PART 21

1221 Kata
Aleta tertidur hingga tiga jam. Sekarang hari sudah siang, matahari begitu terang meski cuaca tidak terlalu panas. Musim semi yang menyenangkan. Satu ketukan pintu dia dapat. Dengan tergopoh dia berjalan ke sumber suara. Dia membuka pintu dengan setengah kesadaran tanpa melihat dulu siapa yang datang. Berdirilah Jonael disana. Aleta mengerjapkan mata, “Kenapa?”, tanyanya sedikit serak. “Kau lupa dengan tugasmu untuk memenuhi kebutuhanku? Aku tak membawa baju apapun.” “Kau bisa cari sendiri, bukan?”, tolak Aleta sambil berjalan masuk, mengabaikan Jonael di belakanngnya. “Lalu apa gunanya dirimu? Kau asistenku.” “Sstt… anggap aku tidak ada. Ingat, kau sudah berbohong.”, dia masih berjalan kemudian Jonael mengejar dan segera menangkup lengan Aleta. “Tidak bisakah kau juga merasa bersalah dan menganggap ini semua impas?” “Bersalah??” “Ya. Niatanmu untuk menghindariku sangat tidak aku sukai, Ale.” Aleta terdiam. Mungkin Jonael benar. Dia bahkan berniat tidak profesional dengan menolak ajakan ke Paris tempo hari. Aleta menarik nafas panjang. “Yasudah. Aku akan bersiap.” Jonael tersenyum dalam hati, wajahnya masih mencoba datar. Akhirnya Aleta luluh. “Jangan lama-lama, agendaku malam ini—” “Iya, aku tahu.”, ucapnya dengan berjalan ke arah kamar mandi. Bersiap yang dimaksud Aleta hanya membersihkan muka. Dia tidak membawa baju ganti sama seperti Jonael. ***** Sebuah gerai pakaian di Paris. Aleta bergerak cepat mencari beberapa pakaian untuk Jonael. Beberapa setelan formal dan sisanya pakaian casual. Tak lupa dia juga memilih untuk dirinya sendiri. Jonael tidak banyak bicara dan hanya mengekor di belakang tubuh Aleta hingga selesai. Mereka bergerak ke arah kasir dan menemukan Isaac disana. “Hai, pasangan pekerja yang sangat terlihat dingin….’, sapanya dengan senyum gembira. Aleta dan Jonael memandang satu sama lain dalam sekejap, menyadari kalimat Isaac barusan. Mereka memang terlihat tidak dalam kondisi baik. “Kau bisa pergi tanpa mempedulikan kami, Isaac.”, pinta Jonael malas. “Ahh… kau kehilangan kopermu. Aku hampir lupa.”, tanya Isaac memperhatikan bawaan mereka. Jonael malas menjawab dan hanya membuang muka. Aleta sama, dia hanya diam tanpa merespon apapun. Isaac mendekat kepada Aleta. “Aku sedang mencari dasi. Bisa kau bantu aku?”, ucapnya lirih. “Maaf aku sedang terburu.” “Tidak, aku tahu jadwal Jonael, sama denganku. Masih ada banyak waktu.”, kejarnya. “Isaac please. Kau bagus dengan dasi apapun jadi pilih sesukamu, oke?” Jonael menegang mendengar itu. Isaac justru tersenyum dan mundur untuk pergi. Dia seperti tahu ada aura panas yang tengah memancar. Dia sedikit berhasil. Jonael mengerang, “Jadi, kau memperhatikan setiap dasi yang Isaac pakai?” Aleta lelah menjawab. Dia berlalu ke antrian selanjutnya. Jonael merasa semakin panas. Sesampainya di hotel, Jonael membuang belanjaannya ke sofa tengah. Dia tidak percaya Aleta bisa berkata seperti itu pada Isaac. Tiba-tiba kepalanya sedikit berdenyut. Dia tergopoh mencari pegangan karena pandangannya mulai berputar. Jonael merasa semakin lemah ketika beberapa bayangan datang di ingatannya. Jalanan Paris, toko-toko, restaurant, menara eiffel…semua terlihat sangat nyata. Kepala Jonael tidak hanya berdenyut tapi terasa sangat berat. Tubuhnya ikut lemas karena nyeri yang ia rasakan. Apa ini? Kenapa tiba-tiba begini? Dia hampir hilang kesadaran. Jonael bergerak menjatuhkan tubuhnya di sofa tadi. Dia merogoh saku celana untuk meraih ponsel dan menekan lama tombol panggil nomor dua. Nama Aleta tertera disana. ‘Apa?’, jawab Aleta setelah panggilan tersambung di dering ke lima. “Kep-kepalaku sakit.”, ucap Jonael lirih. ‘Tidurlah.’, ucap Aleta acuh. “Tap---tapi ini…” 'Kau mungkin jetlag. Jangan seperti anak kecil yang selalu merengek, Jo. Aku juga lelah.’, protes Aleta. “Hssshhmm…..”, Jonael tak lagi bisa menjawab. Dia sudah berkeringat dingin. Ponselnya terjatuh begitu saja. Dia masih sadar tapi kehabisan energi dengan sangat cepat. Dia pernah seperti ini, dulu, beberapa kali saat dia mulai mendapat ingatannya kembali sedikit demi sedikit. Aleta menatap layar ponselnya dengan diam karena tak mendapat jawaban lagi dari Jonael. Panggilan berakhir, dia bahkan tidak merasa ada yang aneh. Dia hanya berpikir Jonael mencari alasan. Aleta pergi ke kamar mandi setelah menaruh belanjaannya. Dia ingin berendam sebentar sebelum menyiapkan agenda Jonael malam nanti. Pada malam harinya, Aleta sudah bersiap dengan gaun sederhana berwarna maroon. Dia keluar kamar dan pergi menuju kamar Jonael. Belum sampai mengetuk pintu, Isaac menyela dan membuat Aleta menoleh. “Dia sudah berangkat beberapa menit lalu. Aku sudah sampai bawah dan kembali ke kamar karena ponselku tertinggal. Aku tahu Jonael sudah berangkat terlebih dahulu. Kenapa kalian terpisah? Apa dia sedang marah karena masalah dasi?”, Isaac mengingatkan kejadian tadi siang. Aleta berdecak malas dan mencoba mengetuk, “Terimakasih informasinya, aku hanya ingin memastikan-“ “Sungguh kau tidak perlu. Dia tidak ada di kamar.”, selanya saat tangan Aleta baru terangkat. “Hmm…..”, Aleta menurunkan tangannya. “Berangkat bersamaku dan kau bisa segera menyusul Jonael.” Aleta tampak berpikir dan menimbang ajakan itu. “…..bagaimana? Kau tentu tidak ingin terlambat.”, tambah Isaac. “Oke.”, akhirnya dia menjawab. Isaac senang dan memberi jalan untuk Aleta. “Lady’s first….”, ucapnya sambil mengayunkan tangan. Aleta berjalan bersama Isaac yang sejak tadi menebar senyum sambil merapikan setelannya. Mereka menuruni lift dan sudah sampai di lobby. Begitu sampai di depan mobil sewaan Isaac, ponsel Aleta berdering. Sejenak wanita itu melihat siapa yang menghubunginya. Nama Jonael tertera disana. Dengan sigap dia mengangkat tanpa mempedulikan Isaac yang tengah membukakan pintu untuknya. Aleta masih berdiri menghentikan langkah. “Ya?”, jawab Aleta. ‘Berhenti disana. Jangan bergerak dan tunggu aku datang.’ “Apa maksudmu? Kau kembali ke hotel?” ‘Tidak. Aku berada di belakangmu.’ Aleta segera membalik badan dan menemukan jonael berjalan pelan dari kejauhan. Dia terkejut, begitupun Isaac. Aleta kini menoleh lagi kepada Isaac yang kini terdiam dan menghilangkan senyum di wajahnya. ‘Bilang pada Isaac kau berangkat bersamaku.’, pinta Jonael dari telepon Aleta masih termenung. ‘……sekarang Aleta.’, perintah Jonael sekali lagi. “Ok-oke.” Aleta menutup ponsel. Dia menatap Isaac dengan tegas. “Berangkatlah duluan. Aku bersama Jonael.” “Tap-tapi Ale, kau sudah setuju untuk-“ “Aku sangat berubah pikiran.” Jonael masih belum sampai, dia berjalan sangat pelan saat Aleta menyuruh Isaac pergi. Isaac salah tingkah dan merasa kalah. Kali ini dia tidak ingin berargumen dengan Jonael. Dia memilih masuk ke mobil dan pergi. Aleta sedikit tenang karena Isaac sudah tidak ada, sesuai permintaan Jonael. Lelaki itu pasti akan marah, Aleta yakin. Kini Jonael sudah berdiri di hadapan Aleta. Wanita itu nampak membenahi tatanan rambutnya karena jujur dia sedang salah tingkah. “Kau lebih percaya Isaac daripada aku?”, Jonael kesal namun tidak dengan nada tinggi. Suaranya justru terkesan lemah. Aleta menajamkan matanya pada Jonael, “Pada bagian mana? Aku tidak faham.” “Sudah jelas, Ale. Aku sakit kepala dan kau tidak percaya. Isaac bilang aku sudah berangkat dan kau terima bahkan tanpa bertanya padaku lebih dulu.” Aleta mulai tahu alurnya, “Itu terjadi begitu saja. Aku tidak memilah-milah antara kau dan Isaac.” “Ohh… kukira kau sadar kita masih dalam ikatan perjanjian khusus.”, jonael mengingatkan tentang kesepakatan mutualism itu. “…….”, Aleta tidak menjawab. “Asal kau tahu, Isaac sudah menemuiku di kamar dan dia yakin aku tidak bisa berangkat karena keadaanku. Bodohnya si Pengecut itu membohongimu di depan pintu kamarku. Aku bisa mendengar semuanya.” Aleta tercekat dan meneliti tubuh Jonael, dia tidak terlalu peduli kalimat tentang Isaac dan kebohongan yang dia karang. Aleta tiba-tiba khawatir karena Jonael tampak pucat pasi dalam pakaian formal itu. Dia baru sadar. “Kau tidak harus berangkat.”, ucap Aleta pelan. “Dan kehilangan momen berharga? Membirkan Isaac mendapat kredibilitas seorang diri?” “Kau bilang kau sakit, kupikir—” “Aku tidak selemah itu.” Jonael berjalan dan menoleh ke kanan-kiri. “…..mana mobil kita?”, tanyanya pada Aleta. Wanita itu mengambil ponsel dan menghubungi seseorang, “Akan segera datang.”, jawabnya. Jonael berdiri diam menghadap jalan. Aleta berada disampingnya tanpa suara. Beberapa menit kemudian mereka berangkat dengan satu mobil sewaan yang sudah disiapkan Aleta jauh-jauh hari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN