Aku terbangun dari tidurku. Sambil memandang langit-langit putih, dalam hati aku mengucapkan syukur. Bahwa Allah masih memberikan aku kenikmatan dapat membuka mata, dan bisa memperbaiki diri menjadi sebaik-baik hamba-Nya. Terkadang nikmat yang terlihat kecil seperti melihat, mendengar, berbicara, sehat wal'afiat adalah nikmat yang paling sering dilupakan. Hingga apabila nikmat itu diambil sebentar oleh Allah, barulah terasa.
Aku bangkit dari ranjang, kemudian membersihkan diri dan selanjutnya melaksanakan rutinitasku. Alhamdulillah sakit di perutku tidak separah semalam. Sehingga aku bisa mengerjakan pekerjaan rumah.
Fabiayyi alaa i Rabbikuma tukadzziban...
Suara murotal Al-Qur'an dari handphoneku menemani pagiku hari ini. Surah itu adalah surah Ar-Rahman, yang mana surah paling terkenal yang biasa dijadikan sebagai mahar. Itu sih yang aku baca di novel. Hehe. Aku mengikuti alunan yang merdu itu. Kalam cinta Allah memang benar-benar membuat hati yang mendengarnya menjadi tenang.
Saat ini aku sedang mencuci piring. Semalam, tidak sempat karena setelah meminum jamu kunyit aku langsung bergelung selimut dan tidur. Tidak bermimpi apa-apa, dan langsung terbangun di pagi hari.
Kaannahunna yaqutu wal marjan
Fabiayyi alaa i Rabbikuma tukadzziban
Hal jazaaul ihsani illal ihsan
Fabiayyi alaa i Rabbikuma tukadzziban
Sampai di ayat 61 aku masih mengikutinya. Aku jadi hapal surah Ar-Rahman karena sangat sering mendengar murotalnya. Di handphoneku sudah tidak ada musik sekarang, apalagi lagu-lagu galau yang hanya membuatku semakin larut dalam kegalauan. Kalau aku butuh hiburan, aku lebih memilih membaca novel saja di dalam kamar. Karena aku adalah introvert maka aku betah berlama-lama sendirian.
Mengenai masalah kepribadian, aku termasuk ke dalam introvert ekstrem. Selama ini aku selalu salah menilai bahwa orang yang introvert adalah orang yang senang menyendiri, dijauhi teman, susah bergaul, dan juga tidak bisa berbicara di depan orang banyak. Padahal menentukan seseorang introvert atau ekstrovert bisa dilihat dari cara orang itu source of energy. Bagaimana cara kita men-charge energi supaya bisa survive untuk beberapa hari berikutnya.
Maksudku, orang ekstrover men-charge energinya dengan cara hang out, shopping, menonton bioskop ataupun segala hal yang dilakukan berhubungan dengan keramaian. Sedangkan introvert lebih suka menghabiskan waktu di kamar selama mungkin. Entah itu baca buku, menonton film di laptop ataupun menulis.
Murotal Al-Qur'an masih berputar, kali ini surah Al-Waqiah. Aku mendengar suara langkah kaki mendekatiku, mungkin saja itu Ummi.
"Ummi semalam pulang jam berapa? Maaf ya Nia tidur duluan," kataku sambil mengambil gelas kotor. Lalu kuusap gelas itu dengan spons yang sudah diberi sabun pencuci piring.
"Mbak Nia bukannya masih sakit?"
"Allahu Akbar!"
Hampir saja gelas yang ku pegang terjatuh dari tangan karena terlalu terkejut. Itu adalah suara laki-laki, Mas Izhar.
"Kenapa Mbak? Sakit lagi ya?" tanyanya. Dia tidak tahu saja kalau aku terkejut dengan kedatangannya.
"Ngh.. Anu Mas. Udah nggak kok."
Bodoh! Kenapa aku harus gugup? Jangan bilang aku baper karena semalam ia membawakan aku minyak kayu putih. Ingat Ni, jangan membuat pengharapan kalau tidak ingin sakit hati. Laki-laki itu mana mungkin menyambut rasamumu. Dia terlalu sempurna.
Ya sumber sakit hati paling dalam adalah sebuah pengharapan. Seperti tanaman yang dipupuk setiap hari, lama kelamaan tanaman itu akan tumbuh subur dan rimbun. Hingga suatu hari baru kau sadar, tidak seharusnya kau menebar pupuk di sembarang tanaman. Mau tidak mau kau harus menebang tanaman itu dengan susah payah, bahkan menyakiti tanahmu sendiri.
"Beneran Mbak? Semalam Mbak sampai pucat gitu loh."
Ya Allah Mas, bisa nggak sih nggak usah terlalu perhatian sama saya? Secara nggak langsung kamu minta saya nebar pupuk loh.
"Beneran Mas, hehe." Aku memaksa tertawa. Padahal ku yakin tertawa aku itu jelek sekali. Ya iyalah orang karena terpaksa. Iya terpaksa untuk mengalihkan pembicaraan. "Oh ya, Mas mau dimasakin apa buat sarapan?"
"Saya ada kelas pagi, Mbak. Kalau nunggu Mbak masak dulu nggak akan keburu," katanya sambil melihat ke arah jam tangan. Aku baru sadar kalau ia sudah rapi dengan setelan kemeja biru langit yang digulung sampai siku, dan juga celana katun berwarna hitam. Pasti mahasiswanya tidak akan konsen mendengar penjelasannya deh, mereka pasti salah fokus.
"Yasudah kalau gitu saya buatkan roti bakar saja ya, Mas. Gimana?" Aku menunggu jawabannya dan setelah ia mengangguk barulah aku membuatnya. "Yasudah Mas tunggu saja di ruang tamu." Kalau dia menunggu di sini terus, bisa-bisa aku tidak jadi membuatkannya roti bakar. Aku malu kalau diperhatikan ketika memasak. Memangnya aku sedang ikut kompetisi memasak?
"Ehem..." Ummi muncul sebelum Mas Izhar benar-benar pergi ke ruang tamu. Beliau mendekatiku yang sedang memanggang roti. "Ummi juga mau satu Ni."
"Iya, Mi. Sebentar ya."
Akhirnya Ummi dan Mas Izhar benar-benar meninggalkanku sendiri di dapur.
Biasanya kalau Mas Izhar ingin aku buatkan roti bakar, maka isinya adalah telur ayam. Ditambah selada dan timun dengan sedikit saus cabai. Ia kurang menyukai roti isi selai karena rasanya yang terlalu manis. Paling tidak, kalau ia ingin roti selai, isinya adalah selai kacang.
Aku membawa dua tumpuk roti yang sudah kubuat. Satu untuk Ummi dan satu lagi untuk Mas Izhar. Sedangkan minumannya teh manis dengan sedikit gula.
"Silakan dimakan Ummi, Mas," kataku sambil meletakkan menu di atas meja. Setelah itu aku langsung berjalan ke dapur untuk menaruh nampan.
"Loh punya kamu mana?" tanya Ummi saat aku belum sepenuhnya ke dapur.
"Nia cuma buat dua, Mi. Untuk Ummi dan Mas Izhar. Nia lagi malas sarapan."
"Kamu maag lho Nia, jangan lupa itu."
"Iya Ummi, nanti Nia akan sarapan kok."
Lihatlah, betapa baiknya Ummi Salamah itu. Namun aku membalas kebaikan Ummi dengan mengagumi anaknya. Sungguh, itu adalah hal yang tidak pantas.
"Ini Mbak."
Aku mengangkat kepalaku. Ternyata itu adalah suara Mas Izhar. Di tangannya sudah ada sebuah buku yang berjudul "Maryam."
Ketika kami pulang dari mall waktu itu aku sempat bertanya padanya. Apakah seri Shahabiyah ada untuk orang dewasa atau tidak dan ia bilang ada. Novel karya Sibel Eraslan itu memiliki dua seri, katanya. Seri pertama 4 wanita penghuni surga, dan seri kedua yaitu the greatest woman. Mas Izhar bilang ia mau meminjamkannya di perpustakaan kampus untukku. Aku tidak menyangka kalau hal itu benar-benar ia lakukan.
"Makasih loh Mas, saya ngerepotin Mas terus ya," ucapku tak enak hati saat mengambil buku itu dari tangannya. Ia tersenyum simpul, dan bilang kalau ia tidak merasa direpotkan.
Tuhkan... Sudah berapa kali aku bilang tidak usah bersikap baik padaku, Mas.Hatiku jadi tidak karuan.
"Tadinya saya mau pinjam yang 'Khadijah' Mbak. Tapi kata penjaga perpus sedang dipinjam oleh Mahasiswa, jadi yang ada saja dulu ya Mbak."
Aku mengangguk, dia sudah mau meminjamkan saja aku sudah bersyukur. Jadi seri 4 penghuni surga itu berjudul, 'Khadijah, Maryam, Fatimah Az-Zahra dan juga Asiyah. Sedangkan seri the greatest woman yaitu berjudul, 'Aisyah' dan juga 'Hajar'. Sedangkan yang ada di perpustakaan kampus Mas Izhar hanya ada dua, yaitu 'Maryam' dan 'Khadijah'. Aku juga sedang cari-cari di toko online, namun uangnya masih harus kutabung.
"Mbak lagi senang baca-baca novel macam itu ya?" tanyanya. Ternyata dia itu orangnya komunikatif, aku kira dia termasuk pendiam.
"Iya, Mas. You are what you read. Katanya sih gitu, Mas. Lagi pula nggak ada salahnya kan baca novel Shahabiyah, siapa tahu tingkat keimannya nular. Hehe." Aku tertawa sumbang lagi. "Wanita seperti saya ini seperti kehilangan idola Mas. Nggak ada figur konkret yang pas buat dijadikan contoh. Terlebih dalam memahami dan mengaplikasikan Islam dalam kehidupan sehari-hari."
Mas Izhar hanya mengangguk-anggukkan kepala.
"Terima kasih ya Mas," ucapku tulus.
"Mbak ini... Terima kasih terus. Mbak bukan kasir mini market kan?"
Aku tertawa mendengar penururannya. Kemudian setelah tawaku pudar susana menjadi hening.
"Maryam adalah wanita suci, Mbak. Tidak pernah tersentuh oleh laki-laki manapun. Maryam– Bunda Suci Sang Nabi– yang karena kesalihannya Allah mengistimewakannya dengan menyebutkan namanya di dalam Al-Qur'an. Jadilah wanita seperti Maryam. Yang semakin disimpan, semakin terhormat."