"Nia kenalkan ini Anas sepupunya Izhar," kata Ummi kepadaku. Sepertinya Ummi benar-benar ingin membuktikan ucapannya untuk mencarikan aku jodoh karena sedari tadi Ummi banyak mengenalkanku dengan sepupunya Mas Izhar, anak dari teman-temannya ataupun dengan koleganya.
"Nia," ujarku. Aku menangkupkan tangan ke d**a, ia pun juga sama.
"Anas."
"Oh yaudah kalian ngobrol dulu ya, Ummi mau nerima tamu." Ummi langsung pergi meninggalkan kami.
Sebelum Ummi mengenalkan padaku, Ummi bilang kalau Anas juga hafidz Qur'an sama seperti Mas Izhar. Hanya saja umurnya baru 25 tahun. Ehm, selisih 6 tahun denganku.
Ah, tapi tak masalah. Dulu Rasulullah SAW ketika menikahi bunda Khadijah juga selisih 15 tahun.
Aku dan Anas pun larut dalam perbincangan. Ternyata Anas ini merupakan alumni pesantren dan sedang mengabdikan dirinya di sana.
"Uwak sering bercerita loh tentang Nia ini," kata Anas. Maksudnya Uwak adalah Ummi.
"Oh ya?"
Anas mengangguk, "tenang saja, cerita yang bagus-bagus kok."
Aku tersenyum, syukurlah.
"Ibu ibu," tiba-tiba Abim menarik-narik baju yang kukenakan. Entah kapan ia datang, aku tidak menyadarinya.
Anas terlihat bingun karena aku dipanggil ibu oleh anak kecil.
"Anak kamu?"
"I..iya eh bukan tapi–" ucapanku terpotong karena Abim terus menerus menarik bajuku.
"Ada apa sih Bim?"
"Ibu dicari sama Bapak."
Bapak? Bapak siapa yang Abim maksud? Ah, apa mungkin Mas Izhar? Karena yang biasa dipanggil Bapak di Rumah Baca adalah Mas Izhar.
"Kata Bapak, Ibu harus ke sana," Abim menunjuk ke salah satu sudut, aku mencoba melihat ke arah yang ditujunya namun tidak menemukan tanda-tanda siapa yang memanggilku.
"Yaudah iya, ibu ke sana." Akhirnya aku mengalah juga. "Nas, saya ke sana ya." Anas mengangguk dan aku langsung menghampiri tempat yang dimaksud oleh Abim.
Abim membawaku ke tempat makanan. Di sini banyak beberapa menu dari daerah di Indonesia yang sengaja dihidangkan untuk para tamu. Namun bukan termasuk ke dalam menu utama, hanya pelengkap saja. Ada sate ayam dan lontong, soto lamongan, siomay, empal gentong, dan yang terakhir menu yang paling aku suka, bakso.
"Ekhem... Ini Mbak baksonya."
Seorang penjaga menu bakso menyodorkan mangkuk bakso kepadaku. Aku tidak merasa memesannya.
"Saya nggak pesen bakso Mas."
"Tapi ini sudah dibuatkan Mbak." Mas itu tetap ngeyel, dan memintaku mengambilnya.
"Saya nggak minta Mas buatin kok."
"Udah deh Mbak terima aja. Oh, Mbak lagi diet ya. Nggak usah diet-diet deh Mbak, kalau udah jelek mah jelek aja."
Aku memicingkan mata. Aku jadi curiga siapa yang ada di balik topi itu. Dari cara bicaranya, aku punya satu nama yang sudah pasti tebakanku adalah benar. Kemudian aku menarik topi itu ke atas, dan benar saja kalau Mas-mas yang berlagak jadi tukang bakso itu adalah Jo.
"Bapak yang dimaksud Abim ini adalah dokter Jo?" tanyaku pada Abim. Abim jawab mengangguk.
"Oh udah berubah profesi ya Mas jadi tukang bakso," sindirku.
Jo keluar dari booth bakso dan lagi, ia mengulurkan satu mangkuk bakso ke arahku. "Dimakan nih."
Aku menerima mangkuk itu, "pasti ada racunnya nih. Kamu mau aku mati ya Jo."
"Sembarangan!" Jo menoyor kepalaku. Katanya harus kasih contoh yang baik ke anak-anak, tapi ia sendiri melakukan k*******n. "Kamu mati nanti aku–"
"Kamu kenapa?"
"Ya aku dipenjara lah. Sori banget kalau harus dipenjara karena kamu. Masa depan aku cerah, nggak kayak kamu. Madesu."
"Apaan madesu?" tanyaku.
"Masa depan suram!"
Jo tertawa, menyebalkan sekali.
Aku mengambil sambal untuk melengkapi semangkuk bakso ini. Kurang lengkap rasanya kalau tidak pakai sambal. Namun lagi-lagi Jo mengomentarinya.
"Jangan banyak-banyak nanti pengunjung lain nggak dapat sambal."
"Bawel banget, itu masih banyak Jo sambalnya!"
Setelah mengambil sambal, aku menggiring Abim duduk di salah satu kursi yang tak jauh dari booth bakso. Jo juga mengikuti.
"Abim sudah makan?" tanyaku pada Abim. Ia mengangguk dan menjawab, "sudah Bu."
"Pakai apa?"
"Pakai nasi, sate ayam, sup, sama apa ya tadi." Abim terlihat berpikir sejenak, "oh iya sama kerupuk."
Aku mengelus kepalanya kemudian memakan bakso yang tadi diberikan oleh Jo. Bismillah, semoga setelah ini aku masih hidup.
"Ibu... Abim mau es krim."
"Oh yaudah sebentar, biar ibu ambilkan." Aku bangkit dari kursi, namun sebuah suara menahanku.
"Biar dokter Jo saja yang ambilkan," kata Jo kemudian bangkit dari duduknya. Tidak lama, ia membawa es krim sebanyak tiga cup.
"Banyak banget Jo ngambilnya," komentarku.
"Hmm..."
Ia memberikan satu cup kepada Abim, dan satu cup lagi ia makan sendiri, tersisa satu cup lagi di atas kursi. Aku jadi kepingin.
"Buat kamu tuh!"
"Kamu kesambet apaan Jo? Baik banget sama aku hari ini."
"Nggak usah mikir yang macem-macem. Aku nggak suka sama kamu!"
Siapa juga yang menyangka dia suka sama aku. Dih aneh!
"Aku nggak sudi sama bekas orang!"
"Dapet istri janda baru tau rasa kamu!" Jo menatapku nyalang. "Aku akan ketawain kamu sambil guling-guling kalau hal itu sampai terjadi."
"Nggak akan!"
"Ya Allah jodohkan lah Jo dengan salah satu janda di dunia ini. Amin."
Acara resepsi sudah selesai, aku dan beberapa anak Rumah Baca pulang dengan mobil Jo. Tentunya ia yang berada di balik pengemudi, di sampingnya ada Abim. Aku, Desti, Dina, dan Ika berada di bangku belakang.
"Kok Ibu nggak lihat Fikri ya? Tanyaku pada mereka. Aku hanya melihat Fikri di awal saja, saat ia menjadi pengiring pengantin.
"Fikri pulang duluan, Bu. Katanya takut Ibunya marah," jawab Abim.
"Pulang sendiri?"
"Diantar sama suruhannnya Pak Izhar."
Syukurlah. Masalahnya jarak antara gedung dan rumah dia lumayan jauh. Aku khawatir kalau ia nekat pulang sendiri.
"Ibu Desti nggak mau pinjemin handphonenya ke aku," adu Dina sambil memilin boneka teddy kecil yang ada di tangannya. Ku lihat Desti yang sedang memegang handphone dan didekap di dadanya.
"Desti itu handphone siapa?"
"Handphone Mama, Bu."
"Ibu boleh pinjam nggak?"
"Nggak boleh Bu."
Ayo Nia berpikir. Bagaimana caranya Desti melepas gadged itu.
"Dokter Jo punya permainan, yang bisa jawab dokter Jo beri hadiah. Ada yang mau?"
"Aku mau dok!" pekik semuanya secara serempak.
"Tapi ada syaratnya," ujar Jo lagi.
"Syaratnya apa dok?"
"Iya dok syaratnya apa?"
"Di tangan kalian jangan ada barang apapun. Nanti kalian susah mengangkat tangan."
"Aku titip teddy ke Ibu Nia deh." Dina memberikan boneka teddy nya ke arahku.
"Aku juga titip handphone aku ke Ibu," ujar Desti sambil memberikan handphonenya kepadaku. Aku menerima benda-benda itu, dan ku masukkan ke dalam tas. Aku melihat kaca spion dan Jo sedang tersenyum karena caranya berhasil.
Jo mengangkat kepalanya seraya memberi isyarat. Namun aku tidak mengerti.
"Apaan?"
"Kamu yang kasih permainan."
Astagfirullah... Aku kira dia sudah menyiapkan permainannya.
"Nama permainannya cepat tanggap ya. Ibu akan berikan pertanyaan, yang tahu jawabannya langsung angkat tangan. Yang tercepat mengangkat tangan, dia yang menjawab. Mengerti semua?"
"Mengerti Bu."
"Kemarin Ibu sudah berceritakan tentang kisah Nabi Muhammad?"
"Sudah Bu."
"Sudah Bu."
"Baik, Ibu akan mengambil pertanyaan dari kisah itu ya. Yang nggak dengerin Ibu akan ketahuan nih."
"Abim kemarin tidur Bu," tunjuk Desti pada Abim. Sedangkan orang yang ditunjuk merasa kesal.
"Tapi kan aku dengerin."
"Sudah-sudah. Kita mulai ya."
"Siap!"
"Ayo Ibu cepetan!" Ika sudah tidak sabar.
"Iya sabar, Ibu kan lagi buat pertanyaan. Siapa yang tahu nama dari ayah dan ibu Nabi Muhammad?"
Semuanya menunjuk, namun Dina yang lebih cepat.
"Iya Dina jawab."
"Nama ayahnya Abdullah dan ibunya Siti Aminah."
"Benar nggak ya?" Aku pura-pura berpikir sejenak, "iyaaa benar sekali jawabannya."
"Yeeeeey aku benar!" pekik Dina kesenangan. "Aku dapat hadiah dari dokter Jo!"
"Lagi Bu, lagi. Masa Dina saja yang dapat hadiah," kata Desti dan Ika mengangguk setuju.
"Oke, siapa nama pamannya Nabi Muhammad?"
Ika mengangkat tangannya, "iya Ika silakan jawab."
"Abu Thalib, Bu."
"Tepat sekali!"
"Horeeee!"
"Lagi yaa, dimana Nabi Muhammad dilahirkan?"
Abim mengangkat tangan, "di Mekah, Bu."
"Iya Abim benar."
"Ibu masa aku nggak dapet hadiah," Desti mengerucutkan bibirnya. Kasih aku pertanyaan dong Bu."
"Lagi kamu lama sih angkat tangannya!" seru Abim.
"Ih kan aku lagi mikir," balas Desti.
"Sudah-sudah, Ibu kasih pertanyaan khusus buat Desti ya. Desti hafal nggak arti surah Al-Ikhlas?"
"Hafal Bu."
"Yasudah, di coba."
"Katakanlah: "Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia."
"Masya Allah, anak-anak Ibu pintar-pintar sekali. Sini peluk." Ika, Desti, Dina memelukku. Minus Abim karena ia berada di kursi depan. "Kalian sayang nggak sama Ibu?"
"Sayang banget, Buuuuu."
"Ibu juga sayang banget sama kalian."
Sebagai hadiah permainan tadi, Jo mengajak anak-anak ke mini market di pinggir jalan. Ia membebaskan anak-anak memilih jajanan apa saja yang mereka suka. Anak-anak sangat senang dan antusias sekali.
Aku berpisah dengan mereka ke rak roti. Aku baru ingat seharian ini tidak menyentuh nasi sedikit pun. Hanya semangkuk bakso yang tadi Jo kasih yang berhasil masuk ke dalam perutku. Alhasil saat ini perutku menjadi perih.
"Sendirian aja Mbak belanjanya?"
Sebuah suara menginterupsiku, aku membalikkan badanku untuk melihat siapa pemilik suara itu. Ternyata seorang laki-laki yang juga sedang berbelanja di mini market ini.
"Eh eng– "
"Dia nggak sendiri Mas. Tuh ada anak-anaknya, empat lagi."
Jo menghampiri aku dan Mas tadi. Membuat Mas itu menjauh.
"Oh udah punya anak ya Mbak. Saya kira belum menikah. Suaminya posessif banget ya."
Mas itu langsung pergi meninggalkan aku dan juga Jo.
"Jangan genit jadi janda tuh. Gatel ya udah lama nggak digaruk."
Tanganku sudah terkepal kuat, ingin rasanya aku menjambak rambutnya itu. Kalau aku ingat-ingat, sedari tadi laki-laki yang mencoba mendekatiku pasti digagalkan olehnya. Mulai dari Anas dan juga Mas tadi. Maunya Jo apa sih!
"Errgg!!" aku langsung pergi meninggalkannya sendiri. Berdekatan dengannya beberapa detik saja, darahku mendidih. Bisa-bisa aku terkena darah tinggi di usia muda.
"Ibu..." anak-anak datang menghampiriku.
"Udah belanjanya?"
"Udah Bu..."
"Sini dikumpulkan," kata Jo dari arah belakang. Di tangannya sudah ada keranjang belanjaan yang sudah terisi barang miliknya.
Kami sama-sama berjalan ke kasir.
"Sekalian aja sama punya kamu."
"Aku bayar sendiri."
"Ck!" Ia berdecak kemudian menarik rotiku dan menaruh di keranjang. Dasar tukang memaksa!
"Anak-anaknya banyak banget Mbak, tiap tahun isi ya Mbak?"
Seorang Ibu di belakangku berbicara, aku memerhatikan keempat anak-anak yang bersamaku. Jika dilihat umur mereka itu hanya selisih satu tahun.
"Iya Bu, dia mau kejar setoran tiap tahun isi."
Lagi-lagi Jo yang menyahut. Apa maksudnya ia mengarang cerita seperti itu. Tidak tahukah ia kalau anak merupakan masalah sensitif untukku.
Sepanjang perjalanan aku hanya diam. Sampai anak-anak sudah diantar ke rumah masing-masing pun aku tidak berbicara apapun dengan Jo. Hari ini ia sangat menyebalkan.
Mobilnya berhenti di depan rumah Ummi. Aku segera turun, namun sebelum aku benar-benar turun dari mobilnya ia bertanya, "kamu marah Ni?"
Menurut lo?
"Tau ah!"
Aku segera turun dan langsung membanting pintu mobilnya dengan kencang. Tidak menyangka ia akan ikut turun juga dan mengejarku.
"Ni maaf, aku nggak bermaksud buat kamu marah."
"Kamu kan tahu Jo, Wisnu ceraikan aku karena aku nggak bisa kasih dia anak. Aku udah cerita itu sama kamu. Bisa-bisanya kamu ngarang cerita seperti itu, sama aja kamu menghina aku Jo."
"Ni aku minta maaf..."
"Pergi kamu dari sini! Aku benci sama kamu!"
Aku langsung masuk ke dalam rumah, tanpa peduli ia yang berteriak memanggil namaku. Aku bisa terima ia mengatakan aku ini bekas orang, janda atau apapun itu. Tapi kalau masalah anak, hal itu menjadi sangat sensitif bagiku. Mengingatkanku pada semua yang terjadi selama ini. Tentang kekurangan, ketidaksetiaan, dan juga kehancuran.
Aku terbangun pukul 03.00 dini hari seperti biasanya. Namun aku merasakan perih di sekitar perutku dan menjalar hingga ke pinggul. Rasa sakitnya seperti sedang ditusuk-tusuk oleh jarum.
Semalam setelah sampai di rumah, aku langsung memasuki kamar, salat Isya kemudian langsung tidur. Bahkan saat Ummi dan Mas Izhar sampai pun aku memilih untuk tidak keluar kamar.
Aku bangkit dan keluar kamar, berniat mengambil obat maag di kotak P3K, sekalian juga ingin salat Tahajud. Namun tiba-tiba sebuah suara memanggil namaku.
"Nia... Nia..."
Suara itu begitu lirih. Aku mengikuti arah suara itu yang ku kira dari ruang tamu. Dan benar, di sofa ada seseorang yang tengah tertidur di sana.
Mas Izhar?
Mengapa Mas Izhar tidur di sofa? Bukankah malam ini adalah malam pertamanya?
"Nia...."
Mas Izhar menggumamkan namaku di dalam tidurnya.
Ya Allah... Apa yang terjadi?