Ibra Pov
"Menikah? Kapan? Kamu pasti salah paham Ibra. Setahu mami, Aqillah itu..."
Sebelum mami menyelesaikan perkataannya, seorang wanita jalan dengan perut besarnya menghampiri aku dan mami.
Avivah Kirana Syarief, kakak perempuanku itu kini sedang mengandung 8 bulan, dan 1 bulan lagi aku akan menjadi om. Sebenarnya tak menyangka sekarang kak Vi sedang mengandung. Karena 6 tahun yang lalu dia divonis dokter akan susah memiliki keturunan yang disebabkan kondisi rahim kak Vi yang lemah. Oleh karena itu juga bang Aro, suami kak Vi itu jadi cerewet tentang apapun hal yang menyangkut kak Vi dan calon bayi mereka. 8 tahun bang Aro, kak Vi dan keluarga kami menantikan kehamilan kak Vi ini. Tentunya bayi itu akan jadi cucu pertama dikeluarga Saragi dan Syarief.
"Ibraaa."
Kumat deh manjanya. Kak Vi itu sejak hamil dia jadi manja sekali padaku. Sampai pernah malam-malam dia ingin tidur dipelukanku. Jelas saja bang Aro tak terima, akhirnya malam itu kami tidur bertiga dengan kak Vi berada ditengah.
"Ibraaa."
"Ada apa sih kak." aku menyahut dengan sedikit malas
"Aqillah mana?"
"Lah kenapa malah nanyain Aqillah sih? Ya mana Ibra tahu." jawab ku sebal. Tak mami, tidak kak Vi. semuanya hanya Aqillah, Aqillah dan Aqillah saja.
"Pokoknya kamu cariin Aqillah. Kakak mau ketemu Aqillah, kakak mau Aqillah elus-elus perut kakak. Cepet Ibraaa, ponakan kamu mau ketemu ontynya."
Kan maksa banget. Lah mana aku tahu Aqillah dimana. Mungkin sekarang dia sedang bersama suami dan keluarganya yang lain. Nggak enak banget kalau seandainya dia lagi bareng suaminya tadi, terus aku gangguin gitu?
Tidak akan.
Meskipun aku masih mencintai Aqillah dan akan merebutnya kembali tapi tidak sekarang dan saat ini, karena aku tidak mau membuat Aqillah membenciku. Aku akan bermain cantik. Katakanlah aku laki-laki b******n. Tapi aku tidak peduli.
"Ya nanti aku ca..."
"Itu Aqillah bukan sih, Love?"
Bang Aro bertanya sambil menunjuk kesuatu arah. Disana, aku melihat wanita yang masih aku cintai sedang menggendong anak perempuan. Sayangnya aku tidak dapat melihat wajah anak itu, karena dia menyembunyikan wajahnya dilekukan leher Aqillah. Apa...apa mungkin itu anak Aqillah dan suaminya?
Kenapa rasanya sakit dan sesak sekali mengetahui ini?
Aku melihat Aqillah mendekati keluarganya, jadi memang benar itu anak Aqillah?
Loh, kok kak Vi sudah disana? Aku melihat wajah Aqillah terkejut begitu melihat kak Vi. Kenapa dia?
❤❤❤
Aqillah Pov
Ini Timmy manja banget minta digendong. Untung mungil jadi nggak berat-berat banget.
"Timmy, kenapa sih sayang! Tumben ih manja bener sama mama?"
"Timmy malu mama."
"Malu kenapa?"
"Disini banyak orang, Timmy malu diliatin."
Aku terkekeh mendengar nada bicaranya yang manja. Aku keluar dari lift sambil menggendong Timmy yang dari tadi terus menyembunyikan wajahnya dicerukan leherku. Timmy memang tidak terbiasa ditempat ramai seperti ini. Di Prabumulih pun jika aku mengajaknya ke cafe dia lebih memilih duduk di ruangan ku dari pada main ditaman belakang cafe yang memang aku desain dengan Taman bermain, jadi bila pelanggan yang membawa anak-anak mereka bisa makan dengan nyaman karna anak-anaknya ada ditaman belakang cafe.
Aku merasa ada yang memanggil namaku, dan ketika aku menoleh itu...itu kak Vi, kakaknya Ibra.
Ya Tuhan, jangan sampai dia melihat Timmy. Aku khawatir jika itu terjadi, karena kalau sampai kak Vi melihat Timmy aku yakin kak Vi akan langsung tahu jika Timmy anak Ibra. Sebab Timmy 100% copyan Ibra. Mereka bagai pinang dibelah dua. Wajah Timmy adalah wajah Ibra saat dia kecil dulu.
"Eh kak Vi. Apa kabar kak?"
"Alhamdulillah sehat. Kamu sehat dek? "
Dari awal aku kenal kak Vi, dia selalu memanggilku 'dek' sama dengan keluargaku yang lain. Kak Vi sudah layaknya kakak yang perempuan yang tidak pernah aku punya karna dikeluarga ku, akulah cucu perempuan. Anak om Putra laki-laki semua, mulai dari bang Boy, bang Dimas dan Levin si bungsu tengil.
"Alhamdulillah juga kak, Aqillah sehat walafiat nih." ucapku sambil memberi senyum. Meskipun sebenarnya hatiku sudah dag dig dug tak karuan karena takut kalau kak Vi penasaran dengan wajah Timmy. Aku menatap mama, papa dan bang Dimas yang hanya diam memperhatikan aku dan kak Vi. Tapi aku bisa melihat tatapan mama yang menyiratkan kekhawatiran, aku tahu pasti mama khawatir jika kak Vi melihat wajah Timmy yang saat ini masih asik diam dan menyembunyikan wajahnya diceruk leherku.
"Eh, kakak lagi hamil?" aku mencoba mengalihkan perhatian. Semoga saja, kak Vi tak berniat melihat wajah Timmy.
"Iya, alhmdulilah sudah jalan 8 Bulan. Kakak kesini karena pengen minta kamu elusin perut kakak. Hehe."
Dasar ibu hamil. Dulu ketika aku mengandung Timmy juga merasakan yang namanya ngidam bahkan sampe melahirkan dan yang kerepotan ya pasti Laras. Tapi jika bang Daryl mengunjungiku maka bang Daryl yang jadi sasaran ngidamku.
"Uuuhh, sini kak perutnya aku elus."
Kak Vi mendekat dan aku mengelus perutnya yang membuncit. Aku merasakan tendangannya. Ku lihat kak Vi tersenyum menatapku.
"Mereka seneng, Qill dielus-elus sama ontynya."
"Mereka?"
"Iya, kakak hamil anak kembar dan kemungkinan sepasang. "
"Wah selamat ya akhirnya kakak hamil dan sekalinya hamil dapat dua." aku tahu seberapa lama kak Vi dan bang Aro menanti momongan.
"Makasih ya, Sayang."
Aku hanya tersenyum membalas ucapan kak Vi.
"Eh itu yang kamu gendong anak siapa , Qill? "
Tubuhku menegang mendengar pertanyaan dari kak Vi. Begitu juga dengan yang lain.
"Eh...ini...ini...ini anak..."
Belum selsai kalimatku lebih dulu seseorang memotongnya.
"Hi Princess daddy."
Timmy langsung mengangkat kepalanya dan melihat bang Boy yang berdiri dibelakangku. Daddy, itu panggilan Timmy untuk bang Boy. Seluruh keluargaku tidak ada yang mau dipanggil uncle oleh Timmy jadi mereka memilih panggilan sendiri termasuk si bungsu Levin ikut-ikutan. Papi untuk bang Varell, daddy untuk bang Boy, Ayah untuk bang Dimas dan yang paling alay menurutku adalah panggilan Levin, yaitu Papap. Dari Timmy lahir sampai sekarang mereka sudah beberapa kali bertemu saat mereka pulang ke Indonesia dan sengaja mengunjungiku atau jika tak bisa ke Indonesia daddy, ayah dan papapnya selalu menghubungi Timmy lewat skype atau apapun asal mereka bisa bercanda dan face to face.
"Daddy."
Timmy mengulurkan tangannya meminta bang Boy menggendongnya.
"Sayang, tadi Daryl manggil kamu. "
Eh, kok tiba-tiba manggil? Aku melihat bang Daryl menganggukan kepalanya.
"Em, maaf kak Vi aku ke atas dulu ya dipanggil abang."
"Iya Qill, kakak juga mau nyamperin mami sama papi dulu."
"Salam buat mami papi ya kak."
"Buat Ibra, nggak salam juga?" kak Vi bertanya sambil menaik turunkan alisnya. Aishhh, jadi malu.
"Ya udah, kakak pamit dulu ya. Om, Tan semua aku pamit dulu. Permisi, assalamu'alaikum."
Aku juga bergegas menyusul bang Boy yang sudah lebih dulu jalan ke arah pelaminan. Lega, itulah yang aku rasakan saat ini.
Ini adalah hari yang sangat melelahkan bagiku. Hari ini aku bisa menyembunyikan Timmy dari keluarga papanya tapi untuk kedepannya aku tidak tahu apa masih bisa aku menyembunyikannya lagi atau tidak. Yang pasti suatu hari nanti, ya nanti Timmy harus mengenal keluarga dari papanya.
Maafkan mama sayang, mama gak berniat nyembunyiin kamu tapi mama perlu menyembuhkan luka hati mama yang sampai saat ini bila mama menatap papa. Hati mama terasa sakit. maafin mama sayang maaf. Tak terasa air mata menetes dipipiku.