I’m (Not) A Villain | 4

1072 Kata
*** Aura meninggalkan kediamannya untuk menemukan pakaian ganti pria. Rafas membutuhkan itu. Sungguh, bukan karena dirinya percaya penuh pada Rafas hingga ia bersedia mencarikan pakaian ganti untuk pria itu. Aura melakukan ini hanya karena ingin mengenal Rafas lebih jauh. Bagaimanapun juga, tanpa sepengetahuan Rafas, putri Aura masih memiliki kecurigaan terhadapnya. Tujuan putri Aura menangkap Rafas di depan pengadilan adalah karena ingin membuktikan bahwa sang penjahat merupakan suruhan dari Perdana Menteri Basam. Setelah membuktikannya sendiri, sang putri pun akan membunuh villain dengan tangannya. Lalu, memenjarakan Perdana Menteri Basam. Namun, mengingat Rafas terus-terusan mengatakan bahwa ia bukan seorang penjahat, putri Aura pun merasa goyah. Terlebih ucapan pria tersebut begitu meyakinkan. Tak ingin berpikir terlalu banyak, putri Aura segera kembali ke kediamannya setelah menemukan pakaian ganti untuk Rafas. Dalam perjalanan menuju kediamannya, sang putri bertemu dengan Perdana Menteri Basam. Pria yang lebih tua dari sang raja itu pun tampak pura-pura menghormatinya. Padahal sejak awal putri Aura curiga Perdana Menteri Basam berada dibalik rencana pembunuhan itu. “Beri salam kepada tuan putri. Bolehkah hamba bertanya, apa yang sedang tuan putri lakukan saat ini?” Putri Aura mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan perdana menteri Basam. “Aku hanya sedang berkeliling,” ucapnya. Perdana menteri Basam mengangguk singkat. Ia memperhatikan kain yang putri Aura bawa di tangannya. “Bukankah tidak sopan memandangi apa yang tuan putri kerajaan ini bawa, Perdana Menteri?” sindir putri Aura. Perdana Menteri terkekeh. Ia mengangguk singkat untuk mencairkan suasan. Lalu menunduk hormat, membiarkan sang putri meninggalkannya. Setelah itu, perdana menteri Basam tersenyum sini di belakang putri Aura. Itu lah kenapa ia ingin melenyapkan sang putri raja, karena putri Aura tidak memiliki rasa takut seperti ibundanya. Putri Aura adalah sosok yang pemberani dan kuat. Buktinya, penjahat yang ia utus dan latih selama bertahun-tahun takluk di bawah pedangnya. Beruntung penjahat itu berhasil melarikan diri. Jika tidak, mungkin saat ini seluruh pemberontakkan atas namanya sudah terbongkar. “Kau hanya sedang beruntung, Tuan Putri,” ucap perdana menteri Basam. Bagaimanapun juga ia menolak untuk mengakui kehebatan putri Auraleia. “Akan kupastikan keberuntungan itu tidak menemuimu lagi nanti.” Andai sang putri mendengar ucapan perdana menteri Basam, mungkin putri Aura tak ragu menghunuskan pedang padanya. Namun, putri Aura sudah kembali ke kediamannya. Ketika sampai di sana, putri Aura melihat Rafas tengah sibuk mengeringkan rambutnya. “Kenapa kau menggunakan pakaian yang sama dengan yang tadi kau kenakan?” tegur Aura. “Tidak mungkin aku telanjang. Kau akan syok melihat milikku nanti,” kelakar Rafas. Entah keberanian dari mana hingga dirinya menggoda Aura seperti itu. Padahal, Rafas tahu betul sang putri bisa saja mengacungkan pedang padanya. “Lancang!” ujar putri Aura. “Aku minta maaf. Tolong jangan keluarkan pedangmu dari sarungnya,” ucap Rafas buru-buru saat putri Aura benar-benar bermaksud menarik pedangnya keluar. “Aku hanya bercanda,” lanjutnya. “Aku tidak peduli. Jangan pernah mengatakan sesuatu yang lancang padaku lagi jika tak ingin nyawamu berakhir di pedangku,” Rafas tahu betul itu sebuah peringatan. Jika dilanggar, maka hanya aka nada masalah di depannya. Rafas pun mengangguk patuh. Lebih baik tidak mengatakan apa-apa ketimbang banyak bicara yang nantinya berujung menyakiti diri sendiri. “Apa pakaian itu untukku?” tanya Rafas. Putri Aura mengalihkan tatapan matanya pada pakaian yang ada di tangannya. Sekilas mirip sekali dengan pakaiannya, tetapi ini berbeda. Ukurannya lebih besar sehingga sesuai untuk Rafas. “Pakailah,” ia menyerahkan pakaian itu pada sang villain. Rafas menerimanya. Ia segera kembali ke tempat pemandian untuk mengganti pakaiannya. Tak lama setelah itu, Rafas keluar. “Terima kasih,” ucapnya sungguh-sungguh kepada sang putri. Putri Aura mendengkus. Kalau bukan karena penasaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada penjahat ini, dirinya pun tak sudi membantu. Jika menjaga Rafas bisa membuktikan bahwa dia bukan seorang villain yang pernah ingin membunuhnya, maka Aura bersedia berkorban. Dengan begitu ia bisa mencari tahu bukti lain untuk membongkar rahasia Perdana Menteri Basam. “Kau harus berhati-hati karena prajurit Ayahandaku sedang gencar-gencarnya mencari keberadaanmu,” ucap Aura. “Benarkah? Itu berarti aku seorang buronan di kerajaan ini,” Rafas menghela napasnya dengan berat. Ia kembali mengingat dosa apa yang kira-kira tanpa sengaja dirinya lakukan semasa hidup di dunia hingga membuatnya tersiksa seperti ini. Rafas pikir dia tidak melalukan apapun yang sekiranya merugikan orang lain. Dirinya selalu membantu orang-orang yang berada di sekitarnya. “Iya! Kau seorang buronan. Jika mereka menemukanmu, maka tidak aka nada yang bisa menolongmu lagi,” “Termasuk dirimu?” tanya Rafas. Putri Aura mengangguk tegas. Ia tidak sudi membawa Rafas pergi dari pengadilan lagi andai pria itu tertangkap. “Aku akan berhati-hati,” ucap Rafas. Keduanya terdiam karena merasa tidak tahu harus mengatakan apa. Rafas dan putri Aura masih sama-sama memiliki kewaspadaan meski perlahan saling memiliki kepercayaan. Mereka terlihat saling menatap tajam satu sama lain, hingga akhirnya Rafas yang mengalah. Pria itu membuang tatapannya ke arah lain agar putri berhenti menghunuskan tatapan tajamnya. “Sekali lagi terima kasih karena kau telah menolongku, Putri,” ucap Rafas yang kembali mengalihkan tatapannya kepada putri Aura. Namun, kali ini tampak lebih bersahabat. “Tapia pa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanya Rafas. Putri Aura menggelengkan kepalanya. “Entahlah. Sejujurnya, aku masih tidak mempercayaimu sepenuhnya!” balasnya. Rafas sudah menduga. Sang putri pasti masih meragukannya. Rafas juga belum menemukan cara untuk membuat putri Aura percaya padanya sepenuhnya. Rasanya, Rafas ingin melarikan diri dari tempat ini, tetapi ke mana ia harus pergi di saat prajurit atau pengawal raja ada di mana-mana? Satu-satunya yang ia harapkan adalah putri raja di depannya ini. Namun, sang putri tidak bisa mempercayainya sepenuh hati seperti ia yang juga tak bisa percaya pada sang putri sepenuhnya. Rafas paham, ia mengerti kenapa putri sulit untuk mempercayainya. Wajahnya yang mirip sekali dengan seorang pembunuh pasti membuat putri Aura tidak nyaman. Beruntung, saat ini sang putri tak lagi menghunuskan pedang padanya. “Apapun yang terjadi, aku akan membuatmu mempercayaiku putri Aura,” tutur Rafas bersungguh-sungguh. “Dan kuharap kau juga melakukan hal yang sama, karena aku pun tidak bisa mempercayaimu sepenuhnya,” “Aku tidak merasa rugi bila kau tidak mempercayaiku, Rafas.” Benar, sang putri tidak akan merasa dirugikan bila Rafas tidak mempercayainya. Di sini yang membutuhkan bantuan adalah Rafas. “Maafkan aku, aku hanya berharap kau juga bisa membuatku percaya tentang dirimu yang tidak akan membunuhku sekarang juga,” ucap Rafas. Putri Aura terseyum sinis. “Itu tergantung caramu meyakinkanku.” Setelah mengatakan itu, putri Aura kembali meninggalkan kediamannya. Menyisakan Rafas yang menelan ludahnya dengan susah payah sendiria. . . To be continued. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN