Hari ini, pria yang bernama Herman keluar dari sebuah kamar hotel dengan perasaan puas. Entah sudah berapa kali ia memuntahkan laharnya sedari pagi hingga langit kota Pekanbaru kembali gelap gulita. Pria itu bahkan tidak memedulikan telepon putrinya yang setiap saat menyuruhnya datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Santi dan untuk ikut menjaga istrinya itu. “Bang, makasih ya,” lirih Milna di depan gerbang hotel. Wanita itu masih belum ingin pulang. Ia masih punya beberapa urusan di Pekanbaru. “Sama-sama, Milna. Jadi kapan kau akan kembali ke Tembilahan?” “Mungkin besok siang, aku masih ada urusan di sini. Aku ingin mencarikan sekolah yang baik untuk anakku.” “Oiya, kalau begitu kamu hati-hati di jalan.” “Iya, Bang. Kamu juga hati-hati di jalan. Hari ini benar-benar hari yang san

