I’m (Not) A Villain | 6

1208 Kata
*** Sembari bersembunyi dari kejaran prajurit istina, Rafas berlatih pedang bersama sang putri yang tegas dan kejam. Putri Aura membawa Rafas ke tempat persembunyiannya. Bagaimana Rafas tidak menganggapnya kejam ketika yang putri Aura lakukan adalah selalu saja memaksanya dan membentaknya. Putri Aura juga tak segan mengancamnya dengan sebilah pedang ketika Rafas tampak tak sanggup mengikuti arahannya. “Kau sangat lemah, atau hanya sedang berpura-pura lemah?” bentak putri Aura. “Aku benar-benar tidak tahu cara menggunakan pedang,” balas Rafas. Tck Aura tampak kesal. “Berkonsentrasilah!” ujarnya. Rafas menarik napas dalam-dalam sebelum mengeluarkannya secara perlahan. Seharusnya kekuatan sang penjahat di masa lalu bisa dengan mudah ia kuasai. Dia pasti bisa! Tidak ada yang tidak bisa Rafas kuasai dengan cepat. Dirinya terkenal jenius ketika hidup di dunia. “Baiklah, akan kucoba dengan sungguh-sungguh,” ucap Rafas menyemangati diri sendiri. Rafas kembali mengikuti arahan putri Aura. Perlahan pria itu dapat melakukannya. Bahkan sang putri tidak menyangka Rafas mampu memahami segala arahannya setelah bersungguh-sungguh mempelajarinya. Sekarang Rafas benar-benar sudah menguasai gerakan yang putri Aura ajarkan. “Apa kau merasakan sesuatu?” tanya Aura kepada Rafas setelah mereka latihan untuk kesekian kalinya. Rafas mengangguk singkat. Sejak beberapa hari yang lalu dirinya ingin jujur kepada putri Aura. Ada sesuatu yang tidak biasa yang dirinya rasakan sejak memegang pedang. “Aku merasa seperti pernah berlatih pedang seperti ini. Aku juga sepertinya sangat bersahabat dengan benda ini,” ucapnya. Putri Aura sedikit terhenyak mendengar itu. Ia menatapi Rafas dengan tatapan tajamnya. Jika dia tidak salah mengira, ketangkisan Rafas dalam menggunakan pedang beberapa waktu ini adalah karena jiwa Rafas berbagi dengan jiwa sang penjahat di masa lalu. Aura mengacungkan pedangnya ke arah leher Rafas. Jika memang benar apa yang dirinya pikirkan, maka bukan tidak mungkin suatu hari nanti Rafas akan kembali membunuhnya. “Apa yang kau lakukan?” tanya Rafas terkejut. “Kau adalah sang villain!” ujar Aura penuh kebencian. Rafas memahami sebanyak apa keraguan putri Aura terhadapnya. Namun, apapun yang terjadi Rafas akan membuktikan bahwa dirinya bukan seorang penjahat. Dia orang baik, dan akan selalu menjadi orang yang baik. Entah ketika hidup di dunia maupun hidup di tempat baru ini. “Bunuhlah aku jika memang kau berpikir seperti itu, putri Aura. Tapi, sekali lagi aku tegaskan, bahwa aku bukan sang villain,” tegas Rafas. Kali ini dirinya berusaha untuk tidak takut pada putri Aura. Jika memang harus mati dua kali di tangan sang putri, maka Rafas rela. Hanya saja, sampai kapanpun ia tidak akan pernah mengakui bahwa dia adalah seorang penjahat karena dirinya tidak pernah melakukan kejahatan itu. Perlahan, pedang putri Aura kembali dia turunkan. Pedang tersebut juga sudah masuk kembali ke dalam sarungnya. Putri Aura pun tak lagi menatap Rafas dengan tajam. Tatapannya menjadi lebih lembut dan penuh belas kasihan. Sesungguhnya, Aura perlahan percaya pada Rafas, tetapi salahkan wajahnya yang selalu saja membuat Aura mengingat penjahat itu. Rasanya setiap waktu Aura ingin menebas leher Rafas. Namun, sikap Rafas yang mengalahkan keinginannya itu. Rafas tampak tegas, tetapi tidak terlihat kejam seperti sang villain. Bagaimanapun Aura mengingkarinya, hati kecilnya tetap berkata bahwa Rafas memang orang baik. Namun, Rafas juga bagian dari sang penjahat. Entahlah, putri Aura hanya bisa mengawasinya dengan cara lebih dekat seperti saat ini. “Baiklah, kita akhiri latihan kita hari ini,” ucap Aura bermaksud beranjak dari duduknya. Namun, Rafas dengan cepat menahannya. “Terima kasih, putri Aura,” ucap pria itu dengan tulus. Dirinya tahu sebesar apa hasrat putri Aura ingin membunuhnya, tapi putri Aura selalu saja menahan keinginan itu. “Izinkan aku membuktikan bahwa aku benar-benar akan melindungimu di masa depan,” ucap Rafas sungguh-sungguh. Matanya menunjukkan ketulusan itu. Putri Aura tertegun. Di saat ia mendidik Rafas karena ingin selalu mengawasinya, tapi Rafas berjanji untuk selalu melindunginya. Haruskah sekarang sang putri benar-benar percaya? Haruskah ia tak perlu lagi merasa waspada? “Buktikan saja semuanya, Rafas!” ujar putri Aura. Sang villain tidak akan tersenyum konyol seperti yang Rafas lakukan saat ini. Penjahat di masa lalu tidak akan tersenyum setulus Rafas hanya karena balasan putri Aura. Namun, Rafas melakukannya. Rafas tampak sangat lega. Hal itu membuat perasaan putri Aura menjadi kian aneh. Sudut bibirnya pun berkedut menahan senyuman. Rupanya, hal itu disadari oleh Rafas. Ia menggoda putri Aura. “Jika ingin tersenyum jangan ditahan,” katanya. Sang putri berdehem keras. Ia meninggikan dagunya ketika membuang pandangannya dari Rafas. “Aku tidak bermaksud ingin tersenyum!” ujarnya. Rafas mengangguk-anggukan kepalanya. “Lepaskan tanganku, Rafas! Aku ingin pergi.” Putri Aura melirik pergelangan tangannya yang masih saja digenggam oleh Rafas. “Ahh maafkan aku,” ucap pria itu. Ia pun akhirnya melepaskan tangan Aura yang sejak tadi masih betah berada di dalam genggamannya. “Kau mau pergi ke mana, tuan putri?” tanya Rafas saat Aura berdiri dari duduknya. Rafas penasaran karena sekarang penampilan putri Aura terlihat berbeda. Putri Aura menggunakan penutup kepala seolah sedang melakukan penyamaran. “Aku akan pergi ke pasar.” Pupil mata Rafas membesar. “Aku akan ikut denganmu!” ujarnya cepat. Rafas pun penasaran seperti apa bentuk pasar di tempat asing ini. Mungkinkah sama dengan pasar yang ada di dunianya? Apa saja yang orang-orang jual? Putri Aura tampak menimbang permintaan Rafas. Ia sedikit ragu, tetapi akhirnya mengangguk juga. “Kenakan tudung sepertiku agar tidak ada yang mengenalimu. Aku yakin kerajaan telah menyebar gambar wajahmu di seluruh Negeri,” ucapnya. Dengan patuh Rafas menuruti. Ia ikut mengenakan tudung yang sama dengan yang Aura kenakan di atas kepalanya. Setelah siap, keduanya meninggalkan tempat persembunyian. Pasar tradisional adalah tujuan mereka sekarang. Putri Aura pergi ke tempat ini karena ingin membelikan Rafas beberapa pakaian. Tak mungkin Rafas mengenakan pakaian yang sama setiap harinya. Apalagi pakaian itu selalu saja dipakai untuk latihan. Pakaian Rafas kotor dan tak enak dipandang mata. Sesampainya di pasar, Rafas benar-benar takjub. Ternyata, tempat ini benar-benar masih tradisional. Orang-orang terlihat memadati pasar. Banyak pedagang juga pembeli di dalamnya. “Rakyatmu benar-benar banyak,” puji Rafas. “Ini belum seberapa,” balas Aura. Mereka semakin masuk ke dalam pasar. Rafas berada tepat di belakang putri Aura. Dia tak ingin ketinggalan dan berakhir hilang. Memang, bisa saja sekarang dia melarikan diri, tapi Rafas tidak akan pernah melakukan itu karena ia sudah berjanji pada sang putri. “Kita akan membeli baju?” tanya Rafas ketika mereka sampai di depan toko pakaian. Aura hanya melirik Rafas sekilas sebelum menganggukkan kepala. “Pilihlah beberapa, aku akan membelikanmu pakaian baru,” “Benarkah?” Mata Rafas tampak berbinar. Dirinya pun mulai gerah karena menggunakan pakaian yang sama. Padahal, semasa hidup di dunia Rafas paling membenci yang namanya kotor. Melihat putri Aura menganggukkan kepalanya sekali lagi, membuat Rafas bersemangat. Dengan cepat ia memilih beberapa pakaian dan memberikannya pada putri Aura. “Ambil beberapa lagi,” pinta Aura kepada Rafas. Kembali Rafas mengiakannya. Beberapa potong pakaian pria pun sudah ada di tangannya. “Terima kasih banyak, put … ” Putri Aura mendesis agar Rafas menghentikan ucapannya. Bisa-bisa penyamaran mereka terbongkar bila Rafas memanggilnya dengan cara seperti itu. Rafas pun mengerti. Ia mengganti panggilannya. “Maksudku, terima kasih banyak, teman!” ujar Rafas sembari tersenyum lebar. Putri Aura mendelik tajam. Berani sekali Rafas menganggapnya sebagai teman! Namun, karena situasi dan kondisi sedang seperti ini, maka Aura membiarkannya saja. Aura memilih untuk segera membayar pakaian itu agar mereka bisa pergi dari tempat ini. . . To be continued.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN