Kecemasan Yeni

1821 Kata

Sandi terduduk di atas salah satu kursi makan seraya memegangi kepalanya. Rasa mual mulai menyelimutinya karena aroma teh yang baru saja dihidangkan Herman masih tercium jelas di ke dua lubang hidungnya. “Bang, kamu kenapa?” tanya Sicilia. Sandi menggeleng dan masih saja terus memegangi kepalanya. Karena tidak tahan, Sandi pun segera keluar rumah lewat pintu belakang dan muntah di sana. Sicilia dengan cepat mengambilkan air mineral hangat untuk Sandi. Ia mengusap punggung suaminya dengan pelan seraya menyodorkan air mineral itu. “Kamu baik-baik saja, Bang?” tanya Sicilia. Sandi mengangguk. Pria itu segera menenggak minuman yang baru saja diberikan istrinya. “Ayo duduk dulu.” Sicilia menuntun Sandi duduk di salah satu kursi teras di teras belakang rumah mereka. “Abang kenapa?” tanya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN