5

1628 Kata
"kak Kanzie" panggil Xavier membuka pintu kamar Kanzie perlahan. "Iya pah? Masuk aja" saut Kanzie dari dalam. "Kak papa mau minta pendapat kakak" ucap Xavier membuat Kanzie mengerutkan keningnya bingung. "Tumben pah? Biasanya ke mama" jawab Kanzie yang sudah mengerti seberapa besar tingkat kebucinan papanya ini kepada sang mama "Kali ini mama angkat tangan suruh tanya anak-anaknya" ucap Xavier "Okay, silahkan dimulai pembicaraannya bapak Xavier" ucap Kanzie. "Sebenernya ini pertanyaan lama, dulu kamu juga udah pernah nolak. Sekarang karena udah lewat empat tahun semuanya juga udah banyak yang berubah, papa mau minta pendapat kakak Kanzie sebagai anak sulung di keluarga ini..." ucap Xavier yang semakin membuat Kanzie penasaran,hal apa yang pernah dia tolak sebelumnya?. "...gimana kalau papa adopsi Deva? Kan selama ini status Deva cuman anak asuh gitu, papa kepengen ngesahin status Deva secara resmi sebagai keluarga kita" ucap Xavier membuat Kanzie diam. "Gimana kak?" Tanya Xavier "Bentar pah, Kanzie masih shock. Jadi selama ini Deva belum papa adopsi? Kanzie ngiranya pas habis mama papa nikah kan tasyakuran nama baru Deva, karena itu Kanzie nggak pernah protes masalah Deva lagi apalagi dulu pas liat down nya Deva ditinggal neneknya" jawab Kanzie. "Jadi nggakpapa kan kak?" Tanya Xavier memastikan. "Ya nggakpapa, kan dulu yang bikin Kanzie sama Aslan nggak setuju itu takut kasih sayang mama berkurang. Tapi setelah empat tahun bareng ternyata rasanya masih sama, sekarang ada Kenzo mama papa juga tetep sama. Kanzie udah percaya mama papa nggak akan ngecewain Kanzie sama adek-adek jadi kalo papa mama mau adopsi silahkan aja." Ucap Kanzie membuat Xavier tersenyum. Ternyata benar apa kata Selena, anak-anaknya sudah besar dan memiliki pemikiran yang bijaksana. "Makasih kak udah dengerin papa, sekarang papa mau ke mama dulu terus ke Deva" ucap Xavier yang diangguki oleh Kanzie. "Oh iya, kamu dicariin Kenzo tadi di bawah" ucap Xavier membuat Kanzie tertawa kecil. Senakal-nakalnya Kenzo dia tetaplah anak terakhir yang menjadi moodboseter semua orang, apalagi dengan wajah bulat, pipi chubby merah muda, bulu mata lentik, rambut kriting panjang berwarna coklat yang menutupi alisnya. Siapa yang tidak akan gemas melihat adik bungsunya yang nakal dan tidak bisa diatur sampai-sampai Omanya memberi julukan tuyul alas kepada adik bungsunya. "Ahh... Si nakal, Kanzie turun sekarang" ucap Kanzie buru-buru keluar kamarnya dan pergi menuju Kenzo. "Tanzieee" teriak Kenzo berlari kearah Kanzie yang baru turun dari tangga. "Tanzie tanzie, kakak" koreksi Aslan sambil mendorong bahu Kenzo pelan. "Tanzie tanzie tanzie...Aclan iem yah" saut Kenzo dengan wajah tengilnya menyuruh Aslan untuk diam lalu menatap Kanzie dengan puppy eyes nya. "Mama mana dek?" Tanya Kanzie sambil mengangkat tubuh Kenzo kedalam gendongannya lalu mencium pipinya gemas. "Mama di atas kayaknya, nemenin Deva belajar. Kan udah kelas 9." Jawab Aslan yang merebahkan tubuhnya di atas karpet bulu yang baru dipasang ketika Kenzo mulai bisa duduk. "Baru aja masuk kelas 9 masa udah di suruh belajar terus? Kasian" ucap Kanzie "Nggak tau, tanya aja mama" jawab Aslan. "Dek, papa tadi ke kamar kakak" ucap Kanzie yang duduk di sofa memangku Kenzo lalu menoel Aslan dengan kakinya. "Ngapain kak? Bahas Deva kan?" Tebak Aslan yang diangguki oleh Kanzie. "Tadi juga udah tanya ke Aslan, Aslan jawab terserah papa mama. Lagian kasian juga kalau di posisi Deva, mau ngakuin kita keluarga tapi nggak ada bukti resminya mau ngakuin orangtua kandung sebagai keluarga dia juga nggak ada buktinya. Akta lahir aja atas nama neneknya sebagai perwakilan orangtua" jawab Aslan lagi yang diangguki oleh Kanzie. "Pinter banget sih lo, jangan pinter-pinter dong nanti kakak insecure" ucap Kanzie mendorong punggung Aslan menggunakan kakinya lagi, selama mamanya tidak ada dia masih aman. "Calon anak teknik nih kak, nggak sombong gue" ucap Aslan dengan sok keren. "Gue gue... Aku jangan pake Lo-Gue" tegur Kanzie. "Tanzie loooo" oceh Kenzo. "Ini juga bocil, kakak dek kakak bukan tanzie" protes Kanzie memegang lengan Kenzo lalu menciumi telapak tangannya. * "Udah dulu kak, istirahat bentar. Tadi sore udah les masa nyampe rumah belajar lagi" ucap Selena yang duduk di atas ranjang Deva menemaninya belajar. "Kan diulang lagi mah belajarnya, biar lebih paham lagi. " Jawab Deva. "Lagian mama, orang lain itu pengen anaknya belajar masa mama Deva belajar malah disuruh cepet-cepet selesai"lanjut Deva. "Ya bukan gitu kak, mama yang liat aja capek apalagi kakak yang jalanin? Setengah 8 udah belajar di sekolah, pulangnya langsung berangkat Les piano, terus lanjut les pelajaran sekolah nyampe rumah jam setengah lima paling cepet. Udah nyampe rumah masih belajar lagi?!" Oceh Selena menatap punggung Deva. "Iya ma, ini selesai kok" ucap Deva menutup tabletnya lalu berjalan kearah Selena yang duduk di kasurnya. "Sini sini" ajak Selena menarik Deva untuk tidur di pangkuannya. "Kakak dengerin mama ya, mama nggak masalah kok kalau kakak nggak masuk peringkat jadi kakak jangan terlalu memaksa diri. Ambisius itu boleh tapi harus tetep tau batasan, mama seneng anaknya rajin belajar semua orangtua juga seneng anaknya rajin belajar tapi kalau terlalu berlebihan juga nggak bagus. Jadi santai aja kak, mama papa nggak maksa anaknya buat selalu di peringkat satu." Ucap Selena mengelus halus rambut kepala Deva. "Ini atas kemauan Deva sendiri kok ma, Deva sadar kalau Deva nggak sepinter kak Kanzie sama Aslan. Jadi Deva mau berusaha lebih keras buat bahagiain mama papa dan yang Deva bisa cuman ini ma." Ucap Deva membuat hati Selena terenyuh. "Mama,papa seneng Deva bisa mikir begitu, tapi mama papa lebih seneng lagi kalau Deva bisa hidup nyaman tanpa beban. Mama,papa memperlakukan kalian sama bukan berarti menganggap kalian sama. Kalian itu beda, mungkin Kanzie sama Aslan pinter IQ mereka tinggi, ya itu kelebihan mereka. Jangan jadikan IQ seseorang sebagai patokan kak, kamu punya passion sendiri yang nggak Kanzie sama Aslan puanya" ucap Selena, dia tidak terlalu suka kalau anak-anaknya mengukur kelebihan seseorang hanya dari IQ yang tinggi. Lalu kenapa dengan IQ tinggi? IQ tinggi juga bisa membawa orang dalam masalah. "Kakak lupa apa yang mama bilang dari dulu? Kecerdasan seseorang itu macem-macem ada IQ, EQ, SQ, AQ. Nggak ada yang lebih penting mereka berempat harus berjalan secara bersamaan dan kak Deva sudah bisa berada di tengah-tengah ke empatnya. Udah hebat itu, anak orang lain jarang ada yang bisa. Jadi, belajar sewajarnya tau waktu lah. Kalau di luar udah belajar hampir dua belas jam tugas udah selesai semua, di rumah waktunya istirahat main sama adek-adeknya atau kalau bosen bisa ajak kak Kanzie ke mall atau kemanapun." Ucap Selena sambil terus mengelus Deva yang menutup matanya. "Makasih mah" ucap Deva membuka matanya yang sudah memerah. "Hm?" Bingung Selena. "Makasih udah mau jadi alasan Deva buat bertahan, kadang Deva mikir kayak masih nggak nyangka bisa punya keluarga lengkap disini, tinggal di rumah sebesar ini, apa yang Deva mau udah ada, mau makan tinggal ambil nggak nunggu kerja dulu ngamen panas-panas di luar, mau sekolah nggak lagi jalan ada mobil dianter sopir..." Ucap Deva menatap wajah Selena dari bawah. "Karena itu Deva selalu merasa berterima kasih banget sama mama papa udah bawa Deva kesini dan memperlakukan Deva sama kayak mama papa didik kak Kanzie dan adek-adek" ucap Deva membuat Selena mengeluarkan air matanya. "Kak ini mama lagi masa PMS kenapa malah dibikin sedih, jadinya kan nangis gini...hikss" ucap Selena dengan wajah memerahnya. "Mah...mah jangan nangis nanti papa marah liat mama nangis" ucap Deva ketar-ketir sendiri, mengingat sebucin apa papanya itu kepada mamanya tercinta. Ceklek. "Baru dibilang" ucap Deva pelan menatap Xavier yang membuka pintunya. "Papa denger suara mama nangis, kenapa? Kakak marahin mama?" Tanya Xavier curiga lalu duduk di sebelah Selena menangkup wajahnya. "Kamu sedih kenapa sayang? Dimarahin Deva? Apa Deva protes ke kamu?" Tanya Xavier membuat Deva mengehela nafas besar. Keluarganya ini sangatlah penuh drama. "Mana berani Deva pah, bisa-bisa di coret KK nanti" jawab Deva santai. "Jangan ngomong gitu kak...hikss... Nggak ada yang coret nama kakak hiks...kamu juga jangan marahin anak aku" omel Selena sambil menangis. "Sana keluar nggak mau aku sama kamu hikss..." Usir Selena melepas pelukan Xavier lalu menarik Deva untuk dipeluknya. "Kok jadi aku?" Tanya Xavier heran. "Sabar pah, mama lagi PMS" ucap Deva yang diangguki oleh Xavier. Wanita PMS dengan segala kelabilan emosinya. * "Papa udah bicara sama Deva tentang masalah semalem?" Tanya Kanzie yang sedang meminum susunya. "Belom, mau bicara mama kamu malah nangis." Jawab Xavier membuat Kanzie mengerutkan keningnya bingung. "Papa apain mama?" Tanya Aslan curiga. "Bukan papa, kayaknya habis deep talk sama Deva jadinya gitu" ucap Xavier yang diangguki paham oleh Kanzie dan Aslan. "Mama kok belom turun pah?" Tanya Deva yang baru sampai di meja makan. "Kenzo rewel minta s**u, padahal sama mama mau disapih soalnya udah dua tahun" ucap Xavier. "Emang ASI Mama masih keluar pah?" Tanya Kanzie penasaran. "Masih, banyak malah" jawab Xavier. "Papa nyoba yaa...ngaku pah" goda Kanzie yang langsung dilempar potongan roti oleh Xavier. "Enak nggak pah?" Lanjut Kanzie. "Nggak usah sok-sokan tanya kalo kalian udah ngerasain." Jawab Xavier. Ini semua berawal dari Aydin yang ingin merasakan ASI menular ke kakak-kakak nya dan alhasil Selena setiap hari memompa ASI bukan lagi untuk Kenzo saja tapi untuk ke-empat anaknya juga yang setiap pagi dan malam meminum ASI. Untung saja ASI Selena sangat lancar jadi bisa untuk stok anak-anaknya yang lain. "Kan papa juga minum" saut Deva. "Papa minumnya nggak pake gelas, langsung dari sumber" jawab Xavier yang semakin hari semakin menggila. "Pah, ini kita anaknya loh pah masih kecil" ucap Aslan dengan wajah enak tidak enaknya. "Masih kecil, tapikan kalian udah belajar reproduksi. mama juga pernah jelasin" jawab Xavier santai. "Tapi kan papa nggak harus sevulgar itu pah" protes Aslan. "Kalian yang mancing" jawab Xavier lagi. "Taulah terserah papa, Kanzie berangkat dulu" ucap Kanzie setelah menghabiskan susunya. "Kak, bareng berangkatnya" ucap Deva dengan buru-buru menghabiskan susunya. "Santai aja, gue tunggu di depan" ucap Kanzie menyalimi tangan Xavier lalu mencium pipinya. "Lah kalo Deva sama kak Kanzie, Aslan sama siapa?" Tanya Aslan bingung sambil memakan rotinya. "Yaudah cepetan makannya, kakak tunggu" ucap Kanzie yang diangguki oleh Aslan. "Ke mama dulu kak" perintah Xavier yang diangguki oleh Kanzie. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN