*** Masih di tempat yang sama. Rafas dan Aura terdiam memandang langit terik di atas sana. Birunya benar-benar memanjakan mata. Syukurlah langit di dunia ini tak jauh berbeda dengan dunia asalnya. Meski Rafas meyakini waktu jauh lebih cepat berlalu di tempat ini. “Apa yang kau pikirkan, Rafas?” tanya Aura kala kepalanya menoleh dan mendapati Rafas tengah memandang langit sembari tersenyum. Rafas pun mengalihkan perhatiannya, membalas tatapan Aura yang kadang membuatnya sedikit salah tingkah. Rafas menggeleng pelan tanpa mengalihkan tatapan matanya sekalipun. “Langit terlalu indah hingga mengingatkanku dengan dunia asalku, tuan putri,” jawabnya dengan jujur dan sopan. Aura mengangguk singkat. Ia mengerti bila kadang Rafas merindukan negeri asalnya. Memang, tempat paling membahagiakan

