Aksa mendapat tamu spesial malam ini. Dia tidak menyangka jika temannya berkunjung dalam kondisi berantakan. Rumahnya selalu terbuka untuk Jonael.
“Kau mabuk, huh?”, tanya Aksa.
“Sialan. Apa aku terlihat begitu? Aku hanya mabuk pekerjaan, bodoh.”
Aksa tertawa sambil membawa Jonael masuk.
Mereka duduk di pantry, Aksa mengambil beberapa minuman kaleng untuk Jonael.
“Ada apa, bro? malam sekali kau berkunjung.”
Jonael menerawang bentuk minuman kaleng itu, tapi pikirannya tidak disana.
“Aku hanya bingung. Lagi-lagi bingung karena wanita itu.”, jelas Jonael dengan pelan.
“Who? Aleta Adnan? again?”
Jonael memejamkan mata sambil menghela nafas. Hal itu sudah menjawab pertanyaan Aksa.
“…… kali ini kau bingung karena apa?”
Jonael membenahi duduknya, “Look. Aku hilang ingatan tentang beberapa waktu termasuk tentang Aleta. Tapi kenapa aku seperti mengenalnya dengan dekat? Banyak momen yang terasa tidak asing. Dia seperti—seperti sudah ada di sistematika keseharianku. Bukan hanya pekerjaan, ini lebih pada semuanya. Satu hari tanpanya bahkan terasa sangat mengganjal.”
“Apa yang kau ingat, Jo?”
“Aku tidak tahu apakah itu ingatan atau bukan. Tapi melakukan video call dan melihatnya berdandan cantik membuat kepalaku berdenyut. Ada beberapa bayangan, aku pernah melakukan sebelumnya… tolong, kau pasti tahu sesuatu. Bantu aku, jangan seperti orang lain yang menganggap aku normal. Kau tahu aku perlu pertolongan khusus tentang ini karena memang kau salah satu orang yang mengetahuinya, Aksa. Just tell me…”
Aksa mengetukkan jari ke meja pantry. Dia tampak meresapi perkataan Jonael.
“Aku hanya ingin bertanya, apa yang akan kau lakukan setelah tahu aku menyembunyikan cerita tentang Aleta?”, Aksa takut Jonael murka.
“Aku tidak akan marah jika kau mau mengatakannya sekarang, Aksa. Sumpah demi kepalaku yang sudah berdenyut sejak tadi, aku bersedia memecatmu jika kau menolak bercerita.”, ancam Jonael. Aksa menciut mendengar itu.
“Oke… oke. Hanya kenyataan kecil bahwa memang kau dekat dengan Aleta sebelum kecelakaan itu terjadi….”
‘Braakk…’
Jonael menggebrak meja.
“Tenang, Jo. Kau sudah berjanji tidak akan marah.”, Aksa mengantisipasi dengan panik.
“Tapi perkiraanku benar…. Kalian pasti menyembunyikan sesuatu.”, todong Jonael.
“Aku minta maaf, ini permintaan Aleta.”
“Dan kau lebih membela dia daripada jujur kepadaku? Jelaskan apa hubunganku dengannya, sialan.”
Aksa mencari keberanian dengan bersedekap. Tubuhnya bergetar khawatir sejak tadi.
“Kalian ada dalam hubungan mutualism.”, terang Aksa.
“s**t, apa itu?”
“Kau tidak ingat, Jo? Kau hanya memanfaatkan Aleta demi menghilangkan trauma ke-ibu-an-mu itu. Dia mau melakukannya karena menghormatimu sebagai atasan yang baik.”
“Aksa, kau menyebut hubungan mutualism yang berarti bukan hanya aku yang diuntungkan. Apa yang dia inginkan dari itu?”
Aksa mengedikkan bahu, “Aku tidak tahu. Dia hanya menyetujuinya dengan cepat. Saat itu kau bekerja overtime bersama dia setelah kau panik karena baru bertemu ibumu, lalu di pagi hari kau bilang padaku kalian memutuskan untuk dekat bersyarat. Aku bahkan tidak tahu kronologinya kalian bersepakat.”
“Lalu kenapa kau dan Aleta berbohong padaku?”, kejar Jonael yang terkejut dengan sikapnya di masa lalu.
“Kau bisa bertanya langsung padanya, Jo. Aku tidak tahu.”
“Sialan. Kenapa semua seperti benang kusut? Kepalaku belum menemukan alur meski kau sudah mengatakan kebenarannya, Aksa.”
“Slow down, bro. Jangan memaksakan diri. Ingatan itu tidak merubah apapun, bukan? Kau tetap dekat dengan Aleta.”
“Wait, darimana kau tahu?”
“Aleta bercerita padaku.”
“Oh s**t. Kalian bersekongkol di belakangku? Itu buruk.”
“Tidak buruk jika saja kau tahu dia masih menaruh perhatian padamu. Sejak awal dia tulus, Jo.”
“Tidak mungkin…”
“Mungkin saja. Kau terlalu mementingkan obsesimu hingga kau bahkan tidak percaya komitmen dan terlalu membenci wanita.”
“Itu trauma, bukan obsesi.”
“Tapi kau memakai cara ekstrim untuk bisa sembuh. Jangan gegabah. Kau begitu terobsesi untuk bisa membenci ibumu sendiri. Itu yang perlu kau luruskan. Aleta membantu dengan caranya, jangan menyalahkan dia.”
“Haahh….. sudah diamlah. Kau bahkan tidak tahu bagaimana aku ingin bertemu dengannya saat ini. Aku butuh penjelasan.”
“Lalu temui dia. Apa susahnya?”
“Dia tidak di Jakarta. Dia ada di Bali.”, ungkap Jonael kesal. Dia menggaruk keras tatanan rambutnya hingga berantakan level dua.
“Bukankah Bali masih bagian dari Indonesia? Get your idea, Dude.”
“Damn you, Aksa. Aku ingin membencimu. Dapatkan satu tiket untukku, saat ini juga.”
“Sialan. Kau pikir aku asistenmu, huh?”
“Oh…. dan kau juga harus menggantikan tugasku dua hari ke depan.”
“Hey, kau bercanda? Tugasku sendiri masih menumpuk…”
“Aku tidak menggajimu untuk menumpuk pekerjaan. Do it or leave it.”
“Haasshh….”
******
Aleta menangis sesenggukan di dekapan orang yang sangat dia kenal. Tidak ada keraguan untuk berlari menubruk tubuh lelaki itu dengan cepat. Jonael menangkapnya dengan tepat.
Ya, Jonael berada disana. Di tempat Aleta mendapat kesialannya hari ini.
“Kau menangis?”, tanya Jonael dengan menangkup tubuh bergetar Aleta.
Wanita itu tidak menjawab, dia hanya bergerak semakin dalam pada d**a bidang Jonael. Kepalanya terbenam di antara lekuk leher dan d**a atas Jonael. Lelaki itu terpaksa sedikit mendongakkan kepala demi memberi ruang pada Aleta.
“It’s ok. Aku disini, jangan khawatir lagi.”, bisik jonael.
Lelaki itu bergerak pelan melepas jaket miliknya untuk diberikan pada punggung Aleta.
“Ini bisa memberimu kenyamanan. Kau aman bersamaku, mengerti?”
Aleta mengangguk dalam diamnya.
“….. baiklah kita pulang. Biar aku beritahu orang resort agar tidak perlu mencarimu. Mereka hanya perlu membawa mobil itu.”, Jonael memperhatikan pemandangan di balik punggung Aleta.
Tiba-tiba wanita itu teringat sesuatu, “Neneeeeek….”
Aleta melepas pelukannya dan berbalik. Dia mencari sosok Nenek tadi, tapi nihil. Tidak ada siapapun disana.
“Jo…. Jo dengar. Aku sangat yakin tadi ada Nenek-nenek yang--”
“Iya, aku tahu. Dia baru saja pergi, masuk ke rerimbunan di sebelah kiri.”, potong lelaki itu.
Aleta bernafas lega, “Syukurlah kau bisa melihatnya, Jo.”
Jonael mengangkat wajah Aleta untuk menatapnya.
“Hey…. Jangan berpikir macam-macam, oke?”
Aleta mengangguk.
“Kau sudah sadar yang di hadapanmu ini aku?”, tambah Jonael ragu.
“Tentu.…”
“Good. Jangan khawatir saat kau bersamaku….”, ucap Jonael.
Aleta mengangguk dengan lemah. Mata wanita itu mencari pusat manik Jonael.
“Kau- disini…”
“Iya Aleta. Aku bersamamu.”, kemudian menangkup bibir mulus Aleta. Dia berharap sebuah skinship bisa membuat Aleta percaya.
Bibir Jonael melumat bibir Aleta dengan lembut. Tangan lelaki itu menahan punggung Aleta agar tidak bergerak menjauh. Bibirnya menangkup bagian atas dan bawah milik Aleta secara bergantian. Pelan ia melakukannya, lembut sekali hingga Aleta terbuai. Jonael menyesap beberapa kali sebelum memberi jeda.
“Katakan, apa kau masih takut?”, tanya Jonael di tengah ciuman mereka.
“Tid-tidak…”
‘Cup’.….
’Cup’..…
Jonael memberi dua kecupan ringan sebelum berucap kembali.
“Oke… Kita kembali ke resort dengan mobilku.”, pungkas Jonael.
Dia menarik tangan Aleta masuk ke dalam kursi penumpang. Jonael dengan sabar memasangkan seatbelt untuk wanita favoritnya itu.
Mobil mulai berjalan.
Mereka masih diam hingga satu panggilan datang ke ponsel Aleta. Jonael menoleh untuk tahu siapa yang menghubunginya.
“Halo?”, sapa Aleta.
‘…………….’
“Oh, aku sudah dalam perjalanan pulang. Maaf aku tidak menunggumu.”
‘…………….’
“Ah… aku? Iya… aku aman sekarang. Hanya saja mobil sewaanku tertinggal disana.”
‘……………..’
“Benarkah? Bagus kalau begitu. Aku lega mobil sudah tertangani.”
‘……………..’
“Yaa, laters. Oke terimakasih, Isaac.”
Jonael menoleh dengan cepat begitu nama Isaac disebut Aleta. Sial.
“Isaac menjemputmu?”, tanyanya.
“Tadinya begitu. Tapi kau datang lebih dulu.”
Jonael sedikit mengumpat dan menonjok pelan steer kemudi.
“Kau tahu, aku datang ke Bali karena ada hal yang membuatku marah, lalu sekarang? Semua bertambah.”, jelas Jonael kesal.
“Itu semua tentangku?”
“Iya.”, jawabnya pasti. Aleta menciut.
Wanita itu memberanikan diri meraih satu tangan Jonael yang bebas dari kemudi. Dia mengenggamnya dengan lembut.
“Please, jangan marah sekarang. Aku belum sepenuhnya tenang…”
Jonael melihat kesungguhan Aleta. Wajah itu sangat layu, mata bengkak setelah menangis juga belum hilang. Jonael tersentuh. Bagaimana mungkin dia memarahi wanita yang sedang lemah ini?
Jonael mengeratkan genggaman tangan mereka lalu menarik untuk mencium punggung tangan Aleta.
‘Cup’
Jonael menyimpan tangan mereka di dadanya, “Aku lega karena datang tepat waktu.”
Aleta memperhatikan perlakuan Jonael. Lelaki ini mulai bisa mengontrol emosinya.
“Darimana kau tahu keadaanku?”, selidik Aleta. Dia penasaran bagaimana justru Jonael yang tiba lebih dulu daripada orang-orang yang ia beri kabar.
“Dari pemilik Resort. Aku sempat menyapa pengantin baru di waktu sarapan mereka dan Arslan memberitahu informasi tentangmu. Sejak pagi aku mencarimu, hingga petugas resort memberi lokasi yang kau kirim. Aku tak jauh dari situ.”
Aleta memperhatikan dengan lekat ekspresi Jonael yang tengah menyetir. Dia terpesona?
“Kapan kau mendarat?”
Ibu jari Jonael membelai buku jari milik Aleta, “Dini hari, lalu aku mengambil satu kamar untuk tidur. Aku tidak langsung mencarimu karena aku tidak ingin mengganggu istirahatmu.”
“Ka-kau kesini karena mencari aku?”, Aleta melebarkan matanya tidak percaya.
“A kind of, tapi aku juga ingin mengunjungi Arslan dan Ellen. Kenapa tidak hari kemarin? Itu karena pertemuan dengan perwakilan produk Korea tidak bisa ditunda. Kau tahu itu.”
Aleta merasa bersalah tidak mendampingi Jonael di saat penting itu.
“Lalu hari ini dan besok?”, tanya Aleta.
“Kuserahkan pada Aksa dan Tommy. Mereka bisa menghandle beberapa hal, sisanya aku tunda minggu depan. Jadwal kita padat. Kau bahkan tak memberiku waktu istirahat.”
“Sorry, Jo.”, ucap Aleta menyesal.
“You’ve to, tapi aku tidak keberatan karena itu tugasku.”
“Terimakasih…”, sahut Aleta masih memperhatikan tangan mereka bertaut. Ucapan terimakasih itu ia tunjukkan untuk beberapa hal. Terimakasih untuk tidak marah, untuk tetap bersikap profesional meski tidak ada Aleta, dan untuk berada disini menolongnya.
“Aku juga berterimakasih karena kau baik-baik saja, Ale. I meant it, don’t make me worry even more.”
‘Cup’
Jonael kembali mencium punggung tangan Aleta dan menahan beberapa saat di ujung bibirnya. Dia memberi endusan kecil pada buku jari Aleta. Wanita itu kehilangan daya.
Gila…. Desiran hangat menjalar ke sekujur tubuh Aleta. Kata-kata Jonael akhir-akhir ini seperti racun. Berbahaya.