Indra mulai menyeruput kembali kopi yang sudah ia pesan. Pria itu juga mulai menikmati kembali gorengan sebelum ia melanjutkan obrolannya dengan Herman. “Herman, maaf jika aku lancang. Tapi sebagai kawan, aku merasa memiliki kewajiban untuk mengingatkan.” “Ada apa, Indra?” Indra memerhatikan sekeliling lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Herman. “Apa kau masih menggunakan ilmu itu? Apa kau ingat kalau tempo hari kita pernah bertemu di simpang ojek dan aku memperingatkanmu,” bisik Indra. Herman hanya terdiam, ia tidak ingin berkomentar. Pria itu malah mengambil sebuah gorengan dan melahapnya dengan nikmat. Indra kembali membaguskan posisi duduknya, “Aku sudah tebak apa jawabanmu. Ya sudahlah, sebagai kawan, aku sudah mencoba mengingatkan. Jika mau di dengar, syukur. Tapi jika tidak m

