Aku tidak pernah mengira bahwa Jo akan membelaku seperti ini. Dia yang biasanya menghinaku, menjelekkanku, mengejekku, kini berubah menjadi tameng untukku. Bahkan dia berdiri di depanku, memasang badannya agar benda-benda itu tidak menimpa diriku. Aku memandang punggungnya dari belakang. Punggung kokoh itu yang tadi aku gunakan untuk tempat bersembunyi. Aku merasa kerdil, aku merasa kecil di baliknya. Semua orang menganggap aku pembawa s**l. Semua orang menganggapku sebagai virus mematikan yang harus dijauhi. "Nggak usah nangis! Dasar cengeng!" seru Jo. Aku segera menyeka air mataku sampai habis. Dan berusaha tidak terjadi apa-apa. Jangan meremehkan kemampuanku untuk tetap terlihat baik-baik saja. "Aku nggak nangis!" "Iya cuma mewek!" Raymond yang duduk di samping kemudi ikut terke

