Jonael terusik dari tidur panjangnya. Selain sinar matahari, suara seseorang tengah berbicara membuat kesadarannya muncul. Dia terbangun pagi ini. Dari arah jendela, dia mengerjapkan mata melihat Aleta berbalik dan mendekat ke arahnya. Such beautiful as always. “Kau bangun?”, sapa Aleta sambil memegang ponsel. “Bicara dengan siapa?”, tanya Jonael kemudian. “Ayahmu.” “Ada apa?” “Pertama dia minta maaf sudah ikut serta dalam skenariomu kemarin dan yang kedua dia memberi informasi tambahan untuk beberapa orang yang akan kau temui.” Jonael mengusap wajahnya dan mengangguk faham, “Hanya itu?” “Iya.” “Baiklah. Aku akan melakukan tiga pertemuan hari ini. No off day.”, ucapnya sambil meregangkan tangan ke atas. “Kau bisa olahraga sebentar, aku sudah pesankan sarapan, hari ini rendah kalo

