10

1672 Kata
Tiga bulan kemudian "pah, lusa mama mau adain tasyakuran buat kak Deva boleh?"" ucap Selena yang baru keluar dari kamar mandi dan langsung duduk di atas kasur menemani Xavier. "boleh, terserah kamu aja yang penting catering jangan kamu yang masak" ucap Xavier yang diangguki oleh Selena. "buat bingkisannya aku pesen catering tapi buat nasi tumpengnya mau bikin sendiri. Anggep aja sebagai rasa syukur aku akhirnya setelah nunggu lama Deva jadi anak kita sah secara hukum" ucap Selena membuat Xavier tersenyum. Ini salah satu hal yang membuat Xavier bangga memiliki Selena, dia selalu memiliki caranya sendiri dalam mengungkapkan rasa sayangnya dan orang-orang bisa melihat itu. "jadi aku mau bikin dua tumpeng, yang satu buat kak Deva dan satunya buat tasyakuran kak Aslan. Kan minggu depan ulang tahun jadi sekalian aja" ucap Selena lagi yang memberitahu rencananya kepada sang suami. "kamu nanti capek gimana? Aslan nanti aja waktu hari ulang tahunnya" ucap Xavier, dia takut kalau Selena sakit karena kecapekan padahal dia memiliki uang untuk memesan lewat catering. "biar capeknya sekalian sayang, nanti urusan hari ulang tahunnya kita bisa beli kue aja terus hadiahnya liburan akhir tahun." ucap Selena "yaudahlah terserah gimana kamu nya aja, eh...bukannya Deva lahirnya januari ya?" ucap Xavier yang baru saja menyadari karena biasanya ketika ada yang ulang tahun mereka tidak pernah merayakan secara mewah hanya memberi kado, doa, dan makan malam keluarga. Jangan ditanya ide siapa, karena yang pasti itu ide dari Selena dia bilang tidak mau membiasakan anak-anak mereka ketika ulang tahun harus dirayakan secara mewah, karena ekonomi seseorang tidak ada yang tahu. Kalaupun mereka selalu berada di atas dia ingin anak-anaknya merasakan hidup yang sederhana meskipun untuk 1% saja . "eh berarti ulang tahun Deva deketan sekaligus jauhan sama Aslan dong?! hahahaha" tawa Selena karena mersa lucu,padahal tidak ada yang lucu. "tahun depan Deva udah jadi anak SMA terus Aslan naik kelas tiga, Aydin kelas enam" ucap Xavier yang diangguki oleh Selena. "gini ya jadi orangtua, mau tidur yang dibahas anak-anak. " ucap Selena yang diangguki oleh Xavier. "aku kadang masih nggak nyangka loh bisa punya rumah tangga seharmonis ini, apalagi setelah kegagalan di rumah tangga yang pertama bikin aku trauma. Aku nggak bisa bayangin gimana jadinya kalo yang aku nikahin itu cewek lain bukan kamu, apa pernikahan aku bisa seharmonis ini? Apa dia bisa didik anak-anak sebijak ini? Apa dia bisa bikin rumah jadi tempat ternyaman buat aku dan anak-anak? Aku beruntung banget bisa dapetin kamu yang sabar, bijaksana, tegas, baik hati, humble, cantik lagi" ucap Xavier menatap dalam Selena sambil memegang tangannya dan sesekali mengelus punggung tangan Selena halus. "padahal mantan istri kamu lebih cantik loh, kamu buta ya?!" jawab Selena yang merusak suasana. Bisa kalian bayangkan sendiri bukan bagaimana rasanya jadi Xavier?!. "cantikan kamu sayang, kamu paling cantik. Kalau menurut kamu dan orang-orang dia lebih cantik tapi bagi aku kamu yang paling cantik. Bukan cuman karena wajah tapi juga hati, kadang suka bingung sendiri gimana bisa tuhan ngasih orang dengan sejuta kebaikan yang mendekati kegoblokan kayak kamu" jawab Xavier sambil menekan-nekan pipi Selena gemas. "sayang aku nggak g****k yaa...aku itu pinter" ucap Selena menepuk paha Xavier keras. "iyaa nggak...kamu paling pinter, paling cantik, paling baik, paling-paling udah istriku ini" ucap Xavier gemas langsung menarik Selena kedalam pelukannya gemas. "sayang aku ada rules baru buat mencegah anak-anak dari rasa iri berlebihan" ucap Selena dengan wajah mode serius yang malah terlihat menggemaskan bagi Xavier. "apa?" tanya Xavier menatap Selena yang berada dalam pelukannya. "jadi gini, kan kemaren hadiah Kanzie mauk SMA minta beliin mobil dan uang yang Kanzie habisin itu patokan harga yang mereka terima. Paham nggak?" tanya Selena yang di jawab gelengan kepala oleh Xavier. "aishh... Kanzie kan habisin uang 700 juta nah uang 700juta ini jadi patokan maksimal uang yang kita kasih ke mereka, kalau ternyata anak-anak yang lain habisin uang kurang dari itu ya kita transfer sisanya." ucap Selena yang mulai dipahami oleh Xavier. "kalau seumpama Deva minta barang yang sama kayak Kanzie tapi ternyata harganya udah naik gimana?" tanya Xavier bingung. "ya nggak mau tau, biarin dia nambahin pake uang sendiri yang penting kita kasihnya segitu mau dia pasang lilin buat ngepet ya terserah" jawab Selena asal yang membuat Xavier gelagapan sendiri. "istighfar sayang jangan sampe anak-anak kita pasang lilin beneran" ucap Xavier mengelus lengan Selena yang langsung membuat Selena tersadar dengan apa yang dia ucapkan. "eh iya...astaughfirullah... amit-amit jangan sampai ya allah" ucap Selena sambil menepuk-nepuk paha Xavier. "kebiasaan kalo ngomong" ucap Xaveir datar. "yaa jadi gitu... kamu setuju?" tanya Selena yang diangguki oleh Xavier. "aku mah terserah kamu aja, gimana baiknya aja deh" ucap Xavier yang diangguki oleh Selena. "dihh kamumah gitu, terserah-terserah mulu kek perawan tau nggak" kesal Selena sambil menarik selimut untuk menutupi pahanya. "yaa gimana,kan emang udah bener gitu. Apalagi yang mau disangkal?" ucap Xavier menatap Selena yang sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur. "ayo tidur sayang, besok pagi anter aku ke supermarket belanja bulanan" ucap Selena menarik-narik celana Xavier. Baju? Xavier tidak pernah tidur menggunakan baju hanya menggunakan celana training atau boxer saja. "besok aku nggak kerja lagi dong?" tanya Xavier bingung karena hari ini dia sudah tidak kerja karena sidang adopsi. "kamu yang punya, siapa yang mau marahin? Lagian aku udah cek jadwal kamu minggu ini yang masih bisa di wakilin sama pak Restu" ucap Selena memeluk pinggang Xavier. "gini nih kalau nikah sama sekertaris sendiri, tau aja mana yang urgent sama enggak" ucap Xavier lalu merebahkan tubuhnya di sebelah Selena lalu memeluk tubuh mungil istrinya dengan erat. *** "mama...Aslan hari ini nggak masuk sekolah boleh?" Tanya Aslan yang baru datang ke kamar Selena dan langsung tiduran sambil memeluk pinggang Selena. "Baru juga Selasa, masuk aja ya kak nanti lusa baru nggak usah masuk" ucap Selena. "Ada apa mah lusa?" Tanya Aslan bingung. "Tasyakuran buat Deva sekalian tasyakuran buat ulang tahun kamu kan Minggu depan habis UAS udah ulangtahun" jawab Selena sambil mengelus pipi Aslan. "Jadi ulang tahun Aslan di cepetin nih?" Tanya Aslan. "Nggak di cepetin, cuman doa nya aja nanti kalau hari ulangtahun nya ya kita tetep makan-makan lagi sekeluarga" ucap Selena. "Makan-makan mulu, keliling kek main gitu kemana, liburan" ucap Aslan mengkode Selena agar peka. "Boleh, mama kasih tiket spesial buat kakak silahkan pilih tempat buat liburan" ucap Selena membuat Aslan terkejut. "Ke luar negri?!" Tanya Aslan memastikan. "Boleh, terserah kakak aja. Nanti mama yang bilang ke papa" ucap Selena membuat Aslan tersenyum senang. "Makasih mama" ucap Aslan mencium punggung tangan Selena. "Sama-sama sayang" ucap Selena. "mamaa" panggil Aydin yang baru datang dengan rambut berantakannya. "sini sayang" panggil Selena melambaikan tangannya ke arah Aydin. "papa mana ma?" tanya Aydin yang merebahkan tubuhnya di atas kaki Selena. "papa ke kamar dedek" jawab Selena sambil mengelus rambut kepala Aydin. "kurang dua yang dateng" ucap Aslan tiba-tiba dengan suara serak nya. Dan benar saja beberapa saat kemudian Kanzie dan Deva datang dengan memakai pajamasnya masing-masing. "sini-sini" panggil Selena tersenyum menatap dua remaja yang berdiri di depan pintu masuk. "awasss" usir Kanzie menarik paksa Aslan yang memeluk Selena untuk menjauh lalu menggantikan posisi Aslan yang memeluk mamanya. "aishhh...dasar kakak durhaka" rutuk Aslan sambil memebenarkan posisinya agar nyaman. "sini kak Deva" panggil Selena menepuk tempat di sebelah kanannya yang tersisa banyak spot. "duh bujang-bujang ku" ucap Selena mengelus kepala Kanzie dan Deva yang baru datang dan tidur di sebelahnya. "mamaaa..." teriak Kenzo yang baru datang dengan Xavier yang menggendongnya. "sini bontot nya mama" sapa Selena mengulurkan kedua tangannya kearah Kenzo. "ini kalian pagi-pagi kesini nggak ada yang mau siap-siap sekolah gitu?" tanya Xavier setelah memberikan Kenzo kepada Selena lalu menatap ke empat anak laki-lakinya yang malah berkumpul di kamarnya seperti anak kucing. "papa nggak siap-siap buat kerja?" tanya Aslan menatap Xavier yang berdiri di sebelah ranjang. "papa nggak kerja, hari ini mau nemenin mama belanja" jawab Xavier lalu duduk di ujung ranjang sambil menikamti pemandangan di pagi hari yang selalu terjadi semenjak mereka menikah bahkan di pagi pertama dia dan Selena menjadi istri pun ke-empat tuyulnya ini sudah menggedor-gedor pintu kamarnya agar di persilahkan masuk. "papa bolos terus" ejek Aydin, Xavier yang mendengar langsung menepuk b****g Aydin pelan. "papa jangan di pukul nanti tambah tepos kasian" ucap Kanzie sambil menepuk-nepuk pelan b****g Aydin. "ini pelecehan bukan sih?" tanya Deva menatap kakak dan papanya yang memukul b****g Aydin. "nenen mama...tenzo au nenen" rengek Kenzo menarik-narik baju Selena. "awas semuanya, sana pada pergi siap-siap berangkat ke sekolah" usir Selena. "sana balik kamar masing-masing, mama mau nenenin dedek" usir Xavier menarik kaki Aydin mundur. "aaa...papa issshh" kesal Aydin. "tenzii looo" oceh Kenzo ketika tangan Kanzie memainkan pipinya. "potong ih ma rambutnya dedek" ucap Kanzie yang sudah duduk menatap Kenzo yang duduk di pangkuan Selena. "kenapa? Orang lucu gini" jawab Selena sambil menyibak rambut Kenzo kebelakang. "kayak cewek mama, masa waktu kakak bawa keluar main dedek di kira cewek" ucap Kanzie. "nggak ah, lucuan gini ya dek?" tanya Selena yang diangguki oleh Kenzo. "biarin kak, nanti kalo gede juga minta di potong rambutnya" saut Deva. "terserahlah, Kanzie mau siap-siap" ucap Kanzie lalu turun dari kasur dengan melangkahi Aslan setelah itu pergi keluar menuju kamarnya. "kalian nggak siap-siap? Sekolahnya yang semangat dong nak, masa males-malesan terus" ucap Selena mengelus rambut Aslan. "ini mau semangat kok ma, tapi nggak jadi aja" jawab Aslan lalu turun dari ranjang setelah mencium gemas pipi Kenzo. "aclan looo...mamaa aclan atal" adu Kenzo menunjuk Aslan yang berjalan menuju arah pintu. "Aslan Zoo Aslan, aclan aclan SS... gitloh Ss..." ejek Aydin duduk diatas kasur menatap Kenzo yang menempel kepada Selena dengan menyandarkan kepalanya di d**a Selena. "nenen mamaaa nenen" rengek Kenzo menarik-narik baju Selena kesal. "iyaa sayang" ucap Selena sambil membuka kancing atas dasternya lalu mengarahkan putingnya ke mulut Kanzo. "sana kak siap-siap, ajak Aydin juga" perintah Selena kepada Deva yang tidur dengan menutupi kepalanya menggunakan bantal. "mama hitung sampe tiga nggak bangun mama bakar semua novel kamu" ancam Selena yang langsung membuat Deva bangun dan berdiri. "ajak adeknya juga" perintah Selena yang diangguki oleh Deva. Tanpa aba-aba Deva langsung menyeret Aydin lalu membopongnya ala karung beras, Aydin yang di bopong hanya menapilkan wajah terkejutnya lalu berubah menjadi wajah pasrah. Sudah biasa seperti ini lalau mau bagaimana lagi?! Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN