Sicilia masih terus menatap suaminya yang tampak gelisah. Raut wajah manis ketika ia pulang kerja tadi, seketika hilang dan berganti dengan raut wajah penuh kekesalan. “Bang, tolong sabar dulu. Kalau kamu emosi begini, akan gampang untuk orang lain masuk dan menghasut kita. Sekarang kamu’kan sudah tahu apa sebenarnya yang terjadi, jadi kamuharus waspada pada bang Herman.” “Apa lagi yang terjadi, Ci?” Kali ini Sandi kembali menatap tajam wajah istrinya itu. “Ma—maksud kamu apa, Bang?” “Tidak mungkin hanya karena masalah itu saja, kamu sampai mengunci pintu seperti tadi. Pasti ada sesuatu lagi yang terjadi, bukan?” “Sicilia menunduk. Wanita itu seketika menenggak segelas air mineral yang memang sudah tersedia di atas meja makan. Air mineral yang sudah ia siapkan untuk dirinya sendiri, t

