Gus lagi ngapain,
tanyanya kepada fadil,
manasin lauk, jawab nya..
kamu udah solat, tanyanya,
udah Gus,,
Yuna dengan cekatan mengambil dua piring dan sendok serta garpu,
mereka pun makan dengan tenang, hening tak ada percakapan,,
karna Yuna tau kalu sedang makan tidak boleh bicara, yang ada nanti di semprot, bukanya nyantap nasi yang ada nyantap siraman rohani,,
gumam Yuna dalam hati,,
sambil sesekali melirik ke arah Fadil, yang fokus dengan makananya di depan,,,
makan pun selesai,,
habis makan harus cuci piring,
di sini jangan malas malasan Yuna,
tuturnya..
hmm,,, Engan menjawab pertanyaan Fadil,
sebab ia juga tau, dan terbiasa mandiri,, masalah nyuci dan beres beres rumah juga masak, Yuna sudah terbiasa melakukannya, karna Yuna di besarkan nenek dan kakek nya, alias orang tua kiyai abdulah, berbeda dengan kakak nya Aisyah yang di besarkan oleh Abah dan umi nya, apa lagi di rumah itu ada art, yang bantu bantu umi di rumah, Bu aam dan suaminya, mang Asep,
sudah lama kerja di rumah Kiyai abdulah, anak nya pun sekolah juga mondok di pondok pesantren kiyai abdulah, sementara mang Asep sebagai supir pondok,,
lanjut ke cerita...
iya Gus, Yuna cuci,
jangan pecahin ni barang barang saya ya, soalnya saya gak yakin kamu bisa cuci piring, pintanya,
ihhhh,, Gus masa cuma nyuci piring aja yuna gak bisa, bisa kali,, ngeledek banget deh,, saya bukan anak manja yang makan tinggal makan, saya pernah nyuci piring kok, cerocos nya kesal,, merasa di remeh kan,,
yang ia kira Yuna anak manja, emang Yuna sifat nya tidak jauh dengan sang kakak, manja, tapi Yuna mandiri,,
bagus kalu emang bisa buktikan,
jangan cuma ngomong doang yang di gedein, ledek nya,,
ihhh kesel, lama lama satu atap sama Gus bisa setrok Yuna,,
huss,, hati hati kalu ngomong, jaga ucapan Naya, doa itu,, tegurnya
Yuna tanpa menggubris Fadil,
pergi ke westafel,
membawa piring,, dan mencucinya, dengan cekatan semua piring gelas, juga wajan yang bekas manasin lauk, semua ia cuci,
lalu mengelap meja makan, meja dapur, juga kompor, lalu menyapu dan mengepel lantai dapur,,,
Fadil yang melihat Yuna dengan takjup,, dan tersenyum,
gak nyangka di sisi manja nya ada gadis mandiri di baliknya, gumam Fadil, yang sedang duduk di ruang tengah, sambil baca kitab kuning,,
Yuna pun berlalu masuk ke kamar,
namun langkah nya terhenti saat Fadil memanggil nya,,
sini,, habis makan jangan langsung tidur, gak baik buat pencernaannya,, tunggu setengah jam,,
Yuan ngantuk Gus,
iya tunggu setengah jam, nanti boleh tidur,, pintanya kepada sang istri,,
sementara Yuna sedang berperang dalam hatinya, ia sengaja menghindari Fadil, karna belum siap menyerahkan ke perawananya kepada fadil, ada rasa takut yang menggelayut dalam dirinya,,
kenapa bengong,, kamu itu kebanyakan bengong, kebanyakan ngelamun, apa yang kamu pikirin,,
hemmm,,, tanyanya,
heee,, enggak Gus, Yuna pun menghampiri Fadil, dan duduk di sebelah nya, dan menyalakan tv,,
sini duduk nya jangan jauh jauh, pintanya,, agar Yuna duduk di Deket sebelahnya,,
di sini aja Gus,
kenapa,, grogi ya, debaran jantung mu gak karuan kalu dekat Deket saya ya,, tanyanya,,
enggak ko, biasa aja,,
padahal yang di katakan suaminya itu benar adanya,,
Yuna merasakan itu, jantung nya tak normal, kalu berada di dekat Fadil,
Fadil yang melihat Yuna tak bergerak se Senti pun,,
menaruh kitab nya di depan meja, lalu bergerak mendekati Yuna, dan merengkuh bahu Yuna,,
Gus sana Gus,, jangan dekat dekat pengap Gus,, usirnya,,
kenapa,,
kalu gak ada rasa di hati kamu,, untuk saya, ya biasa aja,, anggap aja saya temen atau Abang kamu,
apaan si Gus, sambil mendorong d**a bidang suaminya, anggar menjauh dari nya,,
gini ya Yuna,, saya berkata jujur,, saya kalau berada di dekat kamu,,
jantung saya berdetak dengan sangat cepat,, terus bawaan nya pengen selalu di Deket kamu, kalu ada di Deket kamu hati saya terasa seneng, tenang nyaman,, tau gak pertanda apa, tanyanya,,
gak tau, jawab nya,,
berarti, saya alias suami kamu ini,
sudah jatuh cinta, sama kamu istri kecil ku ini,, sambil mencapit hidung Yuna pelan,, dan tersenyum manis ke arah nya,,
Yuna yang mendapat perlakuan suaminya itu membuang muka,, jujur saja ia merasa senang, atas kejujuran dari suaminya, dan dengan terang terangan mengungkap kan isi hati nya,,
ia tidak mau suaminya melihat wajah nya yang sudah memerah karna malu,,
Fadil pun meraih wajah cantik itu untuk menatap ke arah nya,,,
menempelkan dahinya ke dahi Yuna, hidung mancung itu saling menempel,,
Yuna sayang,, jadilah istri dunia akhirat ku, untuk menuju surganya Allah,, tuturnya dengan lembut,,
jadilah istriku seutuhnya, mau ya,
Yuna hanya menatap ke bawah, ke arah bibir Fadil yang berucap penuh ke lembutan,,
Yuna hanya bisa mengangguk, tapi Yuna tanpa tau yang di maksud suaminya tentang istri seutuhnya,,
Fadil yang mendapat anggukan dari Yuna,,
tanpa ba, bi, Bu,
langsung melumat bibir Yuna,,
Yuna yang dapat serangan dari suaminya, hanya bisa memejamkan matanya,
awalnya lumatan itu sangat kuat,,
berakhir dengan lembut penuh dengan nafsu,, gairah yang ia tahan sejak tadi pagi,,
dan beralih turun ke leher Yuna,,
tangan nya berkelana ke gunung kembar yang lumayan besar, meremasnya pelan,,
ahhhkkkhhh,,
ahirnya desahan itu keluar dari bibir mungil istrinya,,
Fadil yang mendengar desahan dari bibir istrinya itu tersenyum,,
merasa dirinya mendapat lampu hijau, tak membuang waktu,,
ia megendong Yuna masuk ke kamar,,,
lalu meletakan istri kecilnya di atas kasur,, Fadil langsung merangkak ke atas Yuna, dan melumat kembali bibir mungil itu, yang sudah jadi candunya,,,
tanganya bergerak melepas kancing piyama Yuna yang bergambar pisang itu,,
satu persatu terbuka,,
menampilkan dua gundukan yang tertutup b*a,, b*a itu ia turun kan kebawah, terpangpang nyata b*******a Yuna yang terlihat indah menawan, berwarna pink itu,
jakun Fadil naik turun,, menelan ludahnya berkali kali, ia menatap wajah yuna, dengan hasrat dan nafsu, ingin rasanya menelan gadis di bawah nya, seperti binatang buas yang sedang kelaparan,,
karna malu Yuna menutupi b*******a itu dengan kedua tangan nya,,
malu gus, tuturnya,
jangan malu sayang,, ini jadi pahala buat rumah tangga kita sayang,,
cupp,,
mencium bibir Yuna sekilas,,
bibirnya beralih ke gunung Kelud,,
melumat p****g Yuna yang berwarna pink, yang sangat menggoda, ini pengalaman pertama bagi keduanya,, insting naluri laki laki,, bergerak dengan sendirinya,,
Fadil kaya bayi yang sedang menyusu, pada ibunya, kali ini ia menyusu pada istri kecil nya,,
ahhhhhkkk,,
geli Gus, racau Yuna sambil meremas rambut Fadil,,
Fadil langsung melepas semua pakaiannya,, hingga menyisakan boxser, yang menutupi junior, yang sudah sesak kepala nya sudah nongol di boxser itu,,
Yuna yang melihat benda yang menonjol di balik celana dalam suaminya yang terlihat besar,
membelalakkan matanya kaget, campur takut,,
Fadil yang melihat expresi istrinya yang tegang,,,
tenang sayang, rilex,, di bawa santai sayang, jangan tegang,.
di awal sakit, tapi nanti sudah enggak,,
Gus gede banget, apa muat, apa bakal bisa masuk,, tutur Yuna dengan polos sambil menunjuk junior suaminya,,
makanya kenalan dulu sayang,,,
harus sering sering kenalan biar gak sakit, jangan takut sayang,,
ini juga kali pertama ku,,
Fadil melumat bibir Yuna kembali,,
ngobrol terus nanti gak masuk masuk jalan tol,,
tangan kiri Fadil meremas salah satu b*******a Yuna,,
tangan kiri turun ke s**********n Yuna,
Yuna yang menyadari pergerakan tangan suaminya, di cegah nya tangan suaminya, dan melepaskan ciumannya dengan paksa,,,
Gus jangan Gus,, pintanya,
Yuna juga sedang terbakar gairah,,
karna ulah suaminya, tapi Yuna gak mau, malu nanti tangan suaminya menyentuh pembalut yang nangkring di bawah sana,,
maaf Gus, Yuna lagi datang bulan, tutur Yuna,,
Fadil yang mendengar dari bibir mungil itu tersenyum kecut,,
menindih Yuna dengan lesu,,
gagal gol donk,, gumam Fadil,
Yuna menyusupkan wajahnya ke d**a bidang suaminya karena malu,,
bersambung,,