TAO – 48

1875 Kata

Herman masih menatap wajah istrinya dengan tajam. Santi hanya terdiam, ia tidak berkutik dengan pandangan itu. Pandangan tajam yang sangat berbeda dari pandangan mata Herman—suaminya. Bola mata Herman seakan hendak terlepas dari dudukannya. “Kak, ada apa denganmu?” lirih Santi yang masih terus menatap sepasang netra suaminya. “Ada apa, katamu? Bukan’kah kau sendiri yang sudah memancing emosiku, ha?” Santi membuang muka, “Bukan’kah aku hanya bertanya? Kalau kau memang tidak berbuat apa-apa, mengapa tidak dijelaskan saja?” “Apa lagi yang harus aku jelaskan, Santi. Tidak di sini, tidak di Pekanbaru, kau sama saja. Kapan kau akan berubah dan bisa sedikit menghargaiku sebagai suami. Lagi pula ini rumah ibu, harusnya kau bisa menghargainya dan menghargai saudara-saudaraku yang banyak tinggal

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN