Sinar matahari mulai masuk ke sela tirai kamar hotel Aleta. Dia beringsut karena merasa silau. Tangannya masih terkait dengan tangan Jonael. Ahh… dia sadar pada kebodohannya tadi malam. Membiarkan Jonael bertingkah seenaknya adalah pintu bunuh diri bagi perasaan Aleta sendiri.
Kini dia menatap wajah damai Jonael yang masih tidur. Lelaki ini memang sangat tampan. Entah memakai atau tanpa jambang, dia masih mempesona. Garis rahang yang tegas, ingin sekali Aleta menggigitnya. Pikiran sialan.
Aleta berusaha melepas pelukan Jonael dengan pelan, namun sayang, lelaki itu justru bangun. Matanya mengerjap mencari kesadaran. Setelah dia tahu Aleta tengah memandangnya dengan keterkejutan, dia tersenyum.
Senyum indah di pagi hari untuk Aleta seorang.
“Terimakasih, aku memang tampan.”, ucap Jonael penuh percaya diri.
“Aku tidak berkata apapun.”, balas Aleta.
“Matamu mengatakannya.”
“Dan jika kau tampan, kau bisa melepasku sekarang?”, sahut Aleta cepat.
“Untuk apa?”
“Aku ingin ke kamar mandi.”
“Kita bisa pergi bersama.” Goda Jonael penuh pengharapan.
Aleta berdecak heran, “Jangan gila...”
Jonael terkekeh kecil dan menyentil dahi Aleta.
“Aww…”, wanita itu mengaduh.
“Kau tahu, aku sudah membuat keputusan.”
“Apa?”, susul Aleta.
“Tadi malam setelah kau tertidur pulas, aku berpikir panjang. Tentang hubungan mutualism kita, aku ingin tetap berlanjut.”
Aleta berdehem mendengar pernyataan itu.
“Ketakutanmu sudah jarang kambuh dan ketika itu kambuh, kau mulai bisa mengatasinya dengan cepat. Jadi kita bisa berhenti disini, Jo.”
‘Cup…’
Jonael mengecup cepat kening Aleta. Entah kenapa dia selalu seperti itu.
“Kau kira aku bisa berubah begitu karena apa?”, tanya Jonael retoris. Dia mengelus puncak kepala Aleta.
“Hentikan tanganmu.”, protes Aleta karena dia merasa risih atau suka atau tidak tahu harus bagaimana dengan perlakuan manis itu.
Jonael menurunkan tangannya. Kini dia bergerak pelan menjauhkan tubuh mereka. Jonael duduk bersandar pada kepala ranjang. Hal itu reflek membuat Aleta lega dan bangkit duduk.
Aleta membelakangi Jonael. wanita itu mengusap wajahnya yang terasa lengket. Dia butuh udara segar. Jonael memperhatikan punggung Aleta yang bergerak ringan sejak tadi.
“Ale, lihat aku.”, pinta Jonael kemudian.
Aleta menoleh ke belakang. Jonael nampak tenang dengan punggung bersandar.
“……. Hubungan kita belum berubah, kita akan tetap melanjutkannya. Masih ada lima bulan tersisa.”
Aleta berdecak protes namun sia-sia. Lelaki itu nampak serius. Aleta menimbang beberapa kalimat yang akan dia keluarkan.
“Kita berlanjut tapi kita bebas. Kau tahu? Dalam kesepakatan, kita tetap bisa melakukan kegiatan masing-masing, bahkan untuk berhubungan dengan orang lain.”
“Sejujurnya aku kurang suka dengan yang satu itu.”, jelas Jonael dengan wajah meringis.
“Kau yang memintanya.”
“Iya, mungkin saat itu aku bodoh.”
“Sampai sekarang.”
“Benarkah?”
Aleta tidak lagi menjawab. Dia justru berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi. Mengacuhkan Jonael dengan rasa herannya yang ditinggal tanpa jawaban. Wanita unik.
Beberapa waktu kemudian mereka sudah bebersih diri dan siap dengan pakaian casual di kamar masing-masing. Semua barang sudah di packing kembali dalam koper. Hari ini mereka harus pulang.
Jonael dengan sengaja menerobos masuk kamar hotel Aleta. Dia tersenyum menatap Aleta sedang mengusap riasan di wajahnya. Wanita itu hanya perlu riasan sederhana dan selesai. Kecantikan alaminya sudah terpancar nyata.
“Kenapa kau bawa koper kesini?”, tanya Aleta tanpa menoleh.
“Aku sudah check out agar kita bisa pergi bersama.”
“Pesawat kita berbeda jadwal.”, tungkas Aleta sambil menghempaskan rambutnya ke belakang. Parfum spray favoritnya diarahkan ke leher dan di sanalah Jonael terpaku menelan ludah berkali-kali. Seandainya dia bisa mengecup tengkuk itu. Ahh, seandainya saja, pasti menarik.
“…. Pergilah duluan, jadwalmu dua jam lagi.”, sambung Aleta.
“Ahh… tidak tanpamu, Ale.”
“Tidak bisa begitu.”
“Bisa. Aku membeli tiga tiket pulang. Dua tiket untuk kita di kelas bisnis, berangkat dua jam dari sekarang. Dan satu lagi tiket ekonomi, sama dengan milikmu. Oh, aku juga memesan kursi tak jauh darimu. Bagaimana?”
Aleta akhirnya menoleh karena heran dengan penjelasan Jonael. Lelaki aneh ini….astaga.
“Tidak perlu membuang banyak uang hanya untuk pulang.”, ucap Aleta kurang suka.
Jonael mendekat ke arah wanitanya. Dia berdiri di belakang Aleta yang tengah duduk di meja rias.
“Jangan dinilai dari uangnya, aku berusaha mendekatkan diri padamu. Apa itu tidak terlihat?”
“Aku terlalu biasa mendapatkannya.”
“Begitukah?”
“Kau sendiri yang memberitahu. Banyak yang mendekatiku, bukan?”
“Ahh… akhirnya kau sadar. Tapi aku tidak suka.”
“Aku tidak perlu pendapatmu.”
“Sial.”, keluh Jonael membuang muka ke sembarang arah.
Dia merasa sedikit kesal dengan tingkah Aleta sejak tadi pagi. Denial. Dia tidak menyukai penolakan tapi dia juga takut untuk memaksa.
Mereka berjalan dalam diam ke arah lobby. Sebelum giliran Aleta checkout, mereka berniat menemui Arslan dan Ellen untuk berpamitan. Koper keduanya masih ada di kamar Aleta.
“Sejujurnya aku bingung untuk apa kau membawa koper ke Bali? Hanya dua hari yang sangat singkat.”, Aleta randomly membuka percakapan sambil duduk melihat-lihat majalah fashion.
Sofa lobby sangatlah nyaman. Jonael berada di samping Aleta. Sedari tadi dia memasang wajah datar.
“Terserahku.”, ucapnya datar, nampak sedikit kesal.
“Oh… okey. Terserahmu.”, pungkas Aleta acuh dan tetap memperhatikan majalan di tangannya.
Tiba-tiba ponsel Aleta berdering, nama Runadi Sagha tertera disana. Aleta terkejut hingga menimbulkan rasa penasaran pada Jonael. Lelaki itu menoleh ke arah layar dan terkejut setelah ikut membaca.
“Ke-kenapa Ayahku menghubungimu?’, tanyanya.
“Kau pikir aku tahu?”, jawab Aleta kemudian menekan tombol hijau.
“Selamat pagi, Tuan Sagha…”, sapa Aleta.
‘Ale, maaf mengganggu pagimu, tapi aku ingin bertanya apa kau tahu dimana Jonael? dia tidak bekerja dua hari tanpa memberitahuku.’
Aleta menoleh dan menatap tajam pada Jonael sebagai tanda protes. Lelaki itu hanya mengernyitkan dahi tanda bertanya.
“Ahh… kami sedang bersama untuk sebuah urusan di Bali, Tuan. Maaf membuat anda khawatir.”
Jonael semakin penasaran.
‘Oh, oke. Kukira dia mangkir. Baguslah dia bersamamu saat ini. Kapan kalian pulang?’
“Itu—ehm… hari ini, Tuan.”
‘Bisakah sesegera mungkin, Ale? Karena nanti malam aku ingin Jonael ada di rumah.’
“Bisa Tuan. Kami berangkat dua jam lagi.”
Jonael menyatukan alisnya, apa artinya Aleta setuju menggunakan tiket yang dibelinya? Haaa…. lelaki itu tersenyum.
‘Baguslah. Kau selalu bisa ku andalkan. Terimakasih, Ale. Hati-hati dan sampaikan pesanku pada Jonael. Lelaki payah itu tidak menyalakan ponsel sejak tadi malam.’
Aleta kembali memasang wajah protes pada Jonael.
“Baik, Tuan. Saya sampaikan.”
Kemudian panggilan berakhir.
Mereka berdua saling bertatap dengan wajah bertanya-tanya satu sama lain.
“Ponselmu mati?”, Aleta duluan.
“Iya. Aku tidak ingin diganggu saat tidur bersamamu.”
Sialan, kalimat Jonael terlalu bar-bar.
“Kita harus pulang karena nanti malam kau ada acara di rumah.”
“Acara? Aku tidak ingat.”, Jonael bingung.
“Aku tidak mencatat di agendamu jadi aku juga tidak tahu.”, jelas Aleta.
“Kenapa Ayah begitu?”, ucapnya pada diri sendiri.
“Mungkin kau bisa mengaktifkan ponsel dan bertanya langsung.”
Jonael hanya mendengus malas mendengar keacuhan Aleta.
*****
“Kau benar-benar ingin menculikku, Jo?”, keluh Aleta di kursi penumpang.
Kini mereka sudah tiba di Jakarta. Aleta tidak mendapat pilihan selain pulang bersama mobil Jonael yang sudah ada di Bandara. Ini bukan jalan ke rumah Aleta. Jonael membelokkan arah menuju rumahnya sendiri.
“Aku akan mengantarmu setelah acaraku selesai.”, ucap Jonael fokus pada jalanan.
“Kau sinting atau apa? Aku lelah tapi harus menunggu beberapa jam lagi untuk pulang?”
“Kumohon, Ale. Hanya untuk berjaga jika saja ada sangkut pautnya dengan pekerjaan.”
“Lalu bagaimana jika itu tidak? aku serius tentang kata lelah.”, keluh Aleta sejak tadi. Dia ingin istirahat sebelum esok hari kembali bekerja.
“Kau bisa tidur di kamarku. Please. Aku tenang jika ada kau dalam situasi yang tak kuketahui.”
Aleta memalingkan wajah ke samping. Dia berdecak kesal dan melipat tangannya ke d**a.
“Ayahmu tidak biasanya seperti ini. Dia selalu rajin memberi jadwal meski mendadak.”, Aleta bergumam.
“Itulah kenapa aku butuh dirimu.”
“Ckk…. Seandainya aku punya pilihan lain…”
Jonael menangkap itu sebagai penerimaan. Aleta tidak lagi menolak untuk dibawanya pulang.
“Thanks, Ale. Kau boleh meminta barang apa saja sebagai imbalan.”
Aleta mengacuhkan rayuan itu. Dia tidak fanatik pada benda branded dan mahal.
“Tidak perlu. Aku hanya ingin istirahat.”
“Oke oke… kau akan mendapatkannya. Tidur di kamarku.”
Jonael kekeh tetap mengukung Aleta meski wanita itu keberatan. Tidak, ini bukan jahat. Ini hanya kebutuhan. Jonael sedang membutuhkan asistennya.
******
Seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan Aleta dan Jonael. Jonael membawa koper miliknya dan milik Aleta ke lantai atas menuju kamarnya, sementara Aleta bersapa dengan wanita tadi.
“Aletaaaa…..”
“Oh hai, Susan.”
Susan adalah asisten rumah tangga yang paling lama bekerja untuk keluarga Sagha. Usianya hampir sama dengan usia orangtua Aleta maka tidak aneh mereka bersikap akrab.
Susan suka jika dia hanya dipanggil nama tanpa imbuhan lainnya. Dia takut terlihat tua, ya… dia memang asisten modern yang modis.
“Oooww…. Kau datang kemari setelah sekian lama.”, ucap Susan.
“Tidak juga. Kemarin aku dari sini tapi kau tidak ada.”
Maksud Aleta adalah saat mereka selesai kunjungan lapangan dan Jonael sedikit terluka.
“Ah ya, aku pergi mengunjungi saudaraku. Tapi aku mendengar ceritanya. Terimakasih kau menjaga Jona.”, wanita itu bahkan sangat dekat dengan Jonael karena telah merawatnya sejak bayi.
“Jangan disebutkan, itu memang tugasku. Oh-- dimana Tuan Runadi? Ada acara apa nanti malam? Jonael pun tidak tahu.”
Susan melebarkan celemek yang sejak tadi dia genggam dengan gaya sok hebat. Dia tertawa.
“Ada teman lama Tuan Runadi datang dari London.”
“Siapa?”
“Mr. Brixton. Dia sangat tampan.”, canda Susan dengan senyum lebar.
“Kau tidak bisa mengabaikan ketampanan, ya?”, Aleta menggoda.
“Tentu. Dia teman lama yang kembali kesini, maka Tuan Runadi ingin menyambutnya dengan baik.”
“Oh... okey.”, pungkas Aleta mencoba faham.
Susan selesai memasang celemek di badannya. Kini dia bersiap untuk kembali ke dapur.
“Ah, aku harus mulai membuat hidangan. Naiklah, mungkin Jonael menunggumu.”
Aleta mengernyit dan mengelak.
“Tidak akan, Susan. Dia sudah tidak sabar menemui Ayahnya sejak tadi. Lebih baik aku menemanimu, sudah lama aku tidak membuat hidangan besar.”, Aleta mengajukan diri sebagai asisten Susan.
“Benarkah? Kau serius? Aku tidak bisa menolak, kau tahu?!”
“Hahaa… serius. Aku akan membantumu.”
Susan menjentikkan jarinya tanda pencapaian.
“Bagus. Aku suka dengan keahlian memasakmu. Tak kusangka sekarang kita bisa melakukan bersama-sama.”, candanya.
“Lalu apa lagi yang ditunggu? Kita mulai sekarang.”, Aleta bersemangat.
“Let`s go….”, seru Susan membawa Aleta ke arah dapur.
******
Beberapa waktu kemudian Jonael menuruni tangga dengan wajah segar sehabis mandi. Dia memakai kaos polo putih dan satu celana pendek, rambutnya tertata rapi ke belakang, sedikit basah. Harum shampoo Jonael bisa diendus Aleta dari kejauhan. Dia memandangi saat lelaki itu berjalan mendekat dengan satu alis terangkat tanda heran.
“Kau tidak jadi tidur?”, tanya Jonael setelah sampai di depan Aleta yang sedang memotong bahan masakan.
“Aku berubah pikiran. Dapur lebih menarik daripada kamarmu.”
“Aha Jona…. Kau tampak lebih segar sekarang.”, Susan bergabung dengan membawa spatula di tangan kanannya.
“Aku baru saja mandi.”, terangnya.
“Bukan itu. Maksudku auramu. Kau lebih emmm… ceria.”, ucap Susan mendekat pada mereka.
“Terimakasih pujiannya, Susan. Tapi aku sedang tidak membawa uang cash.”
“Kurang ajar, kau kira aku gold digger…”, keluh Susan lalu kembali ke depan kompor dengan tawa kecil.
Jonael meneliti gerakan Aleta. Wanita yang tampak lusuh karena belum sempat membersihkan diri ini justru membuat Jonael gemas. Sangat gemas.
“You look so…. messy.”, godanya dengan senyum lebar.
Aleta mengangkat wajah dengan cepat.
“Kau bisa pergi dan mengabaikanku.”
“Tapi itu sangat sexy. Trust me….”
Hati Aleta tergelitik mendengar godaan Jonael. Lelaki itu masih setia memandangi Aleta yang salah tingkah.
“Susan, aku selesai dengan ini. Bisa kumasukkan sekarang?”, tanya Aleta dari kejauhan.
Susan memberi kode dengan mengangkat ibu jarinya, tanda setuju.
“Baiklah, sepertinya kau sedang tidak bisa diganggu. Aku sebaiknya pergi.”, undur Jonael yang enggan melepas tatapannya.
Aleta berhenti dan memandang pergerakan lelaki itu. Jonael berjalan mundur dengan sangat pelan.
“Kau butuh sesuatu untuk menghilangkan pengarmu?”, tanya Aleta sebelum Jonael benar-benar pergi.
Lelaki itu menggeleng dengan menjaga senyum tetap di wajahnya. Perhatian sekali. Aleta selalu tampak galak tapi dia masih bisa bersikap manis. Entah ini karena kebiasaannya tentang teliti atau memang hatinya bergerak untuk memberi perhatian khusus. Jonael penasaran.
“No… aku sudah segar setelah mandi. Kau yang butuh istirahat, Ale.”
“Setelah ini selesai.”, balasnya yakin.
“Oke… aku ada di ruang kerja Ayah jika kau butuh sesuatu.”, pungkas Jonael.
Aleta mengangguk kemudian berbalik ke arah Susan. Jonael pergi dengan hati membuncah. Entah bagaimana wanita asing itu berhasil memberi efek aneh padanya. Dia yakin tidak menjalin hubungan serius sebelum ini. Dia yakin hanya sebatas perjanjian mutualism, namun saat ini dia yakin ada rasa yang berbeda. Oh Aleta.