya padamu, Ayah. Bagaimana bisa kau mengambil ide untuk menjadikan wanita itu asisten pribadiku?”
Runadi menghentikan gerakan tangannya dari menyuap makanan demi menjawab pertanyaan Putra semata wayangnya ini.
“Tentu aku sudah bertanya pada tim di bawahmu. Mereka semua menyarankan Aleta karena memang dia berkompeten untuk menjadi asisten. Mereka bilang Aleta sangat teliti. Itu saja. Memang kenapa? Dia tidak bisa membimbingmu dengan baik?”
Jonael menggeleng.
“Entahlah, aku baru bersamanya dua hari, tapi selama ini memang dia bekerja dengan baik.”
“Baguslah… kuharap kau segera bisa beradaptasi dengan perusahaan.”
“Tapi kenapa sepertinya aku-- Sudahlah. Kita bahas lagi nanti. Aku harus segera makan dan berangkat sebelum wanita itu memarahiku karena terlambat. Dia sudah mengancamku kemarin.”
Runadi tersenyum mendengar Jonael menggerutu. Dia melihat semangat darinya.
“Hati-hati dengan lapangan. Kau belum boleh terlalu lelah.”
“Iya, Ayah. Jangan khawatir.”
“Kau juga tentu paham dengan beberapa saingan kita. Mereka bertambah kuat dalam enam bulan yang kau lupakan itu, Jo. Mintalah bantuan Aleta untuk membuat strategi.”
“Dia sudah menjelaskan padaku. Saat ini aku masih terus mengawasi pesaing kita. Aku tidak ingin gegabah.”
“Sure. Ayah mendukungmu, Jo.”
******
Suara bising mesin, pekerja, dan hiruk pikuk di sebuah proyek membuat Jonael mengeluh.
“Aku tidak menyangka akan sepanas ini. Gila.”
Aleta yang berdiri di samping Jonael hanya tertawa kecut. Dia merogoh tas dan mengambil dua kacamata hitam untuk mereka. Jonael terkejut karena tangannya ditarik Aleta untuk menangkap kacamata itu.
Sial, tangan lembut yang diimpikan Jonael. Dia mematung melihat Aleta sudah terlebih dulu memakai kacamata miliknya. Begitu tersadar, Jonael mengikuti wanita itu karena memang matahari sangat terik meski masih pagi.
“Darimana kau tahu ukuran kacamataku?”, tanya Jonael sambil memperhatikan sekitar.
“Itu memang milikmu, Bos.”, Aleta tidak canggung lagi bersikap santai.
“Really? Kenapa kau bisa membawanya?”
Aleta terkekeh kecil, “Sebenarnya itu ada di meja lamaku. Kau sering meninggalkan barangmu disana, jadi mungkin bukan hanya aku yang pernah memegang benda itu.”
“Ohh, memang aku teledor. Tapi kaulah yang berpikir untuk membawanya kesini.”
“Ucapan terimakasih aku terima.”
Jonael tertawa mendengar itu, “Haaaa…. kau memang tidak bisa ditebak. Menarik, Ale.”
Acuh, Aleta justru berjalan meninggalkan Jonael di belakang.
“Lebih menarik jika kau bertanya pada mandor tentang beberapa hal. Aku sudah menyiapkan daftar pertanyaannya.”, ucapnya sedikit keras karena jarak.
“Hey tunggu. s**t, ini sangat panas dan aku susah berjalan dengan sepatu-“
“Apa aku harus mengingatkan tentang sepatumu juga? Ayolah, jangan lemah begitu, Jo. Lari…”, teriak Aleta dari depan.
******
Jonael dan Aleta sudah masuk ke salah satu cabang department store milik Sagha group. Aleta memilih cabang ini untuk dikunjungi karena memiliki profit paling kecil diantara cabang lainnya dalam satu regional.
“Cabang ini sudah memiliki program marketplace juga kan?”, tanya Jonael pada Aleta.
Mereka seolah berkeliling dengan membeli barang secara random. Tidak ingin terlalu terlihat, Jonael kini hanya memakai kemeja biasa yang tidak dimasukkan. Sedikit berantakan tapi tetap mempesona.
“Sudah. Kurasa ada faktor pesaing yang membuatnya menurun.”
“Perbandingan harga? Kelengkapan? Pelayanan?”, tanya Jonael lagi.
“Kita tidak bisa menurunkan harga jika produk yang terjual tidak sesuai target. Operasional kita besar, Jo.”, terang Aleta.
“Apa marketplace tidak bisa menutup target?”
“Belum bisa.”
Jonael berdecak. Satu masalah lagi. Memang tidak semua cabang bisa berjalan selaras. Pasti ada range antara mereka dan Jonael berusaha menekan kesenjangan angka itu.
“Oke, siapkan laporan tiga bulan terakhir. Aku akan memikirkan solusinya nanti. Sekarang aku tidak bisa berpikir karena sangat lapar.”
Aleta meruncingkan alis, “Di saat-saat seperti ini? Astaga…”
“Kita keluar sekarang dan mencari restoran. Aku tidak bercanda bahwa aku lapar, Ale…”
“Oke oke… tahan sebentar. Aku ke kasir.”
“No, kita ke kasir.”, sahut Jonael dengan merebut keranjang belanja yang dipegang Aleta. Wanita itu hanya diam mengikuti.
******
Restoran Jepang.
“Jo….”
Lelaki yang dipanggil sepertinya tengah sibuk menyantap makanannya.
“Jonael….”, ulang Aleta lembut. Suara itu masuk ke telinga menjalar ke hati terdalam Jonael.
“Apa?”, akhirnya dia menjawab.
“Pelan-pelan. Makanlah dengan santai. Kau ini kenapa terburu seperti itu?”
“Aku lapar.”
“Tapi tidak perlu bersikap bringas. Anak kecil di ujung memperhatikanmu dengan aneh.”
Sial. Jonael mengangkat wajah dan mencari letak anak itu. Benar. Dia melongo melihat ke arah Jonael.
“Ouh… aku tidak merasa aneh.”, keluhnya dengan nada berat lalu kembali menyuap.
“Beri contoh yang baik padanya.”, pinta Aleta.
“Oke…oke… ah, aaaaw…..”
Tiba-tiba Jonael merasakan nyeri di sekitar tangannya. Dia kemudian menghentikan suapan dan menaruh tangannya dia atas meja. Satu tangannya lain memijat lutut. Sepertinya disana juga ada keluhan.
“Kau kenapa?”, Aleta memperhatikan Jonael menahan sakit.
Lelaki itu meringis namun masih bisa tersenyum menenangkan.
“Ah… aku tidak apa-apa. Mungkin hanya kram.”
“Jangan bercanda. Kita ke dokter.”
“No, masih ada tiga lokasi yang harus kita kunjungi…”
“Jonael…. Apa itu lebih penting daripada kondisimu sekarang? Kita ke dokter.”
“Aku tidak separah itu, Ale.”
Shit, dingin. Aleta menatap dingin pada kegigihan Jonael. Sorot mata itu tepat mengarah pada mata Jonael, sudah pasti dia akan kalah. Aleta yang diam ternyata sangat menakutkan.
“Fine. Kita ke dokter. Temani aku.”, Jonael tidak bisa mendebat lagi.
Aleta lantas berdiri dari kursinya dan mendekat pada Jonael. Wanita itu meletakkan beberapa lembar uang di meja dan memanggil pelayan.
“Kita pergi sekarang…”, pintanya dengan menengadahkan tangan sebagai bantuan untuk Jonael berdiri.
Bukannya lelaki itu tidak bisa berdiri sendiri karena memang kondisi seperti ini sudah biasa ia rasakan, namun kesempatan langka, ya kesempatan untuk menautkan tangan bersama Aleta lah yang tidak ia sia-siakan.
Mereka jalan beriringan dengan tangan saling bertaut. Ketika akan menuruni eskalator, Jonael menaikkan tangannya ke pundak Aleta. Seperti posisi memeluk dari samping, Jonael meringis agar terlihat kesakitan. Sedikit b******n, tapi ini sebuah kesempatan emas. Siapa peduli.
“Maaf membuatmu ke lapangan dan berakhir seperti ini, Jo.”, ucapan tulus dari Aleta membuat hati Jonael menghangat. Lagi-lagi hal itu terjadi secara spontan. Sumpah, Jonael yang dahulu pasti rugi jika mengabaikan wanita seperti Aleta, batinnya.
******
Rumah Jonael.
Aleta berjalan di samping Jonael menuju kamarnya. Rumah besar itu tampak sepi. Mereka selesai mengunjungi dokter dan hasilnya memang tidak menghawatirkan.
Sesampainya di kamar, Jonael meletakkan tubuh di ranjang. Dia masih berusaha mengeluarkan sedikit rintihan agar Aleta tidak lepas dari rasa pedulinya.
“Butuh sesuatu?”, tanya Aleta dengan lembut.
Jonael tampak berpikir, dia berdehem kecil melihat Aleta masih setia di sampingnya hingga sore hari.
“Mungkin kopi panas.”
Aleta belum menjawab, dia justru berjalan ke arah lemari besar milik Jonael, mengambil satu kaos hitam polos dan satu celana pendek lalu menyerahkannya pada lelaki yang terheran sejak tadi.
“Gantilah pakaian, akan kubuatkan kopi di bawah.”
Dengan mulut terbuka, Jonael menyaksikan Aleta berlalu di balik pintu kamar. Dia serius pergi tanpa menunggu jawaban darinya.
Sambil menunggu air mendidih, Aleta memperhatikan isi rumah Jonael dengan seksama. Tidak ada yang berubah. Satu suara tiba-tiba menginterupsi lamunannya. Aleta segera menoleh.
“Aleta?”
Runadi Sagha baru saja pulang. Dia menuju pantry dimana Aleta berada.
“Ah… Tuan. Selamat sore.”
“Kau disini? Ada apa?”
“Ehm… sebelumnya aku minta maaf. Aku mengantar Jo- maksudku Pak Jona pulang karena dia sedikit kelelahan.”
“Dia baik-baik saja?”
Aleta mengangguk, “Kami sudah ke dokter dan hasilnya bagus. Hanya reaksi otot kecil.”
Runadi menghela nafas lega, “Ale, terimakasih. Terimakasih kau sudah menjaga Jona. Dan maaf…”
“Tidak apa-apa, Tuan. Semua baik-baik saja.”
“Satu lagi, aku mohon lindungi dia. Aku tidak tahu perkembangannya setiap hari tapi aku percaya padamu.”
Aleta menetralkan dirinya dan menatap yakin pada Runadi, “Saya usahakan.”
“Maaf merepotkan.”
Aleta enyunggingkan senyum kecil dan mengangguk pada Ayah Jonael.